BAB III. DESAIN PENELITIAN
G. Fokus Penelitian
Menurut penulis yang menjadi fokus penelitian ini yaitu pemahaman umat tentang krisis lingkungan hidup, kesadaran umat terhadap krisis lingkungan hidup, dampak krisis lingkungan hidup bagi umat, faktor yang menjadi pemicu munculnya krisis ligkungan hidup, dan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh umat dalam mengatasi krisis lingkungan hidup tersebut.
Tabel 1. Kisi-Kisi Wawancara
No. Fokus Aspek yang Diungkapkan
1. Pemahaman dan kesadaran
a. Pemahaman umat tentang pengertian krisis lingkungan hidup.
b. Kesadaran umat terhadap krisis lingkungan hidup yang terjadi di lingkungan.
2. Faktor-faktor yang menjadi penyebab krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat.
a. Penyebab krisis lingkungan hidup, misalnya daerah yang sulit untuk menemukan mata air, pembuangan sampah sembarangan, penebangan hutan secara liar, pemburuan satwa yang tidak
bertanggungjawab, tanah longsor, banjir, perubahan iklim, dan lain sebagainya.
b. Dampak krisis lingkungan hidup, misalnya munculnya bencana alam, krisis air, rusaknya hutan dan lahan pertanian, punahnya sumber daya alam dan hewan, dan lain sebagainya. sebagai wujud keterlibatan mereka dalam mengatasi krisis lingkungan hidup, misalnya:
melaksanakan katekese ekologi bagi seluruh umat, mengurangi sampah plastik, pengolahan sampah plastik , membersihkan saluran air, reboisasi, dan lain sebagainya.
b. Harapan Gereja bagi umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup.
a. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, menurut Romo apakah umat sungguh menyadari dan memahami krisis lingkungan hidup yang terjadi di lingkungan mereka masing-masing?
b. Berdasarkan hasil wawancara, apakah faktor-faktor yang menjadi pemicu krisis lingkungan
hidup yang terjadi sungguh memiliki dampak bagi umat atau masyarakat khususnya umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan?
c. Apakah Gereja sudah mengusahakan solusi yang menggerakkan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup sesuai dengan upaya yang telah mereka lakukan sampai saat ini?
d. Sejauh ini, apakah umat sudah terlibat secara aktif dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup dan merawat kelestarian alam khususnya di wilayah mereka masing-masing?
e. Sebagai pemimpin Gereja di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dan penggerak bagi umat, apakah harapan Romo bagi umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup yang terjadi sampai saat ini?
b. Apakah umat di lingkungan sungguh menyadari akan krisis lingkungan hidup yang terjadi sampai ini?
c. Apakah krisis lingkungan hidup yang dialami oleh umat berdampak bagi kehidupan mereka saat ini? Sebutkan dampak-dampak yang dialami oleh
umat maupun masyarakat di lingkungan!
d. Di samping itu, menurut Anda apakah yang menjadi pemicu adanya krisis lingkungan hidup yang terjadi di wilayah saat ini?
e. Sebagai penggerak umat, apakah Anda sudah mengupayakan cara bagi umat untuk mengatasi krisis lingkungan hidup? Sebutkan contoh upaya yang telah dilakukan oleh umat di lingkungan dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yang terjadi!
f. Sebagai penggerak umat, apa yang menjadi harapan Anda dan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup yang terjadi di lingkungan?
Sebelum melakukan wawancara dengan responden dalam penelitian ini, penulis telah melakukan uji coba kelayakan panduan pertanyaan wawancara yang dikonfrontasikan dengan tujuan penelitian, mengkonsultasikan dengan dosen pembimbing skripsi, dan melakukan wawancara dengan orang-orang yang memahami betul tentang tema dalam skripsi ini.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab tiga, penulis telah memaparkan mengenai desain penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini. Pada bab ini, penulis akan menyampaikan mengenai data wilayah dan lingkungan yang menjadi bagian dari Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Selanjutnya penulis akan mengemukakan hasil penelitian sejauh mana umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan menyadari dan memahami krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi kelangsungan hidup mereka. Di samping itu, bab ini juga menyampaikan hasil penelitian mengenai faktor-faktor penyebab krisis lingkungan hidup dan upaya yang dilakukan oleh umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dalam mengatasinya. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan validasi data hasil wawancara.
