• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II IDENTIFIKASI TIGA GENERASI TOKOH PEREMPUAN

2.4. Tokoh Perempuan Brahmana atau Bangsawan

2.4.3 Perempuan Generasi III Ida Ayu Telaga Pidada

Ida Ayu Telaga Pidada, seorang perempuan Brahmana anak dari Ida Bagus Ngurah Pidada dengan seorang Sudra, Luh Sekar (Jero Kenanga). Ia bersuamikan Wayan Sasmitha, seorang Sudra, dan mempunyai anak berumur tujuh tahun bernama Luh Sari.

Masa kecil Telaga sebagai seorang perempuan bangsawan, kaya dan cantik diisi dengan berlatih tari. Tak mengherankan bila Telaga menjadi penari yang hebat. Telaga tidak begitu mengenal ayahnya karena baginya ayahnya adalah laki-laki yang tolol. Ayahnya mati di tempat pelacuran. Ketika menikah dengan Wayan Sasmitha, Telaga menikah tanpa restu orang tua. Sejak inilah Telaga mulai merasakan betapa sulitnya menjalani kehidupan sebagai seorang Sudra. Enam tahun hidup bersama Wayan menjadikannya seorang perempuan tangguh yang berani menghadapi tantangan hidup. Setelah Wayan meninggal, kehidupan Telaga mengalir dalam keadaan makin susah karena tingkah iparnya - Luh Sadri dan Putu Sarma - membuat nelangsa hatinya. Sampai akhirnya mertuanya menyuruh Telaga untuk melakukan upacara patiwangi sebagai tanda lahirnya Telaga baru yaitu sebagai seorang perempuan Sudra.

Dengan patiwangi, Telaga yang dianggap sebagai sumber malapetaka dan kesialan mertuanya - Luh Gumbreg - menjelma menjadi seorang perempuan Sudra seutuhnya.

kebangsawanannya untuk menjadi perempuan Brahmana. Telaga kecil yang belum akilbalig mencoba sebisanya memahami bagaimana menjadi perempuan Brahmana seperti pada kutipan berikut.

(30) “Jangan kau bawa cucuku ke rumahmu. Cucuku seorang

brahmana, bukan sudra. Bagaimana kamu ini! Kalau sering kau bawa pulang ke rumahmu, cucuku tidak akan memiliki sinar kebangsawanan. Kau mengerti, Kenanga!” Suara mertuanya terdengar melengking. Sekar terdiam.

Telaga paham, dan mencoba menyadari alangkah sulitnya menjadi perempuan (Rusmini, 2004: 75-76).

Pada kutipan ini Telaga yang waktu itu masih kecil melihat bagaimana neneknya mengajari ibunya cara menjadi seorang Brahmana. Status kebangsawanan seorang anak diwariskan dari kedua orang tuanya. Apabila ayah ibunya berstatus bangsawan praktis sang anak pun seorang bangsawan pula. Namun yang paling menentukan adalah status sosial sang ibu, apabila sang ibu bukan berasal dari golongan bangsawan meski anak termasuk bangsawan status sang ibu tetaplah seperti perempuan non-bangsawan. Dengan keadaan inilah Sekar atau Kenanga - ibu Telaga, masih tetap seperti perempuan Sudra. Kenanga tetap harus berbicara dengan bahasa yang halus kepada orang-orang griya. Telaga tak habis pikir berapa banyak lagi peraturan yang harus dipelajari ibunya untuk menjadi seorang bangsawan. Satu hal lagi yang dipelajari dari kejadian yang dialami oleh ibunya tentang kedudukan seorang bangsawan ketika menghadapi sesuatu.

(31) Suatu pagi utusan dari rumah Ibu datang mengabarkan, perempuan yang melahirkannya ditemukan hanyut di sungai. Mendengar

kabar itu Ibu menjerit-jerit. Telaga masih ingat ekspresi yang penuh luka itu. Begitu juga maki-makian dari Nenek.

Kata Nenek, tidak pantas Ibu berlaku seperti itu. Seorang perempuan bangsawan harus bisa mengontrol emosi. Harus menunjukkan kewibawaan. Ketenangan. Dengan menunjukkan hal-hal itu berarti Ibu sudah bisa menghargai suaminya. Telaga tidak pernah paham, berapa aturan lagi yang harus dipelajari Ibu agar diterima sebagai bangsawan sejati.” (Rusmini, 2004: 78).

