8. Untuk memenuhi tujuan ini, Statuta memberikan tugas kepada Penuntut Umum untuk menyelidiki dakwaan, mempersiapkan penuntutan dan persidangan; Statuta juga melimpahkan kepada Dewan Pengadilan tanggung jawab untuk mendengarkan kasus yang dihadirkan dan mempertimbangkan naik banding. Dengan itu, Statuta dan Aturan Prosedur [Hukum Acara] yang dibuat oleh Dewan Pengadilan sehubungan dengan Statuta memberikan Dewan Pengadilan baik kekuasaan eksplisit maupun inheren untuk melihat serta melengkapi pekerjaan Penuntut Umum dengan tujuan memastikan bahwa mandat Pengadilan dilaksanakan secara penuh.
Referensi ReferensiReferensi
ReferensiReferensi: Statuta, Pasal 10,17; Aturan Prosedur, Aturan 47(A).
9. Sebagai contoh, Aturan Prosedur menegaskan peran Hakim atau Dewan Pengadilan untuk berada lebih dari sekadar mendengar dan memutuskan berdasarkan bukti yang diajukan di persidangan. Sebaliknya, seorang Hakim atau Dewan Pengadilan, dengan inisiatifnya sendiri, dapat memberikan perintah-perintah seperti panggilan untuk datang dalam persidangan (summon), panggilan untuk memberikan kesaksian (subpoena), surat penggeledahan (warrant) dan perintah transfer bila diperlukan untuk tujuan penyelidikan atau untuk persiapan maupun pelaksanaan persidangan.
Referensi ReferensiReferensi
ReferensiReferensi: Aturan Prosedur, Aturan 54.
10. Aturan Prosedur juga memberikan kuasa kepada Hakim dalam Dewan Pengadilan untuk memerintahkan pihak mana pun untuk mencari bukti tambahan atau Dewan Pengadilan sendiri yang mengumpulkan saksi-saksi atau meminta kehadiran mereka.
Referensi ReferensiReferensi
ReferensiReferensi: Aturan Prosedur, Aturan 98.
11. Rasa hormat terhadap prinsip keadilan dan penghindaran kegagalan keadilan merupakan akar dari kekuasaan Pengadilan dan Dewan Pengadilan.
Referensi ReferensiReferensi
ReferensiReferensi: Aturan Prosedur, Aturan 5.
12. Seperti yang akan dipaparkan secara lebih rinci di bawah ini, kegagalan untuk mengamendemen dakwaan atas terdakwa Akayesu, di mana telah terdapat bukti-bukti yang jelas pada persidangan dan terdapat indikasi bukti yang lebih jauh dalam dokumentasi yang tersedia, menghasilkan ketidakadilan dan meruntuhkan keadilan dalam mandat umum Pengadilan untuk mengadili orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran serius hukum humaniter karena:
(1) ... Pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia yang diderita oleh perempuan yang diperkosa di Komunitas Taba di bawah kekuasaan Akayesu tidak dipedulikan;
(2) ... Jean Paul Akayesu diberikan impunitas efektif atas pemerkosaan yang dilakukan dalam Komunitas- nya;
(3) ... Komunitas, dan terutama perempuan dalam komunitas, tidak mendapatkan justifikasi dan kepuasan bahwa telah terdapat persidangan yang adil untuk isu tersebut dan bahwa keadilan telah ditegakkan; (4) ... Kegagalan Penuntut Umum untuk melakukan penyelidikan dan mendakwa Akayesu atas pemerkosaan saat terdapat kesaksian mengenai pemerkosaan di persidangan memberikan kesan bahwa Pengadilan tidak mempertimbangkan pemerkosaan dan kekerasan seksual sama pentingnya dengan pelanggaran lain dan karenanya mendiskriminasi perempuan; dan
(5) ... Akhirnya, keadilan harus dipertimbangkan memiliki dua aspek: aspek korektif dan normatif. Karena itu, tidak adanya dakwaan atas pemerkosaan dalam pengadilan Akayesu tidak hanya gagal untuk memperbaiki kerugian [aspek korektif] yang dialami perempuan yang diperkosa di bawah kendali Akayesu namun juga gagal untuk secara normatif [aspek normatif] menegaskan bahwa pemerkosaan merupakan tindak tercela dan tidak dapat diterima.