A. Wilayah dan Lingkungan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan
Wilayah yang berada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan meliputi empat kecamatan yakni Kecamatan Giriwoyo, Giritontro, Pracimantoro, dan Paranggupito. Berdasarkan hasil data yang diperoleh oleh penulis, Paroki Santo Ignatius Loyola Danan memiliki 6 wilayah yang tersebar menjadi 19 lingkungan (Mardi Santosa, 2021: 1).
Berdasarkan data Paroki Santo Ignatius Loyola Danan yang telah diperoleh penulis, berikut uraian nama-nama wilayah dan lingkungan yang ada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
Tabel 3. Wilayah dan Lingkungan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan
NO NAMA WILAYAH NAMA LINGKUNGAN JUMLAH
LINGKUNGAN
3. Wilayah Ngampohan Lingkungan Ngampohan, Pendem, Longsoran, dan Watuireng.
4
4. Wilayah Pracimantoro Lingkungan Pracimantoro, Wonoharjo, dan Sedayu.
3
5. Wilayah Paranggupito Lingkungan Paranggupito dan Songbledeg.
2
6. Wilayah Gedongrejo Lingkungan Gedongrejo dan Tirtosworo.
2
Berdasarkan uraian di atas, penulis menggunakan data wilayah dan lingkungan sebagai data pendukung dalam menentukan responden penelitian.
Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh penulis dalam bab 3 bahwa penelitian ini dilakukan di setiap lingkungan dan responden yang digunakan yaitu perwakilan dari setiap lingkungan yang meliputi Ketua Lingkungan, Katekis, dan Ketua OMK Lingkungan, dan orang yang memahami betul tentang krisis
lingkungan hidup. Selanjutunya, data tersebut digunakan penulis sebagai pendukung dalam memberikan laporan observasi yang telah dilakukan di wilayah maupun lingkungan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
B. Hasil Penelitian
1. Hasil Observasi terhadap Krisis Lingkungan Hidup di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan
Observasi dilakukan oleh penulis selama menjadi umat Paroki Santo Ignatius Loyola Danan terutama dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis, krisis lingkungan hidup di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan baik di tingkat wilayah maupun lingkungan sampai saat ini masih terjadi dan berdampak bagi kelangsungan hidup masyarakat dan makhluk hidup lainnya.
Penulis telah melaksanakan pengamatan atau observasi dalam 2 (dua) tahap.
Tahap pertama dilaksanakan pada Minggu, 21 Maret 2021 di wilayah yang berada di Kecamatan Giritontro dan Giriwoyo. Sedangkan tahap kedua dilaksanakan pada Minggu, 25 April 2021 di wilayah yang berada di Kecamatan Paranggupito dan Pracimantoro. Berikut hasil observasi yang telah diperoleh penulis berkaitan dengan krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat maupun masyarakat khususnya yang berada di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
a. Kerusakan Lingkungan Hidup 1) Kerusakan Hutan dan Pegunungan
Wilayah dan lingkungan yang berada di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan merupakan daerah pegunungan dan hutan yang sangat luas. Banyak umat atau masyarakat sangat bergantung pada kekayaan alam di sekitar mereka sebagai
kebutuhan pangan dan pakan ternak. Kerusakan hutan dan pegunungan dipicu karena adanya kegiatan masyarakat yang menebang pohon secara liar dengan tujuan kepentingan ekonomis maupun untuk perbaikan rumah. Selain itu, beberapa daerah pegunungan harus dihancurkan dan digunakan demi pembuatan jalan baru untuk transportasi darat.
Beberapa daerah pegunungan juga mulai dialihfungsikan demi tempat wisata baru. Akibatnya, saat memasuki musim penghujan, beberapa daerah mengalami bencana misalnya banjir dan tanah longsor. Di samping itu, ketika musim kemarau, masyarakat sangat kesulitan dalam mencari pakan untuk ternaknya karena beberapa tumbuhan mati karena kekeringan. Hal ini juga mengakibatkan masyarakat mengalami krisis atau kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup khususnya air bersih.
2) Kerusakan Ekosistem di Laut
Masyarakat yang tinggal di wilayah Kecamatan Paranggupito sebagai besar memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Wilayah ini sangat dekat dengan pantai laut selatan yang tersebar di beberapa wilayah. Beberapa pantai yang ada di Kecamatan Paranggupito mengalami kerusakan akibat penggalian di daerah pesisir pantai, penggunaan minyak kapal yang mencemari air laut, penumpukan sampah di wilayah pantai dan kepentingan wisata serta disebabkan oleh gempa bumi.