Jelas bahwa kedudukan sebagai seorang bangsawan haruslah penuh dengan kewibawaan. Telaga banyak menyimpan tanya tentang apa arti menjadi seorang Brahmana. Dan sebagai seorang Brahmana menjadi seorang penari adalah hal yang mutlak harus bisa dilakukan. Oleh Ibunya, didatangkannyalah guru tari terbaik dan termahal di seluruh desa bermana Luh Kambren.

(32) “Telaga harus belajar menari setiap sore hari. Guru itu bernama Luh Kambren, guru tari terbaik dan termahal di seluruh desa. Jarang ada orang yang bisa merayunya untuk mengajarkan keahlian dan rahasia-rahasianya yang kadang-kadang sulit diterima pikiran Telaga. “ (Rusmini, 2004: 94).

(33) Telaga mulai bersiap-siap. Tari yang diajarkan Kambren adalah Legong Keraton. Sebuah tari yang memiliki kekuatan tersendiri karena gerak-geraknya sangat feminin, anggun, dan semakin menyempurnakan wujud perempuan Telaga.

Telaga mulai menari. Terus menari sampai tak terasa lagi sebuah senja miliknya telah hilang, menguap dan digantikan malam (Rusmini, 2004: 99).

(34) “Sekarang Tugeg sudah menjadi perempuan yang sangat lengkap. Tugeg cantik, pandai menari, dan seorang putri bangsawan.

Tugeg memilki seluruh keindahan bumi ini.” (Rusmini, 2004: 115). Namun segalanya berubah ketika Telaga mencintai seorang lelaki Sudra bernama Wayan Sasmitha. Sejak inilah dirinya dihadapkan pada kenyataan hidup yang amat melelahkan sampai ia dipatiwangi menjadi seorang Sudra, bukan bangsawan lagi.

(35) “Laki-laki yang dicintainya sejak umur sepuluh tahun! Sampai hari ini, cinta itu tidak berkurang satu senti pun. Tidak juga bergeser. Dia tetap terjaga dengan baik, bahkan makin hari makin tumbuh subur saja. Rasa cinta Telaga pada Wayan membuat Telaga hampir meledak. Kerinduannya pada laki-laki itu telah sampai di ubun-ubun. Mengaliri seluruh sungai dan laut dalam tubuhnya.” (Rusmini, 2004: 164).

(36) “HIDUP terus berjalan. Ketika keberanian itu muncul dan semakin matang, Telaga harus berhadapan dengan Luh Gumbreg, Ibu Wayan. Perempuan itu memekik.” (Rusmini, 2004: 173).

(37) Tiang dan Wayan telah mencobanya, Meme. Berkali-kali, bertahun-tahun. Tidak bisa.” Telaga tidak ingin menangis. Dipandangnya perempuan itu. Telaga berharap sebagai sesama perempuan Luh Gumbreg memahami perasaannya.

Ternyata perempuan tua itu tidak berani menerimanya sebagai menantu. Seorang laki-laki sudra dilarang meminang perempuan

brahmana. Akan sial jadinya bila Wayan mengambil Telaga sebagai istri. Perempuan sudra itu percaya pada mitos bahwa perempuan brahmana

adalah surya, matahari yang menerangi gelap. Kalau matahari itu dicuri, bisakah dibayangkan akibatnya?” (Rusmini, 2004: 173-174).

Keputusan besar dibuat Telaga tentang perkawinannya dengan Wayan. Dari sinilah kehidupan Telaga berubah total dari seorang terhormat menjadi golongan rendah yang serba susah setelah Telaga memutuskan untuk menikah dengan Wayan.

(38) Meme, rencananya tiga hari lagi kami kawin.” Perempuan itu tetap diam. Dia balikkan tubuhnya. Telaga terus bicara.

“Tiang sudah hamil lima bulan Meme.” Suara Telaga terdengar getir. Perempuan itu membalikkan tubuhnya kembali.

“Tugeg!” Ditatapnya mata Telaga dalam-dalam. Luh Gumbreg mencari kebenaran capan perempuan itu.

“Tugeg tidak sedang bermain-main ’kan?” “Ini serius.” Telaga berkata tegas.

***

PERKAWINAN itu berlangsung. Hidup jadi berubah total. Bangun pagi-pagi tidak ada pelayan yang menyiapkan segelas susu dan roti bakar. Yang ada hanya segelas air putih. Itu pun air putih kemarin. Telaga meneguknya. Matanya sedikit berair (Rusmini, 2004: 184-185).

mau dia harus mulai belajar dari nol sebagai Sudra.

