• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOSIAL DAN SAIN

PEREMPUAN DAN POLITIK

C. Perempuan dan Politik

3. Non Ilmiah

a. Ruang Lingkup karangan non ilmiah

Karya non ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat subyektif, gaya bahasanya biasanya konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan populer.

b. Ciri-ciri Kaya Tulis non ilmiah

Ciri-ciri karya tulis non ilmiah antara lain dapat sisebutkan di bawah ini: 1. Emotif

Kemewahan, cinta, dan air mata lebih menonjol dalam bentuk karangan ini, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.

80 2. Persuasi

Penilaian biasanya tidak membubuhkan fakta/bukti. Bujukan/persuasif disusun agar dapat meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca, dan cukup informatif.

3. Deskriptif

Deskripsi yang dibuat biasanya merupakan bagian dari pendapat secara pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.

4. Kritik tanpa dukungan bukti.

Membuat kritik dalam jenis karangan non ilmiah ini biasanya tidak didukung dengan bukti yang valid.

c. Macam-macam

Macam-macam jenis karya non ilmiah dapat dijelaskan di bawah ini: 1) Dongeng

Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya.

2) Cerpen

Suatu bentuk naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang

3) Novel

Sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Biasanya dalam bentuk cerita.

4) Drama

Drama adalah suatu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor.

5) Roman

Roman adalah sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.

81

Contoh artikel non ilmiah

Hj. Maslikhah, S.Ag.,M.Si

[email protected] atau [email protected] HUJAN ITU PUN TUMPAH RUAH

DI SUNGAI CHAO PHRAYA THAILAND

Dua tahun sudah berlalu, perjalanan indah program Advanced Research (AR) ke Thailand tahun 2011 diakhiri dengan sebuah misteri di Jakarta, kini tinggal kenangan. Program AR ini merupakan kebijakan Ketua STAIN Salatiga Dr. Imam Sutomo, M.Ag yang akan dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang. Kata sambutan beliau pada acara pelepasan tanggal 20 Juni 2011 yang lalu antara lain disampaikan bahwa, STAIN Salatiga memiliki penelitian bagi dosen STAIN Salatiga berbasis program. Beberapa program yang dilakukan antara lain model workshop, penelitian yang didanai STAIN Salatiga dengan obyek di luar STAIN Salatiga, penelitian mandiri untuk mencari peluang dari berbagai instansi, dan penelitian ke luar negeri. Acara pelepasan program AR ke Thailand itu ditutup dengan doa. Ketua STAIN mengantarkan doa selamat sampai di tujuan dan kembali ke tengah keluarga. Pserta program pun sontak mengamini secara lirih. Acara pelepasan diakhiri dengan jabat tangan dan foto bersama dengan Ketua STAIN Salatiga.

Fajar menyingsing, selasa 21 Juni 2011 dengan dua armada dari STAIN Salatiga peserta AR yang berjumlah 20 orang diberangkatkan dari kampus 1 STAIN Salatiga menuju bandara A.Yani Semarang dan dilajutkan ke bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Perjalanan dari Jakarta menuju bandara Suvarnabhumi Thailand dengan maskapai Garuda Indonesia 3 jam terasa begitu cepat. Suvarnabhumi sendiri artinya tanah emas, bandara yang dibangun di area bebas banjir ini diresmikan tahun 2006. Bandara suvarnabhumi ini memiliki menara kontrol tertinggi di dunia (132,2 meter) dan merupakan terminal bandara terluas ketiga di dunia, yang berdiri di atas tanah seluas 3.200 Ha. Proses administrasi di bandara yang menakjubkan dunia itu memang tak ubahnya seperti bandara internasional lainnya. Kemegahan bangunan yang dilengkapi dengan ornamen khas kerajaan Thailand tampak di beberapa tempat, itulah yang menjadi bandara Suvarnabhumi menjadi berbeda dengan bandara Internasional lainnya.

