seksual, hal itu akan membuat sang atasan untuk memberikan perhatian lebih guna memastikan bahwa langkah-langkah tambahan diperlukan untuk mencegah kejahatan-kejahatan tersebut”.20
Penuntut Umum telah berusaha memperlebar persyaratan mens rea untuk tanggung jawab atasan. Dalam kasus Èelebiæi pihak Pengadilan berusaha untuk memenuhi persyaratan mens rea dengan menunjukkan bahwa seorang atasan tidak memiliki informasi yang membuatnya mengetahui terjadinya kejahatan perang “sebagai hasil dari pengabaian serius dari tugasnya untuk memperoleh informasi melalui akses-akses yang dimilikinya”.21 Dewan Banding menolak argumen ini dan menyimpulkan bahwa “[p]engabaian
tugas untuk memperoleh pengetahuan tersebut tidak ditampilkan dalam peraturan sebagai pelanggaran terpisah, dan oleh karena itu seorang atasan tidak dapat dikenakan tanggung jawab di bawah peraturan untuk kegagalan-kegagalan seperti itu namun hanya untuk kegagalan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan masuk akal untuk mencegah atau untuk menghukum”.22 Dewan Pengadilan Kvoèka
menerapkan alasan ini ketika menyatakan bahwa “Pasal 7(3) tidak mengharuskan adanya tugas untuk seorang atasan melakukan usaha lebih guna memperoleh informasi mengenai kejahatan yang dilakukan oleh bawahannya, kecuali ia dengan suatu cara tertentu telah memperhatikan bahwa suatu aktivitas kejahatan tengah berlangsung”.23
Dewan Pengadilan Blaskic menyimpulkan bahwa persyaratan “Tahu atau beralasan untuk tahu” dapat dipenuhi apabila dapat ditunjukkan bahwa terdakwa “seharusnya tahu”.24 Dewan Banding membalik
kesimpulan yang diambil oleh Dewan Pengadilan bahwa Jenderal Blaskic tahu atau memiliki alasan untuk tahu tentang pemerkosaan-pemerkosaan yang berlangsung di sekolah dasar Dubravica. Kesimpulan Dewan Pengadilan diambil berdasarkan bukti tidak langsung, dan dari bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa “Jenderal Blaskic tidak mungkin tidak menyadari suasana terror dan pemerkosaan-pemerkosaan yang terjadi dalam sekolah itu”.25 Dewan Banding membalikkan putusan ini dan menyatakan bahwa
Putusan Banding Èelebiæi telah menyelesaikan masalah interpretasi dari standard “memiliki alasan untuk tahu”. Dalam penilaian tersebut, Dewan Banding menyatakan bahwa “seorang atasan akan memiliki tanggung jawab pidana melalui prinsip-prinsip tanggung jawab atasan hanya apabila tersedia informasi untuknya yang membuatnya dapat menyadari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para bawahannya”.26
Dewan Banding menyimpulkan bahwa interpretasi Dewan Pengadilan mengenai persyaratan mens rea bersifat “tidak konsisten dengan jurisprudensi dari Dewan Banding”.27 Dewan Banding kemudian
menerapkan interpretasi Èelebiæi dan menyimpulkan bahwa Jenderal Blaskic tidak memiliki komando atau kontrol efektif atas unit-unit yang telah melakukan pemerkosaan-pemerkosaan tersebut dan kemudian membalik keputusan bersalahnya atas dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang sebagian didasarkan kepada tindakan pemerkosaan.28
2. Actus rea
2. Actus rea2. Actus rea
2. Actus rea2. Actus rea
Para atasan diharuskan untuk “mengambil semua langkah yang diperlukan dan masuk akal guna mencegah pelanggaran oleh bawahan mereka atau, apabila kejahatan tersebut telah dilakukan, untuk menghukum pelaku kejahatan tersebut”.29 Dengan menyatakan bahwa evaluasi faktor ini “memiliki hubungan yang
tidak dapat dipisahkan dengan fakta-fakta”, Dewan Banding Èelebiæi tidak memberikan suatu standard umum tertentu.30 Para atasan hanya dapat dikenakan tanggung jawab pidana untuk kegagalannya
mengambil langkah-langkah yang diperlukan yang masih berada dalam wewenang mereka.31 Apa yang
masih berada dalam wewenang atasan adalah apa yang “berada dalam kemungkinan materialnya”.32
68
BUKU REFERENSI
1 Diterjemahkan dari “Sexual Violence and International Criminal Law: An Analysis of the Ad Hoc Tribunal’s Jurisprudence
& the International Criminal Court’s Elements of Crimes”, Women’s Initiative for Gender Justice, September 2005.
2 Statuta ICTY pada pasal. 7(3). Statuta ICTR menggunakan bahasa yang serupa:
Fakta di mana segala macam tindakan kejahatan yang merujuk ke dalam Pasal 2 sampai PAsal 4 dari Statuta ini dilakukan oleh bawahan bukan berarti membebaskan atasan dari tanggung jawab atas kejahatan tersebut bila ia tahu atau memiliki alasan untuk tahu bahwa bawahannya akan melakukan atau telah melakukan tindakan kejahatan dan atasan telah gagal mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah atau menghukum pelaku dari tindak kejahatan tersebut. Statuta ICTR pada Pasal 6(3).
