menjadi pimpinan kalian.” Akhirnya saya bilang kepada TNI bahwa F adalah pemimpin saya. Setelah mereka dapat konfirmasi dari F bahwa memang itu betul mereka membebaskan saya dari sel WC dan memindahkan saya ke sel besi. Di situlah saya tinggal selama tiga bulan lagi sampai bulan April 1983. Saya dibebaskan dan kemudian kembali ke Dare.
Tidak lama setelah kembali, suami saya pun dibebaskan dari penjara di Atauro. Lalu keluarga dari kedua belah pihak kami berkumpul kembali untuk membahas mengenai semua masalah yang saya alami selama beberapa bulan di tangan militer Indonesia. Pada satu waktu, saya dan suami saya berkumpul bersama seorang pastor. Pada kesempatan itu, saya langsung memberitahukan kepada suami saya bahwa semuanya saya kembalikan kepada dia karena apa yang mereka lakukan itu dipaksa, bukan saya yang mau. Terus pastor tanya suami saya, apakah ia mau menerima kembali saya sebagai isteri dan suami saya mau. Dan dari situlah kami berdua kembali ke Mauxiga untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia.
Sebelum semua ini terjadi kami berdua belum ada anak, jadi kami ingin sekali memperoleh anak, tetapi harus kami menanti selama 10 tahun. Setelah 10 tahun saya pergi untuk diperiksa dan dokter bilang mungkin saya tidak dapat menjadi hamil akibat siksaan yang dulu saya alami, seperti tubuh disetrum, punggung belakang dipukul, dan mungkin kerusakan alat-alat reproduksi akibat pemerkosaan. Saya diperiksa lengkap oleh dokter, tetapi tidak ada hasil yang baik, sehingga saya ke seorang dukun untuk dipijit dan ia kasih ramuan tradisional. Akhirnya saya menjadi hamil, tetapi waktu mau melahirkan, saya sangat-sangat susah. Saya telah melahirkan empat orang, tetapi waktu melahirkan anak terakhir saya hampir mati oleh sebab rasanya rahim saya mau hancur sama punggung belakang terlalu sakit.
Kasus Sierra Leone
Bola N.
Pada bulan Febuari 2001, para Dokter untuk Hak Asasi Manusia (Physicians for Human Rights, PHR) mewawancarai seorang perempuan berusia 15 tahun, Bola N. Para pemberontak telah menculik dia sebanyak empat kali sejak tahun 1999. Pada saat wawancara berlangsung, ia mengatakan kepada PHR bahwa ia sedang mengandung selama dua bulan dan hidup di sebuah tempat milik IDP di Port Loko. Ia menjelaskan penculikan pertamanya kepada pewawancara:
Ketika mereka pertama kali menyerang desa kami, kami melarikan diri menuju hutan. Ketika mereka memindahkan kami dari desa kami, kami merasa sangat ketakutan ... mereka menahan kami, mereka memotong tangan beberapa orang, mereka membunuh beberapa orang, mereka memaksa dan mengikat kami, kami dibawa ke hutan di mana tindakan seksual dipaksakan kepada kami. ... sembilan orang memperkosa saya ... ibu saya dibawa pergi, seluruh harta milik saya juga diambil. Saya tidur selama tiga hari di dalam hutan setelah mereka memperkosa saya. Saya tidak sadarkan diri, saya tidak merasa sebagai diri saya sendiri. ... setelah mereka puas memperkosa saya, mereka meninggalkan saya di hutan. Saya dipukuli, terdapat memar-memar di tubuh saya, bagian dari tubuh saya. Beberapa orang di sekitar saya diamputasi. Saya parah.
