BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
3) Dampak Krisis Lingkungan Hidup Bagi Umat atau
mengatakan dengan adanya krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini sangat berdampak pada umat atau masyarakat di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
Menurut R1, dampak krisis lingkungan hidup yaitu ketika musim penghujan dan curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan sungai meluap dan menutupi sumber mata air. Sumber air akan menjadi keruh dan kotor sehingga menyulitkan mereka untuk memperoleh air yang bersih, hal ini juga diungkapkan oleh R2 (Lih.
Lampiran 3, hal. 6).
Menurut R2, R3, R5, R7, R10, R11, R15, R17 dan R19 dampak krisis lingkungan hidup bagi umat antara lain tanah yang menjadi tandus dan sumber air yang semakin sedikit, berbagai daerah mengalami kekeringan akibat krisis air. Hal ini mengakibatkan masyarakat kesulitan untuk mencari air bersih, harus membeli air, tanah yang semakin kering, lebih-lebih para petani sering mengalami gagal panen akibat kekurangan air untuk sawah ataupun ladang mereka (Lih. Lampiran 3, hal. 6 & 7). Hal ini juga disampaikan oleh R4 dan R18 bahwa dampak krisis lingkungan hidup dialami oleh umat dan masyarakat lebih-lebih para petani yang mengandalkan pemenuhan hidup dari bidang pertanian (Lih. Lampiran 3, hal. 6 &
7).
Menurut R6, dampak krisis lingkungan menimbulkan bencana alam yang mendatangkan penderitaan bagi umat maupun masyarakat. Mereka terkadang harus kehilangan harta benda, kehilangan sanak saudara, kehilangan sumber mata pencaharian dan kekurangan pangan. Di samping itu, dampak krisis lingkungan
hidup juga akan mempengaruhi psikis mereka, misalnya menimbulkan stres, rasa takut maupun cemas yang berlebihan (Lih. Lampiran 3, hal. 6). Demikian pula dengan pernyataan R8 bahwa krisis lingkungan hidup yang terjadi memberikan dampak bagi umat maupun masyarakat dengan munculnya penyakit yang menyerang mereka karena kualitas lingkungan yang semakin buruk atau rusak (Lih. Lampiran 3, hal. 6).
Sedangkan R9 mengatakan bahwa dampak krisis lingkungan hidup mengakibatkan adanya pencemaran air, udara, dan tanah yang akan mengganggu aktivitas ekosistem maupun masyarakat sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 6). Menurut R12, krisis lingkungan hidup sangat berdampak bagi umat maupun masyarakat di lingkungan lebih-lebih adanya musim kemarau yang panjang dan cuaca semakin panas akan menjadi faktor penghambat bagi umat dalam pertanian (Lih. Lampiran 3, hal. 6). Begitu pula dengan R13 yang mengatakan bahwa ada empat situasi akibat adanya krisis lingkungan hidup, yaitu: 1) hasil panen para petani menurun, 2) pemasukan perekonomian berkurang, 3) cuaca yang panas dan lahan yang gersang, dan 4) rusaknya jalan akibat tumbangnya pohon di wilayah bukit maupu pegunungan (Lih. Lampiran 3, hal. 7).
Menurut R14, dampak krisis lingkungan hidup bagi umat maupun masyarakat yaitu semakin kesulitan dalam mencari bahan makanan di alam sekitar. Umat kekurangan air bersih, suhu yang semakin panas, dan kesulitan mereka dalam merawat hewan ternak karena pakan yang sulit didapatkan (Lih.
Lampiran 3, hal. 7). Hal ini juga disampaikan oleh R16 bahwa krisis lingkungan hidup akan berdampak bagi keanekaragaman hayati yang rusak atau punah.
Artinya adanya beberapa jenis tanaman yang dulunya melimpah namun sekarang sangat sulit untuk dijumpai. Di sisi lain, hilangnya beberapa jenis hewan akibat krisis dari alam lebih-lebih karena ulah dari masyarakat sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 7).
