diselenggarakan tahun
1918
di Surakarta. Gagasan untuk menyelenggarakan KK itu muncul dari seorang bumiputra, Mangkunegoro VII. Setelah KK pertama disusul oleh kongres-kongres berikutnya. Kongres pertama itu telah menjadi motor penggerak diselenggarakannya kongres-kongres berikut. Sebelum Indonesia merdeka telah berlangsung 7 kali kongres (1919, 1921, 1924, 1926, 1929 dan 1937).KK pertama sebelum Indonesia merdeka juga menjadi motor penggerak diselenggarakannya kongres-kongres berikutnya setelah Indonesia merdeka. Kongres kebudayaan terakhir diselenggarakan tahun
2008
di Bogar. Dengan demikian sejak Indonesia merdeka tahun1945
sampai dengan tahun2008
telah berlangsung sebanyak8
kali KK(1948, 1951, 1954, 1957, 1960, 1991, 2003
dan2008).
Selain itu juga telah mendorong diselenggarakannya kongres-kongres kebudayaan daerah, bahasa Indonesia dan daerah, sastra Indonesia dan daerah, kesenian, sejarah, arkeologi, prehistorisi, ilmu pengetahuan, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dll.Selain KK tahun 1918 menjadi motor penggerak berlan�<;ungnya KK berikutnya, juga telah mendorong berlangsung kongres yang membahas unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, sastra, kesenian, sejarah dsb. Semangat berkongres semakin berkembang setelah berlangsungnya sistem pemerintahan yang bersifat desentralistik tahun
2001.
Dinamika masyarakat suku bangsa untuk menyelenggarakan kongres cenderung merembet ke berbagai budaya dan unsur budaya. Masing-masing pemilik budaya daerah seperti berlomba untuk memperbincangkan kebudayaannya. Setelah reformasi telah berlangsung beberapa kali kongres kebudayaan daerah, seperti kongres bebudayaan daerah Madura, Bali, Jawa, Sunda, Banjar, Minangkabau dll. Di bidang bahasa daerah telah berlangsung Kongres Bahasa Aceh, Lampung, Cirebon, Tegal, Makassar, dsb.Selain forum kongres, juga banyak berlangsungforum konferensi gun a membahas masalah kebudayaan maupun unsur kebudayaan. Kesemunya itu patut ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah kebudayaan bangsa dan pada sejarah kongres kebudayaan khususnya. Dari balik semua kongres atau konferensi itu dapat dicatat mengenai latar belakang, siapa penggagasnya, materi yang diperdebatkan dan kesimpulan serta rekomendasi yang disepakati. Semua aktivitas beserta hasil-hasilnya itu patut dihimpun menjadi satu sehingga dapat ditarik benang merah hubungan pemikiran para budayawan, seniman, cendekiawan, dalam membincangkan mengenai konsep, kebijakan dan strategi untuk memajukan kebudayaan bangsa.
B. Pengertian Kongres
Sebelum menginjak pada paparan mengenai perjalanan
95
tahun Kongres Kebudayaan (KK) mulai tahun 1918-2013) beserta kongres dan konferensi lainnya yang terkait dengan kebudayaan, terlebih dahulu perlu diketahui apa makna kata "kongres"dan "konferensi" itu. Kata "kongres" memiliki banyak makna, berasal dari kata bahasa Latin,
"congressus".
Dalam bahasa Belanda ditulis"congres"
dan dalam bahasa lnggris ditulis"congress".
Setelah berlaku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), kata itu diindonesiakan menjadi "kongres". Dalam dokumen Kongres Bahasa Indonesia tahun1938,
kata itu diindonesiakan menjadi"konggeres".
Sementara dalamKamus Umum
Bahasa Indonesia
karya WJS. Poewadarminta terbitan tahun 1965, seperti masih ragu ragu kata itu ditulis dengan huruf "g".diletakkan dalam kurung menjadi"kong(g)eres".
