• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENJELASAN TENTANG MUKADIMAH

Alinea 7 Cukup jelas

Alinea 8

1. Kesatuan GKI bukanlah kesatuan yang bersifat abstrak, tetapi kesatuan yang

dinampakkan dalam satu organisasi yang utuh dengan satu tata gereja.

Walaupun demikian, mengingat GKI berasal dari GKI Jawa Barat, GKI Jawa Tengah, dan GKI Jawa Timur yang mempunyai warisan historis yang berbeda-beda dan konteks lingkungan yang khas, kesatuan itu harus terbuka kepada kepelbagaian yang ada dan tidak hanya menekankan keseragaman yang mematikan kreativitas dan kekayaan warisan historis yang dimiliki oleh bagian masing-masing.

2. GKI sebagai satu kesatuan tidak bersifat eksklusif, yaitu tertutup pada dirinya sendiri saja, melainkan merupakan bagian yang utuh dari gereja-gereja di Indonesia yang terhisap dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, yang sejak terbentuknya pada tanggal 25 Mei 1950 berada dalam perjalanan sejarah yang sama, yaitu mengupayakan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.

3. Kesatuan GKI tidak hanya dipandang sebagai tujuan, tetapi juga dimaksudkan untuk memampukan GKI melakukan fungsinya di dunia, khususnya di Indonesia. Kesatuan GKI itu pada satu pihak selalu berada dalam proses perubahan pada dirinya sendiri, namun pada pihak lain juga dalam proses memengaruhi dan mengubah lingkungan di luarnya. Karena itu kesatuan ini disebut sebagai kesatuan yang bersifat fungsional: pertama, dengan mendasarkan diri pada Kristus dan oleh kuasa Roh Kudus, kesatuan GKI berfungsi ikut mengambil bagian dalam perjuangan mewujudnyatakan keesaan Gereja Tuhan Yesus Kristus, khususnya di Indonesia; kedua, kesatuan GKI itu berfungsi melibatkan diri dalam misi Allah di dunia, khususnya di Indonesia.

4. Sesuai dengan hakikatnya, GKI tidak memberikan kemungkinan pemisahan diri dari kesatuan GKI.

Alinea 9

1. Pada dasarnya GKI mengakui bahwa negara dan gereja adalah dua lembaga yang berasal dari Allah yang mempunyai tugas panggilan dan kewenangannya masing-masing. Karena itu gereja tidak boleh mencampuri langsung atau mengambil alih wewenang negara. Sebaliknya, negara tidak boleh membatasi

sebagaimana yang dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang formulasinya adalah: (1) Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; (3) Persatuan Indonesia; (4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan;

(5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

3. GKI mendukung, terlibat, dan berpartisipasi penuh dalam pembangunan nasional oleh karena GKI memahami pembangunan nasional sebagai upaya sengaja dan terencana untuk mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik dalam arti yang seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya. Dukungan, keterlibatan, dan partisipasi tersebut harus diwujudkan dengan sikap positif, kreatif, kritis, dan realistis. Positif artinya terbuka terhadap hal yang baik;

kreatif artinya dalam kuat kuasa Roh Kudus terlibat secara aktif dalam usaha-usaha pembaruan; kritis artinya melihat segala sesuatu dalam terang Firman Allah; realistis artinya sadar akan waktu dan batas-batas kenyataan dan tidak terbawa oleh impian kosong.

Alinea 10

1. GKI terpanggil untuk mengusahakan kesejahteraan –yaitu syalom– yang berisikan keadilan, perdamaian, dan keutuhan seluruh ciptaan. Untuk mewujudkannya, GKI harus membuka diri bersedia bekerja sama dan berdialog dengan semua pihak dan golongan yang berkemauan baik.

2. Mengusahakan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan adalah tiga (3) sisi misioner yang saling terkait dan tak terpisahkan. Perdamaian yang GKI perjuangkan adalah perdamaian yang berkeadilan, bukan sekadar keadaan status quo. Keadilan yang GKI upayakan adalah keadilan yang memperdamaikan, bukan yang justru mempertentangkan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dan antara satu golongan dengan golongan yang lain. Dan akhirnya, keadilan dan perdamaian itu bukan hanya antarmanusia saja, melainkan keadilan dan perdamaian di dalam konteks keutuhan seluruh ciptaan Allah.

