• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alamsyah, Taufiq. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyaluran Kredit Macet Pada Kredit Usaha Pedesaan (KUPEDES) Sektor Agribisnis ( Kasus : PT Bank Rakyat Indonesia, TBK Unit Ciomas, Kota Bogor, Jawa Barat). Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Candaryasa. 2000. Analisis Efektivitas Penyaluran Kredit Umum Pedesaan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilannya di Bank Rakyat Indonesia Unit Diponegoro. Skripsi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dendawijya, Lukman. 2001. Manajemen Perbankan. Ghalia Indonesia. Jakarta. Gittinger, J. P. 1986. Analisis Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Penerbit

Universitas Indonesia. Jakarta.

Haerudin. 2007. Kinerja Keuangan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengembalian Kredit Swamitra-Kowapi (Kasus di USP Swamitra- Kowapi, Cikini, Jakarta Pusat). Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hasan, Iqbal M. 2003.Pokok-pokok Materi statistik 1:Statistik Deskriptif. Bumi Aksara. Jakarta.

Keown, et al. 2004.Manajemen Keuangan Jilid 1. PT Indeks Gramedia. Jakarta. Nicholson, Walter. 2002. Mikroekonomi Intermediate dan Aplikasinya. Erlangga.

Jakarta.

Novitasari, 2006. Analisis Kinerja dan Dampak Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES) terhadap Peningkatan Pendapatan Ussaha Kecil (Kasus : Bank Rakyat Indonesia Unit Kreo, Tanggerang). Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rachmina, Dwi. 1994. Analisis Permintaan Kredit Pada Industri Kecil (Kasus : Jawa Barat dan Jawa Timur). Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Reksodiprodjo, Susatyo. 1965. Pengantar Ekonomi Bank dan Kredit. Pembangunan. Jakarta.

Simorangkir, O. P. 2004. Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Soekartawi, et al. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Sundjaja, Ridwan. 2003. Manajemen Keuangan 1. Literate Lintas Media. Jakarta Supriadi, et al. 2007. Analisis Pengaruh Pemberian Kredit terhadap Kinerja

Debitur Mikro (Kasus Pada ULM ABC, PT Bank XYZ di Jakarta). Jurnal MPI. Volume 2 No. 1 Bulan Februari.

Suyatno, et al. 2007. Dasar-dasar Perkreditan : Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka. Jakarta.

Tarigan, Karmina Putri. 2006. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Permintaan Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES) dalam Sektor Pertanian di BRI Unit Parung, Bogor. Skripsi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Tarmidi. 2006. Efektivitas Pengelolaan Kredit Mikro Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dan Analisis Pendapatan Keluarga Miskin (Studi Kasus : Pengelolaan Kredit Mikro P2KP I Tahap 2 di Kota Depok). Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Weston, Fred & Eugene F. Brigham. 1998. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Wicaksono, Agung Rahmanto. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyaluran Kredit Pertanian oleh Bank BRI di Indonesia. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

1

1.1 Latar Belakang

Besarnya pendapatan negara dipengaruhi oleh beberapa sektor, di antaranya sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, serta keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Pada Tabel 1 dijelaskan mengenai jumlah PDB yang diberikan setiap sektor kepada negara.

Tabel 1. Nilai PDB Tahun 2003-2007 Berdasarkan Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Dalam Triliun Rupiah)

Lapangan Usaha Tahun

2003 2004 2005 2006 2007

1. Pertanian 240,4 247,2 253,7 262,4 271,6

2. Pertambangan 167,6 160,1 165,1 168,0 171,4 3. Industri Pengolahan 441,8 469,9 491,4 514,1 538,1 4. Listrik, gas dan air bersih 10,3 10,9 11,6 12,3 13,5

5. Bangunan 89,6 96,3 103,5 112,2 121,9

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 256,5 271,1 293,9 312,5 338,9 7. Pengangkutan dan Komunikasi 85,5 96,9 109,5 125,0 142,9 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan 140,4 151,1 161,4 170,1 183,7

9. Jasa-jasa 145,1 152,9 160,6 170,7 182,0

Sumber : Badan Pusat Statistika, 20071.

Pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa, sektor pertanian, industri, dan perdagangan merupakan tiga sektor usaha yang mempunyai peranan besar bagi perekonomian negara. Ketiga sektor tersebut merupakan basis pertumbuhan ekonomi nasional dan strategis bagi perekonomian bangsa. Hal ini dikarenakan, sektor-sektor tersebut memberikan sumbangan terbesar terhadap peningkatan

1

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perbankan

2.1.1 Pengertian Bank

Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan demokrasi ekonomi dan menggunakan prinsip kehati-hatian. Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat, serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Perbankan memiliki kedudukan yang strategis, yaitu sebagai penunjang kelancaran sistem pembayaran, pelaksanaan kebijakan moneter dan pencapaian stabilitas sistem keuangan, sehingga diperlukan perbankan yang sehat, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari masa ke masa bank bergerak dan merubah sifatnya dari sebuah perusahaan yang menyelenggarakan jual-beli dan penukaran uang (money- changer) serta sebagai juru bayar (cashier) menjadi sebuah perusahaab yang menyelenggarakan perkreditan (Susatyo, 1965). Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan meyalurkannya kepada masyarkat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Bank umum adalah bank yang

melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Dendawijaya, 2001).

Menurut Undang-undang nomor 7 tentang perbankan 1992 dapat disimpulkan definisi bank sebagai berikut : bank merupakan salah satu badan usaha lembaga keuangan yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa. Adapun pemberian kredit itu dilakukan baik dengan modal sendiri atau dengan dana-dana yang dipercayakan oleh pihak ketiga ataupun dengan jalan memperedarkan alat-alat pembayaran baru berupa uang giral (Simorangkir, 2004). Bank dalam kamus istilah Bank Indonesia, 2006 adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Tugas bank memberikan kredit dan pinjaman yang diberikan oleh bank dibebankan kepada saldo nasabah. Walaupun bank memberikan kredit, jumlah saldo nasabah tidak berkurang. Sebaliknya, nasabah memiliki hak penuh terhadap setiap penarikan uangnnya selama saldo di bank mencukupi.

Dengan diberlakukannya Undang-undang tentang Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999, peranan Bank Indonesia dalam membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi bersifat tidak langsung dan lebih terfokus kepada bantuan teknis serta pengembangan kelembagaan yang menunjang UMKM. Upaya-upaya Bank Indonesia tersebut dilakukan melalui (1) Pemberian bantuan teknis; (2) Pengembangan kelembagaan; (3) Kebijakan kredit.perbankan; dan (4) Kerjasama Bank Indonesia , pemerintah dan lembaga terkait lainnya.

Dalam Suyatno (2007) menurut Pasal 5 undang-undang Nomor 7/1992, menurut jenisnya bank terdiri dari a) Bank Umum, adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan b) Bank Perkreditan Rakyat, adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang disamakan dengan itu.

Terdapat beberapa jenis atau bentuk bank lainnya, tergantung pada cara penggolongannya. Jenis bank berdasarkan kepemilikannya terdiri dari bank milik negara (Badan Usaha Milik Negara atau BUMN), bank milik pemerintah daerah (Badan Usaha Milik Daerah atau BUMD), bank milik swasta nasional, bank milik swasta campuran (nasional dan asing), dan bank milik asing (cabang atau perwakilan). Jenis bank berdasarkan penekanan kegiatannya antara lain bank retail, bank korporasi, bank komersial, bank pedesaan, dan bank pembangunan. Jenis bank berdasarkan pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha terdiri dari bank konvensional, bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran., dan bank berdasarkan prinsip syariah yang aturan perjanjiannya berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan Syariah.

2.1.2 Pengertian Kredit

Dalam kehidupan sehari-hari, kata kredit bukan merupakan perkataan yang asing bagi masyarakat. perkataan kredit tidak saja dikenal oleh masyarakat di kota-kota besar, tetapi sampai di desa-desa pun kata kredit tersebut sudah sangat populer. Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan dapat memenuhi segala

sesuatu yang telah dijanjikan. Apa yang telah dijanjikan itu dapat berupa barang, uang, atau jasa (Suyatno, 2007).

Kata kredit berasal dari bahasa latin credere yang berarti kepercayaan. Kepercayaan yang dimaksud di dalam perkreditan adalah di antara si pemberi dan si penerima kredit. Kredit adalah pemberian prestasi (misalnya uang atau barang) dengan balas prestasi (kontra prestasi) yang akan terjadi pada waktu mendatang (Simorangkir, 2004).