(WJS. Poewadarminta, 1965: hal. 463).Dalam
The Australian Concise Oxford Dictionary,
kata itu diartikan sebagai:"coming
together, meeting; formal meeting of delegates for discussion, esp. of persons belonging
to a particular body or engaged in special studies".
(George W. Turner/Ed.,1987:
hal214 )
. Sementara itu, dalamWebster's New World College Dictionary
dijelaskan beberapa makna kata "kongres", yaitu:a meeting; a coming together; sexual intercourse; social
interaction; an association or society; an assembly or conference; a formal assembly of
representatives, as from various nations or churches, to discuss problems; any of various
legislatures, especially the national legislature of a republic; the legislature of the US,
consisting of the Senate and the House of Representatives
(Perwakilan Rakyat di AS yang terdiri atas Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat:penulis); a session of the legislature;
the body of the Senate and the House of Representatives dwing any of the two-year
terms of Representatives
(Michael Agnes/Ed., 2000: hal. 307).Secara khusus kata "congress" berarti
a meeting,
suatu pertemuan. Dalam kaitan dengan judul buku ini, makna kata "kongres" pada dasarnya adalah sebuah pertemuan(a meeting)
atau pertemuan formal para wakil dari berbagai organisasi(a formal assembly
of representatives, as from various).
Tentu saja pertemuan atau pertemuan formal itu adalah pertemuan organisasi yang berkaitan dengan kebudayaan. Tujuan pertemuan adalah untuk membahas masalah-masalah(to discuss problems)
yang dipandang penting, untuk mendapatkan kesepakatan mengenai cara untuk mengatasinya. Penjelasan yang hampir sama dapat dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam kamus tersebut kata "kongres" mengandung makna:"(rangkaian) pertemuan
para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil
keputusan mengenai suatu masalah."
(Anton M. Muliono/Penyunting,1988:
hal.465).
Sementara itu, pengertian kata "konferensi" menurut Webster's New World College Dictionary berarti:
(1) the act of conversing or consulting on a serious matter; (2)
a formal meeting of a number of people for discussion or consultation; (3) a meeting of
committees from both branches of a legislature to reconcile the differences between bills
passed by branches
(hal.305).
Sementara itu menurut An English-Indonesian Dictionary karya Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, kata"conference"
diterjemahkan menjadi konperensi dan kongres serta pertemuan. (hal.137)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata itu ditulis "konferensi" mengandung arti rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai sesuatu masalah yang dihadapi bersama. Dapat pula berarti "permusyawaratan" dan "muktamar". (KBBI, hal.586)
Bila disbanding-kan, antara kata"congress"
dan"conference"
secara umum memiliki arti yang sama, yaitu"a meeting",
suatu pertemuan untuk membahas (mendiskusikan) suatu masalah(for discussion).
masalah organisasi pemuda, partai politik, agama, perempuan, sosial, organisasi profesi dan organisasi lainnya. Dapat pula mengenai "masalah tertentu" saja, seperti: masalah masalah kesenian, kebudayaan, bahasa, sejarah, pendidikan, kehutanan, agama dan lain-lain." Masalah tertentu" itu masih dapat dipersempit lagi, dengan cara membaginya berdasarkan tema, subtema dan topik yang dinilai penting dan mendesak untuk dibahas dalam forum kongres. Misalnya, kongres mengenai Pendidikan Kebudayaan, Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Seni dan Hak Cipta;, Konsep, Strategi dan Kebijakan Pengembangan Kebudayaan, dll. Peserta yang hadir dalam kongres ( dalam bahasa Belanda disebut
congressist)
sangat bervariasi, tetapi biasanya adalah para ahli, wakil-wakil dari berbagai profesi dan organisasi atau perkumpulan.Masih dalam kaitan dengan makna kata "kongres" dan "konferensi", hasil kegiatan keduanya merupakan bagian yang terpenting. Hasil kongres dapat berbentuk keputusan, kesimpulan, rumusan, saran, usul, dan rekomendasi kongres. Peserta kongres memiliki kewenangan yang tinggi dalam memberikan pendapat dan memutuskan hasil-hasilnya. Hasil itu merupakan kesepakatan bersama para peserta, memiliki kekuatan moral dan politis sebagai penentu arah penyelesaian masalah. Hasil kongres menjadi acuan semua pihak, pemerintah maupun masyarakat. Biasanya, perkembangan hasil pelaksanaan keputusan kongres yang lalu, akan dilaporkan pada kongres berikutnya.
