• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KATEKESE EKOLOGI DAN KETERLIBATAN UMAT

G. Moral Lingkungan Hidup

5. Katekese Ekologi sebagai Upaya Untuk Berdialog

Pentingnya keterlibatan manusia dalam menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup sebagai upaya terwujudnya suatu dialog yang membantu umat dalam mengatasi berbagai kerusakan alam ciptaan. Dialog yang dimaksud ialah adanya upaya untuk mendorong setiap agama untuk melindungi alam, membela orang miskin, dan membangun jaringan persaudaraan yang saling menghormati.

Paus Fransiskus menguraikan gagasannya, sebagai berikut:

Hal ini menjadi halangan untuk secara efisien menghadapi masalah lingkungan hidup. Dialog yang terbuka dan saling menghormati juga diperlukan di antara pelbagai gerakan ekologis, di mana konflik ideologis tidak jarang dijumpai. Parahnya krisis ekologis mengharuskan kita semua untuk memikirkan kesejahteraan umum dan bergerak maju di jalan dialog yang membutuhkan kesabaran, disiplin diri, dan kemurahan hati, dengan selalu mengingat bahwa “kenyataan lebih besar dari gagasan” (LS 201).

Gagasan Paus Fransiskus tersebut mengajak semua umat beriman menjadi satu komunitas untuk menciptakan suatu dialog terbuka dan saling menghargai.

Dalam konteks katekese ekologi, tujuan dialog ialah mengajak seluruh umat untuk terlibat secara aktif, saling terbuka, menjaga, dan merawat seluruh alam ciptaan.

Dengan demikian, dialog dengan alam harus diterapkan dalam menciptakan suatu tindakan yang konkrit dalam menjaga dan merawat keutuhan alam ciptaan, serta mendorong umat untuk menjalin relasi dengan alam maupun makhluk hidup lainnya dan terbangun sikap saling menjaga serta saling menghormati.

BAB III

DESAIN PENELITIAN

Dalam bab sebelumnya, penulis telah memaparkan penjelasan tentang katekese ekologi dan krisis lingkungan hidup serta pengertiannya. Penulis juga memaparkan mengenai peranan katekese ekologi demi menjaga dan merawat bumi sebagai rumah bersama. Pemaparan tersebut diharapkan memberikan gambaran tentang pentingnya mendalami krisis lingkungan hidup supaya seluruh umat Kristiani semakin terlibat untuk menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup yang sampai saat ini semakin mengalami kerusakan akibat peristiwa alam lebih-lebih karena ulah manusia sendiri. Dalam bab ini, penulis akan mengemukakan mengenai desain penelitian yang dijelaskan menjadi delapan pokok. Pokok-pokok tersebut meliputi latar belakang penelitian, tujuan penelitian, jenis penelitian, instrumen pengumpulan data, responden penelitian, tempat dan waktu penelitian, serta fokus penelitian.

A. Latar Belakang Penelitian

Paus Fransiskus telah menegaskan bahwa bumi yang dimaknai sebagai

‘rumah kita bersama’ telah mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang keliru bahkan bertentangan dengan realitas dunia (LS 101). Lingkungan hidup semakin mengalami krisis akibat bencana alam maupun bencana lingkungan hidup yang tidak dapat dikendalikan oleh alam maupun manusia sendiri. Krisis lingkungan hidup telah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup terutama hewan dan tumbuhan yang semakin terancam punah. Selain itu, krisis lingkungan hidup juga akan berpengaruh bagi keanekaragaman hayati dan

sumber daya alam di bumi terutama kelangsungan hidup manusia semakin mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Katekese ekologi diartikan sebagai pembinaan umat Kristiani yang bertujuan menggerakkan semangat umat supaya semakin serius ikut mengatasi krisis ekologi dengan terlibat aktif dalam menjaga maupun merawat kelestarian lingkungan hidup di sekitar mereka. Katekese ekologi berperan bagi umat untuk mewujudkan pendidikan ekologis dalam berbagai konteks antara lain lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan Gereja (LS 213). Selain itu, katekese ekologi membantu umat semakin menumbuhkan spiritualitas ekologis demi memulihkan keharmonian lingkungan hidup (LS 216) dan mendorong umat mewujudkan pertobatan ekologis supaya mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus melalui sikap hormat dan cinta mereka kepada alam dan seluruh ciptaan-Nya (LS 217).