Ekonomi bank dan kredit adalah bagian daripada ekonomi umum yang mempelajari teori-teori umum yang dapat dipraktekan guna membahas masalah- masalah perbankan dan perkreditan. Perbankan dan perkreditan senantiasa dipandang sebagai sosial ekonomi pada umumnya dan sebagai industri pada khususnya (Susatyo, 1965).

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (Dendawijaya, 2001).

Unsur-unsur yang terdapat dalam kredit (Dendawijaya, 2001) adalah (1) Kepercayaan yaitu keyakinan pemberi kredit bahwa transaksi yang akan diberikan akan diterima kembali dalam jangka waktu tertentu; (2) Waktu yaitu masa memisahkan antara pemberi transaksi dan kontra transaksi yang akan diterima pada masa yang akan datang; (3) Resiko yaitu suatu kemungkinan yang akan dihadapi sebagai akibat jangka waktu dari pengembalian transaksi yang diberikan; (4) Transaksi yaitu objek kredit yang bisa berupa uang, barang atau jasa.

Bank yang pedomannya adalah memperoleh hasil yang setinggi-tingginya dari yang dipinjamkan tanpa mempersoalkan penggunaan kredit yang diberikannya disebut pemberian kredit berdasarkan private ekonomi. Pertimbangan utama baginya ialah pinjaman pokok bersama tingkat bunga yang tinggi dinayar kembali tepat pada waktunya. Bank komersial dalam memberikan kredit pada umumnya bertitik tolak dari segi sosial ekonomi (Simorangkir, 2004).

Pemberian kredit dimaksudkan untuk memproleh keuntungan, maka bank hanya boleh meneruskan simpanan masyarakat kepada nasabahnya dalam bentuk kredit, jika merasa yakin bahwa nasabah yang akan menerima kredit itu mampu dan mau mengembalikan kredit yang telah diterimanya. Dari faktor kemampuan dan kemauan tersebut, tersimpul unsur keamanan (safety) dan sekaligus juga unsur keuntungan (profitability) dari suatu kredit. Kedua unsur tersebut saling berkaitan (Suyatno, 2007).

Apabila dibedakan menurut sumbernya, kredit dapat dibedakan menjadi kredit formal dan non formal. Kredit formal adalah kredit yang berasal dari lembaga keuangan formal, baik lembaga yang berciri bank atau bukan bank. Sedangkan kredit non-formal adalah kredit yang berasal dari lembaga keuangan non-formal, seperti pelepas uang/rentenir, pedagang/tengkulak, pengijon, keluarga dan sebagainya (Rachmina, 1994).

Kredit sangat dibutuhkam dalam rangka pelaksanaan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi mempunyai dua komponen penting, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pengurangan jumlah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi ditunjukkan oleh adanya peningkatan produksi (output). Peningkatan produksi hanya dapat dicapai dengan cara menambah jumlah input atau dengan

7b. Tambahan kredit 1. Permohonan kredit 2. Analisis kredit 3. Persetujuan kredit 4. Perjanjian kredit 5. Pencairan kredit 6. Pengawasan kredit 7a. Pelunasan kredit 7c. Kredit bermasalah

cara menerapkan teknologi baru. Penambahan input maupun penggunaan teknologi baru akan selalu diikuti dengan penambahan modal. Modal yang digunakan bersumber dari modal sendiri dan atau dari modal pinjaman (kredit). Namun, mengingat modal milik sendiri umumnya relatif sedikit, maka sebagai tumpuan tentunya akan beralih pada kredit yang dapat tersedia pada saat diperlukan (tepat waktu).