4) Faktor-Faktor Krisis Lingkungan Hidup
Menurut R1, faktor krisis lingkungan hidup dipicu oleh aktivitas masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke daerah aliran sungai dan beberapa limbah yang merusak lingkungan perairan sungai (Lih. Lampiran 3, hal. 7). Hal ini juga diungkapkan oleh R8 bahwa krisis lingkungan hidup juga dipengaruhi oleh faktor gaya hidup masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman sehingga banyak limbah atau sampah yang merusak selokan atau sungai dan penggunaan sampah plastik yang berlebihan (Lih. Lampiran 3, hal. 8). R16 juga mengatakan bahwa adanya aktivitas masyarakat yang membuang limbah rumah tangga secara sembarangan terutama ke selokan ataupun sungai-sungai yang ada di wilayah mereka (Lih. Lampiran 3, hal. 8). Sedangkan R17 mengatakan bahwa adanya faktor curah hujan yang sangat rendah terutama di wilayah yang berdekatan dengan laut, pembakaran hutan dan budaya masyarakat yang membuang sampah sembarangan (Lih. Lampiran 3, hal. 9).
Menurut R2, R3, R11 faktor-faktor yang menjadi pemicu krisis lingkungan hidup diakibatkan oleh aktivitas masyarakat yang melakukan penebangan pohon secara berlebihan atau liar dan kurangnya kegiatan penghijauan di wilayah mereka. Penebangan pohon juga dipicu karena alasan ekonomis (Lih. Lampiran 3, hal. 7 & 8). Demikian pula yang telah diungkapkan oleh R6 bahwa krisis
lingkungan hidup dipicu karena ulah manusia itu sendiri, artinya mereka dengan sikap yang serakah memanfaatkan sumber daya alam demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Namun, perlu disadari bahwa krisis lingkungan hidup juga dipicu karena peristiwa alam, misalnya gempa bumi, perubahan cuaca atau iklim, gunung meletus, jawaban tersebut juga sama dengan yang disampaikan oleh R9 dan R18 (Lih. Lampiran 3, hal. 8 & 9).
Menurut R4, R5, R7, R12, R16 dan R19, krisis lingkungan hidup terjadi pada lahan pertanian masyarakat. Hal ini diakibatkan karena sebagian masyarakat sering menggunakan bibit dan pupuk yang mengandung bahan kimia. Di samping itu, untuk mengatasi hama yang merusak pertanian mereka, masyarakat menggunakan pestisida sebagai cara untuk mengatasinya. Dengan demikian, tindakan tersebut akan merusak ekosistem lingkungan hidup yang akan mempengaruhi aktivitas pertanian mereka, misalnya pencemaran pada tanah, hasil panen yang menurun dan munculnya hama-hama baru yang merusak wilayah pertanian mereka. Jawaban ini juga sama dengan yang disampaikan oleh R8 dan R16 (Lih. Lampiran 3, hal. 7, 8 dan 9).
Dalam memberikan jawaban tentang faktor krisis lingkungan hidup, R10 mengatakan bahwa kurangnya kesadaran dan cara pandang umat untuk menjaga dan melestarikan alam. Artinya jika semua umat mau dan mampu memahami kenyataan dam akibat krisis lingkungan hidup tentunya mereka akan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis lingkungan hidup (Lih. Lampiran 3, hal. 8).
Menurut R13, faktor yang menjadi penyebab krisis lingkungan hidup karena adanya peralihan cuaca yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat, misalnya
kemarau panjang maupun curah hujan yang sangat tinggi. Hal ini juga akan mengakibatkan bencana bagi mereka. Selain itu, adanya aktivitas masyarakat maupun pemerintah yang mengalihfungsikan pegunungan sebagai lahan pemukiman atau pembangunan jalan raya sehingga mengakibatkan rusaknya ekosistem alam dan menjadi pemicu adanya bencana alam (Lih. Lampiran 3, hal.
8). Hal ini juga diungkapkan oleh R14 dan R15 bahwa adanya aktivitas masyarakat yang memanfaatkan lahan untuk bangunan baru dan kurang memperhatikan keseimbangan ekosistem (Lih. Lampiran 3, hal. 8).
5) Upaya yang Dilakukan Umat dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup
Dalam menghadapi dan mengatasi krisis lingkungan hidup yang terjadi di wilayah maupun lingkungan yang berada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan, umat telah melakukan berbagai ragam upaya ataupun kegiatan. Menurut R1, upaya yang telah dilakukan oleh umat terutama adanya program yang telah dibentuk oleh OMK bahwa setiap seminggu sekali mereka bersama umat lingkungan melakukan kegiatan untuk membersihkan sungai dan beberapa selokan dari sampah maupun limbah lainnya (Lih. Lampiran 3, hal. 9). Hal ini juga disampaikan oleh R9 bahwa upaya yang dilakukan oleh umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yaitu mengikuti program OMK dengan recycling atau mendaur ulang sampah menjadi barang yang dapat digunakan.
