• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Agama dan Adat dalam Subordinasi Perempuan

2. Pokok-pokok Pikiran Feminisme dalam Novel IINS

2.2. Peran Agama dan Adat dalam Subordinasi Perempuan

Dalam pandangan teologi, kekuasaan hierarkis laki-laki atas perempuan adalah keputusan Tuhan yang tidak bisa diubah. Argumen yang diajukan untuk ini biasanya adalah pernyataan Tuhan dalam al-Qur`an Surat al-Nisâ` ayat 34. Terhadap kata qawâmûn dalam ayat tersebut, semua mufassir al-Qur`an masa klasik maupun modern mengartikannya sebagai pemimpin, penanggung jawab, penguasa, pelindung dan yang sejenisnya. Argumen yang dikemukakan untuk tugas kepemimpinan laki-laki atas perempuan ini, menurut ayat itu, adalah karena laki-laki-laki-laki memiliki kelebihan dibandingkan perempuan.350 Dengan demikian, hierarki kekuasaan laki-laki atas perempuan telah mendapat legitimasi teologis. Dari sini selanjutnya dinyatakan bahwa pernyataan Tuhan tersebut merupakan ketentuan yang pasti dan tidak bisa diubah.351

Dalam konteks ayat di atas, dijelaskan bahwa kekuasaan laki-laki atas perempuan hanya dalam lingkup domestik (rumah tangga) saja. Akan tetapi, sebagian

350 Lihat hadits Rasulullah dalam Shahîh al-Buhkhâry,

Kitâb al-Haidl, Bab: Tark al-Hâ`idl li al-Shaum, J. I, hal. 483 yang segera terbantah melalui kenyataan-kenyataan empirik. Seperti di jelaskan dalam Hibah Rauf Izzat, al-Mar`ah wa al-‘Amal al-Siyâsy, Ru`yah Islâmiyah, Ma’had al-‘Amaly li al-Fikr al-Islâmy, 1995, Cet. Ke-1, hal. 101-103, dan dikutip oleh Hussein Muhammad dalam catatan kaki no. 2, Refleksi Teologis tentang Kekerasan…, hal. 277-278).

351 Hussein Muhammad,

ulama dan mufassir memperluas makna ini. Menurut mereka, makna kekuasaan laki-laki atas perempuan juga termasuk dalam lingkup publik, yaitu dalam urusan sosial dan politik, atau dalam istilah lain disebut al-Mu’âmalah al-Madaniyyah. Teologi patriarkat seperti ini kemudian berkembang menjadi sesuatu yang berlaku bagi semua sistem kekeluargaan maupun sosial, yang konsekuensinya adalah subordinasi perempuan oleh laki-laki baik di dunia publik maupun wilayah domestik.

Pada tataran realitas sosial, pandangan ini sering dijadikan legitimasi oleh laki-laki untuk tindakan superioritasnya, termasuk kekerasan terhadap kaum perempuan, baik dalam wilayah sosial, politik, ekonomi, ritual, maupun domestik. Mafhûm al-Mukhâlafah-nya adalah bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah dan tak berdaya. Selanjutnya stereotipe subordinatif dan marginal segera dengan mudah ditimpakan kepada perempuan. Misalnya, secara kodrati perempuan dikatakan memiliki tugas di rumah, mengurus dan menjaga suami dan anak-anak, oleh sebab itu ia tidak berhak untuk menjadi pemimpin, terlebih memimpin kaum laki-laki. Ia juga harus tunduk pada kekuasaan laki-laki. Pada gilirannya, keyakinan ini juga akan melahirkan kekerasan dan penyiksaan terhadap perempuan, baik secara fisik maupun mental.352

Adat yang berlaku dalam masyarakat Mesir di mana novel ini diangkat juga demikian. Masyarakat Mesir yang mayoritas penduduknya muslim seringkali menggunakan teks-teks agama sebagai alat untuk melegitimasi segala tindakan mereka, khususnya dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan kepemimpinan laki-laki dan kesetaraan jender. Meski sejak tahun 1980-an para perempuan Mesir telah menikmati dampak perubahan dalam berbagai sistem di Mesir, di mana pendidikan, perubahan ekonomi dan komunikasi modern telah memberi harapan baru terutama bagi mereka yang hidup di wilayah terpencil, namun pada saat yang bersamaan, konservatisme dan fundamentalisme keagamaan bersaing untuk mendapatkan perhatian dan pengaruh pada masyarakat. Mereka menolak perubahan dan

352 Lihat: Hussein Muhammad,

menyerukan untuk kembali kepada nilai-nilai dan pandangan hidup tradisional. Kaum konservatif maupun fundamentalis menekankan ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki secara sosial maupun hukum, “kodrat perempuan dan peran mengatur rumah tangga (domesticity) sebagai pemberian Tuhan.”353

