• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES KEPENDETAAN UNTUK KADER PENDETA

TAHAP PERKENALAN

1. Majelis Jemaat dari Jemaat yang membutuhkan pendeta baru mengajukan permohonan secara tertulis kepada Badan Pekerja Majelis Sinode dengan tembusan kepada Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait. Dalam surat permohonan tersebut, Majelis Jemaat dapat menyertakan usulan tentang nama/nama-nama kader pendeta. Badan Pekerja Majelis Sinode meminta Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait menindaklanjuti surat permohonan tersebut untuk

menjadi bahan Rapat Kerja Badan Pekerja Majelis Sinode tentang proyeksi penempatan kader pendeta.

2. Badan Pekerja Majelis Sinode menyampaikan secara tertulis kepada Majelis Jemaat yang mengajukan permohonan, nama kader pendeta berdasarkan keputusan Rapat Kerja Badan Pekerja Majelis Sinode tentang proyeksi penempatan kader pendeta, untuk menjadi calon pendeta dari Jemaat yang bersangkutan. Majelis Jemaat mengambil keputusan tentang kader pendeta tersebut sebagai calon pendeta selambat-lambat-nya satu (1) bulan sejak surat dari Badan Pekerja Majelis Sinode diterima oleh Majelis Jemaat.

3. Majelis Jemaat mewartakan dalam warta jemaat rencana perkenalan calon pendeta, dengan mencantumkan nama dan alamat calon pendeta selama tiga (3) hari Minggu berturut-turut, dalam rangka memberikan kesempatan kepada anggota untuk ikut mendoakan dan mempertimbangkannya. Pewartaan dilakukan segera sesudah Majelis Jemaat mengambil keputusan penetapannya.

4. Jika ada keberatan yang sah dari anggota sidi, rencana perkenalan di Jemaat tersebut tidak dilanjutkan. Dalam hal ini Majelis Jemaat:

a. Mewartakan hal tersebut kepada anggota.

b. Memberitahukan hal tersebut kepada yang mengajukan keberatan.

c. Melaporkan hal tersebut secara tertulis kepada Badan Pekerja Majelis Sinode dengan tembusan kepada Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait yang terkait dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait.

5. Keberatan dinyatakan sah jika:

a. Diajukan tertulis secara pribadi dengan mencantumkan nama dan alamat yang jelas serta dibubuhi tanda tangan atau cap ibu jari dari anggota yang mengajukan keberatan tersebut dan tidak merupakan duplikasi dari surat keberatan yang lain mengenai hal yang sama.

b. Isinya mengenai tidak terpenuhinya salah satu atau lebih syarat sebagaimana yang tercantum dalam Tata Laksana Pasal 102.

c. Keberatan tersebut terbukti benar, sesuai dengan hasil penyelidikan Majelis Jemaat.

surat pemanggilan. Surat jawaban, yang formulasinya dimuat dalam Peranti Administrasi, ditembuskan kepada alamat-alamat tembusan pada surat pemanggilan.

8. Tahap Perkenalan berlangsung selama enam (6) bulan dan jika dibutuhkan dapat diperpanjang maksimum tiga (3) bulan.

9. Tahap Perkenalan dibatasi maksimum di tiga (3) Jemaat yang berbeda.

10. Pada Tahap Perkenalan calon pendeta menerima jaminan kebutuhan hidup sebagaimana yang diatur dalam Tata Laksana Bab XXXV.

11. Pada Tahap Perkenalan, Majelis Jemaat dan anggota mendapat pengenalan awal mengenai komitmen, karakter, dan kompetensi calon pendeta dalam melaksanakan tugas-tugas kependetaan. Pada pihak lain calon pendeta diharapkan mengenal keadaan jemaat secara umum.

12. Pada Tahap Perkenalan, calon pendeta memperoleh bimbingan sebagaimana yang diatur dalam Pedoman Pelaksanaan tentang Bimbingan pada Tahap Perkenalan.

13. Pada akhir Tahap Perkenalan, Majelis Jemaat mengadakan evaluasi terhadap calon dengan memakai Pedoman Pelaksanaan tentang Evaluasi pada Akhir Tahap Perkenalan. Sesuai dengan penilaian yang diperoleh dari evaluasi itu, Majelis Jemaat mengambil keputusan untuk melanjutkan atau tidak proses kependetaan terhadap calon. Evaluasi dan pengambilan keputusan tersebut harus dilaksanakan dan ditetapkan sebelum Tahap Perkenalan berakhir.

14. Jika Majelis Jemaat mengambil keputusan untuk melanjutkan proses kependetaan terhadap calon pendeta dan calon pendeta menyatakan kesediaannya, proses kependetaan dilanjutkan ke Tahap Orientasi. Pada masa di antara berakhirnya Tahap Perkenalan dan dimulainya Tahap Orientasi, calon pendeta menerima jaminan kebutuhan hidup seperti pada Tahap Perkenalan.

15. Jika Majelis Jemaat mengambil keputusan untuk melanjutkan proses kependetaan terhadap calon pendeta tetapi yang bersangkutan menyatakan tidak bersedia, atau jika Majelis Jemaat mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan proses kependetaan terhadap calon pendeta, Majelis Jemaat melaporkan hal tersebut secara tertulis kepada Badan Pekerja Majelis Sinode dengan tembusan kepada Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait yang terkait dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait.

