Akuntabilitas Kinerja
DME 50 51 55 102 d Jumlah rekomendasi wilayah kerja Rekomen
dasi
AK
UNT
ABILIT
AS KINERJA
Berikut adalah penjelasan dari masing-masing indikator kinerja utama Kementerian ESDM tahun 2013.
1. Persentase penerimaan negara Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral terhadap target APBN
Pada tahun 2014, realisasi penerimaan sektor ESDM mencapai Rp. 357,5 triliun. Penerimaan sektor ESDM tersebut menurun bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang sebesar Rp. 447,87 triliun. Penurunan ini diantaranya disebabkan karena realisasi lifting minyak bumi yang tidak mencapai target.
Penerimaan negara subsektor migas dipengaruhi oleh realisasi lifting migas, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan nilai tukar rupiah (kurs). Walaupun realisasi lifting migas sebesar 793 MBOPD tidak mencapai target yang ditetapkan dalam APBNP (97% dari asumsi dasar APBNP sebesar 818 MBOPD), dan harga rata-rata minyak mentah Indonesia ICP periode Desember 2013-November 2014 adalah US$100,48/barel (96% dari asumsi dasar APBNP sebesar US$105/ barel) namun karena terjadi perubahan kurs maka realisasi penerimaan negara menjadi 102% dari yang ditetapkan dalam APBNP 2014.
Sedangkan realisasi penerimaan sub sektor Energi Baru Terbarukan sebesar Rp. 755,51 miliar melebihi target dari Rp. 579 miliar sehingga capaian realisasi PNBP sub sektor EBTKE sebesar 130%. Penerimaan
Negara sub sektor EBTKE lebih didominasi oleh Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) eksisting dan baru berupa pembayaran land rent.
Sampai dengan akhir Desember 2014, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari subsektor Minerba sebesar Rp 35,4 Triliun atau 89,14% dari target APBN 2014 untuk PNBP sebesar Rp 39,6 Triliun. Akan tetapi jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang hanya mencapai Rp. 28,5 triliun, capaian realisasi PNBP sub sektor Minerba tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar sekitar Rp. 7 triliun.
2. Jumlah investasi Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral.
Total investasi sektor ESDM pada tahun 2014 mencapai US$ 33,06 miliar, realisasi investasi ini masih dibawah target yang diharapkan yaitu sebesar US$ 38,44 miliar. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan investasi tahun 2013 sebesar US$ 27,82 juta, terdapat peningkatan investasi sebesar sebesar 18,83%. Realisasi investasi minyak dan gas bumi di tahun 2014 sebesar US$ 20,72 miliar berasal dari sektor hulu sebesar US$ 19,38 miliar nilai tersebut didapat dari expenditure KKKS Produksi dan KKKS Non Produksi, sedangkan dari sektor hilir sebesar US$ 1,35 miliar yang berasal dari investasi dibidang pengangkutan dan penyimpanan darat dan laut serta sektor-sektor niaga yang tumbuh, disamping itu juga terdapat
e. Jumlah wilayah yang teraliri jaringan
gas untuk rumah tangga
Wilayah 5 5 4 100 f. Jumlah wilayah yang terbangun
fasilitas dan pemanfaatan gas untuk transportasi
Lokasi 1 1 3 100
10 Persentase pemanfaatan energi Non BBM dalam rangka diversifikasi energi :
a. Pangsa Gas Bumi % 24,30 22,95 23,58 94,44
b. Pangsa Batubara % 56,90 56,12 51,61 98,63
c. Pangsa Panas Bumi % 5,40 4,62 4,45 85,55
d. Pangsa Tenaga Air % 3,62 6,54 7,68 180,66
pengembangan jaringan distribusi PGN di Semarang, Jawa Bagian Barat, Sumatera Tengah, Jawa Bagian Timur, Penyelesaian dan Pembangunan Terminal Penerima LNG dan Mini LPG, Pembangunan Pipa Kepodang – Tambak Lorok dll.