Kongres (Konferensi) Kebudayaan merupakan suatu peristiwa budaya yang amat penting maknanya bagi sebuah bangsa seperti Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa
(multietnik),
beranekaragam kebudayaan(multikultur),
danmultimenta/'
bagi kebudayaan itu sendiri dan di luar kebudayaan seperti bagai upaya memperkukuh jati diri dan membangun persatuan bangsa Indonesia yang utuh, dll. Bangsa Indonesia yang lahir sebagai hasil kesepakatan dari seluruh suku bangsa memerlukan pula kesepakatan-kesepakatan dalam upaya mengembangkan kebudayaannya, baik untuk pengembangan kebudayaan bangsa (nasional) maupun kebudayaan suku bangsa ( daerah). Forum kongres menjadi ajang yang sangat tepat karen a di sana bertemu para budayawan, seniman, cendekiawan, wartawan, pemangku adat, tokoh masyarakat dari berbagai daerah untuk bersama-sama memperbincangkan kebudayaan.Sesuai hasil Konferensi Kebudayaan Indonesia kedua yang diselenggarakan di Jakarta 12-14 Apri11952 disepakati beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam setiap penyelenggaraan KK.
Pertama,
pada tiap-tiap waktu yang tertentu diadakan KONG RES KEBUDAYAAN NASIONAL.Kedua,
putusan-putusan KONG RES KEBUDAYAAN NASIONAL yang mengikat hanya diambil dengan suara bulat.Ketiga,
KONGRES KEBUDAYAAN NASIONAL bersifat perkenalan, perbandingan dan pertukaran pendapat tentang bentuk-bentuk kebudayaan di Indonesia (Warta Kebudayaan/BMKN, 1954).Penamaan kongres yang pernah berlangsung masih belum seragam. Pada kongres yang berlangsung tahun 1948, 1951, 1954 1957 dan 1960 disebut "Kongres Kebudayaan Indonesia", sementara pada kongres tahun 1991 dan 2003 disebut "Kongres Kebudayaan" saja. Di kalangan masyarakat juga terjadi kerancuan, sehingga ada yang menyebutnya sebagai "Kongres Kebudayaan", "Kongres Kebudayaan Nasional", "Kongres Kebudayaan Indonesia" dan "Kongres Kebudayaan Nasional
Mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kristen, Kong Hu Tzu, kebudayaan Portugis, Belanda, lnggris, Jepang, India, China, dll.
Indonesia".
Materi yang didiskusikan dalam KK dapat menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan pengertian, visi, konsep, strategi, kebijakan, program, dan kelembagaan, serta hal-hal lain yang ada kaitan dengan materi yang diperbincangkan. Di samping itu, ada masalah inti yang menurut Bung Hatta akan selalu muncul dalam setiap KK, yaitu mencari jawab pertanyaan "Ke mana arah kebudayaan kita?" (Majalah Indonesia, 1952: hal 23). Oleh karena itu amat tepat bila KK disebut sebagai "arena refleksi perjalanan bangsa". Menurut Kompas, berbeda dengan kongres partai, bobot hasil KK bisa dilihat dari pengenalan dan pemetaan secara tegas dan rinci tentang historisitas bangsa. Ia merupakan catatan atas kegiatan kemanusiaan di segala bidang, terutama yang menyangkut bagaimana peradaban tidak berjalan mundur yang berarti sekaligus merosotnya mutu kemanusiaan kita sebagai bangsa. (Kompas, 23/10/2003)
Sesuai dengan judul buku, kongres dan konferensi yang dimasukkan ke dalam uraian hanyalah pertemuan-pertemuan yang membahas dan mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan atau unsur kebudayaan, yang disampaikan oleh pemrasaran atau pemakalah. Bukah kongres atau konferensi yang membahas tentang masalah organisasi kebudayaan atau unsur kebudayaan, membahas Anggaran Dasar dan Rumah Tangga, pemilihan pengurus, atau rapat tahunan dsb.
