• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kode Etik Penulis Artikel pada Media Massa

SOSIAL DAN SAIN

MELEJITKAN KEMAHIRAN MENULIS KARYA ILMIAH Pendahuluan/Prawacana

B. Mengutip Tanpa Menjiplak

2. Kode Etik Penulis Artikel pada Media Massa

Etika dalam penulisan artikel pada media massa sangat penting untuk diperhatikan. Artikel yang kita kirimkan kepada media massa memiliki harapan agar dapat diterbitkan pada media massa yang kita pilih. Oleh karena itu, agar artikel yang kita kirimkan dapat diterbitkan, maka hendaknya seorang penulis artikel memperhatikan beberapa etika yang seyogyanya dilakukan, antara lain:

1. Jangan mengirimkam naskah yang sama atau mirip kepada lebih dari satu penerbitan media massa, satu artikel untuk satu media massa;

2. Kirimkan artikel ke satu penertbit, kalau tidak dimuat artikel tersebut dapat dikirimkan ke media massa yang lain kalau dimungkinkan artikel tersebut masih relevan dengan isu yang berkembang di masyarakat;

3. Membuat artikel hindari beberapa hal yang bersifat penyerangan kepada pihak lain seperti lembaga, aliran tertentu, dan atau bahkan individu lain;

163

4. Jangan menulis artikel yang memiliki kepentingan terntentu baik secara pribadi maupun kelompok untuk mendapatkan pengakuan atau bahkan permohonan maaf,

5. Kalau tidak penting, hindari menulis artikel secara bersambung, sebaiknya satu masalah dikupas tuntas, kecuali atas permintaan redaktur sehingga artikel tersebut diterbitkan secara bersambung.

Etika penulisan menurut versi harian surat kabar antara lain satu artikel hanya untuk satu media. Jangan mengirim satu artikel ke banyak media. Surat kabar akan memblack list yang bersangkutan.

D. Plagiarisme

1. Pengertian Plagiasi

Pengertian plagiasi atau penjiplakan adalah pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Misalnya menerbitkan karya tulis orang lain yang belum sempat diterbitkan oleh penulisnya atas nama diri sendiri (KBBI 1997:775 dalam Rahayu Surtiati Hidayat: 2010). Plagiat merupakan pelanggaran etika akademis sedangkan plagiarisme merupakan tindak pidana karena mengambil hak cipta orang lain (hak atas kekayaan intelektual [HAKI]). Sebagaimana diteorikan Stuart (2002: 173)

Plagiarism has been variously defined as the act of “stealing and passing off (the ideas or words of another) as one’s own,”“using (another’s created production) without crediting the source,”or “presenting as new and original an idea or product derived from an existing source. Plagiarism thus seems to involve, in the language of the criminal law, two, or possibly three, basic “elements”

Moulton and Robison (2002) in Syed Sahabuddin (2009) The American Heritage Dictionary defines the verb plagiarize” as “to steal and use the ideas or writings of another as one’s own.” The Oxford Dictionary defines plagiarism as “to take and use another person’s thoughts, writing, invention, have stated, plagiarism can also be seen as “depriving authors of profit that is rightfully theirs which is theft. Depriving authors of credit might also be a form of theft.”plagiarisme is a misconduct considered to be unethical and immoral regardless of who commits.

2. Kategori Plagiasi

Tindakan yang disebut plagiat antara lain:

a. Mengakui tulisan orang lain sebagai karya sendiri; b. Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri; c. Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri; d. Mengakui karya kelompok sebagai karya sendiri;

e. Menyalin (mengutip langsung) bagian tertentu dari tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya dan tanpa membubuhkan tanda petik;

164

f. Meringkas dengan cara memotong teks (mengutip langsung) tanpa menyebutkan sumbernya dan tanpa membubuhkan tanda petik;

g. Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya (Surtiati, 2010);

h. "Two issues related to plagiarism do not deal with the outside sources. The first occurs when a student submits in a course a paper done for a previous course. Although obviously not the same as stealing someone else's ideas, this practice nontheless qualifies as a kind of self plagiarism and constitutes another form of cheating. If you want to rework a paper that you prepared for another course, ask your current instructor for permission to do so." Gibaldi 1999: 34);

i. Meringkas dan memparafrase (mengutip taklangsung) tanpa menyebutkan sumbernya (Booth et al. 1995: 167–170);

j. Meringkas dan memparafrase (mengutip tidak langsung) dengan menyebutkan sumbernya, tetapi terlalu dekat dengan sumbernya.