Melalui katekese ekologi umat diharapkan semakin ikut berperan atau terlibat aktif dalam mengatasi kerusakan lingkungan hidup, menjaga dan melindungi alam, dan membangun persaudaraan antara mereka dengan alam sebagai satu ciptaan Allah.

Rasa prihatin terhadap kerusakan lingkungan hidup yang semakin parah membuat penulis tergerak untuk melakukan penelitian mengenai pemahaman dan kesadaran umat terhadap krisis lingkungan dan dampaknya bagi kehidupan mereka. Kecuali itu, penulis juga tertarik mendapatkan gambaran tentang faktor-faktor yang menjadi pemicu krisis lingkungan hidup dan upaya yang dilakukan oleh umat dalam mengatasinya khususnya lingkungan yang berada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.

B. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui sejauh mana umat Paroki Santo Ignatius Danan menyadari dan memahami krisis lingkungan hidup serta dampaknya bagi kelangsungan hidup mereka.

2. Mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab krisis lingkungan hidup dan upaya yang dilakukan oleh umat Paroki Santo Ignatius Danan untuk mengatasinya.

C. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu penelitian kualitatif.

Jenis penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa kata-kata atau gambar, bukan angka-angka. Data tersebut akan diperoleh melalui wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi, memo, dan dokumen resmi lainnya (Moloeng, 2010: 10-11). Penelitian kualitatif bersifat deskriptif, artinya memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya (Noor, 2011: 35).

Langkah-langkah tersebut diawali dengan memberikan pertanyaan kepada umat yang dipilih sebagai responden, selanjutnya dilakukan pengolahan informasi atau data, dan terakhir menarik kesimpulan.

D. Instrumen Pengumpulan Data 1. Observasi

Dalam observasi ini, penulis akan melakukan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan yang dilakukan oleh umat terhadap krisis lingkungan hidup. Beberapa informasi yang diharapkan diperoleh dari

melalui observasi meliputi, ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian, waktu, maupun perasaan (Noor, 2011: 140). Observasi dilakukan supaya peneliti terlibat dan merasakan secara langsung apa yang telah dirasakan ataupun dihayati oleh subyek dan memungkinkan peneliti menjadi sumber data (Moloeng, 2010: 175). Dalam penelitian ini, peneliti akan melihat secara langsung situasi krisis lingkungan hidup yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dan dampaknya bagi masyarakat. Sebelum penelitian ini dilakukan, penulis telah melaksanakan pengamatan atau observasi di beberapa wilayah yang menjadi bagian Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dan mengenal beberapa umat yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian.

2. Wawancara

Wawancara merupakan instrumen pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dengan responden penelitian. Proses wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu wawancara mendalam. Wawancara mendalam merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dan dilakukan dengan bertatap muka secara langsung dengan responden yang telah ditentukan (Noor, 2011: 139).

Wawancara dilakukan untuk mengungkapkan mengenai pemahaman umat tentang krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, melalui wawancara ini penulis bermaksud mengetahui faktor-faktor yang menjadi pemicu adanya krisis lingkungan hidup dan upaya yang dilakukan oleh umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dalam mengatasi krisis tersebut.

E. Responden Penelitian

Responden dalam penelitian ini adalah Pastor Paroki, perwakilan dari setiap lingkungan (Ketua Lingkungan, Katekis, Prodiakon, orang yang mengetahui tentang katekese ekologi) dengan menggunakan teknik Purposive Sampling.

Purposive Sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan

khusus sehingga layak dijadikan sampel (Noor, 2011: 155). Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan yaitu orang yang dianggap memahami tentang krisis lingkungan hidup dan menjadi penggerak bagi umat dalam bidang ekologi di lingkungan masing-masing.

