• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi dan Ruang Sosio-Historis bagi Kelahirannya

1. Feminisme

1.1. Definisi dan Ruang Sosio-Historis bagi Kelahirannya

Pada umumnya, lahirnya sebuah ide merupakan reaksi kritis terhadap kondisi suatu masyarakat. Berangkat dari sebuah kesadaran yang kemudian melahirkan gerakan, Feminisme yang untuk pertama kalinya muncul pada abad ke-18 di Barat80 pada intinya membicarakan wilayah culture. Kaum feminis mempertanyakan mengapa ada label “maskulin” pada laki-laki dan “feminin” pada perempuan. Pemahaman yang baik tentang wilayah culture memungkinkan mereka mempunyai peluang untuk berbicara tentang perubahan. Pola-pola hubungan yang ada di masyarakat (termasuk pola hubungan jender) akan selalu dilihat sebagai konstruk-historis yang tersusun dalam suatu ruang sosial dan waktu tertentu.81

79 Lihat: Faisar Ananda Arfa,

Wanita dalam ……, hal. 53

80 Lihat: “Introduction” dalam Deborah L. Madsen,

Feminist Theory and Literary Practice, (London: Pluto Press), 2000, Cet. Ke-1, hal. 1.

81 Lihat: Siti Muslikhati,

Term feminisme sering diartikan masyarakat sebagai sebuah pemikiran dan gerakan budaya yang unik. Menurut Maggie Humm, seorang feminis dari university of East London, feminisme berarti gabungan antara doktrin persamaan hak untuk perempuan (sebuah gerakan untuk mencapai hak asasi perempuan) dan sebuah ideologi untuk transformasi yang bertujuan menciptakan sebuah dunia untuk perempuan yang baru. Namun menurut Maggie, tidak ada pemahaman atau definisi yang tunggal mengenai apa sebenarnya feminisme itu.82

Kamla Bhasin dan Nighat Said Khan berpendapat bahwa term feminisme berarti suatu kesadaran akan penindasan terhadap perempuan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di tempat kerja, serta tindakan sadar oleh laki-laki atau perempuan untuk merubah keadaan tersebut.83 Dari sini kemudian muncul pendapat Yunahar Ilyas yang mengatakan bahwa kaum feminis bergerak pada dua aspek, yaitu gerakan kesadaran kepada pihak laki-laki dan perempuan dan gerakan untuk melakukan perubahan di masyarakat.84

Beragam definisi lain tentang feminisme pun bermunculan dalam masyarakat. Hal ini karena term feminisme seringkali dimaknai secara subjektif, sehingga terkadang menimbulkan kebingungan dan keraguan tentang makna yang sebenarnya, sebagaimana dikatakan oleh Maggie Humm, bahwa memang tidak ada pemahaman dan definisi yang tunggal untuk kata tersebut. Namun sebenarnya, inti dari definisi-definisi tersebut adalah bahwa feminisme merupakan sebuah doktrin, upaya ataupun keinginan yang aktif untuk memperjuangkan kesetaraan hak-hak sosial dan politik bagi kaum perempuan sebagaimana yang dimiliki oleh kaum laki-laki serta untuk mewujudkan perubahan pada posisi perempuan dalam masyarakat.

82 Widjajanti M. Santoso,

Sinetron Feminisme dan Sosiologi, salah satu artikel dalam Jurnal Perempuan edisi 48 tahun 2006, (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan), 2006, Cet. Ke-1, hal. 79, mengutip pendapat Maggie Humm dalam tulisannya "The Dictionary of Feminist Theory", edisi kedua, Prentice Hall, 1995, hal 94-95.

83 Lihat: Faiqoh,

Nyai………., hal. 70, mengutip dari Kamla Said & Nighat Said Khan,

Persoalan Pokok Mengenai Feminisme dan Relevansinya, dalam S. Herlina (Terj.) Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998, hal. 4

84 Lihat: Faiqoh,

Nyai………., hal. 70, mengutip dari Yunahar Ilyas, Feminisme Dalam Kajian Tafsir al-Qur`an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998, hal. 42.