Dampak kerusakan ekosistem di laut bagi masyarakat khususnya yang bekerja sebagai nelayan semakin sulit mendapatkan hasil tangkapan. Artinya, jumlah ikan semakin sedikit, perubahan cuaca atau iklim tidak terduga, dan
adanya gempa bumi mengakibatkan mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan melakukan aktivitas sebagai nelayan.
3) Kerusakan Lahan
Kerusakan lahan yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan hingga saat ini terjadi pada sektor pertanian. Lahan-lahan yang berada di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan selain digunakan untuk bertani, juga digunakan sebagai lahan tebu dan industri. Penyebabnya adalah adanya aktivitas masyarakat yang menggunakan bibit dan pupuk yang telah dicampur dengan bahan kimia. Di samping itu, bahan kimia juga digunakan para petani untuk membunuh rumput liar dan hama pertanian, misalnya pestisida dan insektisida.
b. Pencemaran Lingkungan Hidup 1) Pencemaran Udara
Pencemaran udara yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan dipicu oleh aktivitas transportasi darat yang sangat tinggi terutama di wilayah yang berada di Kecamatan Giribelah, Giritontro, Giriwoyo, dan Pracimantoro. Pemicu lainnya adalah aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan oleh masyarakat khususnya lahan yang digunakan untuk menanam tebu dan aktivitas yang dilakukan oleh pabrik indsutri.
2) Pencemaran Air
Pencemaran air yang terjadi di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan juga merupakan krisis lingkungan hidup yang harus dihadapi oleh umat. Selokan air maupun sungai-sungai yang ada di wilayah ini semakin mengalami kerusakan dan pencemaran akibat aktivitas masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Hal ini
disebabkan aktivitas masyarakat yang membuang limbah rumah tangga dan membuang sampah ke sungai. Padahal air sungai sangat dibutuhkan masyarakat untuk pengairan tanah pertanian. Dengan demikian, pencemaran air juga akan mengakibatkan pencemaran pada tanah.
3) Pencemaran Tanah
Berdasarkan penjelasan di atas, pencemaran tanah merupakan krisis lingkungan hidup yang sangat memprihatinkan bagi umat maupun masyarakat yang ada di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Pencemaran tanah diakibatkan oleh limbah sungai yang kemudian dialirkan ke sawah-sawah mereka.
Di samping itu, adanya kebiasaan masyarakat yang sering menggunakan bahan kimia yang terkandung pada pupuk, bibit pertanian, dan pestisida pembasmi hama serta rumput liar.
c. Kepunahan Flora
Kepunahan flora di wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan merupakan krisis lingkungan hidup yang sangat sering dijumpai. Beberapa hewan, misalnya burung-burung, tupai, landak, babi hutan, belalang dan lain sebagainya semakin punah. Hal ini diakibatkan oleh aktivitas masyarakat yang memburu hewan secara liar. Aktivitas tersebut digunakan untuk kepentingan bisnis, kebutuhan pangan, dan dianggap sebagai hama pertanian masyarakat. Cara yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan hewan-hewan tersebut yaitu dengan membunuhnya atau menggunakan perangkap. Cara ini bertujuan supaya hewan yang dianggap sebagai hama tidak lagi merusak tanaman para petani. Demikian
pula, hewan yang masih hidup dapat digunakan untuk kepentingan ekonomis dalam menunjang kebutuhan pangan.
Punahnya beberapa fauna tersebut mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem lingkungan hidup dan sangat berdampak bagi masyarakat terutama para petani. Misalnya, para petani mengalami kesulitan menghadapi berbagai hama, contoh tikus yang jumlahnya semakin banyak dan merusak tanaman pertanian mereka bahkan mengakibatkan gagal panen. Kesulitan masyarakat dalam menghadapi hama tersebut masih tetap terjadi sampai saat ini.
