• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencekalan terhadap karya-karya Nawal al-Saadawi dan berbagai ancaman yang diterimanya tak lain adalah karena pemikiran-pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemerintah dan nilai-nilai agama. Pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Saadawi baik secara langsung melalui berbagai seminar maupun melalui tulisan-tulisan ilmiah dan fiksinya seringkali memicu kontroversi di kalangan masyarakat. Nawal al-Saadawi seolah menyampaikan keinginannya untuk membangkitkan kaum perempuan dari keterpurukan lewat tokoh-tokoh yang ia ciptakan dalam setiap karyanya. Bahasa yang digunakan oleh para tokoh juga terkesan memprovokasi dan membangkitkan emosi para pembaca.

Pemikiran-pemikiran Nawal al-Saadawi yang ia sampaikan melalui karya-karyanya tersebut tak lain adalah karena pengaruh jiwanya yang merasa teraniaya dengan kondisi masyarakat di mana ia hidup. Oleh sebab itu, secara umum pemikiran-pemikiran dan karya-karya Nawal al-Saadawi pada dasarnya dilatarbelakangi oleh dua aspek, yaitu:

a) Kondisi budaya dan tradisi masyarakat Mesir

Nawal al-Saadawi melihat problem diskriminasi perempuan sebagai masalah struktural yang sama peliknya dengan masalah negara. Dalam buku terkenalnya al-Mar’ah wa al-Jins (Perempuan dan Masalah Sex), Nawal memberikan potret sosial bangsa Arab yang lusuh dan cara pandang negatif kaum lelakinya tentang perempuan dan sex.44 Dalam bukunya yang lain Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol), dengan bahasa novel yang menarik, ia memberikan pandangannya tentang nasib perempuan Arab yang mengalami tekanan-tekanan. Dengan tanpa ragu-ragu, ia menyamakan status para istri di dunia Arab dengan para pelacur, 45 bahkan lebih buruk: “Tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua

44 Lihat:

Books and Writers; Nawal el Saadawi, (http://www.kirjasto.sci.fi/sadawi.htm)

45 Lihat: Nawal el-Saadawi,

perempuan adalah pelacur dalam satu dan lain bentuk. Karena saya seoranng pelacur yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi pelacur yang bebas dari pada menjadi seorang istri yang diperbudak .”

Menurut Nawal al-Saadawi masalah diskriminasi perempuan tidak bisa diselesaikan lewat persamaan seks atau apa lagi lewat agama. Persoalan perempuan sangat kompleks, erat kaitannya dengan masalah global ekonomi dan politik sebuah negara.46 Luthfi As-Syaukanie membandingkan pemikiran yang berbeda antara Nawal dengan Fatima Mernissi. Dua orang feminis ini meski pada intinya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, namun keduanya berbeda cara pandang. Menurut Luthfi, Nawal al-Saadawi lebih menekankan permasalahan perempuan pada peran dan faktor ekonomi-politik, sementara Mernissi lebih melihat permasalahan pada level ideologi sosial. Menurutnya, ada masalah yang lebih penting lagi, yaitu “discourse tentang wanita” yang telah diciptakan oleh sosio-budaya Arab. Menurut Mernissi, diskursus wanita yang berlaku dalam komunitas Arab telah dibentuk sedemikian rupa oleh budaya dominasi lelaki. Dan dengan dominasi itu, perempuan selalu ditempatkan dan dipandang negatif—dari perspektif apa saja. Mernissi tidak meletakkan seluruh beban pada negara. Ia lebih menyalahkan struktur sosial yang telah menyengsarakan nasib perempuan, yang termasuk di dalamnya juga doktrin dan ajaran agama yang menjadi salah satu fondasi penting sebuah masyarakat. Menurut Mernissi diskusi-diskusi di sekitar turats tidak lebih dari cara baru kaum lelaki meraih kembali dominasinya atas wanita.47

Akan tetapi sebenarnya Nawal juga masih sependapat dengan Fatima Mernisi. Menurut Nawal perempuan menjadi tertindas juga karena struktur patriarkal sosial Arab yang terwarisi turun-temurun. Tradisi Arab cenderung merendahkan

46Lihat: http://www.gatra.com

47 Lihat: Luthfi As-Syaukanie,

Arab Feminist Movement, Jurnal Paramadina, Vol. I. No. 1, Juli-Desember 1998.

