AKUNTABILITAS KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI (%)
3. Daerah rawan banjir dan adanya penyebaran tikus yang belum dapat
teratasi, hal ini yang merupakan faktor resiko dalam penularan penyakit Leptospirosis di masyarakat.
9) Pengendalian Penyakit Filariasis
a) Program Penanggulangan Penyakit Filariasis bukan merupakan program prioritas sehingga program ini tidak terdanai di Kabupaten/Kota ( 87%)
b) Penanganan Rehabilitasi Medis bagi penderita Filariasis baik di tingkat provinsi maupun di Kabupaten/kota belum dapat dilaksanakan secara optimal karena tidak tersedianya dana.
c) Petugas puskesmas belum banyak yang mengerti tentang Penatalaksanaan kasus Filariasis yang standar dan kegiatan sosialisasi Penatalaksanakan kasus Filariasis bagi petugas puskesmas baru dilaksanakan di 11 Kabupaten/kota (29%).
10) Pengendalian Penyakit Flu Burung
a) Penyakit Flu burung umumnya menyerang unggas, setelah beberapa tahun tidak ada kasus, kewaspadaan terhadap penyakit flu burung berkurang dimasyarakat.
b) Surveilans ILI / kasus panas di beberapa daerah sudah mulai berkurang 11) Pengendalian ISPA
a) Kurangnya tenaga pengelola program P2 ISPA yang terlatih baik teknis maupun manajemen program di tingkat provinsi,kabup aten/kota dan puskesmas
b) Ketidakpatuhan petugas dalam menerapkan Metode Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Tatalaksana Standar P2 ISPA yang dianggap terlalu memakan waktu. Akibatnya banyak kasus pneumoni balita yang lolos
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 83
c) Terbatasnya anggaran program P2 ISPA baik di Provinsi dan sebagian besar kabupaten/kota, yang disebabkan kurangnya komitmen para pengambil kebijakan sehingga P2 ISPA tidak menjadi prioritas.
d) Keterbatasan sarana diantaranya :
- Acute Respiratory Infection timer (ARI timer) /Sound Timer untuk menghitung nafas sebagai dasar klasifikasi Pneumoni balita. dari deteksi sehingga cakupannya tidak tercapai.
- Jumlah Oksigen konsentrator di Puskesmas perawatan
e) Kurangnya koordinasi lintas program dan lintas sektor, sehingga P2 ISPA seolah-olah hanya menjadi beban, akibatnya angka penemuan menjadi rendah dan kematian bayi dan balita akibat Pneumonia menjadi tinggi
12) Pengendalian Penyakit PES
a) Terbatasnya biaya dan tenaga dalam pengendalian penyakit Pes, untuk kegiatan surveilans rodent dan manusia
b) Tingginya mobilitas penduduk dari daerah/wilayah yang berisiko penyakit pes ke daerah bebas, dan tidak adanya pemantauan pergerakan penduduk ini. c) Kurangnya sosialisasi tatalaksana dan pengendalian Penyakit Pes.
E. Upaua Pemecahan Permasalahan
Upaya pemecahan permasalahan dalam Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ditinja dari kegiataya adalah sebagai berikut:
1) Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue
a) Menggerakan dan memberdayakan masyarakat dalam Pencegahan dan Penanggulangan DBD.
b) Meningkatkan dan mempercepat akses masyarakat terhadap pelayanan penemuan Kasus melalui Diagnosis dan Tatalaksana Kasus DBD yang Berkualitas
c) Meningkatkan Sistem Surveilans Epidemiologi Kasus, dan Vektor) DBD. d) Meningkatkan sumber daya dalam Pengendalian DBD.
e) Monitoring dan evaluasi program DBD 2) Pengendalian Penyakit TB
a) Meningkatkan AKMS (Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial) untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan pengambil kebijakan dalam pengendalian TB.
b) Memperkuat jejaring eksternal di 5 regional dan kabupaten kota untuk menurunkan angka drop out yang pada akhirnya akan meningkatkan angka keberhasilan pengobatan.
