SOSIAL DAN SAIN
MELEJITKAN KEMAHIRAN MENULIS KARYA ILMIAH Pendahuluan/Prawacana
D. Rujukan dengan Menggunakan Catatan Kaki
4. Contoh Landasan Teori dalam Proposal Penelitian
Contoh judul penelitian tentang Studi Etnometodologi Pekerja Seks Komersial (PSK) pada lokalisasi Sembir Kota Salatiga kerangka teoretis dapat disampaikan sebagai berikut: a. Kerangka Teoretis
1) Potret Pekerja Seks Komersial (PSK) a) Gaya Hidup:
Gaya hidup PSK di beberapa daerah dikiblatkan pada gaya hidup metropolis (www.hukumonline.com tanggal 26 September 2005). Mereka memadukan gaya hidup metropolis dengan budaya-budaya Barat dengan minuman dan perempuan.
Gaya hidup PSK tersebut diimbangi dengan gaya hidup serta pandangan laki-laki yang menyatakan kita tidak butuh istri! Makanan dan pakaian cukup disediakan dengan instan tanpa istri, tidak lagi bergantung pada anak-anak kita dan keluarga sebagai tempat bersandar di hari tua dan jika ada dalam musibah, sebab kita punya asuransi jaminan sosial, tunjangan di hari tua dan dana pensiun (Waite, dkk, 2003: 201).
b) Aktivitas Seks
Orang yang sukses adalah orang yang enak makan, enak tidur, dan enak seks demikian Dr. Boyke dalam on air tentang Seks dan Solusinya tgl 23 September 2005. Ungkapan ini digulirkan oleh Dr. Boyke dalam rangka memberikan semangat bahwa jadikanlah hubungan seks suami isteri yang sah itu sebagai sesuatu yang nikmat dan bukan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan terpaksa. Permasalahan menjadi lain manakala pepatah ini diakomodir oleh orang yang tidak memiliki kesepahaman tersebut. Dengan demikian pepatah/ungkapan tersebut dipandang menyesatkan karena dilakukan bukan dengan suami/isterinya sendiri. Di samping itu kata enak seks dapat memicu lahirnya PSK-PSK baru bahkan child trafficking.
Dunia malam metropolitan menyimpan banyak cerita mencengangkan. Satu diantaranya adalah aktivitas seks kilat sepasang pemuda di sela-sela kesibukan menikmati dunia gelap (dugem).
c) Motivasi
Motivasi penjaja seks bebas antara lain bagi wanita berdasarkan pada kebutuhan, sedangkan bagi laki-laki berdasarkan dalih kurang mendapatkan perhatian dan kebahagiaan dalam keluarga (Al-Halwari, 2001: 38).
138
Motivasi yang dapat dibangun dan motivasi yang menjadi akibat antara lain 1) motivasi positif yaitu motivasi untuk mendukung sistem sosial yang ada, 2) motivasi negatif yaitu motivasi yang mengganggu sistem yang telah ada. Apabila suatu sistem sudah terbentuk, maka manusia terikat pada sistem tersebut melalui proses complimentasity di dalam setiap sistem sosial yang terintgrasikan, hukum setiap hak pihak tertentu menjadi kewajiban dari pihak lainnya (Soeakanto, 1982: 170).
d) Prinsip Hidup PSK
Mereka beranggapan bahwa seks tidak lebih dari sebatang rokok bisa dinikmati kapan pun, dan selesai hanya dalam beberapa menit saja. Bagi mereka seks tidak lebih dari pelengkap serunya malam yang dilewati. Mereka juga berprinsip soal penyakit bawaan dari hubungan seks bebas menjadi nomor seratus (100), yang penting dapat menikmati dengan penuh kesempurnaan. Perkara besok terkena penyakin kelamin menjadi urusan lain (Nugroho: www.suarakarya.online.com)
e) Dampak
Dampak yang paling mungkin akibat seks bebas dan prostitusi adalah kesehatan, sosial, ekonomi, dan agama. Bagi seseorang yang memberanikan diri untuk melakukan seks bebas pada akhirnya akan berhadapan dengan persoalan kesehatan, sosial, ekonomi, dan agama.
2) Pandangan Islam tentang Pergaulan Bebas
Peribahasa Yiddi yang menyimpulkan tawar-menawar kuno tentang seks antara laki-laki dan wanita. No chuppy, no schtuppy! yang berarti tidak ada seks sebelum perkawinan! (Crittenden, 2002: 60). Prinsip ini harus menjadi pegangan bagi siapapun sepanjang masa. Berbeda dengan orang-orang nasrani yang lebih mengutamakan hubungan seks (Husain, 2002: 61).