Sementara feminis sendiri adalah seseorang yang menjaga dan melindungi perempuan-perempuan yang menderita diskriminasi disebabkan oleh jenis kelamin mereka, di mana mereka memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus yang terabaikan dan tidak terpuaskan.85

Beragam interpretasi tentang feminisme sebagaimana tersebut di atas pada intinya berawal dari satu permasalahan, yaitu perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang berakibat pada perbedaan peran masing-masing dalam kehidupan sosial, sehingga memunculkan perbedaan jender (gender differences). Perbedaan jender yang ada kemudian melahirkan ketidakadilan jender (gender inequalities), yang terjadi pada kedua belah pihak, namun yang paling sering menderita hal ini adalah kaum perempuan.

Erich Fromm berpendapat mengenai perbedaan jenis kelamin dua manusia ini. Menurutnya, kita tidak mungkin memahami psikologi laki-laki dan perempuan, jika tidak mengakui bahwa perang antar jenis kelamin telah berlangsung sejak enam ribu tahun lalu. Enam ribu tahun lalu patriarki telah menaklukkan perempuan, dan sejak saat itu, masyarakat mulai terorganisasi dalam dominasi laki-laki.86 Bagi Fromm, tidak akan pernah ada dominasi satu golongan yang tanpa memicu pemberontakan bawah sadar, kemarahan, kebencian dan hasrat membalas dendam dalam diri orang yang tertekan dan tertindas. Pernyataan Fromm ini mengungkapkan pemikiran mendasarnya tentang relasi problematis antara perempuan dan laki-laki. Bukan perbedaan alamiah mereka, tapi implikasi yang tercipta dari perbedaan tersebut. 87

85 Lihat: Ismail Adam Patel,

Perempuan,Feminisme ……, hal. 96-97 dan Rosalind Delmar,

What is Feminism?, salah satu artikel dalam Anne C. Hermann & Abigail J. Stewart (ed.), Theorizing Feminism; Parallel Trends in The Humanities and Social Sciences, (Colorado/Oxford: Westview Press), 2001, Cet. Ke-2, hal. 5-11.

86 Lihat pula penjelasan Nawal al-Saadawi yang berkaitan dengan masalah ini dalam: Nawal

el-Saadawi, The Hidden Face of Eve, diterjemahkan oleh Zulhilmiyasri, Perempuan dalam Budaya Patriarki, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2001, Cet. Ke-1, hal. 310-311.

87 Lihat: Faiqoh,

Nyai, ………., catatan kaki no. 14 pada hal. 57-58 yang dikutip oleh Faiqoh dari Erich Fromm, Cinta Seksualitas Matriarkhi Jender, (Yogyakarta: Jala Sutra), 2002, hal. 9-10. Pernyataan ini dibuat Fromm dalam sebuah wawancara dengan majalah Italia, L'Epreso, tanggal 16 Februari 1975.

Pandangan akan perbedaan seks yang berimplikasi pada perbedaan jender menimbulkan banyak perdebatan di kalangan para ilmuwan. Stereotipe yang melekat pada perempuan dan laki-laki yang diciptakan masyarakat secara otomatis telah membagi-bagi wilayah kerja keduanya. Laki-laki yang dianggap sebagai manusia "kuat", "rasional" dan "pemberani" diposisikan pada ruang lingkup publik karena dianggap lebih layak dari pada perempuan yang merupakan manusia "lemah", "emosional" dan "penakut". Sehingga perempuan dianggap hanya pantas menduduki wilayah kerja domestik, yang tidak banyak memerlukan rasio, tetapi lebih membutuhkan emosional, yang tidak bisa menghasilkan, tetapi menghabiskan. Keadaan yang telah tercipta sejak berabad-abad lamanya dalam budaya dan struktur sosial ini terus berlanjut, dan kemudian memunculkan gerakan-gerakan feminisme.