3. Yang dimaksud dengan “keutuhan ciptaan” adalah bahwa seluruh ciptaan Allah saling terkait di dalam satu sistem kehidupan yang integral, di mana semua yang ada di dalamnya saling bergantung dan saling membutuhkan satu sama lain. Punahnya atau rusaknya satu unsur akan mengganggu keutuhan seluruh sistem. Pada gilirannya ini akan membahayakan semua unsur di dalam sistem yang bersangkutan.

4. Manusia tidak boleh hanya memikirkan kepentingan dan kenyamanannya sendiri, dengan mengabaikan hak hidup ciptaan yang lain. GKI dipanggil bukan hanya untuk mengusahakan kesejahteraan bagi manusia saja, melainkan

bagi seluruh kehidupan di dalam seluruh alam ciptaan Allah.

Alinea 11

1. Sebagaimana sudah diungkapkan dalam alinea-alinea sebelumnya, sumber keberadaan dan misi GKI secara hakiki adalah Allah sendiri. Karena itu GKI sebagai satu lembaga/organisasi bukan lembaga/organisasi biasa dan harus berbeda secara hakiki dari organisasi-organisasi/lembaga-lembaga lainnya di dunia. Tetapi karena GKI adalah satu lembaga/organisasi yang berkeberadaan dan menjalankan misinya di dunia ini, GKI memerlukan perangkat peraturan resmi dan sarana organisasional gerejawi yang fungsional. Hal itulah yang dituangkan dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKI ini.

2. Tata Gereja dan Tata Laksana GKI ini adalah satu varian dari sistem penataan gereja presbiterial-sinodal. Sebagai bentuk penataan organisasional gerejawi GKI, sistem ini mempunyai dua aspek dasar, yaitu wujud kesatuan GKI yang melaksanakan misi GKI dan lembaga kepemimpinan GKI.

a. Wujud kesatuan dari GKI bertolak dari Jemaat sebagai wujud kesatuan basis yang adalah wadah persekutuan dari para anggota GKI sebagai orang-orang percaya. Wujud kesatuan basis ini kemudian diperluas menjadi wujud kesatuan Klasis, selanjutnya diperluas lagi menjadi wujud kesatuan Sinode Wilayah, dan akhirnya diperluas lagi dalam wujud kesatuan Sinode sebagai wujud kesatuan yang terluas.

b. Lembaga kepemimpinan GKI disebut sebagai majelis. Majelis adalah lembaga yang bersifat tetap, yang menjadi wadah bagi para pejabat gerejawi untuk menjalankan pelayanan kepemimpinan mereka secara kolektif-kolegial. Sejajar dengan wujud kesatuan GKI, kemajelisan dimulai dari Majelis Jemaat sebagai lembaga kepemimpinan Jemaat, yang kemudian diperluas menjadi Majelis Klasis, selanjutnya Majelis Sinode Wilayah, dan akhirnya Majelis Sinode.

3. Mukadimah memuat dasar eklesiologis bagi peraturan-peraturan dalam Tata Dasar GKI dan Tata Laksana GKI. Eklesiologi GKI dirumuskan dalam bentuk

4. Tata Dasar GKI memuat definisi diri GKI yang merupakan penjabaran dari eklesiologi GKI dan dirumuskan dalam bentuk peraturan dasar yang singkat, padat, dan tidak-operasional. Tata Dasar diberi penjelasan dalam Penjelasan tentang Tata Dasar. Penjelasan tentang Tata Dasar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Tata Dasar dan harus dibaca bersama dengan Tata Dasar sehingga Tata Dasar dapat dipahami secara penuh.

5. Tata Laksana GKI memuat penjabaran dari Tata Dasar GKI dalam bentuk peraturan yang operasional dan terinci, yang berisi:

a. Pengertian/ketentuan gerejawi.

b. Persyaratan gerejawi.

c. Prosedur gerejawi.

6. Tata Laksana GKI diperlengkapi dengan Peranti Gerejawi GKI agar persyaratan-persyaratan gerejawi dalam Tata Laksana GKI dapat dipenuhi dan prosedur-prosedur GKI dalam Tata Laksana GKI dapat diwujudkan.

B