Sementara bidang ketenagalistrikan, tidak tercapainya rencana investasi tahun 2011 disebabkan oleh terkendalanya penyelesaian Proyek 10.000 MW Tahap I dan Tahap II yang tidak sesuai jadwal akibat adanya permasalahan-permasalahan seperti pengadaan lahan, perizinan daerah, dan kendala teknis pembangkit, dan terlambatnya penerbitan DIPA SLA. Target investasi yang dicanangkan tahun 2014 sub sektor mineral dan batubara sebesar USD 5,126.25 juta, sampai dengan akhir Desember Tahun 2014 didapatkan bahwa nilai investasi sub sektor mineral dan batubara sebesar USD 7,429.87 juta, dengan kata lain investasi sub sektor mineral dan batubara mengalami peningkatan sebesar 144,93% dari target yang dicanangkan. Adapun nilai investasi yang didapatkan berasal dari rekapitulasi investasi KK, PKP2B, IUP BUMN diantaranya PT Timah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT Antam, Tbk serta Ijin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP) dan Surat Keterangan Terdaftar (SKT).
Pencapaian sasaran strategis Meningkatnya Investasi di Sub Sektor Mineral dan Batubara yang melebihi target pada tahun 2014 dikarenakan iklim investasi kondusif dan promosi investasi melalui kegiatan kerjasama bilateral, regional maupun multilateral baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan harapan sehingga mendatangkan investor-investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, terlebih dengan kebijakan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang menekankan kegiatan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan pemurnian dalam negeri.
3. Jumlah Kontrak Kerja Sama Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral yang telah ditawarkan dan ditanda tangani.
a. Penawaran Wilayah Kerja Migas Konvensional
Kegiatan usaha hulu migas nasional tidak terlepas dari kerangka regulasi pengaturan kepemilikan dan penguasaan negara atas sumber daya alam migas. Khusus mengenai
pelaksanaan penyiapan, penetapan dan penawaran Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi di Indonesia, diterbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 35 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penetapan dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi.
Dalam aturan tersebut, antara lain dinyatakan bahwa Menteri ESDM menetapkan kebijakan penyiapan, penetapan dan penawaran wilayah kerja migas berdasarkan aspek teknis, ekonomis, tingkat resiko, eisiensi dan berazaskan keterbukaan, keadilan, akuntabilitas dan persaingan usaha yang wajar.
Ditjen migas menyiapkan wilayah Kerja yang akan ditawarkan kepada Badan Usaha (BU) dalam hal ini BUMN/BUMD/BU Swasta atau Bentuk Usaha Tetap (BU/BUT), yang berasal dari wilayah terbuka. Wilayah terbuka adalah bagian dari wilayah hukum pertambangan Indonesia yang belum ditetapkan sebagai wilayah kerja. Dalam hal ini, Wilayah terbuka diantaranya dapat berasal dari:
•
Wilayah yang belum ditetapkan sebagai wilayah kerja•
Bagian wilayah kerja yang disisihkan berdasarkan Kontrak Kerja Sama;•
Wilayah Kerja yang berakhir Kontrak Kerja Samanya•
Bagian wilayah Kerja yang belum pernah dikembangkan dan/atau sedang atau pernah diproduksi yang disisihkan atas usul Kontraktor•
Bagian wilayah Kerja yang belum pernah dikembangkan dan/atau sedang atau pernah diproduksi yang disisihkan berdasarkan permintaan MenteriPenawaran Wilayah Kerja dapat dilaksanakan melalui 2 (dua) mekanisme, yang pertama Lelang Reguler dan kedua Lelang Penawaran Langsung melalui Studi Bersama.
