pola NRPF adalah proyek pembangunan kilang LNG dan LPG, baik di Arun propinsi Aceh maupun di Bontang, Kalimantan Timur. Keduanya adalah proyek pembangunan fasilitas untuk memproduksi energi berupa gas cair LNG dan LPG (Liquefied Natural Gas/
Liquefied Petroleum Gas) untuk diekspor ke
Jepang, Korea, dan Taiwan. Di Arun, proyek proyek tersebut terdiri dari proyek-proyek LNG-Arun I, Il, Ill dan LPG-Arun. Proyek proyek tersebut dimulai dan diselesaikan tidak dalam waktu yang bersamaan tetapi berurutan. Hal ini disebabkan karena mencari
186
dan menunggu adanya pasar I pembeli yang mau mengadakan ikatan jangka panjang (20 tahun untuk LNG, 10 tahun untuk LPG) dan dalam jumlah yang cukup besar. Total kurun waktu pembangunan fisik seluruh proyek LNG dan LPG Arun adalah 13 tahun (1975- 1988) dengan total biaya US$ 2,8 miliar. Pihak pihak yang terkait dalam proyek tersebut diperlihatkan pada Tabel 9-2.
1.
Penyediaan Bahan Mentah
Mula-mula persediaan bahan mentah gas alam di perut bumi (gas reserve) ditemukan di Lhok-Sukon Aceh di daerah production sharing MOI-Pertamina p ada awal tahun 1971, kemudian didapatkan konfirmasi perihal jumlah kandungan (reservoir) dari perusahaan konsultan independen dari USA. Berdasarkan perhitungan, jumlah tersebut cukup untuk memproduksi LNG selama 20 tahun dengan kapasitas 1,5 juta ton per unit per tahun (kilang LNG arun terdiri dari 6 unit). Jadi, di sini teratasi masalah pasokan bahan mentah untuk jangka panjang.
2.
Pembeli dan Kontrak Penjualan
Dengan bekal sertifikat bahwa pemilik mempunyai jumlah gas alam yang cukup untuk memproduksi LNG dalam jumlah yang
Bagum II: Kelayakan Proyek dan Keputusan Investasi
besar, pemilik berhasil memasarkan dan mengadakan kontrak penjualan (sales agree ment) dengan pihak pembeli LNG dalam jumlah yang besar dengan rumus-rumus harga dan pasal-pasal yang cukup menarik (take or pay clause). Dapat ditambahkan di sini bahwa pada awal dekade 1970-an terjadi krisis energi, pasar LNG merupakan seller market. Dari analisis dan perhitungan, hasil penjualan LNG yang tercantum dalam kontrak akan lebih dari cukup untuk membiayai proyek. Jadi, di sini persoalan pembeli yang daripadanya diharap kan akan menghasilkan dana/ arus kas untuk membayar utang telah terpecahkan.
3.
Operasi Pengolahan dan
Pemeliharaan
Untuk melaksanakan operasi pengolahan dan pemeliharaan kilang dibentuk perusahaan nonprofit PT Arun NGL Co. dengan saham Pertamina, MOl, dan Jilco (Japan Indonesia LNG Co) masing-masing 55 persen, 30 persen, dan 15 persen. Pertamina menyediakan personil, baik tim manajemen maupun opera tor dan mekaniknya yang telah berpeng alaman dalam mengoperasikan kilang-kilang minyaknya yang lain, dibantu Mobil Oil dalam beberapa bidang engineering. Jadi, dalam masalah ini pemilik dapat meyakinkan Tabel 9·2 Beberapa perusahaan yang terkait dalam pembiayaan pola NRPF proyek pembangunan kilang LNG dan LPG Arun.
PROYEK LNG dan LPG ARUN - ACEH
(Pembangunan Kilang LNG & LPG 1 974-1 987) '
1 . Pemilik
2. Total biaya proyek-proyek (US$)
3. Kontraktor utama pelaksana kontrak
4. Operator kilang
5. Pembeli produk LNG dan LPG
6. Pemasok bahan mentah (gas alam) 7. Pengangkutan
8. Penyandang dana/pemberi pinjaman
· .·;;::::::::::··:::: .. · ·:·:.::: · .·.: .. ::::
Pertamina 2,8 miliar
Kontraktor-kontraktor internasional: Bechtel Inc. (Arun-1)
Chyoda (Arun-11)
• JGC (Arun-1 11 dan LPG)
PT Arun NGL Co.
Perusahaan-perusahaan energi Jepang dan Korea Pertamina dan Mobil Oil Inc.
Burmah Ltd., Energi Transport Co., Mitsui Osaka, Japan Lines, PT Fast Marine, PT Samodra Petrindo Asia, dan lain-lain.
Exim Bank of Japan, sindikat beberapa bank swasta Jepang, Mobil Oil Inc., dan lain-lain.