perempuan. Dalam tradisi agama, perempuan dihargai setengah,48 dan yang setengah itupun selalu dihalang-halangi untuk berperan dalam masyarakat secara bebas.49

Satu contoh, di Mesir, sensus pertama mengenai partisipasi perempuan dalam dunia kerja dilakukan pada tahun 1914. Ketika itu hanya 20.000 orang atau 5% dari jumlah seluruh tenaga kerja. Pada saat itu para gadis dan perempuan dari keluarga miskin mencari pekerjaan di sejumlah pabrik dan penggilingan gandum. Jam kerja mereka adalah 14 jam perhari. Dan dibayar lebih kurang tiga piastre sehari, namun kadang-kadang turun sampai 18 millims. Namun tiga piastre ini lebih baik dari pada keluarga kelaparan. Tidak ada undang-undang tenaga kerja untuk menjamin standar kesehatan atau keselamatan yang melindungi perempuan, terlebih lagi bagian tempat mereka bekerja lebih buruk dari pada bagian laki-laki. Nilai perempuan secara sosial dianggap lebih rendah dari pada laki-laki. Apalagi mereka tidak memprotes atau berjuang untuk memperbaiki kondisi mereka, seolah mereka terbiasa menerima penghinaan dan pelecehan. Sebagai akibat dari kondisi kerja yang tidak manusiawi itu, jam kerja panjang, kelelahan dan gizi yang tidak memadai, perempuan tidak lagi bekerja di pabrik lebih dari empat atau lima tahun, setelah itu ia tidak lagi sehat untuk mengerjakan apapun. Pemilik perusahaan akan mengeluarkannya sehingga ia terlepas sebagai buruh yang sudah kadaluwarsa, dan segera digantikan oleh perempuan yang lebih muda. Selain itu, ketika itu belum ada izin cuti bagi ibu hamil dan melahirkan. Bagi ibu yang baru saja melahirkan, maka esok harinya sudah harus kembali bekerja. Banyak perempuan pekerja yang bahkan merahasiakan statusnya bahwa ia telah menikah, karena hal ini sering dijadikan alasan oleh para majikan untuk mengeluarkannya. Jika ia hamil, maka sebisa mungkin kehamilannya itu disembunyikan, seperti halnya sedang mengandung anak haram. Bahkan dalam banyak kasus, ia akan melakukan cara-cara desa yang primitif untuk menggugurkan kandungannya dengan menggunakan semacam tumbuhan yang disebut mouloukhia ke dalam rahim atau leher rahim. Dan tak jarang cara ini berakhir dengan kematian

48 Lihat: Q.S. 4: 11.

karena kekurangan darah atau infeksi.50 Keadaan inilah yang kemudian membangkitkan semangat dan kesadaran kaum buruh perempuan Mesir pada abad ke-20 untuk menentang dan melawan peraturan-peraturan pabrik, dengan mengadakan demonstrasi di jalan-jalan, menuntut kehormatan mereka sebagai perempuan yang dihargai, agar jam kerja diperpendek dan diatur oleh undang-undang, serta adanya izin cuti bagi ibu hamil dan melahirkan. Pada saat itu, kaum perempuan dari kalangan atas sebenarnya telah mulai mendirikan organisasi perempuan pertama di Mesir, pada tahun 1923. Namun karena mereka merasakan kemakmuran dan kurangnya turun ke bawah (grass root) untuk melihat fakta yang terjadi pada masyarakat miskin, maka mereka tidak tahu apa-apa mengenai kondisi buruh perempuan dan nasib mereka yang dieksploitasi secara tidak manusiawi tersebut. Sehingga demonstrasi yang sudah dilakukan berakhir dengan suatu pertemuan yang menghasilkan keputusan untuk membentuk sebuah federasi perempuan yang baru. Namun realitasnya, keputusan-keputusan yang ada kurang mendukung upaya pemberdayaan kaum perempuan serta untuk meningkatkan status mereka. Malah kemudian, momentum tersebut berlalu dengan sia-sia begitu saja.51

Satu tradisi masyarakat Mesir yang juga sangat ditentang oleh Nawal al-Saadawi adalah kebiasaan mereka menyunat anak-anak perempuan dengan alasan untuk mengontrol dan mengendalikan nafsu mereka agar kelak ketika dewasa tidak menjadi perempuan yang bejat dan penggoda kaum lelaki. Kebiasaan ini menurut Nawal sama saja mematikan naluri seksual kaum perempuan dan membentuknya menjadi sebuah pribadi yang dingin. Nawal sendiri pernah sangat menderita ketika dipaksa sunat oleh ibunya saat ia berusia 6 tahun. Ibunda Nawal adalah seorang muslimah tradisional -meski berasal dari keluarga kelas atas- yang mewajibkan khitan untuk anak perempuan.52 Masalah khitan ini pernah dilarang di Mesir selama

beberapa waktu, namun kemudian sekitar tahun 1990-an, masalah ini dilegalkan

50 Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face of Eve, diterjemahkan oleh Zulhilmiyasri, Perempuan dalam Budaya Patriarki, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2001, Cet. Ke-1, hal. 353-354.