82

Rombongan keluar dari bandara tersebut hari selasa 21 Juni 2011 tepat pukul 13.00 dengan disambut seorang guide Thailand (mas Franky) yang ramah. Selamat datang di Thailand, begitu beliau mengawali komunikasi. Di tengah matahari yang terik rombongan pun segera memasuki bus yang disediakan oleh biro perjalanan geowisata. Ramah tamah pun diawali dengan mengenalkan bahasa Thailand secara sederhana untuk dimanfaatkan selama berada di Thailand. Dengan menempuh perjalanan sejauh 30 Km kami pun sampai di sungai Chao Phraya sebagai kunjungan pertama kami di ”Negeri Gajah Putih” yang memiliki penganut agama Budha 80%, Islam 10%, dan Kristen 10%.

Kunjungan kami yang pertama dengan melakukan orientasi bangunan-bangunan megah dan penuh sejarah di kota Bangkok dengan cara menyusuri sungai Chao Phraya. Sungai Chao Phraya merupakan sungai utama di Thailand dengan panjang sekitar 372 kilometer. Rombongan pun terangkut dengan satu perahu menyusuri Sungai Chao Phraya yang dijuluki sebagai ‘Raja Sungai’. Sungai ini tampak jelas membelah kota Bangkok dari utara hingga selatan. Kanan-kiri sungai terlihat dengan jelas sejumlah tempat legendaris di sepanjang aliran sungai mulai dari Grand Palace di area Rattanakosin, Wat Pho atau patung buddha sedang istirahat (konon terbesar di dunia), Wat Arun, China Town, dan Rumah Sakit, serta gedung-gedung megah lainnya di Thailand. Kami memandang dari jauh penuh kekaguman, bangunan pencakar langit dengan ciri khas dominasi warna keemasan tampak begitu unik. Kami pun bersapa dalam jarak jauh dengan penduduk asli Thailand dengan lambaian tangan, mereka pun tampak membalas seakan mengatakan selamat datang di Kota Bangkok dan selamat menikmati unik dan indahnya Sungai Chao Phraya. Mereka tinggal di rumah-rumah panggung beratapkan seng. Beberapa di antara rumah-rumah itu terlihat bersih nan asri, pot-pot bunga aneka warna ditata rapi berjajar di depan rumah mereka. Tidak jarang, rumah khas pinggiran sungai tampak kental. Pemandangan terkesan kumuh yang ditandai dengan hiasan beberapa pakaian dengan berbagai jenis dibentang di depan rumah mereka, sampah plastik tersangkut di antara betonan dan kayu penyangga rumah mereka. Ban-ban bekas ditumpuk begitu saja pada tiang-tiang setinggi 1,5 meter, nampaknya ban-ban tersebut digunakan untuk menahan perahu-perahu untuk menghindari salah kendali sehingga dapat menabrak rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu.

Hampir di muara, hujan turun cukup deras tanpa ditandai mendung selama kurang lebih 5 menit, pukulan air hujan pun menerpa perahu kami. Kami mencoba menghindar dari terpaan air hujan dengan butiran-butiran yang cukup besar dengan mengambil posisi duduk agak ke tengah perahu dan melindungi tas-tas tentengan kami dengan plastic cover. Sesampai di muara sungai, kami disuguhi pemandangan unik. Dari jarak dekat beberapa ikan air tawar yang sangat besar seakan mengiring-iringi perahu kami. Pemilik perahu dan

83

guide kami telah mempersiapkan roti tawar dalam kantong plastik besar. Sesekali guide kami melemparkan roti tawar, tanpa dikomando ikan-ikan besar itu bermunculan dalam jumlah puluhan untuk berebut roti tawar.

Sungai Chao Phraya memiliki endapan aluvial yang memiliki sifat tergantung pada tanah yang dibawa oleh sungai tersebut. Kodisi spesifik tanah tersebut menjadikan sungai Chao Phraya menjadi berwarna kecoklatan dengan ombak kecil. Tidak sulit menikmati wisata di sepanjang sungai, banyak dermaga kecil dan ratusan perahu yang siap mengangkut wisatawan. Harga naik perahu untuk sekali naik per/orang sebesar 25 baht (1 baht Rp 300). Maka, seakan tidak lengkap rasanya jika mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya.

