AKUNTABILITAS KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)
B.5. Program Perbaikan Gizi Masyarakat
A. Kegiatan Dalam Program Perbaikan Gizi Masyarakat
Dalam rangka mencapai misi “Mewujudkan, Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata dan Terjangkau” dan tujuan
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 49
“Meningkatnya Kesadaran Gizi Keluarga Dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Masyarakat” maka dilaksanakan Program Perbaikan Gizi Masyarakat
Program Perbaikan Gizi Masyarakat didukung oleh 3(tiga) kegiatan yaitu (1) Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A dan Kekurangan Zat Gizi Mikro lainnya, (2) Pemberdayaan masyarakat Untuk pencapaian keluarga sadar gizi dan (3) Penyelidikan surveillans untuk kewaspadaan pangan dan gizi
B. Sasaran
Program Perbaikan Gizi Masyarakat dengan sasaran “Meningkatnya
Keluarga Sadar Gizi dan Perbaikan Gizi Masyarakat”; indikator sasaran sebagai berikut:
1) Persentase Balita Dipantau Pertumbuhannya 2) Persentase Balita dengan Gizi Buruk
3) Persentase Balita dengan Gizi Kurang C. Anggaran Belanja
Pada tahun anggaran 2014, Program Perbaikan Gizi Masyarakat mendapatkan alokasi anggaran belanja sebesar Rp. 2.200.000.000,00 dengan realisasi belanja sebesar Rp. 1.926.959.036,00 atau sebesar 87.59%.
Tabel 3.10. TUJUAN 4 dan SASARAN 4
TUJUAN 4 SASARAN 4.1
Meningkatnya Kesadaran Gizi Keluarga Dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Masyarakat
Meningkatnya Perbaikan Gizi Masyarakat
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan dalam Tabel 3.11. sebagai berikut :
TABEL : 3.11. Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya Perbaikan Gizi
Masyarakat
NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI (%)
1 2 3 4 5
1 Persentase Balita Dipantau Pertumbuhannya
85 % 74, 3 % 87,41
2 Persentase Balita dengan Gizi Buruk 2 % 2 % 100,0
0
3 Persentase Balita dengan Gizi Kurang 14,8 % 12,3% 83,11
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran 90,17
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 50
Program perbaikan gizi masyarakat bertujuan meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi, dan balita serta usia produktif.
Tabel 3.12. Target dan Realisasi Indikator Kinerja Program Perbaikan Gizi Masyarakat 2012-2014
NO INDIKATOR Target Realisasi Target Realisasi 2012 2013 Target 2014 Realisasi 1 Persentase balita gizi buruk yang
mendapat perawatan 100 100 100 100 100 100 2 Persentase bayi usia 0-6 bulan
mendapat ASI Eksklusif 70 66,1 75 70,3 80 72,6 3 Cakupan RT yang
mengkonsumsi garam beryodium 80 - 85 86,9 90 86,9 4 Persentase Balita 6-59 bulan
mendapat kapsul vitamin A 80 90,3 83 89,7 85 92,2 5 Persentase ibu hamil mendapat Fe 90 tablet 90 71,2 93 81,6 95 74,2 6 Persentase kabupaten/kota yang
melaksanakan surveilans gizi 100 100 100 100 100 100 7 Persentase balita ditimbang berat badannya 75 73,7 80 72,0 85 74,3 8 Persentase Penyediaan bufferstock
MP-ASI untuk daerah bencana 100 100 100 100 100 100
Sumber : LB3 Gizi Tahun 2014
Pada tabel di atas sampai dengan bulan November 2014 sebanyak 5854 kasus Balita gizi buruk (L= 2593, P=2855) sudah mendapat perawatan 100 % dan tertangani semua. Berdasarkan PSG (pemantauan status gizi) tahun 2014 persentase status balita gizi buruk sebanyak 2% ini lebih rendah dari target RAD-PG tahun 2014 sebesar 2,1%. Sedangkan persentase status Balita gizi kurang sebesar 10,3% bila dibandingkan dengan target RAD-PG tahun 2014 sebesar 8,4% masih belum mencapai target dan untuk prevalensi Balita gizi kurang sebesar 12,3%. Penanggulangan kasus balita gizi buruk dilaksanakan melalui 2 (dua) pendekatan, yaitu bagi balita gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda komplikasi medis dilakukan penanganan rawat inap di Puskesmas Perawatan, Theurapeutic Feeding Centre (TFC) maupun Rumah Sakit. Sedangkan bagi balita gizi buruk tanpa komplikasi dilakukan melalui rawat jalan dengan pembinaan oleh petugas kesehatan dan kader Posyandu.
