BAB III CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL TARIAN BUMI
3.2.1 Citra Perempuan Bangsawan
3.2.1.1 Citra Diri
3.2.1.1.2 Citra Psikis
Secara psikis, perempuan brahmana lebih kompleks pencitraanya. Lewat tokoh Sagra Pidada,Oka Rusmini menampilkan seorang bangsawan yang
menjunjung tinggi nilai kebangsawanan itu sendiri. Identitas “bangsawan” menjadi sangat prestisius baginya sehingga dia tidak menyukai menantunya yang seorang sudra. Baginya kebangsawanan mutlak dipertahankan. Rasa kecewa terhadap apa yang terjadi pada dirinya membuat ia merasa “kalah” menghadapi kenyataan. Hal ini tampak ketika suaminya mempunyai seorang wanita simpanan seorang janda sudra beranak dua dan ketika anaknya tidak membawa seorang Ida Ayu sebagai menantunya melainkan seorang sudra juga. Kutipan berikut membuktikan kelemahan Sagra yang seorang brahmana itu.
(143) Percuma, tidak ada hasilnya. Nenek merasa berjuang sendiri. Sampai terdengar desas-desus, ternyata Kakek memiliki simpanan seorang penari yang sangat cantik. Yang membuat nenek semakin mendidih, perempuan itu bukan perempuan brahmana. Melainkan seorang sudra, janda dengan dua anak.
Kekecewaan Nenek semakin sempurna ketika anak laki-laki semata wayangnya justru terpikat pada Ibu, Luh Sekar, perempuan sudra. Perempuan tua itu semakin tidak memiliki harga diri. Dia merasa telah kehilangan seluruh impiannya. Harga dirinya jatuh, karena anak laki-laki semata wayangnya itu bukan membawa seorang Ida Ayu seperti dirinya. Nenek benar-benar merasa ditinggalkan oleh seluruh impiannya. Benar-benar kehilangan arah (Rusmini, 2004: 19-20).
Pada akhirnya Ida Ayu Sagra Pidada mempunyai pemikiran yang jika dikaitkan dengan feminisme nyaris sejalan. Pemikiran dan harapan itu diucapkan pada cucunya, Ida Ayu Telaga Pidada. Berikut adalah dua kutipan yang memperjelas pernyataan di atas.
(144) “Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko.” (Rusmini, 2004: 21).
nenek Telaga terdengar ketus.
“Kami bicara banyak, Tuniang.”
“Tentang apa?”
“Tentang banyak hal.”
“Hati-hati kau mendengar nasihatnya. Jangan-jangan didikannya akan membuatmu sesat!”
“Tuniang!”
“Aku bicara yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin seorang penari joged yang tubuhnya biasa disentuh laki-laki menasihati cucucku dengan baik.” (Rusmini, 2004: 91-92).
Pernyataan Ida Ayu Sagra Pidada pada kutipan (144) menyiratkan bahwa perempuan harus berani mengambil sikap dalam hidup, perempuan harus tegas, dan perempuan harus mandiri. Feminisme mendukung ini bahwa perempuan tidak selalu harus tergantung pada laki-laki atau suami, melainkan harus bisa mandiri dengan mengembangkan potensi dirinya tanpa ada kekangan. Pada kutipan (144) pula secara tersirat ia memberi tekanan pada cucunya supaya si cucu bisa lebih baik dari dirinya dan ibunya. Sedangkan pada kutipan (145) secara jelas Ida Ayu Sagra Pidada merendahkan kaum perempuan, ini sangat bertentangan dengan feminisme. Feminisme menolak perendahan perempuan. Perempuan harus bisa setara dengan laki-laki inilah yang didukung feminisme, kesetaraan gender. Dalam kutipan itu, Ida Ayu Sagra Pidada membicarakan menantunya, Luh Sekar atau Jero Kenanga, dengan sinis bahwa seorang perempuan penari (penari joged) biasa dijamah oleh laki-laki yang berarti itu melecehkan martabat perempuan itu sendiri. Namun karena bias tingkatan kasta yang berlaku menjadikan ini sesuatu yang lumrah dilakukan oleh Ida Ayu Sagra Pidada karena ia adalah seorang Brahmana sedangkan menantunya seorang Sudra.
