• Tidak ada hasil yang ditemukan

37STUDI KASUS

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 43-45)

Waktu itu, TNI membuat gedung di Pos Koramil Dare yang mereka bilang semacam sekolah/asrama untuk menampung ibu-ibu yang suaminya sudah dibawa ke Atauro. Tetapi yang mereka bangun bukan sekolah sebenarnya, tapi tempat di mana perempuan disuruh tinggal sama-sama dengan TNI. Itulah tempat di mana saya tinggal. Setiap hari saya dipanggil untuk diinterogasi, namun sebelum diinterogasi mereka sudah diberi informasi palsu tentang saya dari komandan Hansip (Danki), seorang Timor asli yang tinggal di Hatubuilico. Kalau saya bicara tidak sesuai dengan informasi palsu yang diberikan oleh Hansip itu, maka saya mulai disiksa dan diperkosa. Pada waktu itu, bukan hanya saya sendiri yang diperkosa tapi ada ibu-ibu yang masih menyusui, ada yang anaknya baru berumur dua bulan, ada yang anaknya berumur tiga, empat tahun. Kalau TNI memperkosa ibu-ibu itu, mereka dibawa ke luar sehingga dipisahkan dari anaknya. Biar anaknya menangis, tapi TNI tidak hiraukan karena mereka mau memuaskan nafsu mereka. Mereka juga memperkosa ibu-ibu yang hamil.

Pada waktu itu, ada salah satu suami bernama E dari salah seorang ibu dan anak yang saya ceritakan di atas. Kedua tangannya diikat ke belakang, kemudian ia diikat lagi di belakang mobil Hino baru ia ditarik putar balik di wilayah Dare. Sambil mobil tarik, ia dipukul oleh TNI dan Hansip yang lain dengan kayu ketika ia lewat sampai badannya hancur tinggal tulang yang kelihatan putih kecuali mukanya yang kelihatan masih utuh. Ada lagi salah satu pemuda yang dimasukkan ke dalam plastik yang biasanya dipakai untuk diisi dengan gula pasir yang beratnya 50 kg. Bukan saknya tapi plastik putih di dalam yang dipakai oleh TNI untuk kasi masuk pemuda tersebut. Kemudian plastik diikat, lalu disiram dengan minyak tanah baru pemuda dibakar hidup-hidup. Setelah itu baru dia mati. Tetapi waktu itu sangat aneh sebab walaupun dia sudah meninggal dia masih berlutut dan tangan sebelah kanan tetap diangkat padahal badannya sudah hangus. Saya menyaksikan dengan mata saya sendiri perlakuan yang sangat sadis terhadap kedua teman laki-laki itu.

Akhirnya saya harus mencari suatu solusi, yaitu mau melarikan diri ke Asrama Susteran Ainaro untuk melanjutkan sekolah di SMPK Ainaro. Saya bilang saya ada urusan sementara di Ainaro sehingga saya dapat izin ke sana, padahal saya melarikan diri ke sana dan berhasil bersekolah lagi, walaupun tidak lama. Dengan cara tersebut saya coba menghindari diri dari ancaman-ancaman yang dilakukan oleh TNI. Namun mereka pakai berbagai cara pada waktu itu sehingga akhirnya saya tetap ditangkap. Mereka sendiri membuat sebuah surat pernyataan bahwa kegiatan saya betul-betul ada hubungan dengan orang-orang Falintil sesuai tuduhan mereka pada waktu interogasi yang lalu. Terus mereka membawa surat palsu itu ke Kepala Sekolah untuk menangkap saya. Jadi pada bulan September tahun 1982 saya ditangkap kembali di baru mereka mulai memperkosa saya. Setelah diperkosa saya dibakar dengan sepuntung rokok di bagian muka dan di tangan sampai luka hitam. Semua perbuatan itu mereka lakukan terhadap saya selama satu bulan di Pos Koramil Dare.

Saya juga diperlakukan sebagai budak. Setiap hari saya disuruh untuk cuci pakaian TNI, masak, dan lain- lain. Mereka juga memaksa saya pakai pakaian seragam TNI. Saya diberi ransel, radio rekal [semacam alat komunikasi seperti HT], pistol, dan amunisi. Mereka mengajar saya sehingga saya bisa menggunakan alat-alat tersebut supaya saya bisa beroperasi bersama mereka ketika mereka pergi ke Gunung Kablaki untuk mencari komandan Falintil. Kadang-kadang ransel terlalu berat sampai saya jatuh, satu kali saya jatuh di tengah kali sampai pakaian seragam basah semua. Tetapi kalau saya jatuh TNI tidak menghiraukan dan menyuruh saya untuk berjalan terus. Setibanya kami di Gunung Kablaki saya diserahkan kepada pasukan yang bertugas di sana untuk diperkosa. Setelah itu kami pulang ke Pos Koramil Dare dengan alasan bahwa para komandan Falintil tidak ditemukan. Pada hari berikutnya saya tidak mau ikut untuk beroperasi lagi.

