• Tidak ada hasil yang ditemukan

43STUDI KASUS

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 49-51)

Ia menunjukkan kepada pewawancara bekas luka pada paha kanannya – “RUF”. Ia berkata bahwa mereka telah menempuh rute dari Freetown menuju Collage, kemudian menuju Occra Hills dan ke Makeni. Ia melaporkan bahwa para pemberontak membiarkan ia kelaparan selama 2-3 hari, membuat ia kecanduan dengan kokain dan membuatnya terinfeksi dengan penyakit seks menular. Ia bercerita kepada PHR bahwa ECOMOG datang ke hutan dan menyelamatkannya lalu mengirimkannya ke markas di Waterloo.

Katmara B.

Katmara B., seorang perempuan berusia 13 tahun bercerita kepada PHR bahwa ia diculik, dipukuli, diperkosa dan dipaksa untuk menjadi “isteri” dari seorang pemberontak. Ia berkata bahwa ia dilepaskan saat tahap terakhir kehamilannya dan sekarang memiliki seorang bayi perempuan. Kisah mengenai apa yang menimpa dirinya dan keluarganya selama penyerangan pemberontak ke Freetown pada Januari 1999 menggambarkan dengan tepat situasi anarki dari masa-masa itu yang membuat ibu kota dan penduduknya menjadi sangat takut: ... malam itu, rumah-rumah dibakar di dalam lingkungan rumah kami, sehingga kami lari ke dalam masjid terdekat untuk mendapatkan perlindungan. Terdapat sangat banyak orang yang bersembunyi di sana. Kami berusaha untuk melarikan diri. Mereka mulai menembak dan membunuh beberapa orang di dalam masjid. Mereka memaksa kami untuk duduk di samping dan masuk ke dalam masjid dan membunuh sekitar 15 orang di dalam sana. Saya melihat mereka melakukannya. Mereka kemudian memanggil kami untuk datang dan melihat mayat-mayatnya. Ayah dari sepupu saya dan bibi saya juga ditembak. Tangan dari seorang paman dipotong dengan menggunakan kapak. Ibu saya berada di dalam masjid, ketika ia melihat saya, ia memanggil saya. Salah satu dari mereka mendengarnya dan berkata “Apabila kamu memanggilnya, kami akan membunuhmu.” Jadi ia tidak memanggil saya lagi. Mereka kemudian membawa kami keluar dan menyuruh kami untuk mengganti pakaian dan memberikan kami pakaian prajurit untuk dikenakan. Kami diberitahui bahwa kami harus melakukan apa pun yang mereka perintahkan kepada kami. Kami diberitahu bahwa ketika mereka sedang berbicara kepada kami, kami harus menjawab dengan “Ya Pak!” (“Yes Sir.”) Pada saat itu kami diberikan pistol dan alat pemotong, dan kami diberitahu bahwa kami harus pergi dan memotong tangan orang. Di tengah perjalanan kami menuju ke mana pun mereka ingin membawa kami, kami bertemu kelompok lain yang dinamakan “Terlahir Telanjang” (Born Naked). Anggota kelompok ini berkeliaran di jalanan dengan telanjang, sama seperti pada saat mereka dilahirkan, dan apabila mereka bertemu orang, mereka akan membunuhnya. Ketika anggota dari “Terlahir Telanjang” melihat kami, mereka mengatakan kepada yang lain bahwa mereka harus membunuh kami karena mereka telah diperingatkan untuk tidak mengambil sandera lagi.

Jadi, dalam perjalanan kami untuk dibunuh, kami dibawa ke sebuah rumah di mana di dalamnya terdapat sekitar 200 orang. Kakak sepupu saya dikirim untuk pergi dan memilih 25 pria dan 25 wanita yang akan dipotong tangannya. Kemudian ia diperintahkan untuk memotong tangan lelaki yang pertama. Ia menolak untuk melakukannya dan mengatakannya bahwa ia takut, sehingga saya kemudian diperintahkan untuk melakukannya. Saya mengatakan bahwa saya tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya dan bahwa saya juga merasa takut. Kami kemudian diperintahkan untuk duduk di samping dan menyaksikan. Jadi kami duduk. Mereka memotong tangan dua orang lelaki. Sepupu saya tidak sanggup menyaksikannya dan menundukkan kepalanya untuk menghindari pemandangan tersebut. Karena ia melakukan itu, mereka menembak kakinya. Mereka memberi perban pada kakinya dan kemudian memaksanya berjalan. Kemudian kami meninggalkan kedua pria yang tangannya telah dipotong. Kami lalu dibawa ke sebuah masjid di Kissy. Mereka membunuh semua orang di sana... Mereka merampas bayi dan anak-anak kecil dari pelukan ibunya dan melemparkan mereka ke udara. Bayi-bayi itu kemudian akan jatuh ke tanah dan meninggal. Pada kesempatan lain mereka juga akan memotong mereka dari bagian belakang kepala untuk membunuh mereka, kamu tahulah, hal yang sama apabila seseorang

