• Tidak ada hasil yang ditemukan

f Pemerataan Pendapatan

Dalam dokumen Konscp, Studi Kelayakan, dan Jaringan Kerja (Halaman 176-179)

Di negara-negara sedang berkembang, masalah ke mana hasil proyek didistribusikan dalam kelompok masyarakat amatlah sensitif. Semakin besar hasil proyek yang dinikmati

Se

mu

Telah dibahas sebelumnya bahwa untuk mem­ permudah pendekatan pengkajian ASE maka pertama-tama disusun lembaran aliran sumber daya (PRF). Pada giliran selanjutnya, ASE

2 2.300 500 700 800 4.300 5.500 1 .200 Tahun 3 2.500 550 950 1 .000 5.000 6.500 1 .500 9 2.500 550 950 1 .000 5.000 6.500 1 .500 1 0 2.000 2.500 500 950 1 .000 5.000 6.500 3.500

oleh kelompok miskin menjadi semakin baik. Bila dari segi pengkajian finansial (perusahaan swasta) hal demikian tidak menjadikan kriteria seleksi, lain halnya dengan ASE yang perlu menyoroti masalah tersebut secara lebih mendalam.

g. Tabungan (Saving)

Dari segi manfaat sosial ekonomi diper­ hatikan pula adanya saving, terutama bagi negara-negara sedang berkembang yang umumnya amat memerlukan modal untuk investasi. Oleh karena itu1 proyek-proyek yang mendorong adanya saving lebih dihargai daripada yang hanya untuk konsumsi.

Dalam beberapa literatur analisis, butir­ butir a, b, c, d, dan e sering diasosiasikan

sebagai analisis aspek ekonomi, sedangkan f dan g sebagai analisis aspek biaya dan manfaat sosial.

menginginkan agar input dan output dianalisis dengan menggunakan harga semu (shadow

price). Hal ini disebabkan karena pada

Aspek Sosial Ekonomi

negara yang sedang berkembang) bukan semata-mata terbentuk oleh adanya persai­ ngan yang sepenuhnya bebas, tetapi masih disertai dan dipengaruhi berbagai intervensi dan peraturan. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian di sana-sini. Intervensi ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:

• Menetapkan harga dan distribusi berbagai

macam komoditi.

• Memberlakukan peraturan skala gaji mini­

mum.

• Menetapkan nilai tukar mata uang. • Macam-macam peraturan yang bertujuan

meratakan pendapatan.

Besamya penyesuaian bergantung pada pandangan penilai proyek terhadap besamya penyimpangan harga pasar dibanding nilai dan manfaat yang sesungguhnya. Harga semu ini terkait dengan konsep yang menjadi latar belakangnya. Adapun harga semu dinyatakan dengan menggunakan:

1.

World Price Numeraire

Menilai dampak proyek dengan harga pasar dunia (PD), yang dinyatakan langsung dalam mata uang asing (foreign exchange-FE).

2.

Domestic Price Numeraire

Di sini dampak proyek dinyatakan dalam unit harga domestik. Bila dinyatakan dalam world price numeraire, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah konsep trade ability, bor­ der pricing, dan upah tenaga kerja. Analisis harga semu dapat dipermudah jika tersedia angka faktor konversi (CF), yaitu angka yang mencerminkan perbandingan harga semu dengan harga pasar.

Tradeability

Dalam hal ini dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu komoditi tradeable dan non trade-

167

able. Termasuk dalam klasifikasi tradeable

adalah komoditi yang dihasilkan atau diperlukan oleh proyek yang mempunyai dampak terhadap neraca pembayaran negara (balance of payment) karena barang tersebut dapat diimpor I diekspor a tau substitusi impor I ekspor. Adapun komoditi non tradeable dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti sifat fisiknya yang mempunyai berat jenis tinggi sehingga tidak sebanding antara nilai barang dengan biaya transportasinya, atau komoditi yang sengaja diproduksi untuk keperluan domestik. Peranan pemerintah dalam kebijakan perdagangan seringkali amat menentukan jenis komoditi yang termasuk dalam masing-masing golongan di atas.

Komod iti

Tradeable

dan Penentu a n

Harga Paritas

Harga komoditi tradeable adalah harga berdasarkan pasar dunia, yang terjadi pada pelabuhan masuk arus perdagangan suatu negara. Harga paritas adalah harga komoditi pada lokasi pabrik. Jadi, masih diperlukan tambahan biaya transportasi, pengurusan, dan lain-lain agar harga di pelabuhan masuk tersebut menjadi harga paritas.

Tenaga Kerja

Perhitungan biaya untuk tenaga kerja adalah sebagai berikut:

• Bila jumlahnya melimpah (excess supply),

tenaga kerja dinilai berdasarkan jumlah penerimaan di tempat semula yang ditinggalkan sebelum bergabung dengan proyek dan dikonversikan ke PD.

• Bila permintaan tenaga kerja melebihi

jumlah penawaran, dinilai berdasarkan harga pasar dan disesuaikan dengan PD.

• Tenaga asing dibayar dengan valuta asing

dan pengeluaran lokal dikonversi ke PD.

