• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN PENDETA TUGAS KHUSUS JEMAAT

PERNIKAHAN GEREJAWI

DAN PENDETA TUGAS KHUSUS JEMAAT

1. Jika Majelis Jemaat sudah melaksanakan secara optimal percakapan pastoral dalam kerangka penggembalaan umum terhadap seorang pendeta yang melayani Jemaat atau pendeta tugas khusus jemaat yang dilaporkan (lihat Tata Laksana Pasal 38:3) dan yang bersangkutan tetap tidak bertobat, Majelis Jemaat meminta perlawatan khusus jemaat kepada Badan Pekerja Majelis Sinode.

2. Badan Pekerja Majelis Sinode melakukan perlawatan dengan melibatkan Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait. Dalam perlawatan khusus tersebut para pelawat melakukan pemeriksaan terhadap penggembalaan yang sudah dilakukan oleh Majelis Jemaat terhadap yang bersangkutan. Perlawatan khusus jemaat untuk

memilih pejabat gerejawi, dan untuk diproses menjadi anggota badan pelayanan jemaat/klasis/sinode wilayah/sinode. Jika yang bersangkutan sudah menjadi anggota badan pelayanan jemaat/klasis/sinode wilayah/sinode, keangggotaannya dalam lembaga/lembaga-lembaga tersebut dinonaktifkan.

b. Tidak diperkenankan melakukan tugas-tugasnya sebagai pendeta.

5. Dalam waktu selambat-lambatnya dua (2) minggu, Badan Pekerja Majelis Sinode menerbitkan surat penetapan status penggembalaan khusus atas pendeta yang bersangkutan, yang ditujukan kepada pendeta yang bersangkutan, dan salinannya disampaikan kepada Majelis Jemaat yang terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait.

6. Badan Pekerja Majelis Sinode juga memberitahukan secara tertulis hal penggembalaan khusus tersebut kepada semua Majelis Jemaat, semua Badan Pekerja Majelis Klasis, dan semua Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah.

7. Majelis Jemaat yang terkait mewartakan hal penggembalaan khusus tersebut dalam warta jemaat pada hari Minggu terdekat.

8. Selama menjalani penggembalaan khusus itu Majelis Jemaat yang terkait tetap memberikan jaminan kebutuhan hidup total dan semua penggantian biaya yang wajib diberikan (Tata Laksana Bab XXXV) kepada yang bersangkutan serta terus menerus mendoakannya.

9. Penggembalaan khusus dilaksanakan oleh sebuah tim pastoral yang harus dibentuk oleh Badan Pekerja Majelis Sinode selambat-lambatnya dua (2) minggu sesudah penetapan penggembalaan khusus, dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a. Tim pastoral terdiri dari wakil-wakil Majelis Jemaat yang terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait, Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode ditambah dengan orang-orang lain yang dianggap perlu.

b. Tim pastoral diangkat dengan surat keputusan dan diberhentikan oleh dan bertanggung jawab kepada Badan Pekerja Majelis Sinode.

c. Tim pastoral melaksanakan tugasnya sampai penggembalaan khusus dinyatakan selesai atau yang bersangkutan ditanggalkan jabatan gerejawinya.

10. Penggembalaan khusus dilaksanakan oleh tim pastoral dalam bentuk percakapan pastoral, pembimbingan, peneguran, dan pendampingan, agar yang bersangkutan bertobat.

11. Tim pastoral melaporkan secara tertulis setiap tindakan pastoralnya, serta evaluasi perkembangan hasil penggembalaan khusus tersebut kepada Badan Pekerja Majelis Sinode, Majelis Jemaat terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis

yang terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait.

12. Dalam waktu paling lama enam (6) bulan tim pastoral sudah menyampaikan hasil akhir pelaksanaan tugasnya kepada Badan Pekerja Majelis Sinode, Majelis Jemaat yang terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait.

13. Badan Pekerja Majelis Sinode dalam rapatnya yang melibatkan tim pastoral, Majelis Jemaat yang terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait membahas laporan tim pastoral.