Tujuannya adalah untuk mengurangi penumpukan sampah yang sulit terurai (Lih.
Lampiran 3, hal. 10). Menurut R2, R5, R6 bahwa di lingkungan juga diadakan upaya untuk membersihkan sumber mata air yang ada di wilayah. Kegiatan ini
mereka laksanakan sebagai bentuk kerja bakti bersama umat dan sekaligus merawat tanaman-tanaman yang ada di sekitar wilayah (Lih. Lampiran 3, hal. 9).
Sedangkan menurut R3 dan R12, upaya-upaya yang telah dilakukan yaitu mengadakan gerakan atau ajakan melalui pendampingan bagi umat untuk menyadari adanya krisis lingkungan melalui kegiatan doa lingkungan, kerja bakti lingkungan, mengurangi sampah plastik, memperbaiki beberapa wilayah yang sudah gersang dengan penanaman bibit pohon baru ataupun menerapkan sistem tebang pilih. Upaya ini juga sama dengan yang disampaikan oleh R17 (Lih.
Lampiran 3, hal. 9 & 10). Di samping itu, R10 dan R11, R13, dan R15 menyatakan upaya yang telah dilakukan bersama umat yaitu melakukan penghijauan di sekitar rumah mereka dan di wilayah-wilayah yang gersang karena adanya aktivitas penebangan pohon serta mengurangi sampah plastik (Lih.
Lampiran 3, hal. 10). Demikian pula dengan R16, upaya yang telah dilakukan bersama umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup adalah memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman hias, sayur mayur, dan tanaman obat-obatan. Selain itu, adanya gerakan 3R yaitu reduce (mengurangi penggunaan sampah), reuse (menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan), dan recycle (mendaur ulang sampah) yang bertujuan untuk mengurangi sampah plastik
dan memanfaatkan sampah rumah tangga sebagai bahan untuk membuat pupuk cair dan kompos (Lih. Lampiran 3, hal. 10).
Selain itu, adanya upaya untuk memaksimalkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan obat kimia terutama pestisida. Begitu pula dengan jawaban R8, bahwa sudah ada upaya yang telah dilakukan terutama para petani
untuk mengurangi pupuk kimia dan pestisida. Sebagian para petani sudah memulai dengan menggunakan pupuk alami, misalnya kotoran hewan ternak mereka, misalnya sapi, kambing, ayam (Lih. Lampiran 3 hal. 10).
Sedangkan menurut R14 dan R17, upaya yang dilakukan dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yaitu saling memberikan bantuan bagi umat atau masyarakat yang benar-benar terdampak. Bantuan tersebut dikelola melalui program desa, Gereja, maupun pemerintah dan disalurkan bagi mereka yang sangat membutuhkan. Misalnya ada sebagian masyarakat yang tidak memiliki bak penampung air maka bantuan yang diberikan berupa pembangunan bak penampung air. Adanya bantuan yang diberikan untuk masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih dengan membelikan air bersih, khususnya pada musim kemarau (Lih. Lampiran 3, hal. 10).
Berbeda dengan jawaban sebelumnya, menurut R4, upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi krisis lingkungan hidup terutama di wilayah belum terealisasikan dengan baik. Untuk saat ini, kegiatan umat yang telah dilaksanakan yaitu kerja bakti di Kapel Lingkungan Dringo dan melaksanakan program dari paroki yaitu “menanam air”, berupa penanaman pohon beringin di wilayah-wilayah tertentu (Lih. Lampiran 3, hal. 9). Sedangkan menurut R7, upaya yang telah dilakukan bersama umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yaitu dengan memberikan pemahaman supaya umat menyadari bahwa saat ini krisis lingkungan hidup semakin memprihatinkan. Upaya ini dilakukan ketika ada kegiatan doa lingkungan, pertemuan masyarakat di lingkungan, maupun dalam perjumpaan sehari-hari (Lih. Lampiran 3, hal. 9).
6) Harapan Umat dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup Harapan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup yang telah disampaikan oleh responden memiliki jawaban yang berbeda-beda.
Menurut R1, harapan bersama umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup yaitu umat semakin mau dan mampu melakukan upaya-upaya yang telah dibangun bukan sekedar sebagai kegiatan rutin, melainkan sungguh-sungguh mereka memahami pentingnya menjaga dan melindungi alam sehingga krisis tersebut dapat diatasi bersama-sama (Lih. Lampiran 3, hal. 11).