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 84
c) Penguatan kolaborasi TB-HIV melalui Tim Kolaborasi TB HIV yang melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Kabupaten/Kota.
d) Memperkuat Public Private Mix sebagai pendekatan untuk memperkuat jaringan pelayanan TB (pengembangan di Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Jember, Kota Blitar dan Kota Malang.
e) Penguatan jejaring layanan untuk TB kebal obat melalui kegiatan pengendalian terpadu TB kebal obat dengan menambah layanan sub rujukan di 5 wilayah regional dengan didukung layanan laboratorium yang bermutu. f) Penguatan sistim pencatatan dan pelaporan kasus TB melalui SITT-1 yang
dilaksanakan oleh kabupaten/kota dan dialihkan ke SITT-2 oleh fasyankes secara optimal sehingga tersedia data kasus sesuai dengan jumlah yang diobati dan dievaluasi
3) Pemberantasan Penyakit Diare dan ISP
a) Memberikan umpan balik laporan secara rutin dari provinsi ke
Kabupaten/Kota, dan Kabupaten/Kota ke Puskesmas;
b) Advokasi ke stake holder (pemegang kebijakan) tentang usulan anggaran kegiatan;
c) Memberikan saran dalam membagi beban tugas pada staf 4) Peningkatan Imunisasi
a) Menguatkan system koordinasi penanggulangan bencana baik secara lintas sector maupun lintas program
b) Memperbaiki system informasi supaya terjadi keseragaman dalam mekanisme informasi data bencana selama masa penanggulangan bencana
c) Meningkatkan system kewaspadaan dini dalam penanggulangan bencana mulai dari tahap pra bencana, saat bencana dan pasca bencana
Memenuhi kebutuhan logistik selama masa penanggulangan bencana 5) Pengendalian Penyakit Kusta
a) Mengintensifkan penemuan penderita baru melalui kegiatan pencarian secara aktif (pemeriksaan kontak serumah dan tetangga) serta melaksanakan Rapid Village Survey (RVS) di desa dengan riwayat penderita kusta yang pernah tercatat lebih dari 3 orang dengan melibatkan peran dari lintas sektor dan lintas program
b) Menekankan pentingnya penyuluhan saat sebelum pemberian MDT untuk menghindari terjadinya kasus DO (Drop out) / Default, defaulter tracing jika ada kasus DO / default,
c) Jika ada kasus dari luar wilayah, maka cross notification kepada petugas kusta setempat sangat penting untuk pelacakan kasus DO/ default.
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 85
d) Penyuluhan secara aktif untuk mengurangi stigma kusta di masyarakat maupun petugas kesehatan. dengan memanfaatkan sumber daya yang ada (BOK, DAU, APBD I maupun BLN).
e) On the job training bagi petugas yang sudah dilatih untuk mempertahankan ketrampilan yang sudah ada.
f) Meningkatkan kepedulian para pemegang kebijakan (Bupati/Walikota, anggota DPRD, Kepala Dinas maupun Kepala Puskesmas) di tingkat Kabupaten/Kota melalui advokasi yang berkesinambungan.