Paroki Santo Ignatius Loyola Danan terdiri dari 19 lingkungan yang terbagi dalam 5 wilayah. Berdasarkan jumlah lingkungan yang ada di Paroki Santo Ignatius Danan tersebut, maka penulis mengambil satu perwakilan dari setiap lingkungan. Maka seluruh sampel berjumlah 19 orang. Sampel yang dipilih dalam penelitian ini diharapkan mampu memahami tentang krisis lingkungan hidup, menjadi penggerak dalam bidang ekologi, dan mewakili seluruh umat yang ada di setiap lingkungan, misalnya ketua lingkungan, katekis, prodiakon, dan lain sebagainya. Di samping itu, penulis juga menggunakan sampel yang dijadikan sebagai validator untuk mengkonfrontasikan hasil penelitian khususnya dari observasi dan wawancara yang telah dilakukan. Responden triangulasi digunakan untuk meluruskan, membandingkan, dan menggali lebih dalam mengenai data yang telah diperoleh dari hasil penelitian. Responden triangulasi dalam penelitian ini, misalnya Pastor Paroki, Dewan Paroki, dan perwakilan dari umat yang

diharapkan menjadi penggerak dalam bidang ekologi serta memahami krisis lingkungan hidup.

F. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini bertempat di Paroki Santo Igantius Loyola Danan dan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2021.

G. Fokus Penelitian

Menurut penulis yang menjadi fokus penelitian ini yaitu pemahaman umat tentang krisis lingkungan hidup, kesadaran umat terhadap krisis lingkungan hidup, dampak krisis lingkungan hidup bagi umat, faktor yang menjadi pemicu munculnya krisis ligkungan hidup, dan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup tersebut.

Tabel 1. Kisi-Kisi Wawancara

No. Fokus Aspek yang Diungkapkan

1. Pemahaman dan kesadaran

a. Pemahaman umat tentang pengertian krisis lingkungan hidup.

b. Kesadaran umat terhadap krisis lingkungan hidup yang terjadi di lingkungan.

2. Faktor-faktor yang menjadi penyebab krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat.

a. Penyebab krisis lingkungan hidup, misalnya daerah yang sulit untuk menemukan mata air, pembuangan sampah sembarangan, penebangan hutan secara liar, pemburuan satwa yang tidak

bertanggungjawab, tanah longsor, banjir, perubahan iklim, dan lain sebagainya.

b. Dampak krisis lingkungan hidup, misalnya munculnya bencana alam, krisis air, rusaknya hutan dan lahan pertanian, punahnya sumber daya alam dan hewan, dan lain sebagainya. sebagai wujud keterlibatan mereka dalam mengatasi krisis lingkungan hidup, misalnya:

melaksanakan katekese ekologi bagi seluruh umat, mengurangi sampah plastik, pengolahan sampah plastik , membersihkan saluran air, reboisasi, dan lain sebagainya.

b. Harapan Gereja bagi umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup.

a. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, menurut Romo apakah umat sungguh menyadari dan memahami krisis lingkungan hidup yang terjadi di lingkungan mereka masing-masing?

b. Berdasarkan hasil wawancara, apakah faktor-faktor yang menjadi pemicu krisis lingkungan

hidup yang terjadi sungguh memiliki dampak bagi umat atau masyarakat khususnya umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan?

c. Apakah Gereja sudah mengusahakan solusi yang menggerakkan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup sesuai dengan upaya yang telah mereka lakukan sampai saat ini?

d. Sejauh ini, apakah umat sudah terlibat secara aktif dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup dan merawat kelestarian alam khususnya di wilayah mereka masing-masing?

e. Sebagai pemimpin Gereja di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dan penggerak bagi umat, apakah harapan Romo bagi umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup yang terjadi sampai saat ini?

b. Apakah umat di lingkungan sungguh menyadari akan krisis lingkungan hidup yang terjadi sampai ini?