Menurut R2, R5, R6, R9, R10, R12, R14, R17 dan R19, harapannya umat maupun masyarakat semakin menyadari dan memahami lingkungan yang ditempati perlu dijaga dan dirawat, tidak untuk dirusak maupun dimusnahkan.
Kesadaran itu juga perlu dilakukan oleh umat untuk semakin tergerak hatinya dan terlibat aktif dalam melakukan perubahan dan menyelesaikan bersama-sama dalam menghadapi dan mengatasi krisis lingkungan hidup melalui upaya-upaya yang telah dilakukan bersama. Umat menyadari secara mandiri, artinya mampu mengusahakan tindakan yang nyata tanpa ada perintah dari orang lain, mengurangi kebiasaan buruk khususnya yang menjadi pemicu adanya krisis lingkungan hidup bahkan krisis ekonomi bagi masyarakat (Lih. Lampiran 3, hal.
11 & 12).
Di samping itu, R3 mengatakan bahwa umat diharapkan lebih peduli untuk memelihara alam melalui keterlibatan mereka di lingkungan maupun paroki (Lih.
Lampiran 3, hal. 1). Keterlibatan umat juga menjadi harapan dari R18 supaya umat semakin terbuka terhadap krisis lingkungan hidup saat ini dan melakukan
upaya yang baik untuk diri sendiri, masyarakat, dan Gereja (Lih. Lampiran 3, hal.
12). Demikian pula dengan R13, harapannya dalam menghadapi dan mengatasi krisis lingkungan hidup yaitu berawal dari upaya yang telah dilakukan oleh umat semakin tergerak dan mau bergabung untuk melakukan penghijauan di lahan yang gundul (Lih. Lampiran 3, hal. 12).
Sedangkan R4 menyampaikan pendapatnya umat semakin memiliki kesadaran bahwa alam yang diberikan oleh Tuhan bagi mereka bukan untuk digunakan sampai habis namun perlu dilestarikan dari saat ini dan untuk masa depan. Artinya lingkungan tetap asri, lebih hidup, indah, dan mengajak umat semakin kompak dalam mengatasi krisis lingkungan hidup, jawaban ini sama dengan yang disampaikan oleh R8 (Lih. Lampiran 3, hal. 11). R7 juga menyampaikan harapannya bahwa bumi yang diolah umat saat ini mampu memberikan hasil yang baik bagi umat dan keutuhan ciptaan alam tanpa ada yang menjadi korban baik sumber daya alam maupun umat sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 11). R11 juga mengungkapkan harapannya bahwa sebagai umat manusia khususnya yang menempati suatu lingkungan mampu menjaga dan terus melestarikan alam yang ada di sekitarnya. Apabila alam dirusak maka harus bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan. Jangan sampai lepas tangan yang pada akhirnya akan berdampak bagi umat sendiri akibat alam yang semakin rusak (Lih. Lampiran 3, hal. 12). Hal ini juga ditegaskan oleh R15 bahwa sebagai umat yang beriman yang menghargai ciptaan Allah dan telah dipercayakan bagi mereka untuk mengelola ciptaan-Nya harus bisa menumbuhkan kesadaran dan terus berupaya supaya alam tetap berada dalam kodratnya. Umat bisa hidup
karena telah disediakan oleh Allah sumber daya alam yang sangat unik. Maka jika umat merusak, mereka akan menerima dampak buruknya sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 12).
Berbeda dengan jawaban responden sebelumnya, R16 mengungkapkan bahwa dengan adanya krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat serta upaya-upaya yang telah dilakukan, selalu bersemangat untuk terus menjaga kualitas lingkungan hidup. Jika kualitas lingkungan hidup meningkat maka kesejahteraan umat juga akan meningkat. Selain itu, saling mengingatkan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya sehingga lingkungan hidup tetap lestari (Lih. Lampiran 3, hal. 12).
C. Validasi Data
Pada bagian ini, penulis akan melakukan validasi data dengan cara triangulasi. Satu sumber yang dipilih adalah Romo Paroki. Alasan mengapa Romo Paroki dipilih sebagai sumber karena beliau memahami situasi dan kondisi umat saat ini. Untuk memperoleh bahan validasi, penulis melakukan wawancara dengan Romo Paroki pada Minggu, 27 Agustus 2021 di Gereja Santo Ignatius Loyola Danan. Berikut penulis sampaikan hasil data wawancara dengan Responden Validator (RV):
1. Kesadaran dan Pemahaman Umat tentang Krisis Lingkungan Hidup yang Terjadi di Lingkungan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis, RV mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan umat yang telah diwakilkan oleh responden (Ketua Lingkungan, Katekis, ketua OMK Lingkungan) sudah tampak
dan mengarah pada kesadaran dan pemahaman akan krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi mereka disetiap lingkungan. RV juga mengungkapkan bahwa krisis lingkungan hidup disebabkan oleh manusia yang telah diberi akal budi untuk mengelola lingkungan hidup bisa dikatakan kurang bertanggungjawab, misalnya eksploitasi alam, pembuangan sampah sembarangan, dan lain-lain. Di samping itu, adanya faktor dari alam yang amat sangat mempengaruhi, misalnya bencana alam (Lih. Lampiran 4, hal. 13).