38

BUKU REFERENSI SMPK Ainaro oleh empat orang, yaitu dua orang anggota TNI (orang Indonesia) dan dua orang Hansip (orang Timor), yang membawa saya ke Kodim Ainaro.

Sampai di Kodim Ainaro, Kasi Intel Kodim sedang pergi ke Desa Kasa sehingga harus saya tunggu sampai sore hari sekitar pukul 14.00 wita baru Bapak itu datang. Ia langsung bertanya kepada anak buahnya, “Ini yang namanya AB? Sekarang kamu tunggu. Saya mandi dulu.” Setelah dia mandi saya langsung dipanggil tidak ke ruang interogasi malahan saya dibawa ke kamar tidur Kasi Intel untuk diperkosa. Setelah itu mereka anggota intelejen mulai menginterogasi saya dengan bermacam-macam tuduhan: Apakah kamu pernah membantu memberikan makanan kepada Falintil? Apakah rumahmu adalah tempat untuk pertemuan orang Falintil? Namun saya tetap menyangkal, dan di situ mereka mulai menyiksa saya pada kedua kalinya.

Pada awalnya mereka menjamah saya mulai dari kepala sampai pada kaki. Setelah itu mereka memukul saya dengan kursi kayu pada bagian kepala saya sampai luka sehingga darah saya mengalir ke bagian muka saya serta baju saya sampai berlumuran darah. Sekaligus mereka memasukkan kabel listrik untuk menyetrum di dalam telingaku. Tangan dan kaki saya juga disetrum. Setiap kali mereka menyodorkan pertanyaan, saya dibakar dengan puntung rokok (di mulut, di muka, atau di bagian lain badan saya) atau saya disetrum. Setelah saya tidak berdaya lagi baru mereka mulai memperkosa saya. Kemudian, mereka membawa saya ke tempat WC [di Kantor Kasi Intel] dan saya ditahan di situ selama tiga bulan. Setiap hari pada saat mereka membuang kotoran saya terpaksa harus ke luar dari tempat tersebut. Kotoran-kotoran kecil/besar tidak pernah disiram dengan air. Di situlah saya tidur, makan, dan beristrihat selama tiga bulan. Makanan saya ditaruh di dalam kaleng susu kental yang kecil dan saya dapat itu sekali sehari. Air minum buat saya juga ditaruh di kaleng itu. Selama tiga bulan, itu saya tidak pernah mengganti pakaian dan tidak pernah mandi.

Pada satu hari, semua TNI harus turun ke Dili untuk mengikuti suatu acara. Ketika mereka semua ke luar, ada seorang Hansip, orang Timor, yang memanfaatkan kesempatan dan berusaha memperkosa saya. Ia mulai meraba saya dan bilang ia anggap saya sebagai isteri kedua. Saya menegur dia bilang, “Bapak sudah ada isteri. Saya juga sudah punya suami. Jangan memperlakukan saya sama seperti orang pendatang. Nanti suami saya pulang dari Atauro dan kami (saya dan suami) berjalan bersama-sama, Bapak mau bilang apa?” Dengan cara itu saya mencegah pemerkosaan oleh dia pada saat itu. Terus pada sore harinya ketika TNI telah kembali dari Dili, Hansip melaporkan kepada mereka. Ia bilang, “AB bilang sama saya ia mengingat suami Falintil di hutan.” Padahal saya tidak pernah omong demikian. Langsung pada malam itu, TNI membawa orang tahanan – 7 laki-laki dan 2 perempuan, termasuk saya – untuk membuang kami di Builico [suatu jurang yang sangat dalam yang dikenal sebagai Jakarta 2]. Sampai di situ, 7 laki-laki disuruh berdiri di pinggir dan didorong ke dalam jurang, langsung mati, sedangkan waktu mereka mau dorong saya sama teman saya, kami pegang kaki dia supaya kalau kami jatuh, kami jatuh bersama dengan TNI. Salah satu Komandan bilang begini, “Bagaimana? Apakah kita mau membunuh mereka atau kita membawa pulang saja?” TNI satu lagi bilang lebih baik kami dibawa pulang saja, yang lain telah mati. Setelah pulang, saya dan teman langsung disiksa dan diperkosa lagi. Tiada hari tanpa pemerkosaan. Setiap saat, setiap hari, saya sama teman-teman diperkosa.

Pada suatu hari, ada seorang teman bernama F disuruh ke Kantor Kasi Intel. F juga seorang tahanan TNI, tetapi dia ditahan di tempat lain, yaitu Kodim. Ia juga diperlakukan sama seperti saya (disiksa dan diperkosa). Waktu ia ke Kantor Kasi Intel, ia melihat saya di WC terus berbisik kepada saya melalui satu lobang kecil yang ada di tembok, “Lebih baik kamu mengaku saja apa yang ditanyakan oleh mereka supaya kamu cepat bebas dari sel WC ini. Apa saja mereka tanyakan, kamu setuju saja dan bilang bahwa F yang

39

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 43-45)

Garis besar

Dokumen terkait