BAB II IDENTIFIKASI TIGA GENERASI TOKOH PEREMPUAN
2.5 Tokoh Perempuan Sudra atau Non-Bangsawan
2.5.8 Luh Dampar
Kambren. Luh Dampar memang tidak punya keterkaitan secara langsung pada tokoh perempuan teks TB, namun sedikit penceritaannya adalah salah satu gambaran fakta yang ada di dalam masyarakat Bali. Dampar menikah dengan seorang laki-laki Jerman yang berprofesi sebagai pelukis. Oleh karena kelakuannya sendiri, Dampar dimanfaatkan suaminya sebagai “mesin uang” yang akhirnya membuatnya terjebak dalam kehidupan yang mengerikan. Nasib buruk mengantarnya mati gantung diri di studio lukis milik suaminya.
Dampar mempunyai karakter yang tidak bisa tegas baik untuk dirinya sendiri maupun pada suaminya. Suaminya - tidak disebutkan namanya- memperlakukan Dampar seenak hati dan tanpa tahu rasa kemanusiaan meskipun terhadap istrinya sendiri. Dengan kata lain Dampar dianggap layaknya barang bukan manusia. Kutipan berikut menunjukkan hal tersebut.
(128) ”Kau ingat Luh Dampar, perempuan binal yang merasa tubuhnya paling indah di antara kita semua? Nasibnya sangat buruk. Dia terjebak dalam kehidupan yang mengerikan. Laki-laki Jerman yang selalu dipujanya ternyata memanfaatkan dirinya untuk objek lukisan. Kau tahu, laki-laki itu juga tidak segan-segan menelanjangi istrinya di muka teman-teman pelukisnya.” (Rusmini, 2004: 121–122).
(129) Sejak seringnya orang asing belajar menari dan berteman dengannya, Dampar mulai membuat ulah akhirnya, masuklah dia dalam perangkat lelaki Jerman yang matanya sangat liar serta tidak menaruh hormat pada perempauan. Mata itu adalah mata yang selalu lapar, yang memandang perempuan dengan cara-cara sangat menjijikan. Mata yang amat tajam dan siap menguliti bagian-bagian tertentu tubuh perempuan setiap lekuk pasti menjadi santapan lezat bagiannya (Rusmini, 2004: 123).
(130) Dia ingat nasib Luh Dampar yang mati gantung diri di studio lukis suaminya. Saat itulah untuk pertama kalinya Kambren memasuki sebuah studio. Ruang itu penuh foto-foto, slide, dan rekaman Luh Dampar dalam keadaan telanjang. Bahkan ada video Luh Dampar sedang diikat dan tubuhnya dijilati lima orang laki-laki. Luh Dampar berteriak-teriak (Rusmini, 2004: 127).
Dampar dalam kutipan-kutipan di atas memperlihatkan sisi lemah seorang perempuan yang seharusnya tidak harus ditunjukkan. Dampar tidak bisa melawan dominasi patriakal yang menindasnya. Mengutip Fakih (2003 : 19), poronografi adalah jenis kekerasan lain terhadap perempuan. Jenis kekerasan ini termasuk kekerasan nonfisik, yakni pelecehan terhadap kaum perempaun dimana tubuh perempuan dijadikan objek demi keuntungan seseorang. Dampar mengalami hal ini karena oleh suaminya. Dampar dijadikan “mesin uang” bagi suaminya tersebut.
Kutipan berikut ini menunjukkan maksud pernyataan diatas pada diri Dampar bahwa Dampar dijadikan “mesin uang” oleh suaminya.
(131) Sebuah galeri yang sangat luas, unik dan benar-benar bernuansa etnik Bali. Galeri Dampar, namanya. Kambren sangat mengerti kenapa galeri lukisan yang sedemikian besar dibikin atas nama perempuan malang itu. Tujuannya, tak lain agar laki-laki Jerman pemiliknya tidak karena pajak terlalu tinggi. Di samping juga untuk memudahkan segala urusan administrasi yang memang sering teramat sangat melelehkan di negeri ini.