(39) “Tidak apa-apa, Meme. Tiang harus belajar. Ini pilihan tiang

sendiri.”

“Memasak pakai kayu bakar.”

Tiang akan coba.” (Rusmini, 2004: 185)

Telaga pun juga harus berhadapan dengan mertuanya, Luh Gumbreg, yang sebenarnya tidak menyetujui pernikahan dirinya dengan Wayan. Hal ini tampak dari kutipan berikut.

(40) “Itulah. Sudah tiang katakan, jangan kawin dengan perempuan

brahmana. Susah. Kau tidak bisaa hidup di sini. Tidak akan pernah bisa!” Perempuan itu berkata keras.

Telaga diam (Rusmini, 2004: 186).

Untuk ini Telaga mengalami penolakan yang sangat jelas dan tegas dari mertuanya sendiri. Secara sadar Telaga tahu bahwa kehadirannya memang tidak diharapkan oleh Luh Gumbreg dan Luh Sadri, adik perempuan Wayan. Bahkan mereka pun percaya Telagalah pembawa kesialan yang bertubi-tubi dalam keluarga Gumbreg. Telaga menikah tanpa restu dan izin dari orang tua Telaga. Hidup sebagai Sudra mengharuskan Telaga untuk benar-benar melatih diri hidup jauh dari kata cukup. Cintanya yang besar kepada Wayanlah yang membuatnya bertahan mengecap kehidupan yang pahit. Penolakan ini semakin tampak ketika Wayan mati di studio lukisnya. Telagalah yang dituduh penyebab kematian Wayan. Tampak dari kutipan berikut.

perempuan Ida Ayu pasti mendatangkan kesialan. Sekarang anakku mati! Wayan tidak pernah mau mengerti. Ini bukan cerita dongeng. Ini kesalahan. Kalau sudah begini jadinya aku harus bicara apa lagi!” Luh Gumbreg memukul dadanya. Menatap Telaga tidak senang.

“Jangan terlalu dekat dengan tubuh anak tiang. Sudah kubilang jangan kawin dengan Wayan. Kau masih membandel!” Suara Gumbreg makin menjadi-jadi (Rusmini, 2004: 193).

Dalam keadaan ini posisi Telaga sungguh sulit. Selalu saja ia jadi sasaran kemarahan Gumbreg dan Luh Sardri. Telaga tidak bisa berbuat banyak, karena kematian Wayan dianggap sebagai “akibat” dari perkawinan antara Telaga dan Wayan. Namun sesungguhnya Wayan mati karena kelainan jantung yang dideritanya sejak kecil. Karena inilah menjadi alasan Gumbreg untuk menyuruh Telaga melakukan patiwangi, pamit pada leluhur di griya.

(42) “Dulu, ketika kau dikawini anak tiang, kau belum pamit ke

griya. Kau juga belum melakukan upacara patiwangi. Aku ingin kau melakukan semua itu. Demi keluarga ini!” Suara Gumbreg mirip perintah. Telaga mengangkat wajahnya, berharap dirinya sedang bermimpi.

Meme sungguh-sungguh?” “Ya!” (Rusmini, 2004: 209).

Enam tahun hidup bersama Wayan dan beberapa tahun tinggal bersama mertuanya Telaga makin menyadari perannya sebagai seorang Sudra bukan Ida Ayu lagi. Dengan perintah Gumbreg untuk melakukan patiwangi Telaga menjelmakan dirinya menjadi Sudra.

Telaga menjadi simbol pemberontakan pakem-pakem adat Bali yang bagi Telaga sangat memenjarakannya. Telaga berani dan sanggup mendobrak tradisi-tradisi lama bahwa suatu predikat bernama kebangsawanan mutlak harus dipertahankan. Tujuan hidupnya untuk bahagia bersama Wayan membuat Telaga

mengacuhkan aturan peraturan yang mentradisi kuat itu. Bahwa sebagian orang ingin kehidupan yang lebih baik seperti halnya ibunya - Luh Sekar (Jero Kenanga) yang akhirnya menjadi istri dari seorang Ida Bagus, dianggap sebagai sebuah prestasi. Tidak bagi Telaga, kutipan berikut nampak sekali bahwa Telaga tidak menyesali keputusannya sekaligus ketidaksetujuannya tentang pengkastaan yang menjadi ukuran seorang untuk mendapat nilai dalam masyarakat.

