PENGARUH KUPEDES TERHADAP PERFORMANCE BUSINESS
7.3 Keterkaitan Kupedes terhadap Persediaan 1 Sektor Perdagangan
Nilai persediaan yang dimiliki responden merupakan semua komoditas yang tidak terjual atau sengaja disimpan untuk persediaan yang akan datang. Pada Gambar 11 dijelaskan bahwa keterkaitan Kupedes terhadap nilai persediaan di sektor perdagangan.
Berdasarkan Gambar 11, rata-rata nilai persediaan yang dimiliki oleh responden dalam penelitian ini adalah Rp 17.129.000 (9,51 persen) dengan nilai minimum sebesar Rp 590.000 (0 persen) dan nilai maksimum Rp 75.000.000 (42,79 persen). Rata-rata nilai Kupedes yang diterima sebesar Rp 15.796.744 (9,5 persen), hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya pinjaman Kupedes sebesar Rp 1.000 maka akan meningkatkan persediaan sebesar Rp. 1.084,34. Hal tersebut terjadi karena Kupedes yang diterima digunakan untuk modal kerja dan responden
menggunakanya untuk membeli produk yang akan dijual. Pembelian barang dagang dipengaruhi oleh dana Kupedes yang diterima responden, sehingga apabila ada barang yang tidak terjual dalam waktu tertentu maka akan dihitung sebagai persediaan.
Gambar 11. Perbandingan Kupedes terhadap Persediaan untuk Masing- masing Responden Penerima Kupedes dalam Sektor Perdagangan (skala 1 : 1745000)
Jumlah responden yang mempunyai peningkatan persediaan berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah Kupedes sebesar 40 persen dan sisanya tidak mengalami peningkatan. Hal itu terjadi karena, barang yang dijual sebagian besar barang kebutuhan rumah tangga seperti sembako sehingga mengalami perputaran persediaan yang cukup cepat.
Pada Gambar 11 dapat diketahui juga responden 16 mempunyai persediaan yang lebih besar di bandingkan responden 2, padahal jumlah Kupedes yang diterima sama (20 Persen). Hal tersebut dikarenakan produk yang dimiliki
(karung plastik) membutuhkan waktu yang lama agar dapat terjual dan dijual dalam jumlah yang besar, sedangkan responden 2 menjual barang kebutuhan sehari-hari, sehungga persediaan yang disimpan juga lebih rendah.
7.3.2 Sektor Industri
Pada sektor industri, persediaan meningkat sebanding dengan tingginya penerimaan Kupedes. Perbandingan Kupedes terhadap nilai asset pada sektor ini dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Perbandingan Kupedes terhadap Persediaan untuk Masing-masing Responden Penerima Kupedes dalam Sektor Industri (skala1: 4950000)
Gambar 12 menjelaskan perbandingan antara Kupedes dengan nilai persediaan yang dimiliki oleh responden. Dalam penelitian ini perbandingan Kupedes terhadap persediaan sangat bervariasi, semakin tinggi penerimaan Kupedes maka akan meningkatkan jumlah persediaan yang dimiliki, walaupun
tidak besar perubahannya. Kenaikan ini akan terlihat apabila dibandingkan dengan responden yang menerima pinjaman lebih rendah.
Rata-rata nilai persediaan yang dimiliki responden dalam penelitian ini sebesar Rp 24.390.667 (4,73 persen) dengan nilai persediaan maksimum Rp 90.000.000 (18,02 persen) dan nilai persediaan minimum Rp 3.000.000 (0,40 persen). Rata-rata nilai pinjaman Kupedes sebesar Rp 23.013.158 (4,65 persen), hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya Kupedes sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan nilai persediaan sebesar Rp 1.059,86. Responden yang menerima pinjaman Kupedes tinggi tidak semuanya mempunyai persediaan yang tinggi juga. Hal ini terjadi karena sebagian besar responden memproduksi barang sesuai dengan permintaan, pada umumnya terjadi di industri yang memproduksi makanan, seperti tahu. Sebagian besar responden dalam penelitian ini bergerak di bidang industri makanan dan minuman, sehingga perubahan dalam jumlah persediaan tidak terlalu besar. Jumlah responden yang nilai persediaannya berbanding lurus dengan penerimaan Kupedes sebesar 53,33 persen.
Pada Gambar 12 juga dapat dilihat bahwa, responden 15 dengan pinjaman yang lebih besar (15,99 persen), namun mempunyai nilai persediaan lebih rendah dibandingkan dengan responden 21 yang menerima pinjaman lebih rendah (4,86 persen). Hal itu terjadi karena responden 21 memproduksi pakaian, sehingga persediaannya lebih besar dibanding responden 15 yang memproduksi kayu. Selain itu, penjualan pakaian dilakukan secara musiman dan akan menyebabkan produk yang tidak terjual juga menjadi lebih besar.