Konsep mendasar yang ditawarkan oleh Feminisme untuk menganalisis masyarakat adalah Jender. Pemakaian kata Jender dalam Feminisme pertama kali dicetuskan oleh Anne Oakley dengan mengajak warga dunia untuk memahami dua istilah yang serupa, tetapi tidak sama, yaitu Seks dan Jender. Selama ini masyarakat menganggap kedua istilah itu sama saja, yaitu sebagai sesuatu yang harus diterima secara taken for granted. Padahal berbicara tentang perubahan sosial (proses konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi) membutuhkan pemahaman yang baik tentang mana wilayah yang bisa diubah dan mana yang harus diterima begitu saja. Dengan kata lain, kita perlu memahami bahwa di dalam kehidupan ini ada wilayah nature dan ada wilayah culture. Kedua istilah tersebut merupakan derivasi dari bahasa Inggris yang sekarang telah banyak dipakai di Indonesia.88

Istilah Jender berasal dari bahasa Inggris Gen, atau Genus, kemudian ditransfer ke dalam bahasa Indonesia menjadi Jender.89 Dalam masyarakat Indonesia,

terjadi kesalahan dalam memahami makna Jender dan Seks. Seks biasanya

88 Lihat: Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 19.

89 Lihat: Faiqoh,

Nyai……….,hal. 60-61 dan lihat: Maria Josephine Kumaat Mantik, Gender dalam Sastra; Studi kasus Drama Mega-Mega, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra), 2006, Cet. Ke-1, hal. 35. Dalam bahasa Indonesia, terdapat ketidaksepakatan dalam penulisan kata Jender ini. Ada yang tetap menulisnya dengan "Gender" dan ada pula yang meng-Indonesia-kannya menjadi "Jender". Dalam tesis ini, penulis lebih sepakat untuk menggunakan teknik penulisan yang kedua, yaitu "Jender".

diidentikkan dengan perbuatan hubungan badan antara dua jenis manusia. Dalam bahasa Inggris, term ini diartikan sebagai jenis kelamin, yang menunjukkan adanya penyifatan dan pembagian dua jenis kelamin manusia secara biologis, yaitu laki-laki dan perempuan. Para feminis, diantaranya Simone de Beauvoir, Christ Weedon dan Barbara Lloyd sepakat bahwa pada dataran ini, ada garis yang bersifat nature, di mana laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik tertentu yang melekat pada masing-masingnya secara permanen, kodrati, dan tidak bisa dipertukarkan satu dengan yang lainnya. Misalnya perbedaan antara keduanya dari sisi biologis, seperti kepemilikan dzakar pada laki-laki, produksi sperma, dan agresivitas spermanya dan lain-lain. Sementara perempuan memiliki sel telur, alat reproduksi, rahim, dan alat menyusui.90

Berbeda dengan seks, jender adalah sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan karena dikonstruk dan dibentuk secara sosial, karena pengaruh kultural, agama dan politik, sehingga lahir beberapa anggapan yang membedakan (dalam arti: memilah dan memisahkan) peran sosial dan budaya laki-laki dan perempuan. Bentukan sosial atas laki-laki dan perempuan itu antara lain: kalau perempuan dikenal sebagai makhluk yang lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa.91 Maka jika seks berada pada dataran nature, jender berada pada dataran culture. Seks tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan, dan tidak dapat berubah-ubah, karena bersifat kodrati dan terbentuk secara alamiah, sementara Jender bisa saja dipertukarkan satu sama lain, dan dapat berubah dari waktu ke waktu dan berbeda-beda sesuai dengan kultur masyarakat tertentu, karena itu terbentuk dari budaya masyarakat dan bukan kodrat tuhan.

90 Lihat: Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 19-20, Faiqoh, Nyai ………, hal. 61 dan Trisakti Handayani dan Sugiarti, Konsep dan Teknik Penelitian Gender, (Malang: UPT. Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang), 2006, Cet. Ke-2, hal. 4-5.