(43) “Terimakasih Meme. Meme harus tahu, tiang tidak menyesal menjadi istri Wayan. Yang tiang sesalkan, begitu banyak orang yang merasa lebih bangsawan daripada bangsawan yang sesungguhnya.” Telaga menjauh (Rusmini, 2004: 221).

Telaga merupakan tokoh yang berkepribadian keras. Dia berani bertanggung jawab atas akibat buruk sekalipun dari perkawinannya dengan Wayan. Terbukti dari sikapnya menghadapi hidup, Gumbreg, dan Sadri juga bagaimana perilaku dia menghadapi kehidupan sebagai sudra ia jalani dengan tetap bertahan dan menguatkan dirinya, mensugesti dirinya bahwa ia sanggup melewatinya.

Pandangan tokoh lain kepada Telaga terlebih dari tokoh laki-laki tak lepas dari keberadaan Telaga sebagai seorang putri bangsawan yang pandai menari, namun berani memberontak budayanya sendiri. Tokoh lain seperti teman-teman Telaga pun pada akhirnya bersikap mencibir kepada Telaga. Telaga dianggap tidak bisa menjaga nama baik keluarga griya.

Telaga yang pandai menari ini sering menari berpasangan dengan Wayan. Dari sering menari inilah cinta Telaga berlabuh pada Wayan, lelaki jaba.

Keterampilan menari Telaga ini dikagumi banyak orang.

(44) “Semua orang desa sudah tahu, tak ada yang bisa mengalahkan Ida Ayu3 Telaga Pidada menari Oleg. Sebuah tari tentang nikmatnya merakit sebuah percintaan.” (Rusmini, 2004: 4).

(45) “Karena dia seorang putri, brahmana, maka para dewa memberinya taksu, kekuatan dari dalam yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Luar biasa. Lihat! Ketika perempuan itu menari seluruh mata seperti melahap tubuhnya. Alangkah beruntungnya perempuan itu. Sudah bangsawan, kaya, cantik lagi. Dewa-dewa benar-benar pilih kasih!” Seorang perempuan berkata sedikit sinis. Bau iri melukis matanya yang tajam dan sangat tidak bersahabat itu (Rusmini, 2004: 5).

Kutipan (45) adalah pernyataan Luh Sadri tentang pendapatnya atas diri Telaga dan ketidaksukaannya pada Telaga. Luh Sadri memang iri pada Telaga karena seluruh kecantikan para perempuan di desa ada pada diri Telaga. Sampai Telaga menikah dengan Wayan pun Luh Sadri masih menyimpan rasa iri dan tidak suka itu. Namun semua itu disikapi Telaga dengan tetap bersikap baik pada keluarga Sadri.

Tokoh Putu Sarma memberi pendapat dan pengandaian tentang Telaga.

(46) “Sayang dia seorang brahmana. Andaikata perempuan itu seorang sudra, perempuan kebanyakan, akau akan memburunya sampai napasku habis. Kalau dia minta napasku, aku akan memberikan hari ini juga.” (Rusmini, 2004: 9).

Pendapat Putu Sarma ini cenderung mengarah ke adanya peraturan yang mengikat pada sistem kasta. Selain itu adanya pendapat lain dari teman-teman Putu Sarma cenderung mengarah ke pelecehan terhadap (tubuh) Telaga. Pada saat dikatakan demikian oleh Putu Sarma dan teman-temannya Telaga hanya bisa diam. Di sinilah perempuan dianggap lemah karena seperti tidak sanggup

melawan pelecehan baik berupa perkataan atau tindakan dari laki-laki. Perempuan diposisikan sebagai sebuah kelas setelah laki-laki. Adanya pemosisian perempuan yang demikian membuat legitimasi akan segala hal yang dibuat oleh laki-laki adalah benar dan kelas perempuan tadi tidak berhak melakukan hal yang sama dengan laki-laki. Kutipan berikut adalah perkataan para lelaki tentang diri Telaga.

(47) “Ya. Sayang sekali para dewa pilih kasih. Kenapa hanya perempuan bangsawan yang diberi seluruh kecantikan bumi! Apa komentarmu kalau kucuri perempuan itu dari penjagaan ketat para dewa?” sambung laki-laki muda di sebelahnya. Tangannya mencubit pantat perempuan di depannya. Perempuan muda di depannya melotot. Para lelaki itu tidak peduli, pura-pura merasa tidak bersalah (Rusmini, 2004: 10-11).

(48) “Mereka semua tertawa. Mata mereka masih liar mengupas tubuh Telaga.

Telaga hanya bisa diam mendengar semua itu (Rusmini, 2004: 11).