Saat ia menjelaskan penculikannya, ia melingkarkan tangannya di sekitar badannya dan menurunkan nada suaranya sampai terdengar menjadi bisikan:
Penangkapan pertama terhadap saya adalah saat sembilan lelaki memperkosa saya. Kemudian saya ditinggalkan di hutan. Penangkapan kedua kali saya ditahan selama sebulan lebih, dan dibawa ke pangkalan mereka. Terdapat banyak, sangat banyak prajurit di sana. Terdapat pula banyak wanita muda
40
BUKU REFERENSI
yang ditahan di sana. Saya diperintah tidak hanya untuk melayani satu orang lelaki saja, selama kamu berparas cantik, kamu harus berhubungan badan dengan mereka semua. Pada penangkapan ketiga mereka telah mengingat saya. Mereka tahu diri saya. Mereka menggunakan bahasa yang kasar. Saya kabur pada malam hari. Penangkapan keempat terjadi tahun lalu: mereka melakukan penyerangan [saat tamasya para wanita dari tempat IDP]. Mereka datang menyerang kami, memperkosa kami, mereka memaksa kami untuk kembali ke desa dan mempersiapkan makanan untuk mereka, jadi kami harus melarikan diri. Kami takut untuk kembali ke desa. Maka kami melarikan diri.
Selama penculikan dan pemerkosaannya yang berulang-ulang, ia mengalami dua kali keguguran. Ia telah bertunangan dengan satu orang lelaki pada saat pemerkosaan yang pertama, namun lelaki itu meninggalkannya ketika ia mendengar berita mengenai hal itu:
Saya baru saja bertunangan dengan seseorang. Jadi ketika saya pergi ke hutan, saya tengah mengandung. Karena sembilan orang yang memperkosa saya, saya harus menggugurkan kandungan. Maka dari itu suami saya harus membatalkan pertunangan. Lelaki yang sekarang menjadi suami saya adalah orang baru. Ia berkata bahwa suaminya yang baru ini tidak mengetahui apa yang telah menimpanya di tengah hutan. Ia bercerita kepada PHR bahwa ia tidak pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan sebelum kelahiran sebab ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia sedang mengandung, walaupun ia menyatakan bahwa ia akan pergi ke dokter saat kandungannya mulai terlihat. Ia tidak pergi ke rumah sakit saat ia keguguran karena mereka memintanya untuk membayar 1.000 Leones (kurang lebih 30 sen) hanya untuk mendaftar. Biaya untuk perawatan kesehatan juga telah mencegahnya untuk meminta perawatan berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan yang dialaminya sejak diculik. Ia menyatakan bahwa ia tidak dapat tidur pada malam hari. Setiap malam ia terbangun dan menangis. Keluarganya telah dibunuh. Tunangannya yang pertama telah meninggalkan dirinya. Ia terlalu takut untuk menceritakan kepada orang lain mengenai kekerasan yang telah dialaminya. Ketika ditanyakan apakah ia telah menceritakan kepada orang lain mengenai kejadian-kejadian ini sebelum wawancara dengan PHR, ia menyatakan bahwa ia telah memberitahu seorang teman yang mengantarnya ke rumah sakit setelah penyerangan pertama, namun tidak ada orang lain yang diceritakannya. Tidak ada satu orang pun dari keluarganya yang mengetahui apa yang telah terjadi padanya.
Sampa K.
Seorang perempuan lain, Sampa K., memiliki 11 orang anak yang berada di dalam perawatannya saat terjadi penyerangan oleh para pemberontak. Ia bercerita kepada PHR bahwa mereka menculiknya selama dua tahun, memisahkan dirinya dari semua anak-anak itu, kecuali satu orang yang dibiarkan tetap bersamanya. Beberapa dari mereka dibunuh, yang lain telah pergi berpencar-pencar. Sampa menjelaskan penyerangan pertama:
Saya bangun pada pagi hari, kira-kira pukul dua dan kemudian membersihkan rumah. ... Pada saat saya sedang membawa barang bawaan, anak-anak saya yang perempuan berkata, “Mama! Para pemberontak telah datang!” saya menjatuhkan semuanya. Saya lalu bersiap-siap untuk kabur melalui hutan dengan seorang bayi di punggung saya. Namun mereka berjumlah sangat banyak, saya tidak dapat melarikan diri. Mereka memukul saya, mengambil bayi di punggung saya dan melemparkannya, bayi tersebut terlalu lelah. Kemudian mereka mulai melakukan perbuatan itu kepada saya, mereka berjumlah sangat banyak.