• Tidak ada hasil yang ditemukan

41STUDI KASUS

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 47-49)

Setelah itu, selama masa ia menjadi pelayan para pemberontak, ia berusaha untuk menyelamatkan anaknya yang masih bayi, namun hal itu sia-sia:

Saya sampai menangis bersama dengan bayi saya, bayi itu sedang menangis, saya berusaha untuk membuat bayi itu mengisap ASI [Air Susu Ibu]. Dan pada saat itu bahkan belum genap lima hari, [ketika] saya kehilangan bayi itu. Sang bayi tengah mengalami kesulitan. Setiap hari saya harus tidur dengan para lelaki. Setiap hari saya tidur dengan para lelaki dan saya tidak dapat menolak – senapan di mana- mana, mereka mengancam saya dengan senapan. Senapan di mana-mana. Dan kemudian salah satu dari mereka berkata berikanlah ASI kepada anak itu. Dan setiap kali saya berusaha memberikan ASI, bayi itu menolaknya. Dan hal itu berlanjut terus sehingga untuk tiga hari saya tidak dapat memberikan makanan apa-apa kepada bayiku.

Ia menempuh perjalanan selama dua tahun, hidup sebagai “isteri” dari salah seorang pemberontak. Pemberontak itu membuatnya tetap menurut dengan memaksanya mengonsumsi narkotika:

Setiap hari lelaki ini memberikan saya beberapa tablet untuk diminum, beberapa berwarna hijau, beberapa berwarna biru, beberapa berwarna merah. Saya meminum tablet-tablet itu supaya saya tidak akan memiliki masalah dengan sang lelaki. Lelaki itu selalu berkata kepada saya untuk meminum tablet ini, ini baik untuk saya.

Selama wawancara berlangsung, Sampa memperlihatkan ekspresi kosong di wajahnya, dan menceritakan kenyataan hidupnya saat diculik dan dijadikan budak seksual dengan nada suara yang datar dan langsung ke tujuan. Sikap tersebut terus berlangsung sampai pada saat ia ditanyakan apa yang dapat membantu dirinya, saat itu sikapnya langsung berubah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia menjelaskan mimpi buruk yang baru-baru ini dialaminya, di mana ia kembali dikejar-kejar oleh para pemberontak. Mereka mengacung-acungkan pisau yang membuatnya merasa sangat ketakutan. Mereka mengejarnya, berniat untuk membunuhnya apabila mereka bisa menangkapnya, sampai ke sebuah jembatan. Mimpi itu berakhir dengan Sampa yang memutuskan untuk berdiri di ujung jembatan, bersiap-siap untuk melompat dan meninggal daripada harus ditangkap lagi.

Aminata K.

Aminata K. yang berusia 20 tahun ingin menceritakan pengalaman hidupnya, namun tidak ingin direkam. Ia sedang mengandung selama 8 bulan pada saat wawancara dilakukan. Aminata ditangkap oleh kelompok pecahan dari AFRC, yaitu West Side Boys, di desa Mafore di dalam daerah Port Loko pada tahun 1999 dan ditahan selama hampir dua tahun. Menurut Aminata K., mereka telah membunuh seorang pria muda, meninggalkan beberapa orang wanita tua dan membawa serta Aminata, bersama dengan seorang anak lelaki dan dua orang perempuan lainnya, menuju pangkalan mereka. Ia bercerita bahwa ia dipaksa untuk meninggalkan bayinya yang pada saat itu berusia delapan bulan. Ia bercerita kepada PHR bahwa ia ditahan di pangkalan selama setahun dan satu bulan serta dipaksa untuk menikahi seorang anggota muda dari West Side Boys yang bernama James. Pertama, ia diawasi dengan sangat ketat dan kemudian dipaksa untuk pergi bersama dengan yang lain untuk merampok sebuah desa, sebuah kegiatan yang dinamakan “jaja” oleh para pemberontak. Ia melihat mereka membakar banyak sekali rumah. Pemimpin mereka dipanggil dengan nama “Pape” atau “Sammy”. Ia bercerita bahwa ia berhasil melarikan diri dengan mengatakan kepada para pemberontak bahwa ia akan pergi untuk mencuci bajunya dan kemudian kabur menuju desa tempat tinggalnya di mana ia menemukan keluarga sedang mencari makanan. Aminata bercerita kepada PHR bahwa ia sedang mengandung bayi sebagai hasil dari pemerkosaan dan mengaku bahwa ia sekarang merasa sangat depresi dan tidak memiliki harapan. Sebelum ia diculik, ia telah menikah

