BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
F. Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis memiliki beberapa keterbatasan diantaranya :
1. Penelitian ini tidak secara khusus membahas kelompok tertentu, namun mengarah pada seluruh umat paroki yang diwakili oleh para responden.
2. Penelitian ini tidak secara khusus mempertimbangkan pengaruh budaya Jawa terhadap ekologi.
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini, penulis akan memaparkan kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan “Katekese Ekologi sebagai Upaya Meningkatkan Semangat Keterlibatan Umat dalam Menjaga dan Merawat Kelestarian Lingkungan Hidup di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan Wonogiri”. Kesimpulan yang akan disampaikan oleh penulis menjawab permasalahan yang telah diangkat dalam skripsi ini. Sedangkan bagian saran memuat beberapa usulan yang dapat dikembangkan untuk mewujudkan katekese ekologi di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
A. Kesimpulan
Krisis lingkungan hidup yang diakibatkan oleh bencana alam dan tindakan manusia yang tidak bertanggungjawab merupakan situasi yang semakin memprihatinkan bagi kelangsungan hidup manusia sendiri maupun makhluk hidup lainnya. Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa bumi yang dimaknai sebagai ‘rumah kita bersama’ semakin mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia yang keliru dan bertentangan dengan realitas dunia (LS 101). Demikian pula di Indonesia bahwa di berbagai wilayah kecil maupun besar telah mengalami kerusakan maupun pencemaran lingkungan hidup yang diakibatkan oleh peristiwa alam lebih-lebih campur tangan masyarakat yang tidak bertanggungjawab bahkan tidak peduli dengan keadaan alam maupun lingkungan sekitar.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan baik melalui observasi dan wawancara dengan para responden yang mewakili umat di setiap lingkungan
di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan, penulis merasa bahwa umat perlu memiliki iman yang mendalam akan kelestarian lingkungan hidup. Sejauh ini umat sudah baik memahami krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi kehidupan mereka serta makhluk hidup lainnya. Di samping itu, umat sudah cukup aktif terlibat dalam upaya mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup melalui aksi yang nyata. Akan tetapi kesadaran umat terhadap krisis lingkungan hidup masih perlu ditingkatkan. Artinya faktor krisis lingkungan hidup kebanyakan berasal dari aktivitas umat atau masyarakat sendiri. Melihat keprihatinan tersebut, penulis memberikan usulan pentingnya merintis katekese ekologi di tengah-tengah hidup umat. Upaya ini dapat dilakukan dengan mendalami ajaran-ajaran Gereja yang berkaitan dengan lingkungan hidup, melaksanakan katekese ekologi, kegiatan peduli lingkungan dan lainnya. Usulan ini dilakukan supaya umat memiliki wawasan yang luas, mewujudkan pertobatan ekologis, memiliki spriritualitas ekologis, dan tergerak hatinya untuk mensyukuri anugerah ciptaan Allah melalui alam semesta, serta semangat untuk terlibat aktif dalam menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, penulis ingin menyampaikan saran bagi umat, wilayah/lingkungan dan Gereja untuk merintis katekese ekologi sebagai sarana untuk mewujudkan semangat keterlibatan umat dalam upaya menjaga maupun merawat kelestarian lingkungan hidup khususnya di Paroki Santo Ignatius Loyola Danan. Untuk meningkatkan kesadaran, keterlibatan, dan
mewujudkan katekese ekologi sebagai sarana dan upaya bagi umat dalam menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup, disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Mensosialisasikan laporan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis kepada Dewan Pastoral Paroki (DPP), Katekis, Ketua Lingkungan terutama orang-orang yang menjadi responden dalam penelitian skripsi ini. (Lih. Lampiran 6, hal 17).
2. Diharapkan Paroki Santo Ignatius Loyola Danan memberikan pembekalan kepada pengurus wilayah maupun lingkungan (Ketua Wilayah/Lingkungan, Katekis, Prodiakon, dan pengurus lainnya) tentang Ajaran Sosial Gereja yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan katekese ekologi. Pembekalan tersebut dapat dilakukan melalui seminar, rekoleksi, dan kegiatan lainnya.