Dampar harus membayar mahal. Begitu banyak foto telanjangnya yang dibuat dalam ukuran kartu pos. Kambren tahu, lelaki itu benar-benar menjual seluruh tubuh istrinya untuk membiayai hidup (Rusmini, 2004: 128–129).
Dampar terkesan tidak ingin membebaskan diri dari kekangan suaminya. Ia hanya bisa pasrah diperlakukan demikian selain sikap pasrah tersebut. Dampar sangat iri pada Kambren, berkelakuan jahat pula pada Kambren. Kutipan berikut menggambarkan hal tersebut.
(132) Kambren tahu Luh Dampar. Perempuan itu sejak masa kanak-kanak memang cemburu padanya. Apapun yang dilakukan
Kambren, Dampar harus bisa melakukannya.
Yang membuat Kambren tidak mengerti, Dampar senang sekali menjelek-jelekan dirinya. Perempuan itu selalu melakukan kejahatan-kejahatan yang bersifat sangat psikis seperti menyembuyikan kipas atau bunga Kambren bila mereka akan menari bersama-sama (Rusmini, 2004: 122).
Dampar juga diceritakan sebagai perempuan tak berdaya, terlihat jelas pada saat ia mencintai seorang laki-laki bernama Putu Patrajasa, Dampar banyak membual karena laki-laki tersebut tidak menyukainya. Dua kutipan berikut menunjukkan hal itu.
(133) Hidup perempuan itu tidak pernah beres. Dia sering mencintai laki-laki yang salah, laki-laki-laki-laki yang selalu mengejek cintahnya. Entah mengapa. Padahal Dampar cantik, juga cerdas. Dia adalah permpuan yang sangat berani. Pernah ketika sedang jatuh cinta pada laki-laki bernama Putu Patrajasa, Dampar seperti seorang pengemis lapar. Pesakitan yang hanya bisa hidup kembali kalu laki-laki itu memberi dia senyuman atau mengajaknya bicara. Sayang sekali, laki-laki itu justru menghindari Dampar (Rusmini, 2004: 130).
(134) ”Ya, Tugeg. Justru itu kelemahannya. Dia jadi banyak membual, banyak bermimpi. Dia sering bercerita laki-laki A suka padanya tetapi dia tolak, atau laki-laki B sering mengirimnya surat dan banyak lagi kebohongan yang mengerikan.“ (Rusmini, 2004: 131).
Penilaian dari tokoh lain atas diri Dampar secara tertulis tidak terdapat pada teks TB. Namun lelaki Jerman, suaminya - tidak disebutkan namanya dalam teks - menurut interpretasi penulis memberi penilaian atas tokoh Dampar ini. Kiranya dapat disimpulkan bahwa Dampar adalah seorang perempuan penari yang cantik yang membuat laki-laki Jerman tersebut jatuh hati padanya dan kemudian di antara mereka bersepakat untuk menikah. Dampar tidak mengetahui bahwasannya hal itu hanyalah akal licik lelaki Jerman tadi yang hendak memanfaatkan diri Dampar saja.
Kenyataan pahit yang dialami Dampar membuat Dampar rela mengorbankan diri dan membawanya mati gantung diri karena depresi akibat dari perbuatannya sendiri. Dampar mengganggap bahwa gantung diri merupakan satu-satunya cara untuk terlepas dari suaminya.
Tokoh Dampar menampilkan sisi buruk kehidupan di Bali. Penulis mengatakan buruk karena begitu mudahnya pengaruh budaya Barat “meracuni” pola pikir seseorang tentang memaknai hidup. Dampar, karena dampak akulturasi budaya Barat tampaknya tidak bisa lagi memilih dan memilah mana yang pantas diadopsi untuk dirinya.