Pendanaan Proyek
kreditor akan kemampuan mengoperasikan dan memelihara kilang hasil proyek. Pada kenyataannya hal ini terbukti yaitu sejak produksi pertama Oktober 1978 sampai pengapalan produk LNG sejumlah 2.000 kali pada bulan Januari 1993 operasi kilang berjalan lancar tanpa kesulitan yang berarti dan dapat memenuhi segala ikatan penjualan yang telah disetujui.
4.
Kontraktor Utama Pembangunan
Proyek
Dalam hal ini ada dua aspek yang diper hatikan. Pertama, mendapatkan kontraktor utama yang memiliki pengalaman dalam mengoperasikan software dan hardware sede mikian rupa sehingga dianggap mampu melaksanakan pekerjaan Engineering, Pem belian, dan Konstruksi (EPK). Aspek yang
kedua adalah pasal kontrak yang memper hatikan masalah-masalah kemungkinan keterlambatan jadwal, jaminan keandalan peralatan, dan lain-lain. Untuk ini pilihan jatuh kepada kontraktor-kontraktor internasional seperti pada Tabel 9-2.
5.
Pengangkutan Produk LNG
Karena jauhnya jarak fasilitas produksi di Arun, dengan daerah konsumen di Korea dan Jepang, serta sifat produk yang spesifik maka tidak dapat dipakai kapal pengangkut barang yang biasa ataupun kapal tanker untuk
Meskipun prosedur untuk memperoleh dana berbeda-beda, namun demikian ada serangkai
an pendekatan yang umumnya dianggap sebagai tata cara dasar yang perlu diperhati kan dalam upaya memperolehnya. Suatu pen dekatan yang terencana dengan tujuan yang jelas dan dibekali dengan dokumen yang diperlukan merupakan langkah awal yang amat mendukung kelancaran usaha-usaha berikutnya. Pendekatan di atas meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Pihak Peminjam
• Menentukan dan merumuskan tujuan
187
minyak mentah atau produk cair yang lain. Oleh karena itu perlu dibuat kapal-kapal khusus. Untuk mengatasi itu semua maka diadakan ikatan/kontrak dengan perusahaan pengangkut yang akan melaksanakan peng angkutan, termasuk pengadaan kapal, peng operasian, dan pemeliharaannya. Adapun pengangkutan bahan mentah (gas alam) dilakukan dengan menyalurkannya lewat pipa dari sumur-sumur gas alam ke kilang yang jaraknya relatif dekat (30 km). Langkah langkah ini dapat meyakinkan pembeli bahwa proses pengangkutan akan berjalan lancar.
6.
Rapat Koordinasi Gabungan
Mengingat banyaknya pihak yang terlibat dalam proyek dengan pola NRPF di atas, maka dalam tahap implementasi fisik diadakan rapat periodik sekali dalam 6 bulan di antara penanggung jawab proyek, penjual, pembeli, kreditor, pengangkut, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Rapat koordinasi atau
Joint Commitee Coordination Meeting dimaksud
kan untuk mengkoordinasi kegiatan yang menjadi tanggung jawab pihak-pihak yang bersangkutan, mengkaji jadwal kemajuan, dan mencoba mencari jalan keluar kendala yang dihadapi. Dengan mengetahui kemajuan dan kesulitan yang dihadapi oleh pihak yang satu maka pihak lain yang terkait dapat menyesuai kan diri sehingga dapat dicegah hal-hal yang mengarah ke pemborosan.
pemmJam dalam hubungannya dengan pengajuan dana.
• Menyiapkan data dan keterangan perihal
kemampuan internal perusahaan pe minjam dalam aspek finansial.
• Menentukan pola dan struktur pendanaan
yang ingin diperoleh.
• Membicarakan dengan calon penyandang
dana.
• Mengkaji penawaran.
• Menegosiasikan perjanjian pinjaman (loan
agreement).
188
• Melakukan administrasi pinjaman (loan
administration).
2 .
Pihak Pemberi Pinjaman
Kreditor tentu ingin mengetahui segala macam aspek usulan proyek atau investasi sebelum merealisir suatu pinjaman. Dalam aspek finansial terutama akan dikaji hal-hal sebagai berikut:
• Kebenaran jumlah dan dasar-dasar yang
digunakan dalam menyusun perkiraan bia ya pertama.
• Kelengkapan unsur-unsur dalam menyiap
kan perkiraan biaya pertama (biaya tetap, tidak tetap, dan lain-lain).
Bagian I!: Kelayakan Proyek dan Keputusan Investasi
• Pertimbangan masalah inflasi, eskalasi,
dan kontinjensi.
• Kebenaran estimasi permintaan produk
yang d ihubungkan dengan prakiraan pendapatan.
• Biaya operasi dan produksi.
• Besar arus diskonto yang dipakai dalam
membuat analisis finansial.
• Jumlah total pinjaman yang diajukan,
komposisi modal perusahaan yang di targetkan, serta rasio utang/ ekuitas.
• Besar persentase (%) partisipasi pemilik
dalam rencana pendanaan proyek.
• Neraca keuangan perusahaan.