Pada umumnya, setiap tahunnya Direktorat Jenderal Migas menyelenggarakan Petroleum Bidding Round yang di jadwalkan secara periodik, idealnya di dalam satu
AK
UNT
ABILIT
AS KINERJA
tahun, ditawarkan 2 (dua) kali putaran lelang Wilayah Kerja Baru baik melalui lelang Reguler (durasi 4 bulan) maupun lelang Wilayah Kerja Penawaran Langsung (durasi 1,5 bulan) hal ini dimaksudkan dalam rangka antara lain:
•
Menjamin keberlangsungan kegiatan eksplorasi yang berkesinambungan dalam usaha penemuan cadangan baru•
Penyiapan wilayah-wilayah kerja baru secara berkesinambungan untuk mendukung investasi bidang hulu.Namun demikian, pada tahun 2014 Pemerintah hanya melaksanakan 1 (satu) kali Petroleum Bidding Round dengan jumlah penawaran sebanyak 13 wilayah kerja migas konvensional yang terdiri dari 5 (lima) wilayah kerja yang ditawarkan melalui lelang reguler dan 8 (delapan) wilayah kerja yang ditawarkan melalui penawaran langsung. Wilayah kerja migas yang ditawarkan melalui penawaran langsung tahap I 2014 dimaksud adalah:
1. Blok Ofshore North Central Java; 2. Blok Kuala Kurun;
3. Blok Garung;
4. Blok Ofshore Pulau Moa Selatan; 5. Blok Dolok;
6. Blok South East Papua 7. Blok Abar;
8. Blok Anggursi
Sedangkan wilayah kerja migas yang ditawarkan melalui tender reguler adalah: 1. Blok North Madura II;
2. Blok Yamdena; 3. Blok South Aru II; 4. Blok Aru Trough I; 5. Blok Aru Trough II;
b. Penandatanganan Wilayah Kerja Migas Konvensional
Pada tahun 2014, kontrak kerjasama migas kovensional yang telah ditandatangani merupakan hasil dari penawaran wilayah kerja migas putaran I tahun 2013 dan berjumlah sebanyak 6 KKS dan terdapat 1 (satu) KKS yang merupakan hasil penandatangan wilayah kerja dari hasil penyisihan (carve
out) Blok Cepu yang dikelola oleh Exxon Mobil Cepu Ltd, yang selanjutnya di kelola oleh Pertamina melalui skema penunjukan langsung sesuai dengan Permen ESDM 03 Tahun 2008 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengembalian Bagian WK yang Tidak Dimanfaatkan oleh KKKS Dalam Rangka Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi, pada pasal 2 yaitu dalam hal kontraktor tidak mengembangkan penemuan lapangan atau mengusahakan kembali lapangan yang pernah diproduksikan maka dapat mengajukan usulan pengembalian lapangan untuk dikelola Badan Usaha lain. Adapun KKS yang ditandatangani tersebut, terdiri dari: 1. Blok Palmerah Baru;
2. Blok Sakti;
3. Blok North Madura VI; 4. Blok Anugerah; 5. Blok East Bontang; 6. Blok Bengara II; 7. lok Alas Dara Kemuning
Sedangkan hasil penawaran wilayah kerja migas konvensional putaran I tahun 2014 rencananya akan ditandatangani pada bulan Maret 2015.
Pencapaian realisasi penawaran dan penandatanganan wilayah kerja migas konvensional sebanyak 13 dan 7 masih relatif kecil dibandingkan dengan target capaiannya yaitu 20 dan 15 atau hanya teralisasi sebesar ¬+ 65,0% dan 46,7%. Hal ini dikarenakan karena adanya pergantian pimpinan di lingkungan Kementerian ESDM dan Ditjen Migas, meskipun proses lelang tahun 2014 sudah selesai di laksanakan. Kegiatan survei seismik 2 D pada tahun sebelum-sebelumnya merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Ditjen Migas melalui penganggaran DIPA. Namun pada tahun 2014, kegiatan survei seismik 2D tidak lagi dilaksanakan oleh Ditjen Migas berdasarkan hasil review Itjen KESDM pada tanggal 22 Juli 2013, dan selanjutnya dialihkan ke Badan Geologi KESDM.
Kendala-kendala eksternal yang tak kalah pentingnya adalah disebabkan karena adanya tumpang tindih lahan dengan kawasan kehutanan, permukiman, dan infrastruktur. Selain itu, terdapat kendala eksternal lain yang menjadi faktor penghambat masuknya investor bidang migas ke Indonesia yaitu masalah perpajakan, diantaranya adalah: 1. Pajak Bumi dan Bangunan Migas Masa
Eksplorasi;
2. Pengenaan PPN dan Pemungutan Pph atas alokasi biaya fasilitas bersama; 3. Pengenaan PPN dan Pph atas
pembebanan biaya dari kantor pusat (Parent Company Overhead);