g) Meningkatkan mutu pelayanan pada penderita kusta dengan melakukan POD setiap bulan dan case holding
h) Mengembangkan research operasional 6) Pengendalian Penyakit HIV dan IMS
d) Koordinasi penanggulangan penyakit HIV/AIDS dalam wadah Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Timur yang bertujuan untuk:
- Meningkatkan komitmen pengambilan kebijakan tingkat provinsi, Kabupaten dan Kota
- Meningkatkan peran lintas sektor dalam upaya pengendalian HIV - Meningkatkan upaya edukasi kepada masayarakat
- Sosialisasi dan penjangkauan kepada populasi risiko tinggi
b) Memfasilitasi layanan pendampingan program, pelatihan Sumber Daya Manusia, pemenuhan buffer logistik reagen IMS dan HIV serta obat Anti-retroviral (ARV)
c) Upaya peningkatan capaian kinerja melalui:
- Penyuluhan terkait dengan layanan HIV yang tersedia
- Asistensi kunjungan layanan pencegahan penularan melalui harm reduction, pemeriksaan dan pengobatan IMS Terpadu Berkala di lokalisasi, pencegahan penularan HIV dari Ibu ke anak dan kewaspadaan standar
- Pengembangan klinik IMS, Klinik Konseling dan Testing HIV dan RS rujukan ODHA di kabupaten/kota di Jawa Timur untuk memudahkan akses layanan kesehatan yang merata di Jawa Timur melalui layanan tanpa stigma dan diskriminas
7) Pengendalian Penyakit Malaria a) Revitalisasi Pos Malaria Desa
b) Persiapan eliminasi malaria Provinsi Jawa Timur dan mempertahankan 34 kabupaten/kota yang telah mendapatkan sertifkasi eliminasi malaria
c) Penguatan sistem surveilans malaria
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 86
e) Penguatan tenaga Juru Malaria Desa
f) Penguatan deteksi dini dan pengobatan malaria sesuai standart
8) Pengendalian Penyakit Rabies Leptospirosis
a) Memberikan pembinaan dan advokasi ke semua level administrasi pemerintahan tentang penyakit leptospirosis dan rabies
b) Meningkatkan Koordinasi dengan Dinas yang membidangi peternakan dan Kesehatan Hewan, serta meningkatkan pengawasan lalulintas hewan di tempat check point untuk meningkatkan surveilans penyakit rabies
9) Pengendalian Penyakit Filariasis
a) Mengupayakan integrasi program Filariasis dengan program lain misalnya dengan program Kusta dalam penemuan kasus dan pengobatan penderita, dengan program Malaria dalam penatalaksanaan laboratorium dan program Kecacingan untuk upaya pencegahan.
b) Guna mencegah kecacatan yang lebih lanjut, maka digalakkan kegiatan monitoring kecacatan pada penderita dengan kunjungan rumah yang didanai dengan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) puskesmas.
c) Adapun kegiatan sosialisasi dan peningkatan kapabilitas kepada tenaga kesehatan/puskesmas tentang tanda-tanda dini dan penataalaksanaan kasus Filariasis secara standar akan dilanjutkan di tahun mendatang dan mengupayakan inisiasi dari Kabupaten/Kota dengan mengabungkan kegiatan pertemuan evaluasi program yang lain yang ada atau terdanai di Kabupaten/Kota.
10) Pengendalian Penyakit Flu Burung
a) Menginformasikan atau mengkoordinasi dengan Dinas Peternakan untuk tetap mewaspadai kasus flu pada unggas dan mengidentifikasi manusia yang kontak dengan unggas yang sakit atau mati disebabkan oleh Flu Burung diberi obat oseltamivir dan segera dirujuk ke Rumah Sakit.
b) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit Flu Burung. c) Pemantauan kontak sampai 10 hari setelah Kejadian Luar Biasa atau apabila
terjadi wabah Flu Burung pada unggas berakhir atau 14 hari setelah kematian unggas terakhir.
d) Pesan kewaspadaan terhadap masyarakat dan puskesmas/petugas kesehatan tentang kasus ILI dan atau pneumonia
11) Pengendalian ISPA
a) Meningkatkan koordinasi diantaranya melalui Pertemuan Tatalaksana Pneumonia bagi pengelola program P2 ISPA Kabupaten Kota
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 87
b) Asistensi teknis dan Tatalaksana standar program P2 ISPA ke kabupaten/kota dan Puskesmas
12) Pengendalian Penyakit Pes
a) Penggandaan pedoman Penanggulangan Penyakit Pes.
b) Memberikan pembinaan dan advokasi ke semua level administrasi pemerintahan, dan sosialisasi ke masyarakat daerah pengamatan.
c) Meningkatkan peran serta masyarakat dan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS).
Secara umum untuk sasaran menurunnya angka kesakitan dan kematian penyakit menular, tidak menular dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi serta pengamatan penyakit dalam rangka sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB/wabah, ancaman epidemi serta bencana tahun 2015 nilai BAIK.