3 Putusan Pengadilan Èelebiæit, pada paragraf 346; lihat juga Penuntut Umum v. Blaskic, Kasus No. IT-95-14, Putusan, pada
paragraf 612 (29 Juli, 2004) [selanjutnya disebut sebagai Putusan Banding Blaskic] (putusan atas dakwaan berdasarkan tanggung jawab komando dibalik saat naik banding); Putusan Banding Èelebiæi, pada paragraf 196; Putusan Pengadilan
Foca, pada paragraf 395; Putusan Pengadilan Kvoèka, pada paragraf 314; Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 603; Putusan Pengadilan Semanza, pada paragraf 400 (Semanza terbukti bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan – pemerkosaan dan penyiksaan – berdasarkan Pasal 6(1) dan Pasal 6(3) untuk pertanggungjawaban genosida);
4 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 378; Putusan Pengadilan Foca, pada paragraf 396; Putusan Pengadilan Kvoèka,
pada paragraf 315; Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 604; Putusan Pengadilan Semanza, pada paragraf 402.
5 Putusan Banding Èelebiæi, pada paragraf 198 (“Selama atasan memiliki kontrol efektif atas bawahannya, sejauh ia dapat
mencegah bawahannya dari melakukan kejahatan atau menghukum mereka setelah mereka melakukan kejahatan tersebut, ia dapat dianggap bertanggung jawab untuk pelaksanaan kejahatan tersebut apabila ia gagal untuk melaksanakan fungsi kontrolnya”.); Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 378; Putusan Pengadilan Foca, pada paragraf 396; Putusan Pengadilan Kvoèka, pada paragraf 315; Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 605.
6 Statuta Roma pada Pasal 28; lihat pula Putusan Banding Èelebiæi, pada paragraf 196. 7 Putusan Pengadilan Kvoèka, pada paragraf 316.
8 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 378; Putusan Pengadilan Musema, pada paragraf 148; Putusan Pengadilan
Kamuhanda, pada paragraf 604; Putusan Pengadilan Semanza, pada paragraf 401. Dewan Banding Èelebiæi menggunakan definisi Dewan Pengadilan mengenai tanggung jawab atasan dan kesimpulannya adalah bahwa hal tersebut dapat diterapkan kepada mereka dengan wewenang de jure dan de facto dan kepada pengawas militer dan sipil secara seimbang. Putusan Banding Èelebiæi, pada paragraf 192, 196.
9 Putusan Banding Èelebiæi, pada paragraf 197. 10Id.
11Id., pada paragraf 266.
12 Putusan Pengadilan Semanza, pada paragraf 415.
13 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 383; Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 607; Putusan Pengadilan
Semanza, pada paragraf 404.
14 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 383; lihat pula Putusan Pengadilan Semanza, pada paragraf 404. 15 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 386; Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 609. 16 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 386; Putusan Pengadilan Semanza, pada paragraf 404. 17 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 386.
18 Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 607.
19 Putusan Pengadilan Kvoèka, pada paragraf 318; lihat pula Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 609. 20 Putusan Pengadilan Kvoèka, pada paragraf 318.
21 Putusan Banding Èelebiæi, pada paragraf 224. 22Id., pada paragraf 226.
23 Putusan Pengadilan Kvoèka, pada paragraf 317 (menyebutkan Putusan Banding Èelebiæi, supranote). 24 Penuntut v. Blaskic, Kasus No. IT-95-14, Putusan, pada paragraf 322 (Mar. 3, 2000).
25Id., pada paragraf 732.
26 Putusan Banding Blaskic, pada paragraf 62. 27Id.
28Id., pada paragraf 612-13.
29 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 394. 30Id.
31Id., pada paragraf 395; lihat pula Putusan Pengadilan Kamuhanda, pada paragraf 610. 32 Putusan Pengadilan Èelebiæi, pada paragraf 395.
33Id., pada paragraf 398. Dewan Pengadilan menyimpulkan bahwa:
Tanpa mengabaikan peran sentral yang dimiliki oleh prinsip hubungan kausal dalam hukum pidana, hubungan kausal secara umum tidak diasumsikan sebagai sebuah conditio sine qua non untuk pembebanan tanggung jawab pidana bagi para atasan untuk kegagalan mereka mencegah atau menghukum pelanggaran yang dilakukan oleh para bawahan mereka. Dengan demikian, Dewan Pengadilan tidak menemukan dukungan atas keberadaan dari persyaratan mengenai bukti hubungan kausal sebagai unsur terpisah dari tanggung jawab atasan, baik dalam badan hukum kasus yang telah ada, pembentukan prinsip dalam hukum fakta yang telah ada, atau dengan satu pengecualian, dalam sejumlah besar literatur mengenai subjek ini.