Pasal 111 TAHAP ORIENTASI

1. Majelis Jemaat mewartakan rencana orientasi calon pendeta, dengan mencantumkan nama dan alamat calon pendeta selama tiga (3) hari Minggu

berturut-turut, dalam rangka memberikan kesempatan kepada anggota untuk ikut mendoakan dan mempertimbangkannya.

2. Jika ada keberatan yang sah dari anggota sidi, rencana orientasi dibatalkan.

Hal itu diwartakan kepada anggota dan diberitahukan kepada yang mengajukan keberatan tersebut.

3. Keberatan dinyatakan sah jika:

a. Diajukan tertulis secara pribadi dengan mencantumkan nama dan alamat yang jelas serta dibubuhi tanda tangan atau cap ibu jari dari anggota yang mengajukan keberatan tersebut dan tidak merupakan duplikasi dari surat keberatan yang lain mengenai hal yang sama.

b. Isinya mengenai tidak terpenuhinya salah satu atau lebih persyaratan sebagaimana yang tercantum dalam Tata Laksana Pasal 102.

c. Keberatan tersebut terbukti benar, sesuai dengan hasil penyelidikan Majelis Jemaat.

4. Jika tidak ada keberatan yang sah setelah warta terakhir, Majelis Jemaat meminta secara tertulis kepada Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait untuk melakukan perlawatan khusus untuk melanjutkan proses kependetaan terhadap calon dengan melakukan:

a. Percakapan dengan Majelis Jemaat untuk memantapkan pemanggilan calon memasuki Tahap Orientasi.

b. Percakapan gerejawi dengan calon sebagaimana yang diatur dalam Pedoman Pelaksanaan tentang Percakapan Gerejawi untuk Memasuki Tahap Orientasi.

Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait melaksanakan perlawatan khusus tersebut selambat-lambatnya satu (1) bulan sesudah surat dari Majelis Jemaat diterima.

5. Sesudah percakapan gerejawi dilaksanakan, Majelis Jemaat menulis surat pemanggilan kepada calon pendeta untuk memasuki Tahap Orientasi.

Formulasi surat pemanggilan dimuat dalam Peranti Administrasi. Surat tersebut ditembuskan kepada Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait yang terkait, Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait dan Badan Pekerja

akan berakhir pada saat yang bersangkutan ditahbiskan menjadi pendeta atau pada saat proses kependetaannya dihentikan secara final. Prosedur peneguhannya sesuai dengan prosedur peneguhan penatua.

8. Jika calon tidak menerima panggilan, proses pemendetaannya di Jemaat tersebut dihentikan dan Majelis Jemaat menyerahkan calon kepada Badan Pekerja Majelis Sinode.

9. Tahap Orientasi berlangsung selama satu (1) tahun dan jika dibutuhkan dapat diperpanjang maksimum satu (1) tahun, dimulai pada saat calon pendeta diteguhkan sebagai penatua. Badan Pekerja Majelis Sinode memberikan Piagam Peneguhan Penatua yang formulasinya dimuat dalam Peranti Administrasi.

10. Pada Tahap Orientasi calon pendeta memperoleh bimbingan sebagaimana yang diatur dalam Pedoman Pelaksanaan tentang Bimbingan pada Tahap Orientasi.

11. Seorang calon hanya dapat menjalani Tahap Orientasi sebanyak-banyaknya dua (2) kali pada jemaat yang berbeda. Dalam keadaan khusus, seorang calon dapat dihentikan proses pemendetaannya sesudah ia menyelesaikan Tahap Orientasi di Jemaat yang pertama.

12. Jika calon menjalani Tahap Orientasi di Jemaat yang kedua, jabatan penatuanya di Jemaat yang pertama tetap dipertahankan sampai ia diteguhkan sebagai penatua di Jemaat yang kedua pada Tahap Orientasi di Jemaat tersebut. Dalam statusnya sebagai penatua yang terkait dengan Jemaat yang pertama, karena sifat khusus dari jabatan penatuanya, ia tidak aktif sebagai anggota Majelis Jemaat di Jemaat tersebut.

13. Jika pada Tahap Orientasi di Jemaat yang kedua proses pemendetaannya juga tidak dapat dilanjutkan, dengan sendirinya jabatan penatua tanggal dan ia tidak dapat dicalonkan lagi menjadi pendeta.

14. Pada Tahap Orientasi calon pendeta menerima jaminan kebutuhan hidup sebagaimana yang diatur dalam Tata Laksana Bab XXXV.

15. Pada akhir Tahap Orientasi, Majelis Jemaat mengadakan evaluasi terhadap calon dengan memakai Pedoman Pelaksanaan tentang Evaluasi pada Akhir Tahap Orientasi.

16. Jika evaluasi:

a. Dinyatakan cukup, proses dilanjutkan ke Tahap Pemanggilan.

b. Dinyatakan cukup, namun calon belum bersedia dipanggil menjadi pendeta, Tahap Orientasinya dapat diperpanjang sampai maksimum dua (2) tahun lagi.

c. Dinyatakan tidak cukup, proses terhadap calon dalam Jemaat yang bersangkutan dihentikan.

17. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, Majelis Jemaat mengambil keputusan

tentang proses kependetaan dari calon dan melaporkannya kepada Badan Pekerja Majelis Sinode dengan tembusan kepada Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait yang terkait dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait. Jika dalam keputusan itu proses kependetaan dilanjutkan, Majelis Jemaat dalam surat yang sama juga meminta rekomendasi kepada Badan Pekerja Majelis Sinode.

Pasal 112