51 Lihat: Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face……….., hal. 355-356

52 Lihat:

kembali.53 Belakangan tahun terakhir banyak anak-anak perempuan yang menjadi korban, sampai mengalami kematian. Tradisi yang sangat kuat dipercaya oleh masyarakat Mesir menyebabkan sulitnya dilakukan perubahan, meski pemerintah juga sudah melarangnya kembali. Pada tahun 2007 akhirnya mufti Mesir mengumumkan bahwa khitan bagi anak-anak perempuan hukumnya haram, karena melihat korban yang semakin banyak.54

Penindasan dan tindakan-tindakan yang merendahkan perempuan menurut Nawal sebetulnya sudah terjadi sejak lima atau enam ribu terakhir. Sejak saat itu, laki-laki telah mempertaruhkan segenap kemampuan dan pengetahuannya untuk menemukan berbagai macam ikatan untuk mengepung dan menekan perempuan, tapi sepenuhnya ia tidak pernah mampu menghalau ketakutan yang mendarah daging terhadap perempuan dan ia merasa perlu untuk mengawasinya dengan hati-hati. Di antara bukti ketakutan mereka adalah dengan membuat rantai dan belenggu yang ia pasangkan ke tubuh dan pikiran perempuan dalam bentuk: undang-undang yang kaku dan mapan, teori-teori ilmiah tentang "diri" perempuan dan psikologinya, kaidah-kaidah moral atau bahkan perasaan yang berbentuk cinta, kemuliaan dan perlindungan, namun substansi sebenarnya terbuat dari kecemburuan, keserakahan, dominasi dan kepemilikan.55

b) Kondisi politik masyarakat Mesir

Sejauh pengamatan sastra Arab yang telah dikaji, dalam setiap karyanya, Nawal al-Saadawi selalu menampilkan dan menonjolkan kritik yang cukup pedas sekaligus penggambaran realitas sosial politik.56 Dalam artikel khusus

Women and Islam, Nawal al-Saadawi Saadawi menyamakan persoalan perempuan dengan

53 Lihat:

Books and Writers; Nawal el Saadawi, (http://www.kirjasto.sci.fi/sadawi.htm)

54 Lihat: http://infosyiah.wordpress.com/2007/06/27/mufti-mesir-khitan-bagi-anak-perempuan

-hukumnya-haram/ . Lihat penjelasannya lebih lanjut pada Bab IV.

55 Lihat: Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face……….., hal. 310-311.

56 Lihat: Luthfi As-Syaukanie,

masalah keterbelakangan. Ia mengatakan: “Keduanya bukan masalah agama sebagaimana yang selalu dikatakan oleh kalangan fundamentalis, tetapi masalahnya berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan politik negara.”57

Peradaban Mesir Kuno merupakan sumber warisan budaya tempat kemajuan tertentu yang telah dicapai dunia Timur. Akan tetapi peradaban ini kemudian dibawa ke Eropa Barat oleh orang-orang Barat dan telah menjadi inspirasi serta sumber pengetahuan bagi perkembangan dunia seni dan sains yang lebih lanjut.58 Tokoh-tokoh dunia Timur yang sangat berjasa dalam perkembangan sains dan seni ini kemudian tenggelam namanya, karena posisi mereka digantikan oleh orang-orang Barat.

