• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Obat dan Perbekalan Kesehatan

AKUNTABILITAS KINERJA

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)

B.5. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan

A. Kegiatan Dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan

Dalam rangka mencapai misi “Mewujudkan, Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata dan Terjangkau” dan tujuan “Terjaminnya Ketersediaan, Pemerataan, Pemanfaatan, Mutu, Keterjangkauan Obat dan Perbekalan Kesehatan serta Pembinaan Mutu Makanan” maka dilaksanakan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan.

Program Obat dan Perbekalan Kesehatan didukung oleh 11(sebelas) kegiatan yaitu (1)Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan, (2)Pengkataan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan, (3)Peningkatan mutu pelayanaan farmasi komunikasi dan rumah sakit, (4)Peningkatan mutu Penggunaan obat dan perbekalan Kesehatan, (5)Pengembangan tanaman obat dan peningkatan promosi pemanfaatan obat bahan alam Indonesia, (6)Pengadaan Bahan Kimia dan Laboratorium, (7)Peningkatan mutu makanan dan minuman, (8)Peningkatan dan Pengembangan Balai Materia Medika Batu, (9)Pencegahan Penyalahgunaan Narkotik, Psikotropika Dan Zat Adiktif Lainnya (Napza), (10)Optimalisasi Instalasi Farmasi Provinsi ( DAK ) dan (11)Pendampingan Optimalisasi Instalasi Farmasi Provinsi ( DAK ).

B. Sasaran

Program Obat dan Perbekalan Kesehatan dengan sasaran “Meningkatnya pengelolaan obat, perbekalan kesehatan dan makanan”; indikator sasaran sebagai berikut:

1) Persentase obat sesuai kebutuhan tersedia di Kabupaten/Kota

2) Persentase Ketersediaan Obat dan Alat Kesehatan untuk Penanggulangan Bencana dan KLB

3) Persentase Sarana Pelayanan Kesehatan yang menerapkan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar

C. Anggaran Belanja

Pada tahun anggaran 2014, Program Obat dan Perbekalan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mendapatkan alokasi anggaran belanja sebesar Rp. 7.907.640.000,00 dengan realisasi belanja sebesar Rp. 3.178.767.804,00 atau sebesar 40,20%; hal ini salah satunya disebabkan karena kegiatan Optimalisasi

Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 55

Instalasi Farmasi Provinsi sebesar Rp. 3.932.640.000,00 tidak bisa terealisasi karena disebabkan gagal tender serta persyaratan dalam penganggaran yang belum terpenuhi. Berdasarkan hal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sudah mengirim telaahan kepada Bappeda Provinsi Jawa Timur.

Tabel 3.12. TUJUAN 5 dan SASARAN 5.1.

TUJUAN 5 SASARAN 5.1

Terjaminnya ketersediaan,

pemerataan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan

Meningkatnya Pengelolaan Obat, Perbekalan Kesehatan dan Makanan

Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan dalam Tabel 3.13. sebagai berikut :

TABEL : 3.13. Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya Pengelolaan

Obat, Perbekalan Kesehatan dan Makanan

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)

1 2 3 4 5

1 Persentase obat sesuai

kebutuhan tersedia di kabupaten/kota

95 % 100 % 105,26

2 Persentase Ketersediaan

Obat dan Alat Kesehatan untuk Penanggulangan Bencana dan KLB

90 % 92 % 102,22

3 Persentase Sarana Pelayanan

Kesehatan yang menerapkan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar

60 % 35 % 58,33

Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran 88,61

KATEGORI CAPAIAN : BAIK

Berdasarkan Tabel 3.13. dari 3(tiga) Indikator Kinerja Utama Program Obat dan Perbekalan Kesehatan yang belum memenuhi target adalah Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar. Pada Tahun 2014 target yang ditetapkan sebesar 60 % dengan capaian 35%. Hal ini antara lain disebabkan oleh hal ini disebabkan karena kualitas dan kuantitas SDM bidang farmasi, kompetensi tenaga farmasi, dukungan manajemen, kab kota tidak memiliki data based yang akurat sehingga sampai Tahun 2014 belum bisa memenuhi target.

Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 56

Pada Program Obat dan Perbekalan Kesehatan untuk indikator Persentase Ketersediaan Obat dan Alat Kesehatan untuk Penanggulangan Bencana dan KLB terlihat pada tabel 3.14.