2.1.2.1 Siklus Perkreditan

Siklus perkreditan dimulai sejak pengajuan permohonan kredit hingga akhirnya disetujui, dicairkan, diawasi, dan pelunasan kredit secara grafis dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Siklus Perkreditan (Dendawijaya, 2001)

Berdasarkan Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa ada tujuh tahap siklus perkreditan, pertama calon debitur/nasabah mengajukan permohonan kredit kepada pihak atau badan yang memberikan kredit, kemudian surat permohonan tersebut dianalisis apakah disetujui atau tidak (2). Atas laporan analisis kredit

tersebut, persetujuan kredit dilakukan oleh suatu komite yang dibentuk direksi yang disebut “komite kredit” (3). Selanjutnya perjanjian kredit dipersiapkan notaris publik yang ditunjuk oleh bank atau dipilih oleh calon nasabah (4), setelah berbagai persyaratan dipenuhi oleh debitur bank akan mencairkan kredit (5). Pengawasan kredit dilakukan setelah kredit cair, pengawasan ini merupakan satu kunci utama untuk mengetahui dari keberhasilan pemberian kredit (6). Dalam kondisi ideal, nasabah akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap bank sesuai dengan kesepakatan yang dimuat dalam perjanjian kredit dan nasabah dapat (mampu atau mau) membayar aangsuran pokok pinjaman (7a). Bagi nasabah yang berhasil dalam menjalankan usahanya, maka nasabah tersebut akan datang kembali ke bank untuk mambicarakan kemungkinan memperoleh penambahan kredit bagi perluasan usaha (7b). Perkembangan pemberian kredit yang paling tidak menggembirakan bagi pihak bank adalah apabila kredit yang diberikannya ternyata menjadi kredit yang bermasalah, debitur gagal untuk memenuhi kewajibannya membayar angsuran pokok kredit (7c).

2.1.2.2 Sifat-sifat Kredit Bank

Beberapa sifat atau ciri dari kredit bank yaitu (Weston dan Brigham, 1998) (1) Jatuh tempo, meskipun kredit bank lazimnya mempunyai jangka waktu yang lebih panjang daripada utang usaha, namun sebagian besar kredit bank adalah berupa pinjaman jangka pendek; (2) Promes, jika bank menyetujui pemberian kredit maka kesepakatan itu diwujudkan dengan menandatangani promes (promissory note). Promes adalah dolumen yang merinci persyaratan den ketentuan pinjaman, termasuk jumlahnya, suku bunga dan jadwal angsuran; (3)

Plafond kredit, kesepakatan formal atau informal di antara bank dan peminjam mengenai jumlah kredit maksimum yang akan diberikan bank kepada peminjam.

2.2 Kredit Umum Pedesaan

Bank Rakyat Indonesia Unit (BRI Unit) merupakan salah satu dari unit kerja Bank Rakyat Indonesia yang melayani kegiatan usaha perbankan pada segmen mikro. Secara struktural BRI Unit berada di level paling bawah dalam strukur organisasi BRI. Unit kerja yang berada di atas BRI Unit secara berturut- turut adalah kantor cabang, kantor wilayah, dan kantor pusat.

BRI Unit yang sebelumnya bernama BRI Unit Desa, pertama kali dibentuk pada tahun 1969 berkaitan dengan program Bimbingan Massal (Bimas) yang merupakan program pemerintah. Peran BRI Unit Desa dalam program Bimas tersebut adalah sebagai pemberi modal kepada petani di wilayah pedesaan. Dana yang disalurkan BRI Unit kepada petani berasal dari dana pemerintah. Penyaluran kredit Bimas sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah daerah setempat khususnya dalam hal menentukan sasaran kredit. BRI Unir Desa tidak mempunyai kewenangan penuh karena segala ketentuan dan sistemnya ditentukan pemerintah. Dalam hal ini BRI Unit Desa lebih bersifat “kasir” saja, karena tidak mempunyai wewenang untuk melakukan penilaian kredit dan menentukan pihak-pihak mana saja yang layak untuk diberi kredit. Realisasi dan kinerja kredit Bimas mengalami penurunan, oleh karena itu pada tahun 1983 program Bimas dihentikan.

Pada tahun 1983 pemerintah mengeluarkan kebijakan deregulasi keuangan dan perbankan, diantaranya diberikan kemudahan persyaratan untuk mendirikan sebuah bank dan setiap bank dapat menentukan sendiri tingkat suku bunga

produknya. Kebijakan deregulasi ini dimanfaatkan oleh BRI tentang keberadaan BRI Unit Desa yaitu dengan merubah fungsi BRI Unit Desa yang semula keberadaannya hanya berfungsi sebagai kepanjangan tangan (chanelling) dalam penyaluran kredot Bimas menjadi commercial rural finansial intermediary (lembaga perantara keuangan pedesaan).