Mesir dan dunia Arab hidup melalui beberapa dekade yang gelap terutama selama abad ke-19. Kondisi rakyatnya jelas-jelas mundur. Penguasa negara yang bersahabat baik dengan penjajah Inggris dan Perancis telah menimpakan beban teramat berat ke pundak mereka dalam semua aspek kehidupan baik ekonomi, politik maupun budaya. Nasib kaum perempuan, sebagaimana biasanya, adalah yang terburuk karena mereka harus menunaikan beban ganda sistem patriarkat seperti halnya sistem kelas otokratis.59 Kemunduran kaum perempuan menjadi salah satu sumber kelemahan dan kekalahan yang menyerang rakyat Arab, sebab mereka dirampas dari pengetahuan serta dijauhkan dari sumber-sumber pengetahuan, suatu hal yang bertolak belakang dengan yang dibutuhkan dan diperlukan oleh agama dan kehidupan.60

Meski kemudian sejak tahun 1923 Huda Sya’rawi mulai memberikan pencerahan bagi nasib perempuan Mesir,61 namun masih banyak

57 Lihat: http://www.gatra.com 58 Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face……….., hal. 341-342.

59 Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face……….., hal. 343. Lihat pula: http://www.uinjkt.

ac.id/index.php/organisasi/struktur-organisasi/372-beda-tafsir-jender-indonesia-mesir-dalam-memandang-perempuan.html ; Lihat pula: http://www.ksg.averroes.or.id/gender/fatima-mernissi-rekonstruksi-teks-sejarah-dan-sistem-patriarkhal.html. Lihat lebih lanjut pada Bab III.

60 Lihat: Nawal el-Saadawi,

The Hidden Face……….., hal. 344-345.

61 Lihat: Lihat: Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 26. Lihat pula: http://s1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_movement_of_woman_liberation.pdf.

perempuan yang belum tersentuh kebebasannya dalam mengekspresikan segala kemampuan yang terdapat dalam jiwanya, apalagi kesempatan terjun ke dunia politik.. Bahkan seringkali perempuan menjadi korban politik pemerintah.

Dalam karya-karyanya, Nawal sering menggunakan colloqualism atau gaya bahasa harian dalam penceritaannya, natural, dan tanpa embel-embel analitik. Nawal al-Saadawi tidak mengikuti aliran al-fann al-kâmil (keindahan) yang kebanyakan digunakan oleh sastrawan Arab. Tema yang diangkat Saadawi cenderung monoton, terfokus pada kegelisahan hidup. Seperti karya-karyanya yang terdahulu, Catatan Seorang Dokter Perempuan, Matinya Seorang Menteri, Catatan dari Penjara Perempuan, Perempuan di Titik Nol, dan Kabar dari Penjara, semua mengangkat hal yang sama. Semua tidak lepas dari uraian jiwa Saadawi (sekaligus tokoh dalam karya sastra) yang mengalami guncangan hidup dan depresi yang sangat dalam. Tidak ada satu pun karyanya bisa membuat para pembaca tersenyum atau tertawa. Aliran naturalisme-realisme yang dianut oleh Nawal al-Saadawi, di sisi lain ditemukan adanya suatu kejanggalan yang terkesan dibuat-buat, yaitu tema yang diangkat selalu menampilkan penderitaan hidup, tidak menampilkan kebahagiaan hidup di hati tokohnya, seakan hidup ini adalah penderitaan tiada akhir. Padahal Tuhan selalu menghiasi suka dan duka di hati hamba- hamba-Nya. Dan Saadawi begitu pandai menyembunyikan kesan itu dengan rising plot (alur menanjak), di mana jalinan peristiwa dalam karya yang dihasilkannya terus menanjak, tanpa ada peleraian sampai cerita itu selesai di puncak. Kesan itu benar-benar tak terbaca oleh para pembaca.

Suatu hal yang menarik dari karya Nawal al-Saadawi adalah keberaniannya melontarkan sarkastis kepada pemerintah. Seperti yang ditulisnya di Catatan dari Penjara Perempuan.62 Di sisi lain, pergolakan jiwa yang dihidangkan dalam setiap

karya-karya Nawal al-Saadawi tidak terlepas dari jiwanya yang berontak dengan

62 Tulisan Saadawi yang mengandung sarkastis kepada pemerintah dalam novel tersebut

adalah: "Jika pihak penguasa marah pada seorang pengarang bersangkutan dapat diberangus dan suaranya dibungkam, sehingga tak terdengar lagi oleh siapa pun. Seorang pengarang tak mungkin mencapai puncak kesusastraan dan bertahan di sana, jika tak direstui oleh pemerintah" (Lihat: Nawal el-Saadawi, Catatan dari Penjara Perempuan, 1992, hal. 6-7).