2. Faktor-faktor Pemicu Krisis Lingkungan Hidup yang Berdampak bagi Umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan
RV mengatakan bahwa faktor-faktor yang menjadi pemicu adanya krisis lingkungan hidup amat sangat berdampak bagi umat dan masyarakat pada umumnya. Umat Katolik Paroki Santo Ignatius Loyola Danan seringkali mengeluh dan menyampaikan keprihatinan-keprihantinan mereka atas dampak krisis lingkungan hidup, antara lain yaitu perubahan cuaca yang ekstrim, pola tanam yang terganggu, kerusakan tanaman karena hama, kekeringan dan lain sebagainya. Itulah contoh nyata yang dihadapi oleh umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Apalagi, umat disini amat sangat tergantung dengan turunnya hujan (sawah tadah hujan) sehingga bilamana cuaca tidak menentu, umat sangat menderita. Ditambah lagi, dengan adanya virus Corona yang merajalela saat ini.
Dampak bagi kehidupan umat yaitu mengalami goncangan hidup dan mempengaruhi pola kehidupan mereka sehingga perlu berusaha untuk memanfaatkan lingkungan seoptimal mungkin dalam mengatasi maupun menghadapinya (Lih. Lampiran 4, hal. 13).
3. Usaha Gereja sebagai Solusi yang Menggerakkan Umat dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup
Berhubungan dengan usaha Gereja dalam menggerakkan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup, RV menyampaikan pendapatnya bahwa usaha-usaha yang dilakukan tentu melalui penyadaran dan pemahaman akan pentingnya lingkungan hidup. Gereja telah menyampaikan solusi yang menggerakkan umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup kepada umat, baik melalui mimbar maupun pasar. Mimbar maksudnya melalui kotbah/homili, permenungan-permenungan di tingkat lingkungan/wilayah maupun paroki. Melalui “pasar” berarti tindakan konkrit di tengah masyarakat, misalnya penanaman pohon penghasil air dan pengikat air (beringin, gayam, dan munggur).
Di samping itu, pemanfaatan lahan-lahan tidur dan pemeliharaan alam sekitar dilakukan melalui kerja bakti serta pemilahan sampah-sampah. Banyak dokumen Gereja pula yang dikeluarkan oleh otoritas Gereja tingkat universal (kepausan) maupun partikular (keuskupan/kevikepan), misalnya: Laudato Si, Ardas KAS tentang keutuhan alam ciptaan, dan lain sebagainya. RV juga mengungkapkan bahwa di masa pandemi ini banyak gerakan bagi umat untuk back to nature atau kembali ke alam, misalnya menanam aneka sayuran dan empon-empon, memelihara ikan, dan sebagainya (Lih. Lampiran 4, hal. 13).
4. Keterlibatan Umat dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup
RV mengungkapkan bahwa keterlibatan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup menjadi gerakan di tingkat paroki yang memang sudah dilanjutkan dan diwujudnyatakan di tingkat wilayah atau
lingkungan, bahkan dalam tingkat kelompok umat terkecil yaitu dalam keluarga.
Justru itulah wadah nyata dari program-program kerja paroki, khususnya di bidang pelayanan tim kerja atau pelayanan keutuhan ciptaan (Lih. Lampiran 4, hal. 14).
5. Harapan Gereja Santo Ignatius Loyola Danan bagi Umat dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup
Harapan Gereja bagi umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup, RV mengungkapkan dalam dua hal. Pertama, umat semakin bertanggungjawab atas alam ciptaan yang dianugerahkan Tuhan bagi mereka.