C. Sekilas Kebudayaan Masa Penjajahan
Dalam perkembangannya kebudayaan di wilayah Nusantara telah mendapatkan pengaruh dari berbagai budaya asing. Selain mendapat pengaruh budaya Hindu, Budha dan Islam, kehaairan bangsa barat ke wilayah Nusantara, terjadilah pertemuan budaya dengan budaya barat. Dari pertemuan budaya itu secara perlahan-perlahan terjadi terjadi proses saling mempengaruhi. Dalam uraian ini perubahan itu difokuskan pada masa penjajahan Belanda, lnggris dan Jepang.
Kehadiran bangsa Belanda dan lnggris ke negeri ini semula untuk berdagang tetapi akkhirnya bergeser menjadi menjajah dengan membentuk pemerintahan tersendiri. Dengan pembentukan pemerintahan tersendiri itu posisi kerajaan atau kesultanan yang tumbuh di nusantara harus tunduk di bawah pemerintahan mereka. Dalam bidang kebudayaan para penjajah membentuk lembaga kebu-dayaan yang jejaknya masih ada hingga kini. Bahkan konsep tentang lembaga yang didirikan telah dijadikan model untuk membentuk lembaga dengan visi dan misi yang sama setelah
Indonesia merdeka
Keberadaan wilayah Nusantara di persilangan antara negara-negara di belahan Barat dan Timur, Selatan dan Utara telah menjadi "titik temu" hubungan antarbangsa. Diawali dengan pertemuan bangsa-bangsa tetangga di benua Asia seperti India, Thailand, Arab, Persi, dan Cina. Disusul kemudian oleh kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, lnggris, Prancis, dari Barat. Tahun 1942 bangsa Jepang datang menggantikan penjajah Belanda. Pertemuan antarbangsa itu telah meninggalkan jejak dalam berbagai aspek kehidupan yang masih dapat ditelusuri sejarahnya.
Kedatangan bangsa Barat di bumi Nusantara yang pada awalnya untuk berdagang akhirnya berubah jadi menjajah. Mata dagang yang terkenal saat itu adalah rempah-rempah terutama cengkeh dan buah pala, selain kapur barus dari Sumatera
yang diminati oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah. Komoditi cengkeh dan pal a paling dic;ari bangsa Eropa sehingga di kalangan mereka disebutnya sebagai mata dagang 11gold and spices". Dua komoditi itu menjadi rebutan. Emas (go/d) dibeli dari Afrika, rempah-rempah dari 11/ndias" dan dari suatu tempat yang mereka sebut 11as ilhas de cravo" yang mengandung makna "rempah-rempah yang tempatnya menjadi sasaran penjelajahan lautan".(Paraminta R. Abdurrachman, 2008, hal. 228). lni berarti, mata dagang "rempah-rempah" dalam bentuk cengkeh dan pala yang terkenal itu belum diketahui tempat asal yang sebenarnya. Bangsa Barat menda-patkan barang-barang itu dari pedagang Cina yang selama berabad-abad memang merahasiakan, sebelum mereka datang dan mengetahui bahwa barang itu berasal dari kepulauan Maluku. Dengan cara demikian eksportir cengkeh dimonopoli oleh Cina dan Sri Langka" (Paraminta R. Abdurrachman, 2008, hal. 122).