Kehormatan keluarga di Mesir bergantung pada moral anggota keluarga perempuannya. Dari sinilah kemudian muncul pembedaan berdasarkan jenis kelamin, kontrol oleh suami atau ayah, dan pementahan semangat perempuan untuk pergi dan bekerja. Pertumpahan darah terhadap seorang anak perempuan untuk membersihkan kehormatan keluarga merupakan relitas sosial yang masih terjadi di Mesir dan negara-negara Timur Tengah yang lain.354 Dengan kata lain, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, seorang anak perempuan dapat dibunuh oleh salah satu anggota keluarga laki-lakinya apabila mereka menganggapnya telah melakukan “perbuatan yang tidak terhormat.” Dan kasus-kasus pembunuhan seperti itu seringkali terjadi tanpa ada peringatan dan ancaman hukuman apa pun dari pemerintah setempat.355

Dalam tradisi masyarakat Mesir, agar perempuan bisa menjaga kehormatannya, dia harus dikontrol oleh anggota keluarganya yang laki-laki. Perempuan juga harus mengontrol dirinya sendiri dan secara terus menerus menyadari kesan umum terhadap dirinya. Harga diri yang paling mahal bagi perempuan yang belum menikah adalah menikah secara baik-baik. Banyak yang masih percaya bahwa perempuan itu seperti anak-anak dan sifat dasar mereka terlalu emosional untuk dicampurkan secara bebas dengan laki-laki.356 Bentuk kontrol yang

353 Lihat: Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 27.

354 Sebagai contoh, lihat beberapa contoh yang diberikan oleh Nawal al-Saadawi dalam

bukunya The Hidden Face…, 1981, atau terj. Zulhilmiyasri, Perempuan dalam…, 2001. Sebuah artikel berjudul “In Cold Blood,” dalam The Guardian Weekly, 16 November 1997, menunjukkan suatu jumlah yang mengerikan tentang meningkatnya jumlah pembunuhan pemurnian (honor killing) di Yordania. (Lihat catatan kaki no. 24 pada Nelly Van Doorn Harder, Perempuan di Mesir…, hal. 270).

355 Lihat: Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 33-34.

356 Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 34. Lihat pula: Wiebke Walther,

Women in Islam from Medieval to Modern Times, (Princeton: Markus Wiener Publishers), 1995, hal. 239.

terakhir adalah praktik pemotongan klitoris karena dipercaya untuk mengendalikan nafsu perempuan. Kebiasaan menyunat perempuan ini masih dipraktikkan secara luas di berbagai lapisan masyarakat Mesir. Hal ini masih saja terjadi sekalipun dilarang oleh pemerintah dan sekalipun para dokter menolak untuk melaksanakan operasi penyunatan tersebut. Alasan yang diberikan atas berlangsungnya praktik ini beragam: untuk memotong sifat-sifat maskulin dalam diri perempuan, untuk membuat perempuan lebih cantik, untuk menjamin si perempuan mendapatkan suami yang baik, atau demi kebahagiaannya.357

Bagi masyarakat Mesir yang plural, di mana terdapat percampuran tradisi, budaya dan agama, laki-laki Kristen merupakan kepala keluarga, dan seperti halnya laki-laki Muslim, mereka lebih suka pasangan (istri) mereka tinggal di rumah dan hanya mengizinkan mereka bekerja di luar rumah apabila dianggap perlu untuk menambah pendapatan keluarga. Para pemimpin agama juga selalu laki-laki karena para pemimpin Kristen laki-laki dianggap lebih memahami masalah keagamaan dari pada perempuan. Baik ummat Muslim maupun Kristen mempercayai bahwa seorang perempuan dalam masa reproduksinya sebagai sebuah sumber kekotoran dan godaan. Mereka tidak pernah diizinkan memasuki altar gereja, karena takut akan mengotorinya. Ketika menstruasi seorang perempuan lebih diharapkan untuk tidak pergi ke gereja.358 Berkenaan dengan tulisan seorang Muslim konservatif, “Perempuan yang berada di luar rumah, jauh dari laki-lakinya adalah fitnah yang merupakan sumber anarki sosial.”359 Seorang pemimpin Kristen Mesir menulis, “Seorang perempuan adalah perempuan dan sebagai daya tarik dan sumber godaan yang serius dari suaranya, wajahnya dan bentuk tubuhnya, dan tentu saja dari setiap gerakan dan perilakunya.”360

357 Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 34.

358 Lihat: Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 35-36.

359 Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 36, mengutip dari Stowasser,

Women’s Issues, hal. 17.

360 Nelly Van Doorn Harder,

Perempuan di Mesir…, hal. 36, mengutip dari Matta al-Meskin,

Women, Their Roles and Obligations in Social and Religious Life in the Early Church, Monastery of St. Macarius, 1984, hal. 37.