c. Apakah krisis lingkungan hidup yang dialami oleh umat berdampak bagi kehidupan mereka saat ini? Sebutkan dampak-dampak yang dialami oleh

umat maupun masyarakat di lingkungan!

d. Di samping itu, menurut Anda apakah yang menjadi pemicu adanya krisis lingkungan hidup yang terjadi di wilayah saat ini?

e. Sebagai penggerak umat, apakah Anda sudah mengupayakan cara bagi umat untuk mengatasi krisis lingkungan hidup? Sebutkan contoh upaya yang telah dilakukan oleh umat di lingkungan dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yang terjadi!

f. Sebagai penggerak umat, apa yang menjadi harapan Anda dan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup yang terjadi di lingkungan?

Sebelum melakukan wawancara dengan responden dalam penelitian ini, penulis telah melakukan uji coba kelayakan panduan pertanyaan wawancara yang dikonfrontasikan dengan tujuan penelitian, mengkonsultasikan dengan dosen pembimbing skripsi, dan melakukan wawancara dengan orang-orang yang memahami betul tentang tema dalam skripsi ini.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab tiga, penulis telah memaparkan mengenai desain penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini. Pada bab ini, penulis akan menyampaikan mengenai data wilayah dan lingkungan yang menjadi bagian dari Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Selanjutnya penulis akan mengemukakan hasil penelitian sejauh mana umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan menyadari dan memahami krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi kelangsungan hidup mereka. Di samping itu, bab ini juga menyampaikan hasil penelitian mengenai faktor-faktor penyebab krisis lingkungan hidup dan upaya yang dilakukan oleh umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dalam mengatasinya. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan validasi data hasil wawancara.

A. Wilayah dan Lingkungan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan

Wilayah yang berada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan meliputi empat kecamatan yakni Kecamatan Giriwoyo, Giritontro, Pracimantoro, dan Paranggupito. Berdasarkan hasil data yang diperoleh oleh penulis, Paroki Santo Ignatius Loyola Danan memiliki 6 wilayah yang tersebar menjadi 19 lingkungan (Mardi Santosa, 2021: 1).

Berdasarkan data Paroki Santo Ignatius Loyola Danan yang telah diperoleh penulis, berikut uraian nama-nama wilayah dan lingkungan yang ada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.

Tabel 3. Wilayah dan Lingkungan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan

NO NAMA WILAYAH NAMA LINGKUNGAN JUMLAH

LINGKUNGAN

3. Wilayah Ngampohan Lingkungan Ngampohan, Pendem, Longsoran, dan Watuireng.

4

4. Wilayah Pracimantoro Lingkungan Pracimantoro, Wonoharjo, dan Sedayu.

3

5. Wilayah Paranggupito Lingkungan Paranggupito dan Songbledeg.

2

6. Wilayah Gedongrejo Lingkungan Gedongrejo dan Tirtosworo.

2

Berdasarkan uraian di atas, penulis menggunakan data wilayah dan lingkungan sebagai data pendukung dalam menentukan responden penelitian.

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh penulis dalam bab 3 bahwa penelitian ini dilakukan di setiap lingkungan dan responden yang digunakan yaitu perwakilan dari setiap lingkungan yang meliputi Ketua Lingkungan, Katekis, dan Ketua OMK Lingkungan, dan orang yang memahami betul tentang krisis

lingkungan hidup. Selanjutunya, data tersebut digunakan penulis sebagai pendukung dalam memberikan laporan observasi yang telah dilakukan di wilayah maupun lingkungan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.

B. Hasil Penelitian

1. Hasil Observasi terhadap Krisis Lingkungan Hidup di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan

Observasi dilakukan oleh penulis selama menjadi umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan terutama dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis, krisis lingkungan hidup di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan baik di tingkat wilayah maupun lingkungan sampai saat ini masih terjadi dan berdampak bagi kelangsungan hidup masyarakat dan makhluk hidup lainnya.

Penulis telah melaksanakan pengamatan atau observasi dalam 2 (dua) tahap.