3. Pengurus Lingkungan (Ketua Lingkungan, Katekis, Prodiakon, dan penggerak lingkungan hidup) hendaknya merancang katekese ekologi yang kemudian dilaksanakan di setiap lingkungan maupun paroki. Upaya ini dapat dilakukan ketika melaksanakan kegiatan doa atau pendalaman iman di lingkungan sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati bersama.
4. Pastor, Dewan Paroki, Katekis, dan penggerak lingkungan hidup diharapkan untuk mempertahankan dan meningkatkan upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh Gereja dalam menanggapi persoalan lingkungan hidup yang semakin mengalami kerusakan maupun pencemaran. Misalnya melakukan kerjasama dan sosialisasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam memperbaiki lahan-lahan yang rusak melalui kegiatan reboisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Chang, William. (2001). Moral Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius.
Fransiskus. (2015). Ensiklik Laudato Si’ Terpujilah Engkau. Penerjemah: Martin Harun. Jakarta: Dokpen KWI.
Go, Piet. (1989). Etika Lingkungan Hidup. Malang: Dioma.
Hendani, Amelia. (2018). Memahami Laudato Si’ Bersama Thomas Berry.
Komisi Kateketik KWI. (2000). Konggregasi Untuk Imam. Petunjuk Umum Katekese. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.
Lalu, Yosef. (2007). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia.
Madya Utama, I. L. (2019). Merawat Bumi sebagai “Rumah Bersama”.
Yogyakarta: Sanata Dharma University Press Anggota APPTI.
Mardi Santosa, A. (2021). Sejarah Paroki Danan. Wonogiri: Paroki Santo Ignatius Danan.
Moloeng, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: PT.
Remaja Rosda Karya.
Munandar, A. (2021). Sehari Ada 4 Bencana Alam di Wonogiri, BPBD: Tidak Ada Korban. Diunduh dari https://www.solopos.com/sehari-ada-4- bencana-alam- di-wonogiri-bpbd-tidak-ada-korban-1103380/ pada tanggal 21 Januari 2021.
Noor, Juliansyah. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta: Kharisma Putra Utama.
Pasang, Haskarlianus. (2011). Mengasihi Lingkungan. Jakarta: Literatur Perkantas.
Pedoman Penulisan Tugas Akhir Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik.
(2019). Yogyakarta: Program Studi Ilmu Pendidikan dengan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik.
Petunjuk Umum Katekese Edisi 2020. (2020). Diunduh dari PEDOMAN UMUM KATEKESE (PUK) Edisi 2020 (1).pdf pada 24 November 2021.
Rukiyanto, B. A. (Ed). (2012). Pewartaan di Zaman Global. Yogyakarta:
Kanisius.
Tri Prasasti, B. H. (Ed). (2015). Lingkungan Hidup. Penerjemah: R. P. Piet Go.
Jakarta: Dokpen KWI.
Yohanes Paulus II. (1979). Catechesi Tradendae. Penerjemah: R. Hardawiryana.
Jakarta: Dokpen KWI.
(1)
LAMPIRAN
(1) Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian
(2)
Lampiran 2: Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian
(3) Lampiran 3: Transkrip Wawancara Responden
1. Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan krisis lingkungan hidup?
R1 : Krisis lingkungan hidup merupakan sikap manusia yang memutlakkan alam sehingga terjadi eksploitasi alam dengan mengatasnamakan hak manusia.
Memutlakkan alam merupakan sikap manusia yang merampas sumber kekayaan alam di bumi.
R2 : Krisis lingkungan hidup adalah kondisi dimana lingkungan sudah tidak lagi dalam kondisi normal atau tidak seperti sedia kala.
R3 : Krisis lingkungan hidup merupakan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup karena adanya aktivitas manusia yang kurang peduli dengan lingkungan atau bahkan manusia yang merusak lingkungan itu sendiri.
R4 : Krisis lingkungan hidup merupakan keadaan alam yang semakin memburuk akibat tindakan manusia yang kurang bijak dan tidak bertanggungjawab.
R5 : Krisis lingkungan hidup merupakan terancamnya lingkungan sumber daya alam yang disebabkan oleh pembangunan yang dilakukan manusia maupun adanya peristiwa bencana alam itu sendiri. berfungsi untuk manusia bahkan sudah mengancam kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya.
R8 : Krisis lingkungan hidup adalah kondisi dimana lingkungan sekitar menjadi buruk, menjadi rusak dan terjadi pencemaran lingkungan yang membuat suasana di lingkungan menjadi tidak nyaman.