Sungai ini merupakan sungai langganan meluap, mengirimkan banjir bandang setiap musim penghujan tiba hingga melimpas ke sekitar Istana Utama, salah satu simbol kerajaan Thailand itu. Banjir telah membuat jutaan warga Bangkok panik dan stres sehingga sebagian dari mereka harus lari meninggalkan kota. Air bergerak cepat tak terkendalikan dan terus mengalir hingga mendekati jantung kota Bangkok. Brikade karung pasir di sepanjang tepian Sungai Chao Phraya di dekat Istana Utama pun dipasang. Korban tewas mencapai 260 orang dan Kerugian banjir di Thailand ditaksir mencapai 4,6 milliar dollar pada tahun 2011.

Penyebab banjir di beberapa kota memiliki ciri khas masing-masing sesuai dengan kondisi spesifik yang dimiliki oleh daerah. Daerah berspesifik sebagai industri, pariwisata, perkantoran, perumahan, sentra perekonomian, dan pelajar memiliki desain tata kota yang berbeda-beda sehingga memiliki daya dukung lingkungan yang berbeda-beda. Desain tata kota menjadikan diversifikasi sistem drainase dan perilaku sosial masyarakatnya yang memberikan peluang terhadap terjadinya banjir. Sebagai contoh, penyebab banjir yang terjadi di kota Jakarta, seperti pertumbuhan permukiman yang tidak terkendali di sepanjang bantaran sungai. Sedimentasi berat serta tidak berfungsinya kanal-kanal dan sistem drainase yang memadai. Hal ini mengakibatkan Jakarta terutama di bantaran sungai menjadi sangat rentan terhadap banjir. Berdasarkan dokumentasi, Kota Jakarta dilanda banjir besar pada tahun 1621, 1654, dan 1918. Selanjutnya banjir besar juga terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, 2007, dan yang terakhir 2013 pada bulan Januari. Meskipun demikian, penyebab banjir di beberapa kota disebabkan oleh sistem struktur tanah, drainase yang buruk, dan perilaku manusia yang tidak tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan terutama dalam mengelola sampah.

Pergantian musim di negeri kita terjadi pada bulan Oktober dan April dan dari bulan Oktober sampai Maret. Wilayah Indonesia bagian utara khatulistiwa mengalami musim hujan dan bagian selatan musim kering, dan sebaliknya dari bulan April sampai September.

84

Pada tahun ini musim hujan cenderung berlangsung normal, meskipun ada kecenderungan curah hujan yang tinggi. Berbeda pada tahun 2011 yang lalu, terjadi peningkatan curah hujan yang tinggi akibat ganguan cuaca oleh badai EL Nino atau La Lina di Samudra pasifik. Cuaca ekstrim terjadi jika intensitas curah hujan dalam sehari mencapai 50 milimeter. Kecepatan angin 40 kilometer per jam, dan suhu udara minimum lima derajat Celcius lebih rendah dari kondisi normal. Cuaca ekstrem berakibat pula munculnya angin kencang yang merobohkan pohon beberapa hari lalu di daerah Blotongan Salatiga. Cuaca ekstrem yang patut diwaspadai adalah meningkatnya intensitas curah hujan, yang berpotensi banjir. Meskipun puncak curah hujan tertinggi sudah dilewati satu bulan yang lalu, tetapi kita tetap waspada terhadap perubahan musim yang terkadang di luar prediksi. Beberapa tips untuk mengantisipasi banjir lokal dan kiriman antara lain dengan memperbaiki sistem drainase dan memperbaiki perilaku dalam membuang sampah. Kini saatnya, semua peduli terhadap lingkungan demi keselamatan bersama. Salam Lestari!Emas.