• Tidak ada hasil yang ditemukan

109CONTOH AMICUS CURIAE DALAM DEWAN PENGADILAN PIDANA INTERNASIONAL UNTUK

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 115-117)

militer Hutu dan keduanya menyaksikan tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh prajurit militer Hutu dalam komunitas Taba di mana Akayesu bertanggung jawab atas perdamaian di sana, Penuntut Umum telah memiliki bukti yang cukup bahwa terdapat kasus prima facie untuk menuntut Akayesu atas dasar beberapa tuntutan pemerkosaan.

34. Atas dasar bukti yang diperoleh dari saksi “H” dan “J” mengenai dokumentasi kasus pemerkosaan dalam komunitas Taba dan bukti yang tersedia berkaitan dengan tanggung jawab pidana Akayesu, telah dinyatakan bahwa Penuntut Umum, menurut Statuta, harus meminta ijin Dewan Pengadilan untuk menambahkan dakwaan pemerkosaan dalam surat dakwaan Akayesu.

Referensi: Referensi: Referensi:

Referensi: Referensi: Statuta Pengadilan, Pasal 17; Aturan Prosedur, Aturan 47 dan Aturan 50.

VII: Kegagalan Untuk Menyelidik dan Menuntut Pemerkosaan dan Kekerasan

Seksual terhadap Perempuan secara Keseluruhan

35. Sayangnya, ketiadaan dakwaan pemerkosaan dalam surat dakwaan Akayesu bukanlah hal yang baru. Meskipun laporan mengenai berbagai pemerkosaan di Rwanda selama periode 1 Januari 1994 sampai dengan 31 Desember 1994 yang direferensikan di atas telah menyebar luas, namun tidak ada satu dakwaan pun yang disajikan dan dipastikan oleh Dewan Pengadilan yang dapat menghasilkan tuntutan kepada seorang tertuduh atas tanggung jawab pemerkosaan dan bentuk-bentuk lain dari kekerasan seksual. 36. Laporan dari Pengamat Hak Asasi Manusia/Proyek Hak-Hak Perempuan (Human Rights Watch/Women’s Rights Project) telah mendokumentasikan dan menganalisis masalah-masalah dalam aspek metodologi dan tenaga kerja dari kantor Penuntut Umum di Kigali yang turut berperan serta dalam kegagalan untuk melakukan tuntutan atas kekerasan seksual. Laporan ini juga mengidentifikasi serangkaian tindakan yang perlu dilaksanakan untuk membalikkan prosedur yang sekarang berlaku.

Referensi: Referensi: Referensi:

Referensi: Referensi: Hidup-Hidup yang Terkoyak (Shattered Lives), paragraf 23 di atas, hlm. 8.

37. Merupakan wewenang pengawasan yang inheren dari Dewan Pengadilan untuk meminta penjelasan dalam konteks dakwaan-dakwaan yang disajikan kepadanya mengenai apakah Penuntut Umum telah menggunakan cara-cara dan tenaga kerja yang diperlukan guna secara efektif menyelidiki dan menuntut dakwaan atas kekerasan seksual.

VIII: Dampak dari Kegagalan Mengadili Jean-Paul Akayesu atas Tuduhan

Pemerkosaan

38. Deklarasi Wina dan Program Aksi (The Vienna Declaration and Programme for Action) menyatakan bahwa kekerasan jender adalah pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan bahwa masalah jender harus diintegrasikan secara keseluruhan ke dalam semua aspek dari fungsi sistem hak asasi manusia. Pada beberapa tahun terakhir, hukuman dan pertanggungjawaban untuk kekerasan terhadap perempuan telah menjadi prioritas utama dalam sistem hak asasi manusia PBB.