Berbeda dengan Sagra Pidada, Telaga Pidada si cucu Sagra Pidada justru berkebalikan. Brahmana menurut Telaga adalah kaum yang penuh kemunafikan.
Seperti pada awal pembahasan, Telaga merupakan simbol pemberontakan seorang Brahmana yang ingin diungkapkan Oka lewat novelnya ini. Telaga menganggap perlu adanya sebuah pembaharuan di kaumnya (terutama bagi perempuan yang mengalami kisah hidup yang sama seperti tokoh Telaga ini), yakni tradisi kasta yang bagi Telaga sangat mengekang dirinya untuk berbuat sesuatu sesuai kata hatinya. Tindakan Telaga yang berani mendobrak tradisi yang telah manjadi pakem, memberi gambaran bahwa Telaga (perempuan bangsawan) - karena “dipaksa” oleh “status” - merasa “terpaksa” melakukan dan mematuhi beragam aturan yang ada yang “harus” dipahami dan dijalaninya. Oka Rusmini kemudian mengarahkan tokoh Telaga untuk memulai tindakannya ini. Dibawanya Telaga pada lelaki jaba (Wayan Sasmitha) yang akhirnya menikah tanpa disetujui oleh orang tua masing-masing. Telaga mendapat penolakan yang bertubi-tubi dari mertuanya. Hidup Telaga berubah total dan Telaga mau menerima resiko itu. Telaga pun juga dianggap sebagai pembawa sial bagi keluarga mertuanya sampai mertuanya menyuruhnya melakukan upacara patiwangi.
Telaga merupakan gambaran perempuan Bali yang terpenjarakan oleh adat yang telah mentradisi. Dobrakan Telaga ini membeberkan dengan jelas bahwa sistem pengkastaan selain bersifat merugikan bagi pengembangan diri kaum perempuan berpotensi juga untuk tetap menempatkan perempuan di posisi superior. Oka tidak menafikan bahwa diskriminasi kasta adalah salah satu dari sekian banyak manifestasi sistem pengkastaan. Secara tersirat Oka mengungkapkan bahwa diskriminasi gender bukan semata persoalan perempuan itu sendiri namun juga fakta sosial yang ada, persoalan perempuan bukan hanya
perbedaan kasta tapi lebih besar lagi.
Oka Rusmini memberi sentuhan feminisme pada tokoh Telaga. Hal ini terlihat dalam hal aktualisasi diri Telaga. Telaga melalui guru tarinya yang bernama Luh Kambren menjadi salah satu perempuan yang pandai menari.
Dengan Telaga menari, Telaga mengaktualisasikan diri, mengembangkan diri - dalam seni tari - sehingga dikenal oleh banyak orang. Feminisme mendukung tindakan Telaga. Aktualisasi diri merupakan anjuran feminisme agar seorang perempuan tak hanya bergantung pada laki-laki namun mampu dan mau mengangkat namanya menjadi berarti di masyarakatnya. Telaga mampu menjadi penari paling hebat. Untuk memperjelas gambaran tentang hal ini, berikut kutipan adalah pernyataan Kambren yang menyatakan hal tersebut ketika Kambren akan melatih tari pada Telaga.
(146) Luh Kambren menatap bocah lima belas tahun itu sungguh-sungguh. Entah mengapa, perempuan itu merasa bahwa bocah ini akan memiliki cerita lebih banyak dari hidupnya sendiri. Untuk pertama kali Kamben melihat bahwa perempuan yang berdiri di depannya adalah perempuan yang tepat untuk diberi taksu miliknya. Taksu yang di dapat dari para dewa tari. Taksu yang tidak akan pernah menetes lagi.
Dulu, Kambren mengira taksu yang didapatnya dari dewa tari akan dia bawa sampai mati. Tapi begitu melihat Telaga, pikiran itu menguap. Tiba-tiba saja dia merasa bocah perempuan didepannya adalah anaknya. “Hyang Widhi, akhirnya kutemukan juga laut yang tepat untuk menumpahkan limbahku.” Kambren berkata pada dirinya sendiri, lalu menarik napas dalam-dalam (Rusmini, 2004: 96-97).
Kutipan (146) memberikan pandangan positif dari seorang Kambren terhadap Telaga yang notabene sama-sama perempuan. Kambren merasa yakin bahwa Telaga akan menjadi penari yang kehebatannya melebihi dirinya sendiri. Kutipan (147) dan (148) akan memperjelas hal itu.