4. Pengenaan bea masuk dan pajak impor barang operasi migas.
Diantara beberapa kendala perpajakan tersebut, PBB migas menjadi isu terseksi yang menjadi perhatian kontraktor, hal ini dikarenakan jumlah yang dibayarkan oleh KKKS tiap tahun dalam jumlah relatif besar (kasus 2012 dan 2013 bahkan besaran terutang PBB Migas melebihi besaran komitmen eksplorasi selama 3 tahun pertama). Para kontraktor beranggapan bahwa seluruh aset dan produksi migas sampai titik serah
dimiliki penuh oleh pemerintah, sehingga diharapkan PBB Migas Masa Eksplorasi dapat dibebaskan sampai dengan persetujuan POD I oleh Menteri ESDM. Pembahasan- pembahasan telah dilaksanakan antara KESDM dan Kemenkeu serta SKK Migas untuk mencari formula terbaik dalam pengenaan PBB Migas Masa Eksplorasi ini, hingga pada tanggal 18 Desember 2014 telah mencapai titik temu dimana Kemenkeu melalui Ditjen Pajak memberikan fasilitas pengurangan PBB Migas untuk tubuh bumi sebesar 100%, meskipun untuk objek pormukaan bumi masih tetap dikenakan sebatas pada area yang secara nyata dimanfaatkan. Berdasarkan kebijakan ini, Kemenkeu menetapkan Peraturan Menteri keuangan Nomor 267/ PMK.011/2014 tanggal 31 Desember 2014 tentang Pengurangan PBB Migas Pada tahap eksplorasi. Diharapkan dengan penetapan PMK tersebut, dapat mendorong kembali kegiatan eksplorasi migas dalam mencari dan menemukan cadangan migas nasional. Selain itu, faktor lainnya adalah arah kegiatan eksplorasi migas saat ini adalah “shifting from west to east” dimana karakteristik eksplorasi migas di Indonesia bagian Timur Gambar 5.2 Graik Signature Bonus
AK
UNT
ABILIT
AS KINERJA
identik dengan konsep deep water, frontier area dimana dalam pengusahaannya membutuhkan modal, teknologi, dan resiko yang lebih besar daripada di daerah Barat, sementara ketersediaan data pada daerah Timur masih relatif terbatas.
c. Penawaran Wilayah Kerja Migas Non Konvensional
Shale gas adalah gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi. Potensi shale gas Indonesia diperkirakan sekitar 574 TSCF. Lebih besar jika dibandingkan Gas Methana Batubara (GMB) yang sekitar 453,3 TSCF dan gas bumi 334,5 TSCF. Hingga saat ini, telah ditandatangani satu kontrak kerja sama perdana wilayah kerja migas non konvensional.
Berdasarkan hasil identiikasi yang dilakukan pemerintah, hingga saat ini terdapat 7 cekungan di Indonesia yang mengandung shale gas dan 1 berbentuk klasafet formation. Cekungan terbanyak berada di Sumatera yaitu berjumlah 3 cekungan, seperti Baong Shale, Telisa Shale dan Gumai Shale. Sedangkan di Pulau Jawa dan Kalimantan, shale gas masing-masing berada di 2 cekungan. Di Papua, berbentuk klasafet
formation. Pengembangan shale gas diatur dalam Peraturan menteri ESDM Nomor 05 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan Dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak Dan Gas Bumi Non Konvensional.
d. Penandatanganan Wilayah Kerja Migas Non Konvensional
Dari target 10 Wilayah Kerja (WK) Migas
Non Konvensional, sampai dengan akhir tahun 2014 tidak ada satu WK pun yang ditandatangani.
Kendala yang menjadi penghambat pencapaian target Indikator Kinerja terkait pendandatanganan wilayah kerja migas non konvensional antara lain adalah:
•
Terdapat beberapa WK yang ditawarkan tidak diminati oleh para investor;•
Terdapat calon investor yang tidak memenuhi kriteria penawaran WK;•
Terdapat usulan dari asosiasi tentangkemungkinan perubahan bentuk Kontrak Migas Non Konvensional;
•
Kompleksitas dalam kegiatanperngusahaan teruatama dari sisi teknis operasional dan keekonomian sehngga memperngaruhi internal perusahaan;
•
Makin terbatasnya daerah-daerah yang prospek untuk dikembanghkan sebagai WK Migas Non Konvensional.e. Wilayah Kerja Panas Bumi Yang Telah Dilelang
Pada Tahun 2014, direncanakan untuk dilakukan lelang terhadap 2 WKP yaitu WKP Danau Ranau dan WKP Gunung Lawu. Namun
sampai dengan akhir Tahun 2014, Pemerintah Pusat belum dapat melaksanakan lelang WKP Panas Bumi. Hal ini disebabkan pelaksanaan lelang WKP harus menunggu penyelesaian Peraturan Pemerintah tentang Pemanfaatan Tidak Langsung sebagaimana amanat UU No. 21 Tahun 2014 yang baru selesai diundangkan pada 17 September 2014.