91 Lihat: Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 20, Faiqoh, Nyai ………, hal. 61 dan Trisakti Handayani dan Sugiarti, Konsep dan Teknik …….., hal. 5.

Pemahaman masyarakat yang salah tentang konsep jender dan seks ini kemudian berimplikasi pada ketidakadilan jender (gender inequalities). Ketidakadilan jender yang kemudian dirasakan oleh perempuan –sebagai korban yang paling sering mengalami hal ini ketimbang laki-laki- adalah: Marginalisasi, Subordinasi, Stereotype, Kekerasan dan Beban Ganda (Double-Burden).92

Kaum feminis sepakat bahwa perbedaan seks antara laki-laki dan perempuan tidak dipertentangkan, perdebatan yang muncul adalah ketika mempertanyakan pengaruh perbedaan seks terhadap perbedaan sifat dan perilaku maskulin dan feminin (jender). Berkaitan dengan hal ini, ada dua argumentasi yang saling bertentangan. Argumen pertama beranggapan bahwa sifat maskulin dan feminin dibentuk atas pengaruh perbedaan jenis kelamin (seks). Argumen ini dikenal dengan aliran orientasi biologis (biologically oriented contestants). Sedangkan argumen kedua beranggapan bahwa sifat maskulin dan feminin yang melekat pada manusia bukan karena disebabkan oleh faktor seks, tetapi dibentuk oleh proses sosialisasi dan kulturisasi. Argumen ini dikenal dengan aliran orientasi kultural (culturally oriented contestant). Argumen kedua inilah yang menjadi permasalahan bagi kalangan feminis. Mereka tidak setuju dengan biologically oriented, karena dianggap sama dengan teori struktural-fungsional yang menganggap dan mengakui adanya keragaman manusia, pada selanjutnya akan melahirkan perbedaan fungsi peran akibat dari keragaman tersebut, dan akhirnya tidak dapat mengaktualisasikan kesetaraan gender.93

Sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya bahwa kelahiran feminisme merupakan bentuk manifestasi dari kesadaran sekelompok orang (yang berperan sebagai agent of change) akan adanya ketidakadilan terhadap perempuan di dalam cara pandang masyarakat tersebut. Historis tentang perempuan dan keterhinaannya telah berlangsung selama berabad-abad lamanya.94 Mitos-mitos

92 Lihat: Trisakti Handayani dan Sugiarti,

Konsep dan Teknik …….., hal. 15-19 dan Faiqoh,

Nyai……….,hal. 58-60.

93 Lihat: Faiqoh,

Nyai, ………., hal. 51-52.

94 Lihat pula :

tentang perempuan menemukan realitasnya dalam tatanan masyarakat tradisional. Jenis-jenis kebutuhan yang sederhana, berupa tuntutan untuk memenuhi kebutuhan primer saja, menyebabkan jenis-jenis pekerjaan pun sangat sederhana. Pada umumnya pekerjaan itu bisa dilakukan hanya dengan otot dan sedikit bantuan alat-alat sederhana. Dalam batas tersebut, pembagian kerja laki-laki dan perempuan berdasarkan kesesuaian, keahlian, kekuatan dan keberanian dapat diterima. Perempuan dianggap lebih sesuai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik semisal memasak, mengatur rumah, menjaga anak dan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah yang ringan. Sementara laki-laki dianggap lebih mampu mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan kekuatan otot dan keberanian seperti mencangkul dan berburu di hutan (masyarakat agraris), menangkap ikan di laut (masyarakat nelayan) dan berdagang di tempat-tempat yang jauh. Laki-laki dan perempuan saling bekerja sama dalam memikul tugas-tugas keluarga.95