R9 : Krisis lingkungan hidup merupakan proses kemunduran lingkungan yang ditandai dengan hilangnya sumber daya tanah, air, dan udara.
R10 : Menurut saya, krisis lingkungan hidup merupakan sikap manusia yang mengganggap seluruh alam semesta ini sepenuhnya milik mereka sendiri sehingga timbul sikap serakah dan egois untuk memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan dan tidak ada tindakan untuk melestarikannya. Sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan dimana-mana baik pencemaran udara, air dan suara serta menimbulkan bencana alam (kekeringan, banjir, tanah longsor, dsb).
R11 : Krisis lingkungan hidup yaitu suatu gambaran dimana keadaan lingkungan sudah tidak lagi kondusif. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, banyak lingkungan-lingkungan yang seharusnya bisa menjadi bagian dari paru-paru dunia tergeser atau hilang karena keserakahan manusia yang tidak menjaga, melindungi, dan melestarikannya.
R12 : Krisis lingkungan hidup merupakan situasi dimana keseimbangan alam terganggu, manusia memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan sehingga merusak alam.
(4)
R13 : Krisis lingkungan hidup adalah peristiwa dimana rusaknya lingkungan akibat faktor alami dan faktor perbuatan manusia yang bilamana dibiarkan atau tidak ditanggulangi akan menyebabkan bencana alam seperti letusan gunung berapi, banjir, abrasi, tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, dan tsunami.
R14 : Krisis lingkungan hidup adalah kondisi dimana masyarakat sedang mengalami kekurangan sumber daya alam (air, udara, flora dan fauna) akibat sumber daya manusia yang kurang peduli dan bertanggungjawab terhadap kelestarian alam di lingkungan mereka.
R15 : Menurut saya, krisis lingkungan hidup adalah sebuah peristiwa ketika alam atau ekosistem di bumi sudah tidak dihargai lagi kelesatriannya oleh manusia, sehingga alam atau ekosistem berubah sifat alamiahnya yang dapat berbahaya bagi makhluk hidup, khususnya kita sebagai manusia.
R16 : Krisis lingkungan hidup merupakan penurunan kualitas lingkungan hidup yang menyebabkan menurunnya kesejahteraan hidup manusia. Krisis lingkungan hidup dapat terjadi karena penurunan iklim secara global, global warming, kebakaran hutan dan ulah manusia seperti illegal logging, membuang sampah sembarangan, serta pembuangan limbah ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu.
R17 : Krisis lingkungan hidup merupakan hilang atau rusaknya sumber daya alam baik tumbuhan, hewan, air, tanah, dan lainnya akibat peristiwa alam maupun disebabkan oleh tindakan dari manusia itu sendiri.
R18 : Krisis lingkungan hidup merupakan keadaan lingkungan alam sekitar yang mengalami kerusakan dan pencemaran karena adanya aktivitas masyarakat yang kurang peduli dan memanfaatkan alam secara tidak bertanggungjawab.
R19 : Kondisi dimana lingkungan banyak mengalami kerusakan akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab.
2. Apakah umat di lingkungan sungguh menyadari akan krisis lingkungan hidup yang terjadi sampai saat ini?
R1 : Sebagian besar umat belum menyadari akan krisis lingkungan hidup.
Kesadaran umat nampak ketika mereka belum memahami krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi mereka.
R2 : Tidak semua umat menyadari, artinya ada umat yang sudah menyadari namun ada juga yang belum dalam menyadari krisis lingkungan hidup.
R3 : Di lingkungan kami, sebagian masih belum menyadari akan krisis lingkungan hidup namun ada umat yang sudah menyadari dalam bentuk kepedulian maupun upaya-upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi krisis lingkungan hidup.
R4 : Belum semua umat menyadari akan krisis lingkungan hidup yang terjadi sampai saat ini.
R5 : Sebagian umat sudah ada yang tergerak hatinya dan menyadari krisis lingkungan hidup. Namun, ada juga umat yang belum menyadarinya.
(5)
R6 : Ada yang menyadari dan ada yang tidak. Kebanyakan umat di lingkungan kami sudah menyadari akan krisis lingkungan hidup dan dampaknya bagi mereka.