Referensi: Referensi: Referensi:

Referensi: Referensi: Deklarasi Wina dan Program Aksi (The Vienna Declaration and Programme for Action), Dewan Pengadilan Umum (General Assembly), Konferensi Hak Asasi Manusia Sedunia (World Conference on Human Rights), UN. Doc. A/Conf. 157/23 (12 Juli 1993) paragraf 18, 38;

Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (Declaration on the Elimination of Violence Against Women), Majelis Umum, Sesi ke 48, U.N. Doc. A/Res/48/104 (23 Febuari 1994);

Rekomendasi No. 19 dari Komite untuk Mengakhiri Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee to End Discrimination Against Women): Kekerasan terhadap Perempuan, dalam Rangkuman Komentar Umum dan

110

BUKU REFERENSI Rekomendasi yang Diadopsi oleh Badan Pakta Hak Asasi Manusia (Compilation of General Comments and Recommendations Adopted by Human Rights Treaty Bodies), U.N. Doc. HRI/GEN/1/Rev.2 (29 Maret 1996). 39. Kegagalan Pengadilan untuk mengadili Jean-Paul Akayesu atas dakwaan pemerkosaan meskipun terdapat bukti-bukti nyata bahwa pemerkosaan yang terjadi dalam Komunitas di bawah kekuasaannya telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai komitmen Pengadilan kepada penghapusan kekerasan berbasis jender dan juga perlindungan dan peningkatan hak asasi perempuan.

40. Sebagai tambahan, kegagalan untuk menambahkan dakwaan pemerkosaan pada kasus pertama di hadapan Pengadilan di Arusha, meskipun telah tersedia bukti atas tindakan pemerkosaan dan tanggung jawab pidana yang berkaitan dengan tertuduh, telah membuat satu preseden yang buruk untuk penuntutan di masa yang akan datang membuat para saksi perempuan takut untuk berpartisipasi dalam penyelidikan lebih lanjut dan proses persidangan di Pengadilan. Hal ini juga seolah-olah memberikan pesan kepada para perempuan Rwanda yang telah selamat dan setiap hari harus menghadapi dampak mengerikan dari genosida, termasuk kekerasan seksual, terhadap kesejahteraan mereka secara fisik, mental, sosial dan ekonomi, bahwa kekejian ini ternyata tidak cukup serius untuk layak mendapatkan perhatian dari Pengadilan. Dengan demikian, Pengadilan telah gagal memberikan para perempuan ini keadilan yang setara dan membuat mereka tidak dapat memperoleh pengakuan dan justifikasi dari penderitaan yang telah mereka alami, yang mana hal ini merupakan komponen penting dalam usaha membangun kembali kehidupan dan rasa percaya diri mereka.

41. Terakhir, kegagalan Penuntut Umum dari Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Tribunal) untuk Rwanda dalam usahanya untuk mengadili tindakan pemerkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya dalam kasus Akayesu, dan dalam setiap dakwaan yang telah diberikan sejauh ini, adalah sebuah hasil yang tidak sesuai dengan contoh yang telah diberikan sebelumnya oleh Penuntut Umum dan Pengadilan Pidana Internasional untuk Negara Bekas Yugoslavia yang, setelah pada awalnya terdapat berbagai kritikan dari sejumlah amici curiae yang terlibat, pada akhirnya melakukan terobosan untuk memastikan penuntutan atas tindakan pemerkosaan dan bentuk lain dari kekerasan seksual.

Referensi: Referensi: Referensi: Referensi:

Referensi: Untuk contoh, lihat Penuntut Umum Pengadilan v. Gagovic et al.; Penuntut Umum Pengadilan v. Meakic et al.; dan Penuntut Umum Pengadlian v. Tadic.

IX: Kesimpulan

42. Berkenaan dengan penyajian fakta dan hukum di atas, maka dinyatakan dengan hormat bahwa Pengadilan harus memenuhi mandatnya untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas genosida dan pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum humaniter dan untuk memperlakukan penyiksaan- penyiksaan yang dilakukan terhadap para lelaki dan perempuan dengan tingkat keseriusan yang sama, dengan memanggil Penuntut Umum untuk mengubah dakwaan terhadap Jean-Paul Akayesu dan mendakwanya sebagai berikut:

1. untuk pemerkosaan terhadap para perempuan Tutsi di Taba menurut Pasal 3(f), (g) dan (h) dari Statuta;

2. untuk pemerkosaan terhadap para perempuan Tutsi di Taba menurut Pasal 4(a), (e) dan (h) dari Statuta;

3. untuk mutilasi alat kelamin dan payudara dari para perempuan Tutsi menurut Pasal 3(f) dan Pasal 4(a) dan 4(e) dari Statuta; dan

4. untuk tindakan memparadekan para perempuan Tutsi dalam keadaan telanjang di jalan menurut Pasal 4(a), (e), (h) dan (i) dari Statuta.

111

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 115-117)

Garis besar

Dokumen terkait