aturan-aturan yang mengikatnya sebagai seorang perempuan. Karena itu, di dalam karya-karyanya, ia selalu menampilkan sarkasme-sarkasme yang ditujukan pada kaum laki-laki dan penguasa. Hal ini juga menyangkut kritik pragmatik, sebagai pertimbangan pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Ekspresionisme yang diungkapkan Nawal al-Saadawi dalam setiap karyanya kerap mendobrak doktrin-doktrin dominasi laki-laki terhadap perempuan (androsentrisme). Rentetan frasa dengan nada provokatif serta suspense yang terus meningkat, membuat cerita-cerita dalam novel-novel Nawal al-Saadawi meninggalkan kesan yang sangat dalam, bahwa penulis menentang kultur sekaligus doktrin dan undang- undang di negaranya.63

Pemikiran lain Nawal al-Saadawi yang kontroversial adalah pencalonan dirinya sebagai presiden pada tahun 2005. Hal ini memunculkan perang fatwa di kalangan ulama. Seperti fatwa Syekh Prof. Dr. Yusuf al-Qardlawi dan mufti agama Islam Mesir, Prof. Dr. Ali Gomah, yang menyatakan bahwa dalam kondisi apa pun, seorang perempuan tidak diperbolehkan menjadi presiden bagi negara mana pun. Qardlawi beralasan dengan dominasi emosi perempuan pada dirinya ketimbang nalarnya, keterbatasannya secara natural karena kehamilan, melahirkan, nifas dan haid serta hukum agama yang menurutnya membedakan kesaksian antara laki-laki dan perempuan. Menurut Al-Qardhawi, perempuan lebih pantas memegang otoritas kolektif seperti menjadi anggota legislatif dalam parlemen atau menteri dalam struktur kabinet, bukan otoritas tunggal sebagai presiden.64

Sementara Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi, dan Syekh Azhar, Ibrahim Al-Fayoumi, Ketua Lembaga Penelitian Islam (Majma' al-Buhuts al-Islamiyah) Al-Azhar mendukung pencalonan diri Nawal sebagai presiden. Meskipun sebelumnya, keduanya sering menolak pemikiran-pemikiran Nawal, bahkan Ibrahim sendiri adalah eksekutor dalam kasus pembredelan karya Nawal. Dalam kasus kepemimpinan ini Tanthawi mengatakan bahwa "Syariat Islam tidak pernah melarang perempuan untuk menjadi presiden."Ia juga menambahkan bahwa

63 Lihat: Luthfi As-Syaukanie,

Arab Feminist…, Vol. I, No. 1, Juli-Desember 1998

profesi perempuan dalam Islam tergantung kemampuan dan kelayakan. Selain itu, Islam juga tidak pernah menegaskan secara spesifik profesi perempuan."65

Menanggapi perang fatwa tersebut, Nawal hanya bisa menanggapinya secara dingin. Menurutnya, alasan fisiologis bagi perempuan –karena haid- adalah dalil yang tidak logis dan lucu.66

65 Lihat: http://www.gatra.com 66 Lihat: www. gatra.com

BAB III

FEMINISME DAN KRITIK SASTRA FEMINIS

Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, maka setelah membahas profil pengarang novel, Nawal al-Saadawi, pembahasan mengenai Feminisme dan Kritik Sastra Feminis perlu dilakukan guna menemukan teori-teori dasar yang kemudian akan digunakan dalam analisis.

Kelahiran Feminisme dan Kritik Sastra Feminis yang untuk pertama kalinya di Barat merupakan implikasi dari teori-teori Sosiologi yang berkembang di masyarakat. Dalam teori sosial, masyarakat terbentuk atas kesepakatan bersama (kontrak sosial) yang dilakukan oleh individu maupun kelompok untuk mencapai sesuatu secara bersama dengan seperangkat aturan-aturan, baik tradisi, konvensional dan aturan-aturan yang disepakati bersama. Kesepakatan itu dibuat pada prinsipnya untuk melayani dan memberikan perlindungan hak-hak dasar individu atau kelompok, demi tercapainya keadilan dan kehidupan sosial masyarakat berjalan secara seimbang dan harmonis.67 Kontrak sosial itu terus mengalami perkembangan seiring dengan tingkat perkembangan kemampuan masyarakat. Misalnya, kesepakatan atau kontrak sosial pada masyarakat primitif jelas sangat berbeda dengan seperangkat aturan yang menjadi kontrak sosial pada masyarakat modern. Dan ketika terjadi pengingkaran (konflik sosial) yang dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap kesepakatan yang dibuat bersama, maka realitas sosial masyarakat berjalan tidak seimbang dan tidak harmonis.68 Sedikitnya ada 2 (dua) teori sosial tentang

sebab terjadinya pengingkaran-pengingkaran, hingga menimbulkan ketimpangan sosial. Para sosiolog yang dikenal teorinya seputar penyebab konflik yang menimpa masyarakat diantaranya adalah69 Emile Durkheim (1815-1917) dengan ide

67 Faiqoh,

Nyai Agen Perubahan di Pesantren, (Jakarta: Kucica), 2003, Cet. Ke-1, hal. 45.