44

BUKU REFERENSI

ingin membunuh ayam... Seorang anak perempuan yang bersama-sama kami berusaha untuk kabur. Mereka menyuruhnya untuk melepaskan sandalnya dan memberikannya kepada saya kemudian membunuh anak itu... suatu saat kami bertemu dengan dua orang wanita hamil. Mereka mengikat wanita-wanita itu dengan kaki mereka terbuka lebar dan mengambil tongkat yang runcing kemudian menusuk-nusuk tongkat itu ke dalam rahim mereka sampai bayi-bayinya keluar dengan tongkat tersebut...

Isata

Isata, seorang perempuan berusia 15 tahun dari Mandingo, diculik dan diperkosa beramai-ramai oleh para pemberontak. Ia menjelaskan pengalamannya dan dampak dari hal tersebut pada kesehatannya sampai sekarang:

... Saya tidak memiliki anak. Sebelumnya, saya adalah seorang perawan. Mereka merusak saya. Kisahnya panjang, terlalu panjang. Saya sedang berada di dalam rumah ketika mereka datang dan menculik saya… mereka menginginkan uang. Keluarga saya tidak memiliki uang. Mereka menuntut Le 200.000.00 ($83.00)… mereka mengatakan kepada orang tua saya, ayo datang dan saksikan bagaimana kami memakai anak-anakmu. Mereka melepaskan pakaian lima orang dari kami, menyuruh kami berbaring, dan memakai kami di depan keluarga saya dan membawa kami pergi dengan mereka. Mereka tidak mau melepaskan kami, mereka menahan kami di dalam hutan... Ketika saya melarikan diri, saya tidak dapat berjalan – karena rasa sakitnya. Vagina saya berdarah. Malam itu, Allah memberi saya kekuatan untuk berjalan... Saya tidak dapat mengingat berapa lama saya ditahan... Saya tidak suka berbicara kalau mengingat-ingat kejadian tersebut. Ketika saya berhasil pulang, ibu saya tidak dapat mempercayainya. Sejak saya pulang saya selalu merasa sakit... Saya biasanya tidak pernah sakit seperti ini… Saya ingin kembali ke sekolah, namun saya tidak dapat berkonsentrasi lagi, saya tidak dapat melakukan apa-apa...

Binta K.

Binta K., seorang perempuan berusia 18 tahun, bercerita kepada PHR bahwa ia diculik, dipukuli, diperkosa, dan dipaksa untuk menjadi “isteri” dari seorang pemberontak. Ia kemudian dilepaskan pada tahap terakhir dari kehamilannya dan pada saat wawancara dilakukan ia telah memiliki seorang bayi perempuan berusia dua bulan. Ia bercerita kepada PHR:

... Ketika para pemberontak sedang mundur dari Freetown, mereka datang ke rumah kami dan menangkap kami. Mereka bahkan membunuh beberapa perempuan di dalam rumah kami. Saya sedang bersembunyi dengan beberapa orang perempuan ketika mereka menemukan kami. Kami diberitahu bahwa apabila kami tidak ikut dengan mereka, mereka akan membunuh kami. Ketika saya sedang memohon agar mereka tidak membawa kami, seorang bocah lelaki berusia sekitar 10 tahun yang sedang bersama mereka berkata “Kalau ia tidak mau ikut, berikan ia padaku dan aku akan memotong tangannya. Saya akhirnya pergi.” Saya diperkosa dan ditahan di sana, di dalam hutan. Saya ingin pergi, melarikan diri, namun tidak ada jalan untuk itu. Apabila seseorang tertangkap ketika berusaha melarikan diri, ia akan dibunuh atau dimasukkan ke dalam kotak…

Beberapa waktu kemudian di dalam kesempatan wawancara yang sama, ia mengungkapkan kesedihannya karena sejumlah besar anggota keluarganya menyalahkan dirinya karena ia dianggap tidak berusaha lebih keras untuk melarikan diri. Ia dan bayinya hidup bersama seorang teman perempuan pada saat wawancara dilakukan.

45

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 49-51)

Garis besar

Dokumen terkait