Kemahiran Telaga menari tak lepas dari peran Luh Kambren, guru tari paling hebat di desanya. Berikut adalah pendapat Kambren tentang Telaga.

(49) Luh Kambren menatap bocah lima belas tahun itu sungguh-sungguh. Entah mengapa, perempuan itu merasa bahwa bocah ini akan memiliki cerita lebih banyak dari hidupnya sendiri. Untuk pertama kali Kambren melihat bahwa perempuan yang berdiri di depannya adalah perempuan yang tepat untuk diberi taksu miliknya. Taksu yang di dapat dari para dewa tari. Taksu yang tidak akan pernah menetes lagi.

Dulu, Kambren mengira taksu yang didapatnya dari dewa tari akan dia bawa sampai mati. Tapi begitu melihat Telaga, pikiran itu menguap. Tiba-tiba saja dia merasa bocah perempuan di depannya adalah anaknya. “Hyang Widhi, akhirnya kutemukan juga laut yang tepat untuk menumpahkan limbahku.” Kambren berkata pada dirinya sendiri, lalu menarik napas dalam-dalam (Rusmini, 2004: 96-97).

Ketika Telaga membulatkan tekad untuk menikah dengan Wayan, Telaga sudah paham apa kiranya yang akan ia hadapi di depan. Susah payah Telaga

berjuang melawan kerasnya manusia-manusia yang menolaknya dan kehidupan itu sendiri. Pada Luh Gumbreg, ketika Telaga mengutarakan akan menikah dengan Wayan, penolakan serta merta dilontarkan Gumbreg.

(50) “Tugeg, pikirkan lagi keputusan ini. Tolonglah, ini semua demi kebaikan kami.” Suara perempuan tua itu terdengar penuh iba (Rusmini, 2004: 173).

(51) Ternyata perempuan tua itu tidak berani menerimanya sebagai menantu (Rusmini, 2004: 173).

(52) Meme perempuan kolot, Tugeg perempuan kampung.

Meme tetap tidak bisa menerima hubungan ini. Aib!” Luh Gumbreg duduk di kursi. Matanya semakin sembab (Rusmini, 2004: 175).

(53) “Carilah siapa saja perempuan yang kau mau, Wayan. Jangan Dayu Telaga.” (Rusmini, 2004: 176).

Telaga sudah hamil lima bulan ketika mengutarakan maksudnya ini pada Luh Gumbreg. Dengan nada getir mengungkapkan kehamilannya yang membuat pernikahannya dengan Wayan segera dilaksanakan. Hampir Gumbreg tidak percaya namun Telaga menegaskan bahwa pilihan ini adalah tidak main-main dan serius untuk dijalani. Wayan sendiri sadar, betapa sistem kasta sangat mengekang dirinya juga Telaga. Di saat perasaan yang sama ingin disatukan, tradisi menolak dan memandang hal tersebut sebagai aib yang pantang dilakukan. Kelakuan nekad Wayan dan Telaga pada akhirnya berhasil membuat Wayan dan Telaga bersatu meski rintangan luar biasa beratnya. Kutipan berikut menyatakan ungkapan perasaan Wayan pada Telaga yang bernada penuh emosi dan harapan.

(54) "Tugeg rasakan apa yang tiang katakan lewat mata tiang?" "Tiang takut, Wayan."

"Tiang tahu."

"Jangan lakukan itu pada tiang."

sebagai Wayan Sasmitha. Dan tiang juga berharap Tugeg tidak menyesali peran Tugeg sebagai Ida Ayu Telaga Pidada. Tugeg mengerti maksud

tiang?"

Telaga menarik napas. Ada air melintas di mata beningnya. "Tiang tidak ingin menyesali atau memaki perasaan tiang. Ini pilihan. Tiang harus berani melakukan untuk untuk diri tiang sendiri.

Tiang sadar ini tidak pantas, tetapi perasaan tiang tidak bisa tiang

bohongi. Menjadi manusia yang utuh harus berani bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Tugeg jangan menangis." Wayan menyentuh pipi Telaga.

"Tiang takut. Tiang juga takut dengan diri tiang sendiri." "Kita akan hadapi ini, Tugeg. Tugeg harus yakin. Tiang

percaya Tugeg mengerti apa yang ingin tiang katakan. Saat ini tiang tidak bisa janji apa-apa. Tetapi tiang akan berusaha mewujudkan inmpian ini. Impian yang tiang simpan berpuluh tahun. Sakit rasanya menyimpan terlalu lama."