Namun ketika modernisasi terjadi di dunia Barat melalui Revolusi Industri96 pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, berbagai perubahan muncul dalam kehidupan sosial. Seperti bertambahnya variasi kebutuhan, jenis pekerjaan maupun cara pemenuhan kebutuhannya. Kekuatan otot laki-laki telah tergantikan oleh mesin-mesin pabrik. Sementara kecemerlangan otak, ketekunan dan kemampuan manajemen menjadi kekuatan baru yang dibutuhkan dalam industrialisasi sebagai awal modernisasi. Dengan perkembangan ini, kebutuhan keluarga kemudian tidak bisa lagi ditopang oleh satu kaki (yaitu laki-laki). Para perempuan di Barat pun terpancing untuk mulai keluar ke sektor publik sebagai alat produksi, sementara sektor domestik masih menjadi tanggung jawabnya. Seiring dengan terbukanya kesempatan kerja dan juga pendidikan bagi perempuan, menyebabkan mereka mampu untuk melihat dunia lama mereka97 (yaitu sektor domestik) dengan sudut

95 Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 25.

96 Lihat penjelasan yang berkait tentang ini pada: http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_

Industri; http://www.scribd.com/doc/13262601/Sejarah-Revolusi-Industri; http://www.scribd.com/doc /4812047/Revolusi-Industri-Inggris .

pandang yang berbeda, sehingga membawa pada munculnya kesadaran baru, betapa selama ini posisi perempuan sangat tertinggal jauh dari laki-laki. Hal ini memicu dan menyuburkan isu-isu penindasan dan pelecehan hak asasi, termasuk hak-hak perempuan. Muncullah kemudian gerakan perempuan sebagai reaksi terhadap perubahan sosial yang terjadi. Gerakan inilah yang melahirkan paham keperempuanan yang kemudian kita kenal dengan feminisme.98

Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.

Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.99

Sebagian besar pejuang feminis berpendapat bahwa terjadinya diskriminasi terhadap perempuan disebabkan oleh konstruk sosial, sistem patriarki; yaitu sistem yang didominasi oleh laki-laki, dan perempuan ditempatkan pada posisi subordinat. Sistem ini mengakui adanya sistem kelas dan strata sosial dalam masyarakat. Pola hubungan dalam sistem ini adalah paternalistik; posisi di atas memegang kekuasaan dominan pada posisi bawah. Dalam institusi keluarga, aktualisasi dari budaya

98 Lihat: Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 25-26.

patriarki ini adalah dengan menempatkan suami sebagai bapak atau kepala keluarga.100

Perjuangan dan pergerakan para feminis untuk pertama kalinya di akhir abad ke-18 berasumsi bahwa ketertingalan kaum perempuan dan subordinasi yang mereka alami semata-mata karena kebanyakan kaum perempuan pada saat itu buta huruf, tidak punya skill dan miskin. Namun, seratus tahun kemudian, setelah banyak berinteraksi dengan perempuan miskin, para pelacur, serta perempuan-perempuan tua yang tidak menikah, asumsi para feminis ini berubah. Seiring dengan bergulirnya nuansa demokratisasi yang sekuler, gerakan perempuan pun makin menyadari betapa sesungguhnya keterbelakangan mereka bukanlah semata-mata karena kebodohan dan kemiskinan, tetapi bersifat struktural-sistemik. Mereka memandang adanya ketimpangan dan ketidakadilan terhadap perempuan dalam sistem masyarakat, yang terbentuk karena pengendalian masyarakat oleh dominasi laki-laki dalam budaya patriarki. Mereka menyadari bahwa sesungguhnya keterlibatan perempuan dalam dunia kerja dan pendidikan tidak secara otomatis meningkatkan status perempuan.101 Karena masuknya perempuan dalam dunia kerja di lingkup publik, justru malah menambah beban dan tanggung jawabnya. Di samping itu, upah yang mereka dapatkan pun tidak sebanding dengan tenaga yang mereka keluarkan, berbeda dengan kaum laki-laki. Belum lagi berbagai tindakan eksploitasi dan pelecehan-pelecehan yang mereka alami.102

Menurut kaum feminis, diperlukan perjuangan yang lebih bersifat strategis untuk menyelesaikan permasalahan perempuan, yaitu melalui keterlibatannya dalam lapangan politik. Asumsi bahwa hanya perempuan yang tahu persoalan perempuan semakin memotivasi mereka untuk melakukan pemberdayaan politik perempuan.