Tahap pertama dilaksanakan pada Minggu, 21 Maret 2021 di wilayah yang berada di Kecamatan Giritontro dan Giriwoyo. Sedangkan tahap kedua dilaksanakan pada Minggu, 25 April 2021 di wilayah yang berada di Kecamatan Paranggupito dan Pracimantoro. Berikut hasil observasi yang telah diperoleh penulis berkaitan dengan krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat maupun masyarakat khususnya yang berada di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.

a. Kerusakan Lingkungan Hidup 1) Kerusakan Hutan dan Pegunungan

Wilayah dan lingkungan yang berada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan merupakan daerah pegunungan dan hutan yang sangat luas. Banyak umat atau masyarakat sangat bergantung pada kekayaan alam di sekitar mereka sebagai

kebutuhan pangan dan pakan ternak. Kerusakan hutan dan pegunungan dipicu karena adanya kegiatan masyarakat yang menebang pohon secara liar dengan tujuan kepentingan ekonomis maupun untuk perbaikan rumah. Selain itu, beberapa daerah pegunungan harus dihancurkan dan digunakan demi pembuatan jalan baru untuk transportasi darat.

Beberapa daerah pegunungan juga mulai dialihfungsikan demi tempat wisata baru. Akibatnya, saat memasuki musim penghujan, beberapa daerah mengalami bencana misalnya banjir dan tanah longsor. Di samping itu, ketika musim kemarau, masyarakat sangat kesulitan dalam mencari pakan untuk ternaknya karena beberapa tumbuhan mati karena kekeringan. Hal ini juga mengakibatkan masyarakat mengalami krisis atau kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup khususnya air bersih.

2) Kerusakan Ekosistem di Laut

Masyarakat yang tinggal di wilayah Kecamatan Paranggupito sebagai besar memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Wilayah ini sangat dekat dengan pantai laut selatan yang tersebar di beberapa wilayah. Beberapa pantai yang ada di Kecamatan Paranggupito mengalami kerusakan akibat penggalian di daerah pesisir pantai, penggunaan minyak kapal yang mencemari air laut, penumpukan sampah di wilayah pantai dan kepentingan wisata serta disebabkan oleh gempa bumi.

Dampak kerusakan ekosistem di laut bagi masyarakat khususnya yang bekerja sebagai nelayan semakin sulit mendapatkan hasil tangkapan. Artinya, jumlah ikan semakin sedikit, perubahan cuaca atau iklim tidak terduga, dan

adanya gempa bumi mengakibatkan mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan melakukan aktivitas sebagai nelayan.

3) Kerusakan Lahan

Kerusakan lahan yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan hingga saat ini terjadi pada sektor pertanian. Lahan-lahan yang berada di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan selain digunakan untuk bertani, juga digunakan sebagai lahan tebu dan industri. Penyebabnya adalah adanya aktivitas masyarakat yang menggunakan bibit dan pupuk yang telah dicampur dengan bahan kimia. Di samping itu, bahan kimia juga digunakan para petani untuk membunuh rumput liar dan hama pertanian, misalnya pestisida dan insektisida.

b. Pencemaran Lingkungan Hidup 1) Pencemaran Udara

Pencemaran udara yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dipicu oleh aktivitas transportasi darat yang sangat tinggi terutama di wilayah yang berada di Kecamatan Giribelah, Giritontro, Giriwoyo, dan Pracimantoro. Pemicu lainnya adalah aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan oleh masyarakat khususnya lahan yang digunakan untuk menanam tebu dan aktivitas yang dilakukan oleh pabrik indsutri.

2) Pencemaran Air

Pencemaran air yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan juga merupakan krisis lingkungan hidup yang harus dihadapi oleh umat. Selokan air maupun sungai-sungai yang ada di wilayah ini semakin mengalami kerusakan dan pencemaran akibat aktivitas masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Hal ini

disebabkan aktivitas masyarakat yang membuang limbah rumah tangga dan membuang sampah ke sungai. Padahal air sungai sangat dibutuhkan masyarakat untuk pengairan tanah pertanian. Dengan demikian, pencemaran air juga akan mengakibatkan pencemaran pada tanah.