(147) “SUDAH tiang katakan, Tugeg adalah murid terbaik yang pernah tiang miliki. Tugeg tahu, tiang sudah puluhan tahun tidak ingin mengajari seorang menari. Melelahkan. Karena mereka sering tidak serius. Tugeg menguasai tari Legong dalam waktu dua hari. Luar biasa!” Luh Kambren memekik. Ditatapnya perempuan di depannya dengan rasa haru yang begitu dalam (Rusmini, 2004: 114).
(148) “Sekarang Tugeg sudah menjadi perempuan yang sangat lengkap. Tugeg cantik, pandai menari, dan seorang putri bangsawan.
Tugeg memiliki seluruh keindahan bumi ini.” (Rusmini, 2004: 115). Setelah kematian Wayan, Telaga tetap hidup di rumah Gumbreg, mertuanya. Ada satu pujian dari Gumbreg untuk Telaga akan keberaniannya mengambil pilihan hidup sebagai Sudra.
(149) “Telaga juga berani kawin dengan Wayan. Dan sampai hari ini dia tetap bertahan.” Telaga kaget mendengar kata-kata Gumbreg. Tidak biasanya perempuan itu memujinya. Ada apa dengan perempuan itu? (Rusmini, 2004: 203).
Kutipan (149) di atas mencerminkan sikap tangguh Telaga dan merupakan salah satu perwujudan dari feminisme. Telaga berani mengambil keputusan sekali pun itu berat bagi Telaga namun Telaga berani pula menghadapi konsekuensinya. Itulah yang membuat Telaga masih bertahan dan menandakan ia masih hidup serta sadar bahwa rintangan itu harus dihadapi bukan untuk diingkari. Feminisme menolak stereotipe pelemahan kaum perempuan. Posisi Telaga sebagai perempuan oleh adat yang turun temurun disamaratakan sebagai seorang yang mengurus urusan rumah tangga saja. Pemosisian ini menyebabkan laki-laki bisa seenaknya memberlakukan Telaga (perempuan) sesuka hari. Telaga yang waktu itu masih berstatus menyandang nama Ida Ayu secara otomatis
menjadi tidak bangsawan lagi sebelum melakukan patiwangi di griya, karena menikah dengan seorang Sudra.
Telaga berhasil membuktikan bahwa ia adalah perempuan yang tangguh. Feminisme menyetujui hal ini. Tak hanya para lelaki, perempuan harus menunjukkan sikap ketangguhannya ini dengan menjalani hidup sesuai dengan kata hatinya. Kutipan berikut adalah pernyataan dari Ida Bagus Tugur, kakeknya, atas rasa bangganya pada tokoh Telaga.
(150) “Kau adalah perempuan luar biasa. Tiang bangga memilikimu!” Laki-laki itu menepuk pipi Telaga (Rusmini, 204: 221).
Tokoh Telaga mencerminkan keadaan seorang perempuan yang merasa tertekan oleh adat leluhurnya sendiri. Sadar bahwa dengan kekangan adat tersebut Telaga tidak dapat mengembangkan diri, ia mau dan berani mendobrak tradisi lama yang masih terpakem tersebut. Selain itu tokoh Telaga juga memberi poin penting bahwa “kebahagiaan” harus diciptakan masing-masing pribadi sesuai dengan hati tidak dengan “dipaksakan” oleh sistem atau kehendak seseorang. Selain itu Oka pun menampilkan sisi lain dari perempuan bangsawan kebanyakan. Di balik kebangsawanan mereka, Oka menyelipkan rasa kagum perempuan bangsawan yang diam-diam menyukai (mengagumi) atas “pengadaan” lelaki sudra. Oka menampilkan sisi lain perempuan bangsawan yang kebanyakan menyukai lelaki jaba. Hal ini diungkap Oka dalam novel ini untuk menggambarkan betapa karena sistem kasta mengharuskan perkawinan sedapat mungkin dilakukan dengan yang berkasta sama saja, agar kemurnian ras
bangsawan tetap dapat terjaga. Produk budaya dan tradisi mestinya tidak mempersulit hidup, budaya dan tradisi tidak mesti diterapkan semena-mena, tidak lantas dijadikan sebuah pembenaran untuk adanya sebuah diskriminasi gender di Bali.