Hasil obervasi yang telah diungkapkan oleh penulis merupakan hasil dari pengamatan pribadi terhadap persoalan lingkungan hidup dan dampaknya bagi umat maupun masyarakat di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Selain itu, hasil observasi juga diperoleh melalui wawancara dengan beberapa umat atau masyarakat setempat berkaitan dengan situasi mereka dalam mengatasi maupun menghadapi krisis lingkungan hidup. Para petani mengalami kesulitan memperoleh air bersih khususnya di musim kemarau, demikian pula umat atau masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih khususnya mereka yang bertempat tinggal di wilayah Paranggupito. Pembangunan jalan raya dan pabrik juga semakin mempersempit lahan pertanian mereka. Di samping itu, hasil observasi juga dikonfrontasikan dengan data yang telah diungkapkan oleh Gereja, misalnya wilayah Paroki Santo Ignatius Loyola Danan merupakan daerah perbukitan kapur di pegunungan seribu dengan curah hujan yang sangat rendah, aktivitas pertanian yang mengandalkan air tadah hujan, dan pekerjaan sambilan (membuat batu bata, genting, caping, beternak ayam, lembu/sapi,
kambing/domba, dan ikan yang dilakukan oleh umat maupun masyarakat (Mardi Santosa, 2021: 1).
2. Profil Responden dan Hasil Wawancara a. Profil Responden
Pada proses pengambilan data, penulis memilih responden umat paroki yang dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, peran di lingkungan, dan asal lingkungan yang menjadi bagian Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Berikut penulis sampaikan data responden:
7 R7 L Lingkungan Danan Katekis Lingkungan
8 R8 L Lingkungan Jatiharjo Ketua Lingkungan
9 R9 L Lingkungan Pendem Ketua Lingkungan
10 R10 L
Lingkungan Jepurun Lor
Ketua Lingkungan
11 R11 P Lingkungan Jati Sawit Ketua Lingkungan
12 R12 L
14 R14 L Lingkungan Platarejo Katekis Lingkungan
15 R15 L
Lingkungan Tirtosworo
Ketua Lingkungan
16 R16 P Lingkungan Selorejo Ketua Lingkungan
17 R17 L
19 R19 L Lingkungan Sedayu Ketua Lingkungan
b. Laporan Hasil Wawancara
1) Pemahaman tentang Krisis Lingkungan Hidup
Ada beragam jawaban mengenai pemahaman tentang krisis lingkungan hidup yang telah diungkapkan oleh perwakilan di setiap lingkungan. Menurut R1, krisis lingkungan hidup merupakan sikap manusia yang merampas sumber kekayaan alam di bumi sehingga terjadi eksploitasi alam yang mengatasnamakan hak manusia (Lih. Lampiran 3, hal 3). Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh
R10 bahwa krisis lingkungan hidup merupakan sikap manusia yang menganggap bahwa seluruh alam mereka yang memiliki sehingga timbul adanya sikap serakah dan egois untuk memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan dan tidak ada tindakan untuk melestarikannya. Hal ini mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup baik pencemaran udara, air, dan suara serta menimbulkan bencana alam seperti kekeringan, banjir, tanah longsor dan lainnya (Lih. Lampiran 3, hal. 3).
Sedangkan menurut R3, R12, dan R18, krisis lingkungan hidup dipahami sebagai kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup karena adanya aktivitas manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan atau manusia yang merusak, bahkan memanfaatkan alam maupun lingkungan hidup secara berlebihan. Tindakan tersebut mengakibatkan keseimbangan hubungan antara alam dan manusia terganggu (Lih. Lampiran 3, hal. 3 & 4).
Sedangkan menurut R2 dan R11, krisis lingkungan hidup merupakan kondisi di mana lingkungan sudah tidak lagi dalam kondisi normal atau tidak seperti sediakala. Artinya dalam berjalannya waktu dan perkembangan zaman banyak lingkungan yang seharusnya menjadi bagian dari paru-paru dunia mengalami pergeseran bahkan hilang akibat keserakahan manusia yang tidak menjaga, melindungi, dan melestarikannya (Lih. Lampiran 3, hal 3). Demikian pula dengan R4 dan R19 bahwa krisis lingkungan hidup merupakan keadaan alam yang memburuk akibat tindakan manusia yang kurang bijak dan bertangungjawab, jawaban tersebut sama dengan yang diungkapkan oleh R8 dan R14 (Lih.
Lampiran 3, hal. 3 & 4).
Menurut R5 dan R9, krisis lingkungan hidup merupakan terancamnya sumber daya alam yang ditandai oleh hilangnya sumber mata air, rusaknya lahan tanah, dan pencemaran lingkungan akibat pembangunan yang dilakukan oleh manusia maupun adanya peristiwa alam itu sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 3). R6, R13, dan R17 juga mengungkapkan bahwa krisis lingkungan hidup dipahami sebagai hilang atau rusaknya lingkungan hidup baik tumbuhan, hewan dan sumber daya alam lainnya (air, tanah dan lainnya) akibat perbuatan manusia yang merusak, membiarkan dan tidak ditanggulangi serta adanya faktor dari alam lebih-lebih adanya bencana alam yaitu gunung meletus, banjir, abrasi, tanah longsor, gempa bumi, angin puting beliung dan tsunami (Lih. Lampiran 3, hal. 3 & 4).