"Kau tahu perasaan tiang, Wayan?" "Ya. Sejak dulu."

Mereka berdua terdiam. Wayan menggenggam tangan Telaga erat-erat (Rusmini, 2004: 171-172).

Keadaan Telaga yang telah menyudra setelah patiwangi menjadikan Putu Sarma, iparnya, makin berani pada Telaga. Dari dulu Putu Sarma memang memendam rasa tertarik pada Telaga. Karena terkungkung dalam lingkaran tingkatan kasta, Sarma hanya bisa melihat saja ketika Telaga menari. Setelah beripar dengannya, kekurangajaran Sarma makin menjadi-jadi dengan nada dan tindakan yang terkategorikan sebagai pelecehan.

(55) Bayangan Wayan tenggelam saat Telaga merasakan tubuhnya diikat oleh tubuh laki-laki. Telaga berusaha menjerit tapi suaranya tidak keluar. Tangan itu terlalu kukuh. Napas laki-laki itu juga memburu. Lidahnya menelusuri leher Telaga. Telaga harus memberontak. Tapi semakin dia bergerak, tubuh itu semakin rapat.

“Kau tetap cantik Dayu, dalam kondisi apa pun. Sekarang kecantikanmu makin sempurna. Tubuhmu lebih indah. Kau terlihat lebih kasar dan mengundang gairah. Dulu, aku sering menonton tubuhmu di panggung dan berharap bisa menyentuh tubuh porselen itu. Sekarang tubuhmu lain, lebih hidup. Menjadi perempuan sudra memang menarik. Kecantikanmu sebagai perempuan makin lengkap.

robek. Laki-laki itu begitu terlatih untuk menguasai tubuh perempuan (Rusmini, 2004: 210-211).

Pelecehan terjadi di sini. Sarma tak punya adab, dia selalu rakus akan makhluk bernama perempuan tidak peduli siapa itu, pelacur atau bahkan iparnya sendiri – dalam hal ini Telaga. Telaga mengalami pelecehan baik secara fisik maupun mental. Telaga mengalami salah satu bentuk pelecehan seksual. Menurut Fakih (2003 : 20) menyentuh, atau menyenggol bagian tubuh tanpa ada minat atau tanpa seizin dari yang bersangkutan adalah bentuk suatu kekerasan yang dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

Ketika Telaga menikah dengan Wayan, Telaga menikah tanpa restu orang tua. Bahkan tak satu pun keluarga griya datang pada pernikahannya. Dan, setelah sepuluh tahun Telaga datang dan ingin melakukan patiwangi di griya. Saat inilah di sisa hidupnya Tugur ingin menjadi berarti bagi orang disekitarnya terlebih pada Telaga. Tugur masih menyambut Telaga dengan hangat, seolah Tugur mendukung dan berpihak pada diri Telaga. Bagian berikut akan memperjelas sikap Tugur pada Telaga.

(56) “Kau terlihat lebih kurus dan tidak terurus, Telaga.“ Suara Kakek masih bersahabat.

Ratu...” Telaga hampir saja menangis. Tetapi di depan orang-orang griya dia harus menunjukkan harga dirinya. Telaga tidak ingin memperlihatkan kelemahannya.

“Jangan panggil tiang seperti itu. Tiang belum tentu lebih suci darimu. Ke mari. “ Lelaki tua dan tetap gagah itu memluk Telaga erat-erat (Rusmini, 2004: 214).

(57) “Sejak dulu meme-mu cantik. Sama seperti kau juga terlihat makin matang.“ Suara Kakek begitu bersahabat (Rusmini, 2004: 215). (58) “Kau adalah perempuan luar biasa. Tiang bangga

Tiga kutipan di atas menyatakan dukungan Tugur sebagai laki-laki kepada Telaga sebagai perempuan yang luar biasa. Tugur bisa mengerti dan memahami Telaga yang berani mengambil resiko atas apa yang menjadi pilihanya. Tugur bisa menghargai Telaga bukan karena Telaga mampu bertahan selama itu hidup dalam kemiskinan namun karena sikap Telaga yang membuat Tugur membanggakanya. Ida Bagus Tugur memberi penilaian lebih baik - positif atas diri Telaga. Dia bisa legowo menerima Telaga dan bisa memahami jalan pikiran Telaga meski Telaga tidak lagi merupakan anggota keluarga griya. Pendek kata Telaga sanggup bertanggung jawab atas pilihan yang dipilihnya.

Dokumen terkait