Persaingan dagang antara Portugis, Spanyol dan Belanda di wilayah Nusantara berlangsung sejak tahun 1500-an. Armada dagang Portugis mendarat pertama di Maluku tahun 1511. Setelah dua tahun kedatangannya, Sultan Ternate memberikan hak monopoli kepada Portugis. Tetapi setelah mendarat kapal dagang Spanyol (1521) di Maluku, hak monopoli dipindahkan ke Spanyol karena negara ini berani membayar harga cengkeh dua kali lipat dari pedagang Portugis. (Ad nan Amal M, 2009: hal.25) Selanjutnya, tahun 1601 Portugis dikalahkan Belanda dan tahun 1603 Spanyol meninggalkan Maluku. (Adnan Amal M, 2009, hal. 44). Kehadiran bangsa Portugis selama 57 tahun, Spanyol selama 142 tahun di Maluku, lnggris selama 5 tahun (1811-1816 ), ban gsa Be Ianda selama 350 tahun, dan kemudian digantikan oleh bangsa Jepang selama 3,5 tahun, masing-masing memiliki kebijakan politik yang berbeda-beda. Meskipun kehadiran Portugis, Spanyol, lnggris dan Jepang relatif singkat dibandingkan dengan penjajah Belanda tetapi pengaruh sistem pemerintahan dan kebudayaannya sedikit banyak masih membekas hingga sekarang.
Dengan kepergian Portugis dan Spanyol, Belanda menjadi pemegang hak monopoli perdagangan, tidak hanya wilayah Maluku tetapi mencakup seluruh Nusantara. Sesuai dengan sifat dagang, Belanda dengan segala cara dan strategi berupaya mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mendapatkan untung besar itu ada dua pilihan, yaitu mampu bersaing dengan pedagang lain atau menjadi pedagang tunggal alias memonopoli. Dalam perkembangan selanjutnya Belanada tidak memusatkan perhatian pada mata dagang rempah-rempah saja yang dimonopoli, tetapi juga berbagai tambang, hutan, pertanian dan perkebunan.
Perusahan Beland a yang bergerak di bidang perdagangan semakin lama semakin bertambah jumlahnya, sehingga terjadi persaingan antraperusahan yang tidak sehat. Untuk menyatukan beberapa perusahaan milik Belanda yang saling bersaing itu pemerintah Belanda mengambil kebijakan untuk menjadikan satu perusahaan saja dan untuk itu didirikanlah Verenigde Oost-lndische Compagnie (Y.O.C) atau 11Persekutuan Dagang Hindia Timur" pada tanggal 20 Maret 1602 dengan akte pendirian dari Staaten General (Parlemen Belanda).
Perkumpulan dagang VOC ternyata memiliki hak berdagang yang amat luas, tidak hanya wilayah Nusantara tetapi mulai dari Tanjung Harapan sampai selat Magellan, termasuk pulau-pulau Selatan Pasifik, Kepulauan Jepang, Sri Langka dan Cina Selatan. VOC juga diberi banyak kewenangan, seperti membentuk angkatan
perang, mengawasi para raja dari wilayah kegiatannya, menyatakan perang, menerima perdamaian, membuat perjanjian, serta memaksa raja tunduk kepada VOC. Selain itu juga kewenangan untuk membuat Undang-Undang, peraturan serta membentuk Pengadilan dan Mahkamah Agung (M. Adnan Amal,
2010,
hal.262).
