• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

3. Faktor-faktor Krisis Lingkungan Hidup

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis, R1-R19 mengungkapkan bahwa krisis lingkungan hidup disebabkan oleh adanya faktor yang berasal dari alam maupun manusia sendiri. Para responden menyampaikan jawabannya bahwa faktor dari alam meliputi bencana alam (tanah longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan angin puting beliung). Peristiwa alam ini tidak dapat dihindari oleh umat maupun masyarakat. Selain itu, adanya perubahan cuaca atau iklim yang tidak bisa dihindari masyarakat, misalnya kemarau panjang maupun musim penghujan yang memiliki tingkat curah hujan yang sangat tinggi.

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh penulis dalam bab 2, bahwa perubahan cuaca atau iklim dipicu karena adanya pemanasan global yang berasal dari gas

rumah kaca (karbon dioksida, metana, nitrogen, dan lain-lain) yang dikeluarkan lebih-lebih dari aktivitas manusia sendiri (LS 23).

Di samping itu, krisis lingkungan hidup juga dipicu oleh tindakan manusia yang tidak peduli dan bertanggungjawab terhadap lingkungan sekitar. Misalnya membuang sampah sembarangan dan limbah rumah tangga ke aliran sungai. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Paus Fransiskus bahwa masyarakat memiliki budaya ‘membuang’ sampah tanpa memperhatikan akibat dan dampaknya bagi lingkungan hidup dan limbah yang sebagian besar tidak bisa diurai secara biologis (LS 21). Pemicu lainnya adalah adanya aktivitas masyarakat yang menebang pohon secara berlebihan, pembakaran lahan hutan maupun pertanian dan kurangnya melakukan penghijauan sehingga lahan-lahan semakin gersang bahkan kekeringan. Ungkapan tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Madya Utama (2019: 7) bahwa kerusakan hutan dipicu oleh aktivitas penebangan kayu secara berlebihan, illegal logging, mengkonversi hutan untuk kepentingan perkebunan, pertambangan, dan pemukiman. Paus Fransiskus juga menegaskan aktivitas-aktivitas tersebut merupakan penggantian hutan asli dengan perkebunan atau lahan-lahan pertanian (LS 39) yang amat merusak hutan.

Ekosistem juga makin terganggu oleh aktivitas dalam bidang pertanian yang menggunakan bahan kimia untuk membunuh hama yang mengganggu maupun merusak tanaman mereka. Penggunaan pestisida maupun insektisida dan pupuk atau bibit yang sudah diolah dengan bahan kimia masih sering dilakukan oleh para petani sampai saat ini. Hal ini mengakibatkan “kerusakan pada tanah karena

masuknya limbah cair atau bahan kimia, limbah pertanian (pupuk kimiawi dan pestisida) yang masuk dalam ekosistem tanah” (Madya Utama, 2019: 7).

4. Upaya-Upaya dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup Dalam menghadapi dan mengatasi krisis lingkungan hidup, R1-R19 mengungkapkan bahwa sudah adanya kegiatan atau upaya untuk mengajak umat maupun masyarakat dalam keterlibatannya bagi kelestarian alam di lingkungan mereka masing-masing. Upaya-upaya tersebut meliputi kegiatan kerja bakti membersihkan sampah dan limbah yang telah mencemari sungai di wilayah mereka, mengurangi penggunaan sampah plastik, membersihkan sumber mata air, penanaman bibit pohon di wilayah yang gersang akibat penebangan secara liar, menerapkan sistem tebang pilih, dan membantu umat maupun masyarakat yang benar-benar terdampak oleh krisis lingkungan hidup. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh penulis dalam bab 2 yang mengemukakan pentingnya moral lingkungan hidup dijadikan sebagai moral belas kasih. Artinya tindakan manusia yang berbelas kasih tidak hanya didorong oleh akal budi saja tetapi juga menyadarkan manusia agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan makhluk hidup lainnya (Chang, 2010:35). Hal ini juga ditegaskan oleh Paus Fransiskus bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh umat dengan menekankan pentingnya katekese ekologi sebagai pendidikan ekologis. Artinya mendorong seluruh umat berperilaku yang memiliki dampak langsung demi pelestarian lingkungan hidup, misalnya menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, memilah sampah, memasak secukupnya, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi

umum atau satu kendaraan bersama, menanam pohon, menggunakan energi listrik secukupnya (LS 211).