Tabel 3.14. Persentase Ketersediaan Obat dan Alat Kesehatan Untuk Penanggulangan Bencana dan KLB

NO. KAB/KOTA KETERSEDIAAN OBAT (%)

1 Pacitan 173% 2 Ponorogo 86% 3 Trenggalek 174% 4 Tulungagung 142% 5 Kab. Blitar 211% 6 Kab. Kediri 940% 7 Kab. Malang 143% 8 Lumajang 323% 9 Jember 130% 10 Banyuwangi 164% 11 Bondowoso 162% 12 Situbondo 337% 13 Kab. Probolinggo 115% 14 Kab. Pasuruan 144% 15 Sidoarjo 248% 16 Kab. Mojokerto 97% 17 Jombang 146% 18 Nganjuk 266% 19 Kab. Madiun 292% 20 Magetan 92% 21 Ngawi 218% 22 Bojonegoro 106% 23 Tuban 176% 24 Lamongan 110% 25 Gresik 127% 26 Bangkalan 1572% 27 Sampang 108% 28 Pamekasan 196% 29 Sumenep 69% 30 Kota Kediri 225% 31 Kota Blitar 280% 32 Kota Malang 184% 33 Kota Probolinggo 237% 34 Kota Pasuruan 80% 35 Kota Mojokerto 152% 36 Kota Madiun 645% 37 Kota Surabaya 669% 38 Kota Batu 186%

Sumber: Data Program Obat dan Perbekalan Kesehatan tahun 2014

Mutu Pelayanan kefarmasian di sarana pelayanan kesehatan dipengaruhi antara lain oleh ketersediaan tenaga farmasi di s a r a n a pelayanan kesehatan. Jumlah dan kualitas tenaga apoteker di Rumah Sakit masih terbatas. Jumlah

Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 57

apoteker di beberapa rumah sakit tidak sesuai dengan rasio terhadap jumlah tempat tidur (1:30). Hal ini berdampak pada kurang optimalnya pelayanan farmasi klinik, sehingga perlu dipikirkan untuk menempatkan tenaga apoteker dengan jumlah sesuai kebutuhan;l sedangkan di Puskesmas hanya tersedia Asisten Apoteker sekitar 80% dari total jumlah Puskesmas yang ada

D. Permasalahan

Permasalahan dalam pelaksanaan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah sebagai berikut:

1) Belum optimalnya komitmen Pemerintah Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengalokasikan anggaran untuk penyediaan obat dan alkes habis pakai, dukungan sarana prasarana pengelolaan obat dan vaksin, biaya distribusi obat dan vaksin,

2) Penempatan penanggung jawab pengelola obat di beberapa daerah tidak sesuai dengan kompetensi. Adanya mutasi tenaga kefarmasian yang bertugas di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dan belum ada pengganti yang sesuai

3) Struktur organisasi pengelola obat dan perbekalan kesehatan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi bidang kefarmasian di era otonomi daerah bervariasi bentuk dan keberadaannya antara lain: dalam bentuk Bidang, Seksi atau UPTD dengan tupoksi yang tidak seragam.

4) Perhatian terhadap pengelolaan obat di Puskesmas masih kurang meliputi penyimpanan yang belum optimal maupun kurangnya SDM.

5) Kurangnya koordinasi antara petugas puskesmas dan instalasi farmasi kabupaten/kota menyebabkan kekosongan obat di puskesmas tidak terinformasi ke Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota, sehingga puskesmas mengalami kekosongan obat meskipun dalam waktu yang singkat.

6) Biaya operasional instalasi farmasi. Pengadaan obat dan vaksin masih mengandalkan dari dana DAK bidang kefarmasian.

7) Kondisi mempengaruhi mutu pelayanan kefarmasian di strata pelayanan kesehatan tersebut ketersediaan tenaga farmasi di pelayanan kesehatan terbagi di Rumah Sakit dan Puskesmas. Jumlah dan kualitas tenaga apoteker di Rumah Sakit masih terbatas, sedangkan di Puskesmas hanya tersedia Asisten Apoteker sekitar 80% dari total jumlah Puskesmas yang ada

8) Tenaga kesehatan lain belum sepenuhnya mendapat informasi tentang penggunaan obat rasional, serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang penggunaan obat secara swamedikasi

Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 58

E. Upaya Pemecahan Permasalahan

Upaya pemecahan permasalahan yang diupayakan pada Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah sebagai berikut:

1) Advokasi ke Pemerintah Daerah untuk komitmen dan dukungan alokasi anggaran penyediaan obat dan alkes habis pakai, dukungan sarana prasarana pengelolaan obat dan vaksin, serta biaya distribusi obat.

2) Meningkatkan kemampuan petugas pengelola obat di Kab/Kota dengan melakukan pembinaan dan TOT Manajemen Obat secara berkelanjutan yang diharapkan akan dilanjutkan dengan pelatihan terhadap pengelolaan obat di Puskesmas.

3) Meningkatkan koordinasi antara pengelola obat di Provinsi, Kab/Kota, Puskesmas, dan Pengelola Program Kesehatan dengan membentuk tim perencanaan obat terpadu.

4) Advokasi penambahan jumlah tenaga kefarmasian untuk mendukung pelaksanaan pelayanan kefarmasian di Puskesmas dan Rumah Sakit.

5) Meningkatkan lokasi pilot project pelayanaan kefarmasian di beberapa Puskesmas dan Rumah Sakit

6) Meningkatkan sosialisasi pemberdayaan masyarakat dalam penggunaan obat rasional melalui metode CBIA dengan melibatkan tenaga kesehatan dari lintas program, kader kesehatan, dan stake holder terkait

Secara umum pencapaian target sasaran meningkatkan pengelolaan obat, perbekalan kesehatan dan makanan pada tahun 2014 telah tercapai dengan BAIK.