• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Kritik Sastra Feminis

1.3. Latar dan Prasangka Jender

Latar dan cara penggambaran latar juga dapat menjadi media timbulnya prasangka jender. Penggambaran latar dalam novel IINS, terutama pada penggambaran latar tempat dan alat, hanya sedikit yang mengandung prasangka jender. Prasangka jender lebih banyak digambarkan dalam latar sosial, dan tidak digambarkan sama sekali pada latar waktu.

Prasangka jender dapat dilihat pada penggambaran latar alat ketika Firdaus bertemu dengan Sharifa. Sharifa menggunakan eye-shadow berwarna hijau dengan sebuah selendang berwarna hijau yang melingkar di pundaknya. Sharifa datang menghampiri Firdaus ketika ia sedang beristirahat di tepi sungai Nil. Firdaus yang hampir terlelap dengan seketika terjaga saat tiba-tiba ia mendengar suara Sharifa yang lembut.324

Penggunaan eye-shadow yang senada dengan selendang yang dipakai menggambarkan kebiasaan yang melekat pada perempuan. Meskipun kadang-kadang eye-shadow dan selendang ini dipakai juga oleh laki-laki, tetapi kedua alat ini lebih pantas jika digunakan oleh perempuan, karena keberadaannya menunjukkan keanggunan. Di sinilah terletak prasangka jender. Artinya, ketika laki-laki memakai eye-shadow untuk suatu kepentingan, seperti saat melakoni suatu peran tertentu, atau ketika ia memakai selendang di lehernya, maka penampilannya tidak seanggun penampilan seorang perempuan yang memakai kedua benda ini.

324 Nawal el-Saadawi,

Prasangka jender juga terlihat pada penggambaran latar tempat, yaitu perbandingan antara rumah Bayoumi dengan apartemen Sharifa.325

Bayoumi adalah seorang laki-laki yang tidak terlalu berkecukupan, karena ia hanya bekerja di sebuah kedai kopi miliknya. Rumahnya tidak terawat, dan tidak seindah apartemen Sharifa. Rumah Bayoumi hanyalah sebuah flat dengan dua kamar yang berada di sebuah gang sempit. Udara di rumahnya tidak bersih dan berbau tidak sedap, karena flat itu tepat berada di atas pasar ikan.

Sementara rumah Sharifa sangat berbeda dengan rumah Bayoumi. Sharifa adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai germo untuk pelacur kelas atas. Rumahnya bukanlah sebuah flat seperti Bayoumi. Rumah Sharifa adalah sebuah apartemen mewah yang sangat nyaman dan bersih. Lantainya berkarpet, memiliki serambi yang luas dengan pemandangan ke bawah ke arah Sungai Nil. Harum semerbak bunga mawar tercium dari lingkungan di sekitarnya. Udaranya sangat bersih dan sejuk. Belum lagi perabotan yang dimilikinya sangat bagus, tempat tidur dengan sprei berbahan sutera, kamar mandi yang nyaman dan memadai, serta pakaian-pakaian sutera yang lembut dan harum.

Gambaran di atas secara jelas menyatakan bahwa ada perbedaan karakter antara laki-laki dengan perempuan. Rumah Sharifa yang indah dan terawat menggambarkan bahwa perempuan senang akan keindahan. Boleh jadi rumah itu tidak dibersihkan dan dirawat sendiri oleh Sharifa, atau juga bunga-bunga mawar di sekitarnya, belum tentu ditanam dan dirawat langsung oleh dirinya, karena Sharifa adalah seorang germo yang kaya, ia bisa saja mempekerjakan orang untuk merawatnya. Sedangkan Bayoumi tidak demikian. Rumahnya tidak terurus dan tidak seindah rumah Sharifa. Bahkan, tidak ada pekarangan dan bunga-bungaan di rumahnya. Yang ada hanyalah bau tidak sedap yang tercium dari pasar ikan di bawah flatnya. Ini menggambarkan bahwa sebagai laki-laki, Bayoumi tidak menyukai keindahan. Apalagi ia hanya bekerja di kedai kopi, tidak mungkin mempekerjakan