Dalam pandangan Islam melarang pergaulan bebas dengan lain jenis. Menurut Islam seorang wanita harus dapat memelihara diri dari pandangan laki-laki lain agar tidak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama (Al-Halwari, 2001: 38). Di samping larangan untuk ngeseks bebas dan prostitusi bagi dirinya juga larangan untuk membukakan pintu prostitusi bagi orang lain. Imam Syafei berpesan" wahai orang-orang yang telah menghancurkan kehormatan orang lain, dan yang memutuskan tali kasih, kau akan hidup penuh kehinaan. Jika engkau orang merdeka dan dari keturunan orang yang baik-baik pastilah kamu tidak akan menodai kehormatan orang lain (Adhim, 2000:114).
139
Perbuatan berkhalwat dengan lain jenis serta memperturutkan kehendak hawa nafsu birahi adalah bagian dari larangan ajaran Islam. Di samping perbuatan yang dimurkai Allah dan diancam dengan siksa, berkhalwat dengan lain jenis adalah wujud nyata dari dekadensi moral di kalangan masyarakat dan keluarga. Oleh karena, itu setiap muslim harus senantiasa waspada terhadap istri serta anak-anak. Sebagaimana dalam Al-quran Surat Attahriim ayat 6 "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari pada neraka". Masyarakat sepakat jika memang wanita sudah terjun ke dalam dunia prostitisi berarti dalam rangka menjual harga diri dan kehormatan.
3) Upaya Menghindari dari Seks Bebas dalam Pandangan Islam
Kejahatan kesusilaan dimulai dari proses perilaku seks, dan pelecehan seks bermuara pada kejahatan seks. Oleh karena itu, perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Dengan demikian, dalam perilaku seks perlu dianalisis tentang pengaruh sosial dan budaya seseorang (Murniati, 2004: 24). Dengan demikian, kesusilaan, pelecehan dan kejahatan merupakan mata rantai yang akan terus melilit. Ketiga hal tersebut karena bertambahnya kebebasan dan kemampuan untuk mendefiniskan sesuatu menurut selera pribadi merupakan hal yang ideal, walaupun ada batas-batasnya. Contoh pada pelacuran, ketagihan minuman keras, dan lain sebagainya. Upaya dalam pandangan Islam antara lain:
a) Memejamkan mata dari hal-hal haram, termasuk di dalamnya melihat laki-laki yang bukan muhrimnya. Dalam Surat Annur 31 "Katakanlah kepada orang-orang yang beriman laki-laki supaya mereka merendahkan pandangannya dan menjaga kehormatannya (jangan berzina). Itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang mereka usahakan".
b) Melarang berkhalwat dengan laki-laki lain sekalipun laki-laki tersebut teman/saudara dekat suami.
c) Pelajaran dari Allah yang diberikan kepada istri-istri Rasul serta batas pergaulan dengan kaum laki-laki. Cukup dijadikan nasihat yang indah, serta suri tauladan dan pelajaran yang bagai batu menikam (Lihat surat Al-Ahzab 33).
4) Peran Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah a) Orang tua:
Orang tua memegang peranan yang penting dalam pertumbuhan fisik, jiwa maupun emosional anak. Orang tua penentu arah dalam menjalani evolusi dalam dirinya (www.pemantauperadilan.com).
140 b) Masyarakat:
Jangan ada kata permisif untuk memberantas prostitusi (www.balipos.co.id). Aktivitas prostitusi yang bermula dari perkotaan dengan cepat merambah ke pelosok perdesaan. Maka tidak heran kehidupan desa pun sekarang telah menjadi penuh warna. Oleh karena itu, perangkat masyarakat harus disiagakan untuk melihat tanda-tanda dimulainya aktivitas prostitusi di masyarakat.
Langkah-langkah yang dilakukan tidak cukup dengan prihatin dan menyuarakan protes, tetapi dengan melakukan tindakan nyata untuk melindungi anak-anak dan generasi dari prostitusi. Masyarakat tidak boleh lengah dari celah lingkungannya untuk dirambah PSK.
c) Pemerintah:
Memprogramkan pelaksanaan pendidikan seks/sex education lebih dini bagi pemuda. Materi kajian berkaitan dengan dimensi biologis, psikologis, dan sosial, kultural, serta agama. 1) Dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi, mengenali tanda-tanda kematangan dalam diri wanita, fungsi-fungsi biologis dan reproduksi, serta akibat yang ditimbulkan berkaitan dengan hubungan intim dan seks bebas, cara merawat kebersihan, dan kesehatan. 2) Dimensi psikologi bahwa seksualitas berkaitan dengan peran, jenis, terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual, dan bagaimana perilaku seks itu dapat memberikan rasa tenang dan senang kalau dengan pasangan yang sah. 3) Dimensi sosial bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan tentang seksualitas dan pilihan perilaku seks. 4) Kultural bagaimana perilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masayarakat. 5) bagaimana agama mengatur hubungan seks dan memberikan sangsi atas pelanggaran terhadap agama.