Cakupan bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif tahun 2014 sebesar 72,6% dari jumlah bayi diperiksa sebesar 463.872 dan yang mendapat ASI Eksklusif sebanyak 336.819 bayi, meskipun belum mencapai target nasional sebesar 80 % tetapi bila dibanding tahun 2013 persentase cakupan meningkat sebanyak 2,3%, hal ini di dukung dengan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat tentang ASI Eksklusif serta semakin tanggapnya tenaga pelaksana gizi di lapangan. Upaya terobosan yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif antara lain melalui :
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 51
a) Penyediaan ruang laktasi (di pasar, kantor, mall, RSUD, pabrik dll) dalam rangka mendukung penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan, dan lain-lain.
b) Pelatihan petugas pengola data kesehatan terkait dengan definisi operasional ASI eksklusif untuk mendukung pelaporan ASI eksklusif yang benar
c) Pelatihan Konselor Menyusui
d) Peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat melalui pembentukan Kelompok Pendukung Air Susu Ibu (KP-ASI)
e) Sosialisasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif.
Upaya penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dilakukan melalui pemanfaatan garam beriodium. Hasil survey rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodium di Jawa Timur tahun 2014 sebesar 86,9 %, jika dibandingkan dengan target nasional tahun 2014 sebesar 90 % berarti belum mencapai target. Upaya peningkatan cakupan rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodium dilakukan antara lain melalui :
a). Meningkatkan sosialisasi penggunaan garam beryodium kepada masyarakat melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik
b). Meningkatkan kegiatan pemantauan /moitoring garam beryodium di setiap desa/ kelurahan dan tidak tergantung dana
c). Peningkatan koordinasi dengan petugas lintas program maupun lintas sektor d). Sosialisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 63 tahun 2010 tentang
Pedoman Penanggulangan GAKI di daerah.
Cakupan Balita 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A di Jawa Timur tahun 2014 adalah sebesar 92,2% dari sasaran Balita 3.013.119, yang mendapatkan vitamin A sebanyak 2.776.791. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 ada kenaikan sebesar 2,5% dan bila di bandingkan dengan target nasional tahun 2014 sebesar 85% maka hasil cakupan vitamin A jawa timur sudah melebihi target. Beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan balita yang mendapat kapsul vitamin A, antara lain melalui :
a) Meningkatkan kegiatan sweeping oleh petugas kesehatan dalam upaya memaksimalkan cakupan pemberian kapsul vitamin A
b) Pemenuhan kebutuhan kapsul vitamin A
c) Pertemuan koordinasi penanggulangan Kurang Vitamin A bagi petugas lintas program dan lintas sektor Kabupaten/Kota se Jawa Timur
d) Promosi pemberian kapsul vitamin A melalui pengadaan media/ sarana penyuluhan, dan lain-lain.
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 52
Cakupan ibu hamil yang mendapatkan Fe (feros /tambah darah) 90 tablet di Jawa Timur tahun 2014 adalah sebesar 74,2 % dari jumlah ibu hamil sebanyak 675.789 orang, yang mendapat Fe3 sebesar 501.616 orang. Jika dibandingkan dengan target nasional tahun 2014 sebesar 95% berarti belum mencapai target, ini disebabkan antara lain ;
a) Adanya under reporting, sebab cakupan K1 yang mensyaratkan harus sudah diberi tablet Fe1 dan cakupan K4 yang mensyaratkan harus sudah diberi Fe3. b) Belum optimalnya koordinasi dengan lintas program terkait, serta belum
terlaporkannya dengan baik cakupan pemberian TTD pada ibu hamil, baik di BPS (balai pengobatan swasta) /klinik bersalin lainnya.
c) Kurangnya peran lintas sektoral dan lintas program dalam mendukung program penanggulangan anemia.
d) Tablet tambah darah yang diberikan secara program kurang menarik,
khususnya bagi ibu hamil, sehingga banyak yang tidak mau
mengkonsumsinya.