42

BUKU REFERENSI dan memiliki tiga orang anak. Salah satu dari anaknya meninggal, namun dua orang lagi masih hidup. Orang-tuanya merawat bayinya yang masih kecil. Sejak kembali dari tempat penculikannya, suaminya meninggalkannya dan mereka telah bercerai. Ia berkata bahwa setelah ia kembali, suaminya terus-menerus mengatakan, “Ini bukan anak saya – kamu sedang mengandung anak – dan itu bukan anak saya,” dan setelah beberapa bulan sang suami meninggalkannya. Ia ingin menggugurkan kandungannya dengan menggunakan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, namun keluarganya memintanya untuk tidak melakukan hal tersebut karena itu bisa membunuhnya dan kemudian mereka menawarkan untuk membantu membesarkan anak yang tengah dikandung itu. Ia berkata bahwa meskipun demikian, ia tetap merasa khawatir karena ia tidak memiliki suami atau pekerjaan dan sangat tergantung kepada orang lain. Mereka saat ini hidup di tenda-tenda IDP, namun terkadang mereka kembali ke desanya untuk melihat apabila mereka dapat membangun kembali rumah mereka yang dulu – namun ia tidak melihat bahwa ia memiliki banyak harapan untuk masa yang akan datang.

Kaidatu S.

Kadiatu S. berusia 16 tahun pada saat wawancara dengan PHR dilaksanakan. Ia diculik saat ia masih berusia 14 tahun. Ia tidak sempat mengenyam pendidikan formal, namun ia sempat bekerja membantu ibunya, seorang wanita karier di Kono. “Para pemberontak menyerang kota sehingga kami melarikan diri. Saya terpisah dari orang tua saya dan berjalan kaki selama sembilan hari di antara semak-semak bersama dengan lima orang perempuan lain menuju kota berikutnya. Kami kemudian diculik oleh para pemberontak. Mereka memanfaatkan saya dan mengancam untuk membunuh saya dengan pistol.”

Seorang pemimpin pemberontakan menghentikan mereka saat mereka berusaha membunuh Kadiatu dan membawanya kembali ke pangkalan mereka. ECOMOG kemudian menyerang pangkalan tersebut. Seorang prajurit ECOMOG lalu mengambilnya untuk dijadikan isteri. Ia kemudian ikut berjalan dengan ECOMOG dan tinggal di Kailahun selama kurang lebih satu tahun. Ia kemudian menumpang kendaraan yang dipenuhi oleh para pemberontak. “Apabila kamu adalah seorang isteri pemberontak yang setia, kamu bisa menumpang kendaraan para pemberontak menuju kota untuk berbelanja.” Ia kemudian mengatakan kepada mereka bahwa ia akan mengunjungi kerabatnya di Makeni. Mereka mengasumsikan bahwa ia telah ikut menjadi seorang pemberontak dan akan kembali kepada mereka. Kabiatu berhasil menemukan jalan sampai ke Freetown, di mana ia lalu menghubungi bibinya. Ia kemudian dibawa kepada pamannya, seorang dokter, dan didiagnosa telah mengandung selama enam bulan. Ia menjadi sangat putus asa karenanya. Kabiatu menyatakan bahwa ia tidak menangis, walaupun ia sangat sedih dan marah mengenai kehamilannya tersebut. Ibunya kemudian datang ke Freetown untuk menjemputnya.

Hawa

Hawa yang berusia 17 tahun bercerita kepada PHR bahwa di dalam hutan ia melahirkan seorang bayi perempuan, bayi yang telah meninggal dalam rahimnya sebelum terlahir. Bayi itu dikandungnya selama delapan bulan, dan selama itu pula ia tidak pernah menginginkan bayi itu.

Para pemberontak membakar rumah ayah saya dan ibu saya melompat ke luar melalui jendela. Para pemberontak menembaknya di dada dan membunuhnya. Ayah saya menjadi terlalu depresi untuk bekerja. Ia hidup di dalam rumah itu dan sedang memperbaikinya. Para pemberontak membawa saya ke hutan dan menahan saya selama enam bulan. Saya kemudian dijadikan seorang isteri sungguhan.

43

Dalam dokumen Hukum Pidana Internasional dan Perempuan (Halaman 47-49)

Garis besar

Dokumen terkait