R7 : Karakter umat berbeda-beda ada yang sadar ada yg belum sadar maka perlu penyadaran supaya umat kompak bertanggungjawab atas pelestarian lingkungan hidup khususnya dalam mengatasinya.
R8 : Ya, untuk mengatasi keadaan tersebut ada beberapa tokoh yang menggerakkan umat untuk mengatasi krisis lingkungan hidup supaya umat semakin sadar, seperti kerja bakti.
R9 : Umat sangat sadar dan semua umat pasti menyadari namun masih perlu upaya atau gerakan supaya kesadaran umat sampai pada tindakan yang konkrit bahkan menggerakkan mereka dalam mengatasi krisis lingkungan hidup.
R10 : Beberapa umat ada yang memiliki kesadaran dan ada yang belum atau kurang kesadarannya terhadap krisis lingkungan hidup. Sehingga untuk mengembalikan lingkungan yang telah rusak di wilayah kami perlu proses yang bertahap dalam jangka waktu yang lama.
R11: Sebagian umat sudah menyadari akan krisis lingkungan hidup yang terjadi hingga pada saat ini. Mulai ada rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar tempat mereka tinggal.
R12 : Belum, umat ataupun masyarakat masih belum menyadari krisis lingkungan hidup.
R13 : Ya, umat sangat menyadari krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini.
Kesadaran tersebut terwujud dalam upaya maupun gerakan yang mendorong mereka untuk mengatasi krisis lingkungan hidup.
R14 : Umat mengetahui dan menyadari terhadap krisis lingkungan hidup, tetapi kurang berusaha untuk menanggulangi kerusakan-kerusakan maupun pencemaran lingkungan yang terjadi.
R15 : Adanya krisis lingkungan hidup, umat telah memiliki kesadaran akan pentingnya lingkungan atau ekosistem di sekitarnya. Bisa mengelola limbah rumah tangga masing-masing, mengurangi penggunaan plastik, dan menjaga kestabilan udara bersih.
R16 : Ya, umat sungguh menyadari akan krisis lingkungan hidup. Dengan adanya upaya yang dilakukan oleh ketua lingkungan dan kerjasama dari beberapa umat yang lain, mereka saling memberikan kesadaran baik dalam perjumpaan maupun kegiatan lingkungan.
R17 : Pada umumnya umat sangat menyadari namun ada beberapa umat juga tidak menyadari atau bersikap masa bodoh terhadap krisis lingkungan hidup yang saat ini semakin mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup mereka maupun makhluk hidup lainnya.
R18 : Ya, karena umat di lingkungan mengutamakan pandangan, sikap, dan tindakan terhadap krisis lingkungan hidup.
R19 : Umat belum menyadari adanya krisis lingkungan, masih ada umat atau masyarakat yang masih kurang peduli atau tidak memperhatikan akan krisis lingkungan hidup.
(6)
3. Apakah krisis lingkungan hidup yang dialami oleh umat berdampak bagi kehidupan mereka saat ini? Sebutkan dampak-dampak yang dialami oleh umat maupun masyarakat di lingkungan!
R1 : Tentu berdampak. Dampaknya telah dirasakan oleh masyarakat ketika musim penghujan datang, dikarenakan air sungai yang meluap akan menutupi sumber air masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan air menjadi keruh dan kotor sehingga masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih.
R2 : Ya. Krisis lingkungan hidup sangat berdampak bagi umat, antara lain di lingkungan tanah menjadi tandus dan sumber air semakin sedikit sehingga umat kesulitan mencari sumber mata air yang baru.
R3 : Ya, misalnya saja kekeringan yang melanda di wilayah kami membuat lahan pertanian kekurangan air dan hasil panen sedikit. Penebangan pohon yang berlebihan juga membuat lingkungan menjadi semakin gersang dan kering.
R4 : Ya, dampaknya yaitu tanah yang menjadi tidak subur, para petani mengalami gagal panen dan kualitas tanah yang semakin buruk.
R5 : Ya, di musim kemarau banyak masyarakat kekurangan air, ada air PAM namun biaya atau harga yang dikeluarkan tergolong mahal. Banyak para petani gagal panen karena musim yang tidak menentu, hujan terlalu sering atau panas yg terlalu menyengat yang memicu kekeringan bagi masyarakat.