Upaya peningkatan cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet tambah darah, dilakukan antara lain melalui :
a) Peningkatan koordinasi dengan petugas lintas program dan lintas sektor terkait
b) Peningkatan pemahaman petugas kesehatan terkait tentang definisi operasional pemberian TTD
c) Promosi TTD (tablet tambah darah) melalui pengadaan sarana media penyuluhan
Cakupan balita yang ditimbang berat badannya (D/S) di Jawa Timur pada tahun 2014 adalah sebesar 74,3% dari jumlah Balita sebesar 3.013.119 dan yang ditimbang sebanyak 2.239.798 Balita. Cakupan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan target nasional tahun 2014 sebesar 85 %. Rendahnya cakupan D/S tersebut antara lain berkaitan dengan ;
a) Orang tua Balita kurang sadar menimbangkan Balitanya ke Posyandu/ pelayanan kesehatan terdekat
b) Data sasaran S (jumlah bayi/ Balita yang ada di wilayah tertentu) menggunakan data proyeksi yang terlalu tinggi
c) Minimnya dana operasional dan kelengkapan sarana dan prasarana untuk menggerakkan kegiatan Posyandu
d) Tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling masih kurang karena banyaknya kader baru (regenerasi)
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 53
e) Pembinaan kader yang kurang sehingga perlu diadakan refresing kader/ revitalisasi Posyandu.
Penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana setiap tahunnya selalu disediakan untuk antisipasi situasi darurat akibat bencana, KLB Gizi dan situasi sulit lainnya. Dana bufferstock MP-ASI ini bersumber dari Direktorat Bina Gizi Kemenkes R.I dan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur sehingga cakupan/ capaian kinerjanya pasti 100 %, karena tenaga gizi di wilayah sasaran bencana, tinggal melaksanakan apabila ada bencana
D. Permasalahan
1) Peran dan kerjasama petugas lintas program dan lintas sektor yang tergabung dalam Tim Pangan dan Gizi masih rendah, sehingga pembahasan tentang situasi pangan dan gizi untuk penanganan masalah gizi sering terhambat.
2) Validasi data gizi sering terlambat dari Kab/ Kota ke Provinsi (seksi gizi) sehingga capaian indikator kinerja gizi berdasarkan data LB3 gizi kurang maksimal.
3) Belum semua tenaga kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit serta sarana pelayanan kesehatan yang lain memahami Kode Etik Pemasaran Susu FormulaPermasalahan bisa dihubungkan dengan pencapaian indikator kinerja program.
E. Upaya Pemecahan Permasalahan
1) Melakukan pendekatan secara khusus terhadap lintas program dan lintas sektor untuk memperlancar jalannya kerjasama serta mendorong agar masing-masing sektor mengadakan kegiatan secara bersama-sama.
2) Meningkatkan upaya perbaikan dalam sistem pencatatan dan pelaporan antara lain ;
a) Setelah mengevaluasi dan menganalisis data LB3 gizi yang masuk, sesering mungkin meminta/ menagih data LB3 Gizi dari Kab/ Kota yang belum masuk. b) Pembinaan petugas pengelola data
c) Pertemuan koordinasi dan validasi data lintas program baik di tingkat Kab/ Kota atau tingkat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
3) Perlunya peraturan yang tegas beserta sangsinya terhadap produsen susu yang melanggar peraturan
4) Menjalin kerjasama dengan lintas sektor, lintas program, serta organisasi profesi terkait untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif.
Melakukan pendekatan secara khusus terhadap lintas program dan lintas sektor untuk memperlancar jalannya kerjasama serta mendorong agar masing-masing
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014 54
sektor mengadakan kegiatan secara bersama-samaHarus relevan dengan permasalahan yang ada.
Secara umum pencapaian target sasaran Meningkatkan Keluarga Sadar Gizi dan Perbaikan Gizi Masyarakat pada tahun 2014 telah tercapai dengan BAIK.