Sedangkan menurut R7 dan R15, krisis lingkungan hidup merupakan peristiwa alam atau ekosistem yang ada di bumi sudah tidak dihargai kelestariannya oleh manusia, sehingga sifat alamiah alam atau ekosistem berubah dan membahayakan bagi makhluk hidup, terutama manusia (Lih. Lampiran 3, hal.
3 & 4). Menurut R16, krisis lingkungan hidup merupakan penurunan kualitas lingkungan hidup yang menyebabkan menurunnya kesejahteraan hidup manusia.
Krisis lingkungan hidup dapat terjadi karena penurunan iklim secara global, global warming, kebakaran hutan dan ulah manusia seperti illegal logging,
membuang sampah sembarangan, serta pembuangan limbah ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu (Lih. Lampiran 3, hal. 4).
2) Kesadaran Umat terhadap Krisis Lingkungan Hidup
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, ada beragam jawaban dari umat atau perwakilan lingkungan saat mengutarakan kesadaran umat terhadap
krisis lingkungan hidup. Menurut R1-R6, terhadap krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini sebagian besar umat belum menyadarinya. Artinya, sebagian sudah ada yang sadar namun ada juga yang belum. Jawaban ini sama dengan yang disampaikan oleh R10 (Lih. Lampiran 3, hal. 4 & 5). Demikian pula R7 menyampaikan bahwa karakter umat berbeda-beda, ada yang sadar dan ada yang belum sadar maka perlu penyadaran bagi umat sebagai wujud tanggung jawab mereka terhadap pelestarian lingkungan hidup (Lih. Lampiran 3, hal. 5). Di samping itu, R12 dan R19 mengungkapkan jawaban yang berbeda dari yang lain bahwa belum adanya kesadaran dari umat terhadap krisis lingkungan hidup.
Kurangnya kesadaran itu ketika umat atau masyarakat masih kurang peduli dan tidak memperhatikan krisis lingkungan hidup (Lih. Lampiran 3, hal. 5).
Sedangkan R11 mengatakan bahwa umat sudah menyadari krisis lingkungan hidup yang dimulai dari rasa kepedulian mereka terutama di lingkungan, jawaban tersebut sama dengan R17 (Lih. Lampiran 3, hal. 5).
Menurut R8 dan R9, umat sudah sadar terhadap krisis lingkungan hidup karena adanya upaya dari beberapa tokoh masyarakat yang menggerakkan umat supaya kesadaran mereka sampai pada tindakan yang konkrit (Lih. Lampiran 3, hal. 5). Di samping itu, R13-R16, dan R18 mengatakan bahwa umat di lingkungan sungguh menyadari realitas krisis lingkungan melalui gerakan yang mendorong umat untuk mengatasi krisis lingkungan hidup dengan mengadakan kerjasama antarumat, dan kegiatan lain dalam perjumpaan serta kegiatan-kegiatan di lingkungan (Lih.
Lampiran 3, hal. 5).
3) Dampak Krisis Lingkungan Hidup bagi Umat atau Masyarakat di Lingkungan Berdasarkan data wawancara yang telah diperoleh, semua responden mengatakan dengan adanya krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini sangat berdampak pada umat atau masyarakat di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
Menurut R1, dampak krisis lingkungan hidup yaitu ketika musim penghujan dan curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan sungai meluap dan menutupi sumber mata air. Sumber air akan menjadi keruh dan kotor sehingga menyulitkan mereka untuk memperoleh air yang bersih, hal ini juga diungkapkan oleh R2 (Lih.
Lampiran 3, hal. 6).