Kehadiran bangsa Be Ianda di wilayah Nusantara dengan seperangkat kewenangan itu telah meninggalkan pengaruh besar di bidang kebudayaan. Pengaruh itu ada yang masuk secara alami tetapi tidak sedikit yang dengan tekanan terhadap segala unsur budaya bangsa. Sisa-sisa pengaruh itu hingga kini masih ada, baik terhadap tinggalan berupa benda budaya
(tangible cultural aspect)
budaya yang bersifat non-fisik atau tak benda(intangible cultural aspect),
hasil penelitiari, perlindungan, pengembangan maupun tinggalan dalam bentuk kelembagaan kebudayaan.Salah satu contoh pengaruh yang berlangsung dalam bentuk tekanan itu dapat dilihat dari pembuatan surat perjanjian (Perjanjian Gianti) yang mengatur wilayah kekuasaan antara pihak Belanda dengan raja Pakoe Boewono VII dari Surakarta. Perjanjian itu membawa pengaruh besar terhadap tata pemerintahan di Jawa dan selanjutnya berdampak terhadap tata budaya Jawa. Akibat dari penandatangan perjanjian itu disimpulkan oleh sejarawan Darsiti Soeratman "telah menyebabkan terjadinya kemerosotan kekuasaan dan pemerintahan keraton Surakarta selama satu abad". Dengan penandatanganan perjanjian itu mem-buktikan posisi raja sebagai pemegang kekuasaan menjadi lemah ketika menghadapi Pemerintah Hindia Belanda.
Sebaliknya, posisi Pemerintah Hindia Belanda sangat menentukan dalam kehidupan pemerintahan kerajaan. Merosotnya kekuasaan di bidang politik ini membawa pengaruh terhadap kedudukan sosial raja. lntervensi terhadap bidang itu semakin mendalam dan terus berjalan selama pemerintahan pengganti-penggantinya, dan akhirnya pada pemerintahan PB X kekuasaan dalam bidang pengadilan sepenuhnya jatuh ke tangan Pemerintah Hindia Belanda
(1903).
Akibat dari kebijakan Belanda itu Sunan lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada kemegahan dengan menyelenggarakan upacara dan pesta di keraton secara besar-besaran yang cenderung meniru budaya Belanda. Di sam ping itu, tindakan PB X dengan sangat sering bepergian ke luar daerah, menampakkan diri di muka umum, mendatangi tokoh-tokoh daerah, hanyalah merupakan suatu usaha untuk menunjukkan wibawa dan kebesarannya. (Darsiti Soeratman,2000:
hal.396 )
.Kenyataan seperti itu tidak hanya terjadi di Kraton Kasunanan Surakarta. Hampir di seluruh kerajaan atau kesultanan kekuasaannya dilemahkan dengan memberlakukan perjanjian dan segala peraturan perundang-undangan yang dibuat semata-mata hanya untuk kepentingan pengekalan penjajahan. Tidak aneh bila kehidupan rakyat menjadi sengsara dan sebaliknya kehidupan pihak penjajah penuh dengan kemewahan. Politik diskriminasi diterapkan dengan ketat sehingga kehidupan masyarakat pribumi ditindas dalam segala hal. Orang bumiputra mendapatkan berbagai macam sebutan, seperti: "pribumi", "nonpribumi", "bumi-putra", "inlander" dihadapkan dengan sebutan 11indo", 11asing", 11Timur asing" yang memang dengan sengaja dikembangkan sebagai bagian dari politik pembagian kelas antara penduduk asli dan pendatang, dalam hal ini kaum penjajah atau bangsa asing lainnya.
Masyarakat dibagi menjadi tiga kelas. Masyarakat kulit putih (Eropa) menempati posisi paling terhormat. Yang menduduki posisi yang terhormat kedua adalah
masyarakat Timur Asing, yakni orang-orang yang berkebangsaan non-Eropa seperti Cina, India dll. Kelas ketiga justru ditempati oleh masyarakat pribumi yang secara turun temurun dan berabad-abad mendiami wilayah Nusantara. Dengan bentuk kebijakan seperti itu memberikan pengaruh besar terhadap gaya hidup masyarakat dan perkem bangan kebudayaan bangsa. Bila ada kaum pribumi yang "terpilih" mendapat kesempatan boleh mengikuti pendidikan, kaum pribumi itu dididik menjadi kebarat baratan, tercabut dari akar kebudayaannya. Bahasa Belanda ditetapkan sebagai bahasa pengantar, dan dengan demikian bahasa lokal terpinggirkan. Dalam bidang kesenian, penyajian seni tradisional digantikan oleh kesenian Barat: bidang seni rupa, seni musik, seni suara, dan seni pertunjukan. Di bidang seni bangunan (arsitektur) banyak berdiri bangunan dengan gaya 11kolonial" atau menurut Djoko Sukiman disebut gaya 11lndis". (Djoko Soekiman, 1996 ). Yang dimaksud den.gan. gaya 'indis' disini adalah gejala percampuran antara gaya hidup aristokrat Jawa dengan gaya hidup orang Belanda di Hindia Belanda, yang mulai timbul subur pad a a bad ke-18 di Jawa yang tercermin dalam gaya perumahannya.