100 Lihat: Faiqoh,

Nyai, ………., hal.70-71 dan Siti Muslikhati, Feminisme dan………., hal. 28.

101 Lihat: Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 26-27.

102 Lihat penjelasan lebih lanjut dalam Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face……….., hal. 353-356.

Target terpentingnya adalah diberikan dan diakuinya keterlibatan perempuan dalam jantung kendali masyarakat, yaitu posisi penentu kebijakan (the authorities), apakah legislatif ataupun eksekutif.103

Dalam masyarakat tradisional, di mana kaum perempuannya belum memiliki kesadaran akan ketertindasannya dan hak-haknya, kaum laki-laki memiliki kekuasaan dan kekuatan dalam mendominasi kaum perempuan melalui peraturan dan hukum adat atau agama. Hester Eisentein menyebutnya sebagai constrains of religious and social custom. Hukum dan peraturan ini sekaligus menjadi perangkat sistem patriarki untuk mempertahankan subordinasi kaum perempuan dan dominasi kaum laki-laki, karena hukum dan peraturan tersebut diciptakan oleh kaum laki-laki. Dominasi semacam ini biasanya bersifat paksaan (direct coercion).104

Ideologi familialisme telah menjadi kekuatan penting dalam menyadarkan perempuan tentang peran domestik mereka, sekaligus menyebabkan perempuan hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik. Sebagai istri, dia harus mendampingi, melayani dan mendorong keberhasilan suami. Sebagai ibu, dia harus mampu memberikan keturunan sekaligus menghasilkan anak-anak yang berguna. Segala ketidakberhasilan dalam rumah tangga akan ditimpakan kesalahannya pada perempuan. Namun demikian meskipun sektor domestik dipegang oleh perempuan, ideologi patriarki berlaku di dalamnya, berupa keberadaan kepemimpinan di sektor ini pada tangan laki-laki (karena keterlibatannya pada sektor publik). Artinya ada realitas yang tidak terbantahkan bahwa sektor domestik ini tergantung pada sektor publik.105

Dalam perspektif feminis, spesifikasi peran-peran manusia (laki-laki dan perempuan) dalam masyarakat dipandang tidak egaliter. Artinya, konstruksi sosial selama ini dianggap sangat berpihak kepada laki-laki dan pada saat yang sama sangat

103 Lihat: Siti Muslikhati,

Feminisme dan………., hal. 27.

104 Tatang Iskarna,

Representasi dan Rekonstruksi Perempuan Afrika dalam Novel Second Class Citizen Karya Buchi Emecheta, (Depok: Tesis pada Program Pasca Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya Fakultas Sastra Universitas Indonesia), 2002, hal. 25.

105 Siti Muslikhati,

menyudutkan kaum hawa. Menurut kaum feminis, hegemoni laki-laki atas perempuan ini memperoleh legitimasi dari nilai-nilai sosial, agama, hukum negara, dan sebagainya serta tersosialisasikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.106

Keadaan-keadaan sebagaimana tersebut di atas kemudian menggerakkan kaum feminis untuk segera memperjuangkan nasib perempuan, agar tidak ada lagi kultur hegemonis laki-laki terhadap perempuan, namun yang ada adalah kebebasan kaum perempuan untuk bergerak dan menentukan perannya. Transformasi sosial yang diperlukan untuk mengatasi hal tersebut adalah proses dekonstruksi peran jender dalam seluruh aspek kehidupan, di mana terefleksi perbedaan-perbedaan jender yang telah melahirkan ketidakadilan jender. Kemudian terjadi rekonstruksi sehingga tercipta hubungan yang secara fundamental baru dan lebih baik.107