Dalam novel IINS, beberapa kali dijelaskan tentang aturan agama dan adat yang membuat perempuan (yang direpresentasikan oleh Firdaus) ada pada posisi subordinat. Kebiasaan ayah memukul ibunya dan tak pernah memberi kesempatan ibu untuk melawan atau bicara, karena dalam novel dikisahkan betapa ibu sangat tunduk dan patuh kepada ayah. Begitu juga dengan kisah pemukulan Firdaus oleh Syekh Mahmoud yang menurut paman merupakan suatu hal yang dilegitimasi oleh agama, eksploitasi dan pelecehan-pelecehan yang dialami Firdaus dan sebagainya merupakan wujud dari proses subordinasi perempuan. Namun yang seharusnya menjadi pertanyaan bagi kita di sini, benarkah agama merupakan penyebab perempuan tersubordinasi? Bukankah agama selalu mengajarkan prinsip-prinsip keadilan? Dan bukankah dalam beberapa teks agama juga dikatakan bahwa perempuan itu setara dengan laki-laki?

Sampai pada dataran ini, kita mungkin dihadapkan dengan suatu kebingungan. Namun sebagaimana telah disampaikan di awal, bahwa ketika memahami sebuah teks agama, interpretasi yang dilakukan mestinya tidak hanya dilakukan secara tekstual, namun perlu juga dilakukan pendekatan kontekstual, untuk melihat dan mengkaji ajaran-ajaran tersebut sebagai jawaban atas tuntutan kebutuhan masyarakat akibat adanya perkembangan sosial, ekonomi, budaya dan teknologi dari zaman ke zaman. Pendekatan tekstual dan kontekstual berusaha untuk menitikberatkan pengamatan dan dinamika masyarakat yang diakibatkan oleh adanya interaksi antara teks dan konteks itu.361 Selain itu, perlunya mengkaitkan makna dan interpretasi sebuah teks agama (ayat/sabda Rasul) dengan konteks sosio-historisnya adalah agar dapat menangkap makna simbolik yang terdapat di dalamnya untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah aturan hukum dan tuntunan moral yang berlaku universal. Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa formulasi syari’ah sangat banyak bergantung pada faktor manusia. Pertama, bagaimana sebuah isu menurut hukum disimpulkan dari al-Qur`an

361 Nursyahbani Katjasungkana,

Pandangan Islam tentang Posisi Laki-laki dan Perempuan dalam Keluarga, salah satu artikel dalam Dadang S. Ansori (et.al)., Membincangkan Femnisme, (Bandung: Pustaka Hidayah), 1997, Cet. Ke 1, hal. 215.

dan Hadits. Kedua, konteks ayat al-Qur`an semacam apa yang melatarbelakanginya dan hadits yang dijadikan sandaran. Ketiga, apakah derajat otentitas hadits tersebut shahîh, lemah atau palsu. Penerimaan atau penolakan atas satu hadits juga bergantung pada orang yang bersangkutan. Keempat, andaikata pun hadits itu otentik, masih ada soal dalam cara bagaimana pemahaman para sahabat yang merawikannya. Semua aspek tersebut melibatkan faktor manusia, dengan segala kekurangan dan kecenderungannya untuk berbuat khilaf. Oleh sebab itu, penekanan pelaksanaan suatu ayat/sabda rasul berdasarkan teksnya saja tanpa memperhatikan konteks sosialnya sama artinya dengan mengabaikan makna serta cita-cita sosial dan moral yang dikandung dalam ayat/sabda Rasul tersebut. Karena syari’ah didasarkan pada al-Qur`an dan Sunnah, maka banyak ketentuan di dalamnya yang bersifat kontekstual, sehingga perlu ditinjau kembali bersama terjadinya perubahan pada konteks.362 Jika teks al-Qur`an yang menganjurkan seorang suami untuk memukul istrinya dipahami begitu saja secara tekstual, jelas itu tidak benar. Karena ini sama saja dengan melegalkan suami berbuat semena-mena terhadap istri. Padahal dalam teks lain Rasulullah melarang seorang suami memukul dan melakukan penganiayaan terhadap istrinya, bahkan beliau menyatakan bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang terbaik bagi keluarganya.

Dari uraian tersebut, maka dapat kita seimpulkan bahwa faktor dasar subordinasi perempuan adalah adat yang telah berjalan turun temurun. Adat mempengaruhi pola pikir warganya tentang kaum perempuan. Adat juga dapat mempengaruhi tafsir agama sehingga masyarakat kadang-kadang berbuat kesalahan dalam memahami ajaran agamanya. Agama (Islam) pada dasarnya tidak mengenal subordinasi perempuan. Agama “dikalahkan” oleh adat karena umur agama jauh lebih muda dari pada adat.363

362 Lihat: Nursyahbani Katjasungkana,

Pandangan Islam tentang…, hal. 218, mengutip pendapat Asghar Ali Engineer, Ulumul Qur`an3, 1994.

363 Sugihastuti dan Suharto,

2.3.Kekerasan Terhadap Firdaus Sebagai Perempuan: di Rumah dan di Luar