68 Lihat: Faisar Ananda Arfa,

Wanita dalam Konsep Islam Modernis, (Jakarta: Pustaka Firdaus), 2004, Cet. Ke-1, hal. 45.

69 Lihat: Faiqoh,

Nyai…………., hal. 44-47; Faisar Ananda Arfa, Wanita dalam…………, hal. 42-58; 69 Doyle Paul Johnson,

kolektivitasnya, yang melahirkan konsep pembagian peran dalam masyarakat dengan teori Struktural-Fungsional. Durkheim menegaskan bahwa individu merupakan ekspresi dari kolektivitas tempat individu tersebut berada. Tanggung jawab individu menurutnya diberikan oleh masyarakat itu sendiri, namun kesadaran kolektivitas akan tetap melekat dalam setiap individu. Teori pembagian kerja juga diterapkan oleh Durkheim. Menurutnya, sifat-sifat alamiah perempuan yang inheren menciptakan suatu pembagian kerja, hierarki, dan otoritas laki-laki, juga struktur moralitas. Sifat-sifat alamiah tersebut memposisikan perempuan di bawah kontrol logis laki-laki dalam keluarga yang patriarkhat dan struktur sosial. Durkheim membincangkan bahwa perempuan dalam dua konteks tempat yakni dalam konteks positif perkawinan dan keluarga, di mana perempuan memainkan peran tradisional yang fungsional terhadap keluarga; dan dalam konteks negatif bunuh diri, perceraian dan seksualitas. Dalam keluarga laki-lakilah yang memiliki otoritas, karena dialah pemimpin keluarga. Dan oleh sebab itu perempuan tidak memiliki wewenang terhadap laki-laki.70

Selain Durkheim, ada pula Auguste Comte. Menurutnya, individu sedemikian besarnya dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial, sehingga satuan masyarakat yang asasi adalah bukan individu-individu, melainkan keluarga-keluarga. Dalam keluargalah individu itu diperkenalkan kepada masyarakat. Karena tingkat keakraban dalam keluarga demikian tingginya, insting-insting dasar individu dibentuk oleh perasaan sosial yang dominan dalam keluarga itu. Keluarga dalam bentuk mikrokosmik memberikan pengalaman akan dominasi dan ketaatan, kerjasama, serta munculnya perasaan-perasaan altruistik.71 Menurut Comte, wanita "secara

konstitusional" bersifat inferior terhadap laki-laki, sebab kedewasaan mereka Perspectives, terj. Robert M. Z. Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), 1994, Cet. Ke-3, hal. 90-91; Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Rineka Cipta), 1991, Cet. Ke-2 (edisi revisi), hal. 279-285; dan Thomas F. O’Dea, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal, (Jakarta: Rajawali Press), 1987, Cet. Ke-2, hal. 3-34 dan hal. 139-143.

70 Faisar Ananda Arfa,

Wanita dalam ………., hal. 45.

71 Doyle Paul Johnson,

Sociological Theory………….hal. 90. Lihat pula teori Comte mengenai keteraturan sosial dan pembagian kerja, pada hal. 90-91.

berakhir pada masa kanak-kanak. Oleh sebab itu, Comte percaya bahwa wanita menjadi subordinat laki-laki begitu mereka menikah. Wanita tidak punya hak untuk bercerai, sebab mereka adalah semata-mata budak laki-laki manja.72

Selain mereka berdua, ada pula Herbert Spencer, yang menganalisis kedudukan dan fungsi perempuan dalam keluarga. Menurutnya, keberadaan perempuan dalam keluarga serta peran sosialnya sebagai istri turut membantu mengikat keluarga sebagai sebuah unit, sementara laki-laki membuka hubungan ke luar. Spencer memperjuangkan hak-hak laissezfaire individu perempuan dalam tulisan awalnya. Di mana dia menyatakan bahwa sifat-sifat alamiah perempuan tidak