3) Pencemaran Tanah

Berdasarkan penjelasan di atas, pencemaran tanah merupakan krisis lingkungan hidup yang sangat memprihatinkan bagi umat maupun masyarakat yang ada di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Pencemaran tanah diakibatkan oleh limbah sungai yang kemudian dialirkan ke sawah-sawah mereka.

Di samping itu, adanya kebiasaan masyarakat yang sering menggunakan bahan kimia yang terkandung pada pupuk, bibit pertanian, dan pestisida pembasmi hama serta rumput liar.

c. Kepunahan Flora

Kepunahan flora di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan merupakan krisis lingkungan hidup yang sangat sering dijumpai. Beberapa hewan, misalnya burung-burung, tupai, landak, babi hutan, belalang dan lain sebagainya semakin punah. Hal ini diakibatkan oleh aktivitas masyarakat yang memburu hewan secara liar. Aktivitas tersebut digunakan untuk kepentingan bisnis, kebutuhan pangan, dan dianggap sebagai hama pertanian masyarakat. Cara yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan hewan-hewan tersebut yaitu dengan membunuhnya atau menggunakan perangkap. Cara ini bertujuan supaya hewan yang dianggap sebagai hama tidak lagi merusak tanaman para petani. Demikian

pula, hewan yang masih hidup dapat digunakan untuk kepentingan ekonomis dalam menunjang kebutuhan pangan.

Punahnya beberapa fauna tersebut mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem lingkungan hidup dan sangat berdampak bagi masyarakat terutama para petani. Misalnya, para petani mengalami kesulitan menghadapi berbagai hama, contoh tikus yang jumlahnya semakin banyak dan merusak tanaman pertanian mereka bahkan mengakibatkan gagal panen. Kesulitan masyarakat dalam menghadapi hama tersebut masih tetap terjadi sampai saat ini.

Hasil obervasi yang telah diungkapkan oleh penulis merupakan hasil dari pengamatan pribadi terhadap persoalan lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat maupun masyarakat di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Selain itu, hasil observasi juga diperoleh melalui wawancara dengan beberapa umat atau masyarakat setempat berkaitan dengan situasi mereka dalam mengatasi maupun menghadapi krisis lingkungan hidup. Para petani mengalami kesulitan memperoleh air bersih khususnya di musim kemarau, demikian pula umat atau masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih khususnya mereka yang bertempat tinggal di wilayah Paranggupito. Pembangunan jalan raya dan pabrik juga semakin mempersempit lahan pertanian mereka. Di samping itu, hasil observasi juga dikonfrontasikan dengan data yang telah diungkapkan oleh Gereja, misalnya wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan merupakan daerah perbukitan kapur di pegunungan seribu dengan curah hujan yang sangat rendah, aktivitas pertanian yang mengandalkan air tadah hujan, dan pekerjaan sambilan (membuat batu bata, genting, caping, beternak ayam, lembu/sapi,

kambing/domba, dan ikan yang dilakukan oleh umat maupun masyarakat (Mardi Santosa, 2021: 1).

2. Profil Responden dan Hasil Wawancara a. Profil Responden

Pada proses pengambilan data, penulis memilih responden umat paroki yang dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, peran di lingkungan, dan asal lingkungan yang menjadi bagian Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Berikut penulis sampaikan data responden:

7 R7 L Lingkungan Danan Katekis Lingkungan

8 R8 L Lingkungan Jatiharjo Ketua Lingkungan

9 R9 L Lingkungan Pendem Ketua Lingkungan

10 R10 L

Lingkungan Jepurun Lor

Ketua Lingkungan

11 R11 P Lingkungan Jati Sawit Ketua Lingkungan

12 R12 L

14 R14 L Lingkungan Platarejo Katekis Lingkungan

15 R15 L

Lingkungan Tirtosworo

Ketua Lingkungan

16 R16 P Lingkungan Selorejo Ketua Lingkungan

16 R16 P Lingkungan Selorejo Ketua Lingkungan