Lokai BRI Unit Desa yang semula lebih banyak didirikan di daerah pertanian atau persawahan, mulai direlokasi ke sentra-sentra perekonomian di wilayah setempat, dan nama BRI Unit Desa diganti dengan nama yang lebih komersial, yaitu BRI Unit. Selain kredit Bimas, BRI Unit Desa juga melayani kredit Mini-Midi yang dananya juga masih disubsidi oleh pemerintah.

Pada tahun 1984 BRI Unit mulai menyalurkan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) yang pendekatannya mengarah ke komersial. Kupedes adalah suatu fasilitas kredit yang disediakan oleh BRI Unit (bukan oleh Kantor Cabang BRI atau Bank lain), untuk mengembangkan atau meningkatkan usaha kecil yang layak.

Sasaran Kupedes, yaitu pihak perorangan atau perusahaan yang usahanya dinilai layak (eligible). Dalam hal ini, pengusaha yang bergerak diberbagai sektor ekonomi yang ada di wilayah kerja BRI Unit. Golongan masyarakat berpenghasilan tetap (Golbertap)., misalkan pegawai pegeri sipil, anggota TNI/POLRI, pegawai BUMN, pegawai perusahaan daerah, pensiunan dan pegawai berpenghasilan tetap, dan lain-lain.

Berdasarkan tujuan penggunaan, Kupedes dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Kupedes modal kerja (eksploitasi) dan Kupedes investasi. Ditinjau dari sektor perekonomian, Kupedes dapat dibagi menjadi lima, yaitu sektor pertanian,

sektor perdagangan, sektor industri, sektor jasa-jasa lainnya, da sektor golongan berpenghasilan tetap (golbertap).

Pada tahun 2005 hingga sekarang, besarnya plafond yang diberikan maksimum Rp 100.000.000. Pengusaha yang memiliki pengalaman minimal satu tahun hanya dapat meminjam sampai dengan Rp 50.000.000-, sedangkan untuk pengalaman usaha minimal 2 tahun dapat minimum hingga Rp 100.000.000-.

Jangka waktu angsuran kredit minimal 3 bulan dan maksimal 36 bulan, kecuali untuk golbertap jangka waktu maksimum 96 bulan. Pola angsuran, secara bulanan atau angsuran secara bulanan dengan grace period angsuran 3,4, 6 bulan.

Dalam Kupedes terdapat fasilitas lain yang biasa disebut dengan Intensif Pembayaran Tepat Waktu (IPTW). IPTW diberikan bagi nasabah yang tertib mengangsur pinjamannya secara tepat waktu selama periode tertentu, besarnya IPTW yang diberikan sebesar 1/4 bagian dari suku bunga dan dibayarkan 6 bulan sekali langsung masuk ke tabungan nasabah.

Besarnya suku bunga yang dibebankan kepada nasabah bebrbeda-beda, sesuai dengan pinjaman yang diterima.

1. Plafond < Rp 25.000.000, besar bunga yang diberikan sebesar 2%.

2. Plafond Rp 25.000.000-Rp 49.000.000, besar bunga yang diberikan

sebesar 1.67%.

3. Plafond Rp 50.000.000, besar bunga yang diberikan sebesar 1.6%.

4. Plafond > Rp 50.000.000, besar bunga yang diberikan sebesar 1.2%.

Untuk besar pinjaman dari 1-3 mendapatkan IPTW, sedangkan pinjaman 4 tidak mendapatkan IPTW tetap bungan yang diberikan lebih rendah. Agunan yang harus disediakan oleh calon nasabah nilainya harus cukup meng-cover jumlah

Kupedes yang diterimanya beserta kewajiban-kewajibannya (pinjaman pokok dan bunga).

2.3 Penelitian Terdahulu

2.3.1 Penelitian Mengenai Kupedes

Alamsyah (2007) menjelaskan bahwa karakteristik individu debitur Kupedes sektor agribisnis yang mengalami kemacetan atau penunggakan dalam pembayaran kredit sebagian besar berada pada usia produktif, berpendidikan SD, memiliki jumlah tanggungan keluarga sebanyak tiga orang, mengikuti pembinaan dari petugas BRI, dan memiliki rumah yang berjarak sekitar dua sampai empat kilometer dengan BRI. Adapun karakteristik usaha debitur Kupedes sektor agribisnis yang mengalami kemacetan atau penunggakan dalam pembayaran kredit sebagian besar memiliki pengalaman usaha antara 3-6 tahun, memiliki jangka waktu pengembalian kredit 24 bulan, menyatakan tidak keberatan dengan beban bunga, dan memiliki omzet per bulan Rp. 1.000.000 sampai Rp. 2.000.000. penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi logistik.