R6 : Sangat berdampak. Krisis lingkungan hidup dapat menimbulkan bencana alam yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat contohnya kehilangan harta benda, kehilangan sanak-saudara, kehilangan sumber mata pencaharian, kekurangan pangan, dan lainya. Selain itu, krisis lingkungan hidup berdampak bagi psikis masyarakat contohnya menimbulkan stres, rasa takut, dan kecemasan yang berlebihan.
R7 : Sungguh berdampak dalam krisis lingkungan hidup antara lain lahan tanah baik sawah maupun ladang sudah tidak subur lagi, panen mereka menurun karena tanah sudah tidak subur lagi dan kualitas yang semakin menurun.
R8 : Pastinya berdampak bagi umat maupun masyarakat lain. Adanya penyakit yang menyerang karena kualitas lingkungan yang buruk dan lingkungan menjadi rusak.
R9 : Ya, berdampak pada pencemaran air, udara, dan tanah serta dapat mengganggu segala jenis ekosistem masyarakat maupun makhluk hidup lainnya.
R10 : Menurut saya berdampak. Karena yang saya amati, saat musim kemarau dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat yaitu kekeringan. Dan kebetulan rumah saya ada 1 sumur yang memang meskipun musim kemarau airnya masih tetap ada dan banyak warga sekitar yang mengambil air untuk kebutuhan mereka.
R11 : Tidak semua terdampak akibat krisis lingkungan hidup. Contoh yang terdampak seperti ditebangnya pepohonan sehingga tidak ada pohon yang menyimpan cadangan air di dalam tanah dan mengakibatkan kekeringan.
R12 : Dengan adanya krisis lingkungan hidup ini sangat berdampak bagi umat di lingkungan, antara lain cuaca lebih panas, kemarau lebih panjang, dan gagal panen.
(7)
R13 : Ya tentunya berdampak. Dampaknya adalah hasil panen menurun, pemasukan berkurang, hawa panas akibat gersang, rusaknya jalan akibat tumbangnya pohon.
R14 : Umat semakin sulit dalam mencari bahan makanan di alam sekitar, umat merasa kekurangan air, suhu yang lebih panas, umat kesulitan dalam merawat hewan ternak karena pakan yang sulit didapat.
R15 : Dampak dari krisis lingkungan hidup yang dialami umat, yaitu terkena musibah kekurangan air bersih dan banjir akibat dari kurangnya daerah resapan dan terkena polusi udara akibat dari kurangnya pepohonan ditambah asap kendaraan.
R16 : Ya berdampak. Dampaknya antara lain adalah kelangkaan air, menurunnya keanekaragaman hayati di lingkungan seperti adanya beberapa jenis tanaman yang dahulu jumlahnya masih melimpah namun sekarang sulit dijumpai, serta gagal panen.
R17 : Tentu dengan adanya krisis lingkungan hidup ini, mereka sangat merasakan dampaknya, misalnya kekurangan air bersih, harus membeli air, tanah yang semakin tandus, kesulitan untuk bertani, dan juga mengalami gagal panen.
R18 : Dampak dari krisis lingkungan hidup di lingkungan kami, umat maupun masyarakat semakin mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Para petani juga mengalami gagal panen karena musim yang kadang tidak menentu dan tanah yang sudah tidak lagi subur.
R19 : Ya sangat berdampak. Umat kekurangan kebutuhan air bersih, gagal panen, banyak petani yang mengalami kerugian dari hasil panen.
4. Di samping itu, menurut Anda apakah yang menjadi pemicu adanya krisis lingkungan hidup yang terjadi di wilayah saat ini?
R1 : Krisis ini dipicu akibat cukup banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai dan beberapa limbah kering atau yang sulit terurai di dalam air.
R2 : Adanya kegiatan umat atau masyarakat yang melakukan penebangan pohon yang dilakukan secara besar-besaran, namun kegiatan ini juga digunakan oleh mereka untuk menunjang kebutuhan ekonomi maupun lainnya.
R3 : Krisis lingkungan hidup dipicu oleh adanya penebangan pohon secara liar dan kurangnya kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh masyarakat lebih-lebih di lingkungan.