Menurut R2, R3, R5, R7, R10, R11, R15, R17 dan R19 dampak krisis lingkungan hidup bagi umat antara lain tanah yang menjadi tandus dan sumber air yang semakin sedikit, berbagai daerah mengalami kekeringan akibat krisis air. Hal ini mengakibatkan masyarakat kesulitan untuk mencari air bersih, harus membeli air, tanah yang semakin kering, lebih-lebih para petani sering mengalami gagal panen akibat kekurangan air untuk sawah ataupun ladang mereka (Lih. Lampiran 3, hal. 6 & 7). Hal ini juga disampaikan oleh R4 dan R18 bahwa dampak krisis lingkungan hidup dialami oleh umat dan masyarakat lebih-lebih para petani yang mengandalkan pemenuhan hidup dari bidang pertanian (Lih. Lampiran 3, hal. 6 &
7).
Menurut R6, dampak krisis lingkungan menimbulkan bencana alam yang mendatangkan penderitaan bagi umat maupun masyarakat. Mereka terkadang harus kehilangan harta benda, kehilangan sanak saudara, kehilangan sumber mata pencaharian dan kekurangan pangan. Di samping itu, dampak krisis lingkungan
hidup juga akan mempengaruhi psikis mereka, misalnya menimbulkan stres, rasa takut maupun cemas yang berlebihan (Lih. Lampiran 3, hal. 6). Demikian pula dengan pernyataan R8 bahwa krisis lingkungan hidup yang terjadi memberikan dampak bagi umat maupun masyarakat dengan munculnya penyakit yang menyerang mereka karena kualitas lingkungan yang semakin buruk atau rusak (Lih. Lampiran 3, hal. 6).
Sedangkan R9 mengatakan bahwa dampak krisis lingkungan hidup mengakibatkan adanya pencemaran air, udara, dan tanah yang akan mengganggu aktivitas ekosistem maupun masyarakat sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 6). Menurut R12, krisis lingkungan hidup sangat berdampak bagi umat maupun masyarakat di lingkungan lebih-lebih adanya musim kemarau yang panjang dan cuaca semakin panas akan menjadi faktor penghambat bagi umat dalam pertanian (Lih. Lampiran 3, hal. 6). Begitu pula dengan R13 yang mengatakan bahwa ada empat situasi akibat adanya krisis lingkungan hidup, yaitu: 1) hasil panen para petani menurun, 2) pemasukan perekonomian berkurang, 3) cuaca yang panas dan lahan yang gersang, dan 4) rusaknya jalan akibat tumbangnya pohon di wilayah bukit maupu pegunungan (Lih. Lampiran 3, hal. 7).
Menurut R14, dampak krisis lingkungan hidup bagi umat maupun masyarakat yaitu semakin kesulitan dalam mencari bahan makanan di alam sekitar. Umat kekurangan air bersih, suhu yang semakin panas, dan kesulitan mereka dalam merawat hewan ternak karena pakan yang sulit didapatkan (Lih.
Lampiran 3, hal. 7). Hal ini juga disampaikan oleh R16 bahwa krisis lingkungan hidup akan berdampak bagi keanekaragaman hayati yang rusak atau punah.
Artinya adanya beberapa jenis tanaman yang dulunya melimpah namun sekarang sangat sulit untuk dijumpai. Di sisi lain, hilangnya beberapa jenis hewan akibat krisis dari alam lebih-lebih karena ulah dari masyarakat sendiri (Lih. Lampiran 3, hal. 7).
4) Faktor-Faktor Krisis Lingkungan Hidup
Menurut R1, faktor krisis lingkungan hidup dipicu oleh aktivitas masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke daerah aliran sungai dan beberapa limbah yang merusak lingkungan perairan sungai (Lih. Lampiran 3, hal. 7). Hal ini juga diungkapkan oleh R8 bahwa krisis lingkungan hidup juga dipengaruhi oleh faktor gaya hidup masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman sehingga banyak limbah atau sampah yang merusak selokan atau sungai dan penggunaan sampah plastik yang berlebihan (Lih. Lampiran 3, hal. 8). R16 juga mengatakan bahwa adanya aktivitas masyarakat yang membuang limbah rumah
Menurut R1, faktor krisis lingkungan hidup dipicu oleh aktivitas masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke daerah aliran sungai dan beberapa limbah yang merusak lingkungan perairan sungai (Lih. Lampiran 3, hal. 7). Hal ini juga diungkapkan oleh R8 bahwa krisis lingkungan hidup juga dipengaruhi oleh faktor gaya hidup masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman sehingga banyak limbah atau sampah yang merusak selokan atau sungai dan penggunaan sampah plastik yang berlebihan (Lih. Lampiran 3, hal. 8). R16 juga mengatakan bahwa adanya aktivitas masyarakat yang membuang limbah rumah