Artinya biarlah “Taman Eden” yang dulu diciptakan Allah sekarang ini juga hadir dan ada di tengah hidup umat sehingga mereka bisa menikmatinya. Kedua, umat semakin terlibat dalam gerakan-gerakan mencintai alam kembali dan dimulai dari hal-hal kecil sampai yang spectakuler, artinya dimulai dari kelompok kecil yaitu keluarga, dan kelompok-kelompok basis, sampai ke tingkat yang lebih besar dan tinggi. RV juga mengatakan bahwa harapan bagi umat di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan berani untuk “think globally, act locally” (Lih. Lampiran 4, hal.
14).
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pemahaman dan Kesadaran terhadap Krisis Lingkungan Hidup serta Dampaknya bagi Umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan
a. Pemahaman Umat terhadap Krisis Lingkungan Hidup
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, penulis memperoleh informasi dari R1-R19 bahwa umat sudah memahami apa yang dimaksud dengan krisis lingkungan hidup. Hal ini juga telah disampaikan oleh Responden
Validator, bahwa hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti sudah mengarah pada pemahaman umat terhadap krisis lingkungan hidup (Lih.
Lampiran 4, hal. 13). Para responden mengungkapkan pemahaman krisis lingkungan hidup merupakan kondisi alam yang sudah mengalami berbagai kerusakan dan pencemaran sehingga kualitas lingkungan hidup semakin buruk bahkan memprihatinkan bagi kelangsungan makhluk hidup dan ciptaan terutama manusia. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Paus Fransiskus bahwa bumi yang dimaknai sebagai ‘rumah kita bersama’ telah mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang keliru dan bertentangan dengan realitas dunia, akibatnya merugikan manusia sendiri dan makhluk hidup lainnya (LS 101).
b. Kesadaran Umat terhadap Krisis Lingkungan Hidup
Berdasarkan hasil wawancara yang telah diungkapkan oleh R1-R19, tingkat kesadaran umat akan krisis lingkungan hidup memiliki jawaban yang berbeda-beda. Artinya ada yang sudah sadar dan belum menyadari krisis lingkungan hidup sehingga perlunya ditekankan suatu gerakan untuk memberikan kesadaran bagi mereka lebih-lebih demi mewujudkan tanggung jawab mereka terhadap krisis lingkungan hidup. Namun, berdasarkan keterangan dari R1-R19, kesadaran umat akan krisis lingkungan hidup sudah nampak dalam diri umat maupun masyarakat yang ada di lingkungan. Hal ini juga telah disampaikan oleh Responden Validator, bahwa hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti sudah mengarah pada kesadaran umat terhadap krisis lingkungan hidup (Lih. Lampiran 4, hal. 13).
Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh penulis dalam bab 2, bahwa pentingnya moral lingkungan hidup yang dijadikan sebagai landasan untuk
mewujudkan kesadaran manusia terhadap realitas krisis lingkungan hidup.
Kesadaran tersebut mendorong manusia untuk membentuk pemikiran ekologis dalam bertindak secara bertanggungjawab terhadap seluruh alam semesta dan ciptaan lainnya (Chang, 2001:31).
Di samping itu, kesadaran umat akan krisis lingkungan hidup sudah nampak dan terwujud karena adanya gerakan tokoh masyarakat yang mengajak untuk peduli bagi lingkungan, kerjasama antar umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup. Hal ini juga diungkapkan oleh penulis dalam bab 2 bahwa moral lingkungan hidup merupakan landasan untuk memberikan kesadaran sebagai keharusan bertindak di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan hidup. Artinya kesadaran yang sudah dilakukan oleh manusia harus memusatkan pada usaha dan kegiatan yang berkaitan dengan ekologi. Manusia harus memilih atau mengambil keputusan dan sikap yang tepat serta bertanggungjawab terhadap lingkungannya (Chang, 2021:38).
2. Dampak Krisis Lingkungan Hidup
Berkaitan dengan dampak krisis lingkungan hidup, R1-R19 mengungkapkan bahwa dengan adanya krisis yang telah terjadi sangatlah berdampak pada lingkungan maupun kelangsungan hidup umat. Responden Validator juga mengatakan bahwa krisis lingkungan hidup amat sangat berdampak bagi umat maupun masyarakat di lingkungan (Lih. Lampiran 4, hal 13). Berdasarkan hasil
Berkaitan dengan dampak krisis lingkungan hidup, R1-R19 mengungkapkan bahwa dengan adanya krisis yang telah terjadi sangatlah berdampak pada lingkungan maupun kelangsungan hidup umat. Responden Validator juga mengatakan bahwa krisis lingkungan hidup amat sangat berdampak bagi umat maupun masyarakat di lingkungan (Lih. Lampiran 4, hal 13). Berdasarkan hasil