R4 : Pemicu krisis lingkungan hidup berawal dari penggunaan pupuk pestisida atau kimia secara besar-besaran, banyak petani yang mengeluh karena gagal panen akibat hama yang menyerang dan tanah yang tidak subur. Menurut saya kebiasaan pemakaian pupuk kimia terlalu banyak dapat memicu resistensi hama, sehingga lebih kuat dalam menyerang tanaman petani dan pengaruh kandungan kimia yang kurang baik terhadap humus tanah dan pHnya. Selain itu, di depan rumah saya terdapat sumber air yg dinaungi pohon besar, dulu sumber air itu menjadi tempat mandi, tempat mengambil air untuk dimasak namun sekarang sudah mati dan kering. Hal ini diakibatkan karena airnya sering dipakai petani untuk mengairi sawah secara besar-besaran, alhasil sumurnya mati dan sudah tidak dapat dipakai lagi.
(8)
R5 : Pemicu krisis lingkungan hidup dikarenakan wilayah kami yang berada di daerah yang curah hujan cukup rendah, penggunaan pupuk dan bibit yang mengandung bahan kimia serta penggunaan pestisida yang berlebihan.
R6 : Menurut saya pemicu krisis lingkungan yang terjadi karena ulah manusia yang seenaknya sendiri atau serakah dalam memanfaatkan SDA atau lingkungan yang ada untuk kepentingan pribadi maupun kelompok sehingga sikap yang tidak bertanggungjawab tersebut menimbulkan kerusakan alam atau krisis lingkungan hidup. Walaupun krisis lingkungan hidup tidak tentu karena ulah manusia saja melainkan juga bisa timbul karena alam sendiri, tetapi pada kenyataannya kebanyakan pemicu paling besar adanya krisis lingkungan ini adalah dari ulah manusia.
R7 : Pemicu krisis lingkungan hidup adalah penggunaan pupuk kimia yang berlebihan serta penggunaan pestisida untuk membunuh hama khususnya dalam pertanian.
R8 : Krisis lingkungan hidup diakibatkan oleh gaya hidup masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman sehingga banyak limbah/sampah yang menyebabkan penyakit dan penyumbatan selokan atau sungai. Banyaknya pestisida yang digunakan dan penebangan hutan yang merata.
R9 : Krisis lingkungan hidup dipicu oleh faktor alam seperti (gempa bumi, banjir) dan faktor manusia (buang sampah sembarangan, penebangan liar).
R10 : Menurut saya yang menjadi pemicu krisis lingkungan hidup yaitu kesadaran dan cara pandang umat itu sendiri untuk menjaga dan melestarikan alam sehingga jika semua umat memahami dan merealisasikannya maka akan mengurangi krisis lingkungan hidup dan tidak terjadi pencemaran lingkungan serta bencana alam seperti kekeringan.
R11 : Seperti halnya yang sudah disampaikan, krisis lingkungan hidup bisa terjadi karena salah satunya akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri.
Keserakahan yang ada pada diri manusia itu yang akhirnya dapat membuat krisis lingkungan hidup. Misal saja apabila ada yang ingin membangun rumah otomatis membutuhkan kayu, kebanyakan orang-orang menebang pepohonan secara sembarangan dan tidak bertanggungjawab dengan menananm bibit yang baru.
R12 : Krisis lingkungan hidup dipicu karena kebiasaan umat atau masyarakat yang sering menggunakan pestisida dalam pertanian yang berlebihan.
R13 : Yang menyebabkan adalah peralihan cuaca yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat, misalnya kemarau panjang maupun curah hujan yang sangat tinggi.
Selain itu, adanya aktivitas masyarakat maupun pemerintah yang mengalihgunakan gunung sebagai lahan pemukian atau pembangunan jalan raya sehingga mengakibatkan bencana seperti halnya tanah longsor bahkan banjir.
R14 : Adanya krisis lingkungan hidup dikarenakan banyak umat yang memanfaatkan lahan untuk bangunan baru. Adanya perubahan iklim yg tidak menentu dan kebutuhan umum yang semakin meningkat.
R15 : Krisis lingkungan hidup dipicu karena pembangunan yang kurang memperhatikan kestabilan ekosistem.
R16: Faktor pemicu krisis lingkungan hidup yang terjadi di wilayah saat ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu faktor alami serta faktor manusia itu sendiri.
(9)
Faktor alami antara lain karena adanya perubahan iklim yang tidak dapat
Faktor alami antara lain karena adanya perubahan iklim yang tidak dapat