Masyarakat terlanjur berasumsi tentang pendidikan seks. Pendidikan seks dipandang sebagai sesuatu yang tabu dan justru akan mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks. Stereotipe masyarakat menyatakan bahwa pendidikan seks adalah sebagai suatu hal yang vulgar.
Atas Stereotipe masyarakat terebut menjadi tugas pemerintah untuk memfasilitasi melalui lembaga pemerintah organisasi masyarakat serta pendidikan dalam keluarga agar titik singgung itu dapat ditemukan.
141 d) Peran dan Fungsi Agama
Agama berperan untuk mempengaruhi sikap-sikap praktis manusia terhadap berbagai akrivitas kehidupan sehari-hari dengan cara yang paling akrab. Dengan cara ini, konsepsi agama mempengaruhi pembentukan tujuan, hukum yang mengatur sarana, dan struktur nilai umum yang mempengaruhi pilihan dan keputusan (F O'Dea, 1992: 21). Kahmad (2002: 121) berpendapat bahwa agama berperan dalam kebutuhan manusiawi dapat dipenuhi dengan kekuatan manusia sendiri. Manusia tidak perlu lagi bersandar kepada kekuatan adikodrati. Manusia primitif lebih mudah lari kepada yang magis sedangkan manusia modern lebih banyak melakukan pendekatan ilmu pengetahuan. Aman secara moral di mana tingkah laku/tata pergaulan manusia diatur malalui norma-norma rasional yang dibenarkan secara agama seperti norma sopan santun, hukum dan aturan dalam masyarakat, manusia total mengalami ketidakmampuan. Manusia mencari kekuatan lain di luar dirinya yaitu kekuatan adikodrati. Manusia meyakinkan dirinya sanggup mengatasi problem yang paling mendasar berupa ketidakpastian, ketidakmampuan, dan kelangkaan sehingga manusia merasa menemukan kepastian, keamanan, dan jaminan. Peran agama dalam kehidupan manusia modern dan primitif pada hakikatnya untuk memenuhi kecenderungan alamiahnya, yaitu kebutuhan akan ekspresi dan rasa kesucian. Kesucian yang melebihi sesuatu yang terletak dalam daerah kehidupan mental, spiritual/rohani (Kahmad, 2002: 11).
Agama berfungsi sebagai (1) dukungan moral saat menghadapi ketidakpastian, pelipur lara saat berada pada kekecewaan, dan sebagai rekonsiliasi pada saat diasingkan dari tujuan dan norma-normanya. (2) menawarkan suatu hubungan transendental melalui peribadatan untuk menyumbangkan stabilitas ketertiban dan keharmonisan, (3) mensucikan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat yang terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin kelompok di atas dorongan hati individu. Dengan demikian agama memperkuat legitimasi pembagian fungsi, fasilitas dan ganjaran yang merupakan ciri khas suatu masyarakat, (4) standar nilai dalam norma-norma yang telah melembaga, (5) fungsi identitas, (6) bersangkut paut dengan pertumbuhan dan kedewasaan individu, perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan oleh masyarakat. Jadi, menurut teori fungsional, agama mengidentifikasikan individu dengan kelompok, menolong individu dan ketidakpastian, menghibur ketika kecewa mengkaitkan dengan tujuan masyarakat
142
untuk memperkuat moral. Menyediakan unsur-unsur identitas menguatkan kesatuan dan stabilitas masyarakat dengan mendukung pengendalian sosial, menopang nilai-nilai/tujuan yang mapan, dan menyediakan sarana-sarana untuk mengatasi kesalahan dan keterasingan.
Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok, memberi harapan tentang kelanggengan hidup sesudah mati. Agama dapat menjadi sarana untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan, mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma kelompok, sangsi moral untuk perbuatan seseorang dan menjadi dasar-dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yang menjadi landasan keseimbangan masyarakat (Kahmad, 2002: 120).
Dilema agama yang kemudian dikenal sebagai Dilema Wilson menyatakan bahwa agama mengajak kepada kebaikan, tetapi ketika seseorang semakin yakin dengan agamanya dan keyakinanannya, maka ia semakin kuat memberikan pembenaran agama bagi dirinya, tidak toleran kepada orang lain dan bahkan merasa berhak mengejar-ngejar orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya (Kahmad, 2002: 165).