Pengambilan Keputusan atas Dasar Harga Pasar

dan Har a Semu

Pada awal bab ini telah dibahas bahwa hasil analisis finansial (menggunakan harga pasar) terhadap satu usulan investasi dapat berbeda

dengan ASE (menggunakan harga semu). Hal ini akan lebih jelas terlihat pada contoh sederhana berikut ini:

168 Bagian II: Kelayakan Proyek dan Keputusan Investasi

Contoh Soal

Suatu rencana proyek investasi dengan biaya pertama (harga pasar) Rp1 50 juta. Biaya produksi, pendapatan, dan faktor FC adalah seperti terlihat pada Tabel 8-4 di bawah ini. Rencana tersebut dievaluasi lebih lanjut dengan menggunakan harga semu. Anda diminta untuk mengkaji kemungkinan diterima atau ditolaknya usulan tersebut bila arus pengembalian ditentukan sebesar 9%.

Untuk mengkaji ditei"ima atau ditolaknya usulan proyek di atas, digunakan kriteria seleksi metode NPV. Dengan n = 7 dan i = 9% diperoleh PV harga

pasar dan harga semu, kemudian dihitung NPV yang bersangkutan. PV (harga pasar) NPV (harga pasar) PV (harga semu) NPV (harga semu) 37 X (5,033) = 1 86,2 1 86,20 - 1 50,0 = 36,2 25 X (5,033) = 1 25,8 1 25,8 - 1 31 ,0 = -5,2

Terlihat bahwa dengan memakai harga pasar diperoleh NPV positif, jadi usulan dapat diterima. Sedangkan dengan harga semu N PV-nya adalah negatif sehingga proyek ditolak. Dari contoh di atas maka dapat terjadi kemungkinan-kemungkinan seperti terlihat pada Tabel 8-5.

Tabel 8·4 Perhitungan dengan menggunakan harga pasar dan harga sem u .

Harga Pasar Harga Semu

Tahun 0 1 -7 FC 0 1 -7

BIAYA PERTAMA

Peralatan 70,0 0,90 63,0

Engineer dan konstruksi 80,0 0,85 68,0

BIA YA PRODUKSI

Bahan mentah 22,0 0,84 1 8,4

Tenaga kerja terampil 8,0 0,92 7,4

Buruh 1 0,0 0,60 6,0 Utiliti -- --3,0 0,80 -- 2,4 Total biaya: 1 50,0 43,0 1 31 ,0 34,2 Pendapatan 80,0 0,75 60,0 Pendapatan - Biaya 37,0 25,8

••u•.•.:;:.o••••

.·;. ; • ·••··•· • .. · .. ·•.·· · .. •··· . ... .

...

···

•••••

Tabel 8·5 Kemungkinan perbedaan NPV pada harga pasar versus harga semu dan hubungannya dengan keputusan proyek/investasi .

NPV dengan harga pasar

NPV dengan Keputusan terhadap '

.

harga semu usulan investasi

1 . Posit if Posit if Diterima

2. Negatif Negatif Ditolak

3. Posit if Negatif

?

4. Negatif Positif

?

.

.

.

..

. . . ·

..

· ·· ··· · · ·• ··· ..

.

... ..

.

....

.

.... ··.·•··· ············ .

.

. ;• ; ·· · ··· . .. .

Aspek Sosial Ekonomi

Untuk hasil analisis seperti butir 1 dan 2 pada Tabel 8-5 tidak sulit untuk membuat keputusan, tetapi untuk butir 3 dan 4 tentu tidak mudah. Bila dijumpai seperti butir 3 dan 4 dapat ditelusuri sebagai berikut:

a.

Butir

3

Berdasarkan harga pasar, usulan proyek dapat diterima, tetapi dari segi publik/ nasional ditolak. Ini dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan, di antaranya adalah proyek akan menghasilkan produk (output) yang diproteksi (dengan kuota atau tarif) sehingga harga pasar lebih tinggi dari impor. Perhitungan dengan menggunakan harga semu akan memberikan kesimpulan yang tidak menarik.

b.

Butir

4

Yang terjadi di sini adalah kebalikan dari butir 3, yaitu dari sudut harga pasar proyek tidak menarik namun secara nasional dapat diterima. Hal ini terjadi misalnya, bila pemerintah menitikberatkan pengumpulan devisa dari output proyek, di mana struktur harga input dari dalam negeri berada di bawah harga pasar dunia.

Dari contoh pengkajian di atas terlihat bahwa analisis proyek berdasarkan harga pasar dan harga semu akan ban yak mengung­ kapkan masalah. Hal ini membuat para peng­ ambil keputusan untuk mengadakan analisis lanjutan. Selain masalah internal (teknik) pro­ yek itu sendiri, sistem harga dan rangsangan mungkin perlu juga ditinjau kembali, misalnya suatu deregulasi oleh pemerintah. Jadi masa­ lahnya bukan berhenti pada menerima atau menolak suatu usulan proyek tetapi mengem­ bangkannya lebih lanjut. Karena pada dasar­ nya suatu proyek yang dapat diterima atas dasar harga semu akan menarik bagi kepen­ tingan nasional secara menyeluruh maka pikir­ kanlah faktor-faktor yang dapat memenuhi harapan para pesertanya (pemilik, penyan­ dang dana, pekerja, dan lain-lain) sehingga usulan proyek/ investasi tersebut dapat dilanjutkan.

Dalam dokumen Konscp, Studi Kelayakan, dan Jaringan Kerja (Halaman 176-179)