104
BUKU REFERENSI 13. Di samping dengan cara keberatan dari amicus curiae atau dengan proprio motu (kewenangan atau inisiatif sendiri) dari Hakim atau Dewan Pengadilan, tindakan Penuntut Umum yang merupakan pelanggaran terhadap Aturan dan menciptakan runtuhnya keadilan, namun menguntungkan Terdakwa, tidak dapat dimaafkan.
14. Oleh karena itu, berkenaan dengan mandat Pengadilan untuk mengadili mereka yang telah melanggar hukum humaniter internasional dan kekuasaan supervisi inheren yang mengalir dari mandat ini; berkenaan dengan kewenangan Hakim-Hakim untuk membuat deklarasi sehubungan dengan tidak dipenuhinya Aturan; dan berkenaan dengan ketidakadilan yang akan terjadi bila Akayesu tidak diadili dengan dakwaan pemer- kosaan, diajukan bahwa Statuta dan Aturan Prosedur mengizinkan Dewan Pengadilan yang memproses persidangan Jean Paul Akayesu untuk memulihkan tindakan-tindakan yang akan mengakibatkan runtuhnya keadilan dan untuk memanggil Penuntut Umum untuk menambahkan tuduhan pemerkosaan dalam dak- waan. Prasangka apa pun yang akan disebabkan oleh amendemen yang demikian atas terdakwa dapat dipulihkan dengan memanggil kembali saksi “H” dan “J” serta saksi lain mana pun, bila diminta oleh pembela. 15. Diajukan pula bahwa seorang Hakim atau Dewan Pengadilan memiliki kekuasaan untuk melengkapi catatan atas dakwaan ini, bila perlu, baik dengan cara mendesak Penuntut Umum untuk melakukan penyelidikan lebih jauh dan/atau penyerahan bukti-bukti atau melalui pemanggilan saksi-saksi proprio motu [saksi-saksi yang ditetapkan dan dipanggil oleh kewenangan Hakim atau Dewan Pengadilan itu sendiri].
II: Pengadilan atas Pemerkosaan dan Bentuk Kekerasan Seksual Lainnya
Berada dalam Jurisdiksi Subjek-Masalah dari Pengadilan
16. Pengadilan Internasional untuk Rwanda secara luas diberdayakan untuk mengadili orang-orang yang memiliki tanggung jawab pidana atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pelanggaran atas Pasal Umum 3 pada Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan II.
Referensi Referensi Referensi Referensi
Referensi: Statuta, Pasal 1, 2, 3 , 4 dan 6.
17. Dalam Statuta, pemerkosaan secara eksplisit disebutkan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan merupakan pelanggaran serius atas Pasal Umum 3 Konvensi Jenewa. Pasal ini juga mencakup penyiksaan dan perlakuan kejam.
Referensi Referensi Referensi Referensi
Referensi: Statuta, Pasal 3(g)(f) dan 4(a)(e).
18. Bentuk kekerasan seksual lainnya masuk dalam cakupan Statuta. Sebagai contoh, mutilasi area genital dan payudara perempuan Tutsi serta memaksa mereka untuk berjalan telanjang di jalan merupakan perbuatan yang termasuk kategori penyiksaan dan perlakuan kejam serta merupakan pelanggaran atas martabat pribadi perempuan-perempuan Tutsi.
Referensi Referensi Referensi Referensi
Referensi: Statuta, Pasal 3(f) dan 4(a) dan (e).
19. Pemerkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya, termasuk membunuh perempuan hamil, juga termasuk genosida yang memenuhi persyaratan dalam Pasal 2. Dalam kasus Rwanda, pemerkosaan dan kekerasan seksual merupakan bagian integral dari kampanye genosida, terinspirasi oleh kebencian pada perempuan Tutsi, dirancang untuk berakhir dengan kematian atau untuk menghancurkan seorang perempuan dari perspektif fisik, mental atau sosial dan kapasitasnya untuk berpartisipasi dalam reproduksi dan produksi komunitas tersebut.
Referensi Referensi Referensi Referensi