7.3.3 Sektor Pertanian
Sebaran nilai persediaan yang dimililki responden pada sektor pertanian juga sangat bervariasi. Penerimaan Kupedes yang tinggi tidak mempengaruhi persediaan yang tinggi juga. Perbandingan nilai persediaan dengan Kupedes dalam sektor pertanian dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Perbandingan Kupedes terhadap Persediaan untuk Masing-masing Responden Penerima Kupedes dalam Sektor Pertanian (skala 1 : 1440000)
Berdasarkan Gambar 13, dapat dijelaskan bahwa nilai pesediaan yang paling tinggi sebesar 40 persen dengan nilai Rp 58.000.000 dan paling rendah atau minimum hampir mencapai nilai nol persen (0,24 persen) dengan nilai Rp 9.500.000, rata-rata nilai persediaan dalam penelitian ini sebesar Rp 17.985.000 (12,12 persen). Rata-rata nilai Kupedes yang diterima sebesar Rp 16.401.674 (11,39 persen), hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya Kupedes sebesar Rp 1.000 maka akan meningkatkan nilai persediaan sebesar Rp 1.096,53.
Jumlah responden yang mempunyai nilai persediaan berbanding lurus dengan Kupedes sebesar 50 persen dan sisanya yang mempunyai nilai persediaan lebih rendah. Hal tersebut menunjukkan, bahwa nilai Kupedes lebih besar akan menghasilkan persediaan yang lebih besar juga, namun ada juga yang sebaliknya. Hal ini terjadi karena sebagian besar hasil panen dijual pada saat panen, tetapi ada juga yang digunakan untuk konsumsi sendiri.
Pada Gambar 13 dapat diketahui juga bahwa responden 12 dan 19 mempunyai nilai persediaan lebih rendah, namun kedua responden menerima Kupedes dengan jumlah yang berbeda. Responden 19 menerima Kupedes lebih besar (13,53 persen) daripada responden 12 (6,56 persen). Hal tersebut dikarenakan harga pokok penjualan responden 19 lebih rendah (Rp 600.000) dibandingkan responden 12 (Rp 16.550.000), selain itu juga produk yang dihasilkan responden 19 berupa bibit.
7.3.4 Perbandingan Kinerja di Setiap Sektor Berdasarkan Nilai Persediaan
Perbandingan kinerja nilai persediaan di setiap sektor diukur berdasarkan jumlah responden yang mempunyai nilai persediaan berbanding lurus dengan Kupedes dan nilai rata-rata persediaannya. Jumlah responden yang mempunyai nilai berbanding lurus dengan Kupedes, merupakan prioritas utama dalam menentukan kinerja di setiap sektor. Perbandingan kinerja nilai persediaan di setiap sektor dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Perbandingan Kinerja Nilai Persediaan Setiap Sektor
Sektor Jumlah responden (%) Nilai rata-rata Persediaan (Rp) Nilai Rata-rata Kupedes (Rp) Persediaan/Kupedes Perdagangan 40,00 17.129.000 15.796.744 1,08 Industri 53,33 24.390.667 23.013.158 1,06 Pertanian 50,00 17.985.000 16.401.674 1,09
Berdasarkan Tabel 21, dapat diketahui bahwa sektor industri merupakan sektor yang mempunyai kinerja yang baik menurut nilai persediaannya. Jumlah responden pada sektor industri yang nilai persediaannya berbanding lurus terhadap Kupedesnya sebesar 53,33 persen dan nilai rata-ratanya sebesar Rp 24.390.667. Besarnya nilai persediaan dikarenakan banyaknya produk yang tidak dapat langsung dijual, seperti pakaian.
Dilihat dari perbandingan persediaan dengan Kupedes, sektor pertanian mempunyai nilai terbesar, yaitu 1,09 yang berarti persediaan yang dimiliki sebesar 1,09 kali dari nilai Kupedesnya. Hal itu terjadi karena, pada sektor pertanian terjadi musim panen, sehingga jumlah produk yang ditawarkan besar dan menyebabkan kemungkinan besarnya produk yang tidak terjual. Berdasarkan hal tersebut, sektor pertanian mempunyai nilai perbandingan persediaan yang besar. Selain itu sektor perdagangan dan industri mempunyai nilai perbandingan masing- masing, 1,08 dan 1,06.
7.4 Keterkaitan Kupedes terhadap Penjualan