Muncul pula istilah 11mooi indie" di dunia seni lukis. Pada mulanya istilah Mooi lndie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. lstilah itu menjadi popular semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi lndie atau Hindia Belanda yang lndah). (Milone, Pauline D. (1966-67): hal.427-436).
Pada masa pemerintahan penjajah lnggris yang singkat (1811-1816) dapat dikatakan kebijakan di bidang kebudayaan tidak jauh berbeda dengan pemerintah Belanda. Tradisi keilmuan yang telah berkembang di bangsa-bangsa Eropa oleh Gubernur Jenderal TS. Raffles dilanjutkan dan dikembangkan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengganti nomenklatur BGKW menjadi Literary Society. Posisi lembaga Literary Society di pemerintahan berada di bawah Letnan Gubernur Jawa (Lieutenant Governor of Java), yang dijabat oleh Raffles. Misi lembaga ini dititikberatkan pada upaya melakukan penelitian, pencatatan, dan peme-liharaan kebudayaan untuk penyusunan buku sejarah. Lahirlah buku sejarah yang terkenal, History of Java, yang oleh John Bastin dan Bea Brommer disebut sebagai 11mahakarya" yang berisi topografi Jawa yang benar-benar penting. (Thomas Stamford Raflles The History of Java /Terjemahan, 2008: hal. xi). Pada masa Raffles beberapa ahli mendapat tugas melakukan penggambaran, pencatatan dan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan purbakala.
Langkah kedua yang dilakukan oleh lnggris adalah memindahkan kantor BGKW dari Jl. Pintu Besar Selatan ke Jln. Majapahit, dekat gedung Societeit Harmonie (1815). Selama memerintah, kolonial lnggris tidak membangun museum kecuali hanya memindahkan kantor BG,KW. Dalam bekerja Raffles telah memanfaatkan bantuan orang bumiputra sebagai nara sumber. Setelah lnggris menyerahkan ex-Hindia Belanda kepada Belanda sesuai Konvensi London 1814, kebijakan pengurusan kebudayaan yang telah diletakkan oleh Raffles dilanjutkan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Prof. C.G.C. Reinward yang datang ke Jawa tahun 1816 di samping diserahi tugas di bidang
kesenian dan pengetahuan (kunst en wetenschappen), juga di bidang kepurbakalaan ( oudheiden ).
Berbeda dengan kedatangan bangsa Barat, Jepang sebagai bangsa dan negara di benua Asia datang dengan cita-cita membangun imperium di benua Asia menjadi Asia Timur Raya. Bangsa Barat yang menjajah di negara-negara Asia dipukul mundur oleh Jepang. Politik penjajahan yang diterapkan oleh Jepang memang sangat keras. Dalam tempo tiga setengah tahun rakyat Indonesia dibuat menjadi sangat menderita baik fisik maupun batin. Rakyat dipaksa bekerja tanpa diberi upah. Pemuda-pemuda dipaksa menjadi tentara, dilatih dengan disiplin yang keras. Tidak sedikit rakyat yang meninggal karena dihukum, dipaksa perang dan kerja rodi, sakit dan kelaparan. Tetapi