("You also plagiarize when you use words so close to those in your source, that if your work were placed next to the source, it would be obvious that you could not have written what you did without the source in your elbow … No matter your intention, close paraphrase may count as plagiarism, even when you cite the source." Booth et al. 1995: 169).

Dijelaskan pula oleh (Wilhoit: 1994; Brandt: 2002; Howard: 2002) bahwa Forms of Plagiarism by students plagiarise in fourmain ways 1. Stealing material from another source and passing it off as theirown,e.g.(a)buying a paper from are search service, essay bank or term paper mill (eitherpre-written or specially written),(b) copying a whole paper from a source text without proper acknowledgement, (c) submitting another student’s work, with or without that student’s knowledge (e.g.by copying a computer disk).2. Submitting a paper written by some one else (e.g.a peer or relative) and passing it off as their own. 3.Copying sections of material from one or more source texts, supplying proper documentation (including the full reference) but leaving out quotation marks, thus giving the impression that the material has been paraphrase draft her than directly quoted. Paraphrasing material from one or more source texts without supplying appropriate documentation.

3. Dilema Plagiarisme

Plagiasi seakan menjadi dilema, sebab begitu banyak karangan dan ide-ide yang sudah diterbitkan. Hal ini menjadikan kesulitan untuk mencari mana yang merupakan pengarangn aslinya. Sebenarnya gagasan penulis sendiri, tetapi karena sudah pernah ditulis oleh orang lain yang hampir sama, maka seakan-akan konsep tersebut sudah tidak asli lagi. Sebagaimana dituliskan oleh Gerard dalam Syahabuddin (2009: 3356)

According to Gerard (2004) in Sahabuddin , “Plagiarism can be a very difficult concept to grasp. After all, so many ideas and thoughts have been published already that it seems as though there are no original ideas anymore.” Thus, Girard states, “What we

165

perceive to be original thoughts really may be opinions and ideas written down by others and subconsciously ingrained in us through thing we have read or seen. This is a dilemma of writers.

Dalam beberapa pendapat bahwa kontrol hukum atas kekayaan intelektual tidak mendapatkan kepastian. Beberapa sarjana berpendapat bahwa aturan terhadap plagiasi sudah usang. Satu hal yang ditekankan oleh ulama dalam tradisi pasca-modernis adalah bahwa garis antara plagiat dan bentuk menyalin diterima tidak selalu mudah untuk membedakan. Teori tersebut cenderung untuk menyusun kembali melakukan yang mungkin akan dicap sebagai plagiarisme dengan moral netral, bahkan secara moral menguntungkan.

Sebagaimana dipaparkan oleh East (2006: 16) In arguing that the legal controls on intellectual property areobsolete, some scholars have argued that the rule against plagiarismitself is obsolete. One point emphasized by scholars in the post-modernist tradition is that the line between plagiarism and acceptable forms of copying is not always easy to discern. Plagiarism can be considered from a number of perspectives. Not only are there different understandings of the concept, but those who must deal with this concept and its presence come with their own realities, knowledge and cultural experiences. Lebih jelas lagi diungkapkan oleh East (2006: 16) Working closely with students, they have an awareness that students struggle to understand how to avoid plagiarism and to apply the conventions of referencing.

Meskipun demikian harus dihindari plagiasi. Konsep dan pengalaman harus datang dari realitas dirinya sendiri, pengetahuan dan pengalaman budaya yang dimiliki dan diketahui.