Di samping itu, upaya yang telah dilakukan oleh umat dengan saling memberikan pemahaman, meningkatkan kesadaran, dan mengajak mereka untuk terlibat dalam menghadapi persoalan lingkungan hidup. Misalnya melalui pertemuan doa lingkungan dan kerja sama dengan umat atau masyarakat yang lain. Gereja juga telah memberikan upaya bagi umat dengan kegiatan yang menggerakkan umat dalam mengatasi dan menghadapi krisis lingkungan hidup (Lih. Lampiran 4, hal. 13). Sebagaimana penulis ungkapkan dalam bab 2, bahwa pemahaman maupun kesadaran umat perlu ditekankan dan ditingkatkan dalam katekese ekologi untuk menanggapi persoalan krisis lingkungan hidup yang semakin parah yang mengakibatkan punahnya beberapa jenis makhluk hidup lainnya. Maka tujuan katekese ekologi menggerakkan umat supaya saling menghormati otonomi seluruh makhluk Tuhan, betapapun kecilnya mereka.

Semua makhluk ciptaan berhak untuk mendapat perlakuan yang wajar sesuai dengan tujuan mereka diciptakan. Bukan saja dengan sesama manusia melainkan juga dengan seluruh lingkungan hidup (alam, hewan, tumbuhan, dan lainnya) yang harus diperlakukan sebagai saudara serta satu ciptaan Allah (Yosef Lalu, 2007: 37).

5. Harapan Umat dalam Mengatasi dan Menghadapi Krisis Lingkungan Hidup Berdasarkan hasil wawancara yang telah diungkapkan oleh R1-R19 bahwa umat mengharapkan perlunya meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan keterlibatan mereka demi menyembuhkan keadaan lingkungan hidup yang saat ini

mengalami kerusakan maupun pencemaran. Untuk menjaga dan merawat kelestarian lingkungan di setiap lingkungan perlu dilakukan upaya-upaya yang menggerakkan hati umat dengan melakukan suatu aksi yang nyata. Para responden juga mengatakan bahwa umat harus semakin kompak, peduli, bertanggungjawab, tidak melakukan kebiasaan buruk bagi lingkungan hidup, contohnya membuang sampah sembarangan dan selanjutnya menghargai alam sebagai satu ciptaan yang telah dianugerahkan oleh Allah bagi setiap manusia. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Responden Validator umat berharap dapat semakin bertanggungjawab atas alam ciptaan Allah dan biarlah “Taman Eden”

yang dulu diciptakan Allah sekarang ini juga hadir di tengah umat sehingga mereka bisa menikmatinya (Lih. Lampiran 4, hal 14).

Penulis dalam bab 2 telah mengungkapkan pentingnya mengusahakan katekese ekologi di tengah umat demi mendorong mereka untuk mewujudkan pertobatan ekologis dan menemukan cara yang baru untuk mengaktualisasikan iman mereka dalam mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah khususnya dalam menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup di bumi. Pertobatan ekologis menumbuhkan semangat hidup yang murah hati dan penuh kelembutan bahwa diri manusia tidak terpisahkan dari makhluk lainnya, namun seluruh jagat raya tergabung dalam suatu persekutuan yang indah (LS 220).

Di samping itu, pertobatan ekologis diwujudkan melalui spiritualitas ekologis, artinya menuntut “pembaruan iman Kristiani, yakni iman akan kehadiran Allah dalam semua ciptaan, iman akan dunia sebagai tempat Allah diwahyukan, iman akan dunia sebagai tempat yang Allah kehendaki untuk tinggal

maupun menjumpai manusia, dan mengasihinya, serta iman akan bumi sebagai rumah kita bersama” (Madya Utama, 2019: 23). Dengan demikian, katekese ekologi juga menempatkan hidup umat secara kontekstual yang sungguh membangun spiritualitas hidup umat, meneguhkan persekutuan, menghidupkan perayaan dan pewartaan supaya perubahan sosial sungguh terjadi di tengah-tengah hidup umat.