Wicaksono (2007) didalam penelitiannya menjelaskan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyaluran kredit pertanian oleh BRI Indonesia adalah variabel produk domestik bruto sektor pertanian dan variabel tingkat pengembalian kredit bermasalah sektor pertanian di BRI. Sedangkan variabel tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia tidak berpengaruh secara nyata. Metode penelitian menggunakan model ekonometrika pada tingkat signifikansi ( ) = 5.

Penelitian yang dilakukan Tarigan (2006) menjelaskan gambaran umum BRI, syarat-syarat dan prosedur penyaluran kredit serta faktor 5 C (Character,

Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economy) di BRI Unit Parung.

Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap permintaan Kupedes di BRI Unit Parung adalah jumlah agunan, pengalaman kredit, dan omzet. Analisis faktor- faktor yang mempengaruhi permintaan kredit dijelaskan secara kuantitatif. Dalam hal ini digunakan metode pendekatan langsung dengan menggunakan regresi.

Candrayasa (2000) dalam penelitiannya tetntang analisis efektivitas penyaluran kredit umum pedesaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembaliannya di Bank Rakyat Indonesia Unit Diponegoro Surabaya, menyatakan bahwa secara ummum penyaluran Kupedes di BRI Unit Dipoenegoro telah berjalan dengan efektif. Hal ini dapat dilihat dari data tahunan bank yang menunjukkan adanya perkembangan penyaluran kredit dari tahun ke tahun, dan hanya pada tahun 1997-1998 yang mengalami penurunan yang lebih disebabkan oleh keadaan ekonomi yang sangat buruk. Sedangkan untuk melihat efektivitas penyaluran kredit berdasarkan pada pendapatan nasabah. Pendapatan nasabah terhadap penyaluran fasilitas Kupedes oleh BRI Unit Diponegoro umumnya baik, dengan pencapaian skor pada selang sangat efektif dengan perhitungan skala linkert.

2.3.2 Penelitian Mengenai Penilaian Kinerja

Menurut Haerudin (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kinerja keuangan Swamitra-Kowapi dilihat dari sisi rasio likuiditas, solvabilitas, dan rentabillitas antara bulan September 2005 hingga September 2006. Penelitian

tersebut menunjukkan nilai rata-rata yang diperoleh dari masing-masing rasio tersebut masih di atas nilai minimum yang ditentukan Bank Indonesia. Faktor- faktor yang berpengaruh nyata terhadap pengembalian kredit adalah rata-rata pendapatan perbulan dan pengalaman menggunakan kredit.

Supriadi, et al (2007) dalam jurnal MPI, menganalisis tentang pengaruh pemberian kredit terhadap kinerja debitur mikro. Jurnal tersebut menganalisis kinerja debitur apabila dilihat dari profitabilitas dan skala usaha. Dinyatakan bahwa terdapat hubungan nyata antara pemberian kredit yaitu terjadi peningkatan kinerja usaha debitur mikro setelah mendapatkan kredit. Faktor-faktor yang dipengaruhi seperti profit margin (PM), ROE, aset, dan penjualan. sedangkan ROA mengalami penurunan setelah mendapatkan kredit. Jurnal tersebut juga mengatakan bahwa terdapat kebutuhan pembiayaan yang bersifat transaksional atau musiman bagi pengusaha mikro yang masih belum terakomodasi dalam skim penyaluran kredit oleh ULM (Unit Layanan Mikro).

Novitasari (2006), menganalisis kinerja dan dampak Kupedes di BRI unit Kreo, tanggerang. Melakukan penilaian terhadap kinerja Kupedes dilihat dari dua pihak, yaitu pihak bank dan nasabah. Tolak ukur kinerja Kupedes dari sisi nasabah adalah pendapatan sebelum dan sesudah kredit, persyaratan awal, prosedur pinjaman, realisasi kredit, biaya administrasi, tingkat bunga, lokasi bank,