14. Jika dalam rapat tersebut Badan Pekerja Majelis Sinode menyimpulkan bahwa pendeta yang bersangkutan telah bertobat:

a. Badan Pekerja Majelis Sinode menerbitkan surat pernyataan bahwa penggembalaan khusus kepada yang bersangkutan selesai dengan salinan kepada Majelis Jemaat yang terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait. Dengan demikian pendeta yang bersangkutan diperkenankan untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai pendeta, untuk membaptiskan anaknya, untuk mengikuti perjamuan kudus, untuk menerima pelayanan pernikahan gerejawi, untuk memilih pejabat gerejawi, dan untuk diproses menjadi anggota badan pelayanan jemaat/klasis/sinode wilayah/sinode. Jika yang bersangkutan sudah menjadi anggota badan pelayanan jemaat/klasis/sinode wilayah/sinode, keangggotaannya dalam lembaga/lembaga-lembaga tersebut diaktifkan kembali.

b. Majelis Jemaat yang terkait mewartakan hal selesainya penggembalaan khusus tersebut dalam warta jemaat pada hari Minggu terdekat.

c. Badan Pekerja Majelis Sinode memberitahukan secara tertulis hal selesainya penggembalaan khusus tersebut kepada semua Majelis Jemaat, semua Badan Pekerja Majelis Klasis, dan semua Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah.

d. Badan Pekerja Majelis Sinode menyatakan secara tertulis bahwa tugas tim pastoral telah berakhir dan karena itu tim pastoral dibubarkan.

a. Badan Pekerja Majelis Sinode menerbitkan keputusan tentang penanggalan jabatan pendeta yang bersangkutan, dengan salinan kepada Majelis Jemaat yang terkait, Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait, dan Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait. Dengan demikian yang bersangkutan tidak diperkenankan untuk membaptiskan anaknya, untuk mengikuti perjamuan kudus, untuk menerima pelayanan pernikahan gerejawi, untuk memilih dan dipilih pejabat gerejawi, dan untuk diproses menjadi anggota badan pelayanan jemaat/klasis/sinode wilayah/sinode. Jika yang bersangkutan sudah menjadi anggota badan pelayanan jemaat/klasis/sinode wilayah/sinode, keanggotaannya dalam lembaga/lembaga-lembaga tersebut dihentikan.

b. Majelis Jemaat yang terkait mewartakan hal penanggalan jabatan tersebut dalam warta jemaat pada hari Minggu terdekat.

c. Badan Pekerja Majelis Sinode memberitahukan secara tertulis hal penanggalan jabatan tersebut kepada semua Majelis Jemaat, semua Badan Pekerja Majelis Klasis, dan semua Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah.

d. Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait melaporkan hal penanggalan jabatan tersebut kepada Majelis Klasis yang terkait dalam persidangannya yang terdekat.

e. Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah yang terkait melaporkan hal penanggalan jabatan tersebut kepada Majelis Sinode Wilayah yang terkait dalam persidangannya yang terdekat.

f. Badan Pekerja Majelis Sinode melaporkan hal penanggalan jabatan tersebut kepada Majelis Sinode dalam persidangannya yang terdekat.

g. Badan Pekerja Majelis Sinode menyatakan secara tertulis bahwa tugas tim pastoral telah berakhir dan karena itu tim pastoral dibubarkan.

16. Sejak ditanggalkan jabatan gerejawinya, yang bersangkutan masih diberi jaminan kebutuhan hidup total oleh Majelis Jemaat yang terkait untuk tiga (3) bulan. Mengenai penggantian biaya-biaya yang wajib diberikan (Tata Laksana Bab XXXV) untuk masa tiga (3) bulan tersebut, Majelis Jemaat yang terkait mengambil keputusan tersendiri dengan melibatkan Badan Pekerja Majelis Klasis yang terkait.

17. Penggembalaan khusus terhadapnya tetap dilanjutkan terus oleh Majelis Jemaat yang terkait tanpa batas waktu dan yang bersangkutan terus menerus didoakan.

Pasal 43

PROSEDUR PELAKSANAAN PENGGEMBALAAN KHUSUS