325 Lihat: Nawal el-Saadawi,

orang untuk merawat rumahnya. Hal ini berkaitan dengan konsep stereotipe perempuan sebagai makhluk yang cantik dan yang tentu saja mengaktualisasikan dirinya dengan keindahan, 326 sedangkan laki-laki yang bersifat perkasa merasa tidak

perlu mengaktualisasikan diri dengan keindahan itu.327

Pada latar sosial, prasangka jender kita temukan dalam hampir setiap alur cerita novel. Prasangka jender tampak pada kebiasaan ibu Firdaus melayani ayahnya dan mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan pada kebiasaan Firdaus melakukan semua pekerjaan di rumah paman, di rumah Syekh Mahmoud dan di rumah Bayoumi. Kebiasaan ini menggambarkan bahwa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lebih pantas dilakukan oleh perempuan, sementara laki-laki hanya pantas dilayani. Oleh sebab itulah ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah terlalu tinggi karena pada akhirnya ia hanya akan mengurus rumah tangga. Perempuan juga harus segera dinikahkan jika ia telah remaja, karena terlalu banyak resikonya jika terus-terusan tak bersuami, sebab dunia sudah penuh dengan bergajul.328 Anggapan ini belum tentu benar adanya, karena harus disesuaikan dengan kondisi si anak. Firdaus yang memiliki prestasi luar biasa di sekolah jelas lebih tepat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, agar masa depannya lebih baik, dan pada gilirannya dapat membawa kesejahteraan tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi orang banyak, sebagaimana cita-cita Firdaus yang sangat tinggi: ingin menjadi pemimpin, bahkan seorang kepala negara. Adapun kekhawatiran terhadap bergajulnya dunia, tidaklah dapat dijadikan alasan yang tepat, karena semua tergantung dengan latar belakang pendidikan agama dalam keluarga serta kasih sayang dan perhatian dari orang-orang sekitar.

Ada salah satu ungkapan Firdaus yang menyinggung hak istri dalam wilayah domestik.329 Ungkapan ini sesuai dengan salah satu ungkapan Jawa yang sangat

326 Sugihastuti dan Suharto,

Kritik Sastra Feminis……, hal. 266, mengutip dari Mansour Fakih, Analisis Gender…, hal. 8.

327 Sugihastuti dan Suharto,

Kritik Sastra Feminis……, hal. 266.

328 Lihat: Nawal el-Saadawi,

Imra'ah 'Inda ..., hal. 42.

329 Lihat: Nawal el-Saadawi,

merendahkan perempuan (kaum ibu) tidak lebih dari sekedar barang: nek awan dadi theklek, nek bengi dadi lemek (kalau siang menjadi alas kaki, kalau malam menjadi alas tidur sang laki-laki). Mesir memang bukanlah Jawa, tetapi budaya patriarki yang telah mengakar di dalamnya juga memiliki keyakinan seperti itu. Di siang hari, perempuan ditugasi untuk mengurusi kebutuhan-kebutuhan suami dan anak, sedangkan pada malam hari perempuan dijadikan sebagai pemuas kebutuhan seksual suami, dan suami sendiri tidak merasa bertanggung jawab kepada istri.330

Dakam novel juga disebutkan bahwa ajaran agama melegalkan seorang suami memukul istrinya, seolah-olah derajat perempuan lebih rendah dan lebih hina dari pada derajat laki-laki. Jika benar demikian, maka ini merupakan diskriminasi jender, karena adanya perlakuan yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan. Padahal agama selalu menerapkan keadilan bagi ummatnya, dan Islam mengakui persamaan antara laki-laki dan perempuan, yang membedakan di antara keduanya hanyalah ketaqwaan, bukan seks dan jender. Penafsiran teks agama tidak dapat dilakukan hanya secara tekstual, tetapi harus melihat dan mengkajinya lebih jauh secara kontekstual, agar tidak terjadi kesalahan interpretasi dan pemahaman di kemudian hari.331

Selain dalam bentuk kekerasan yang dilakukan oleh suami kepada istrinya di E6, ketidakadilan jender dapat pula dilihat melalui pelecehan-pelecehan seksual yang dialami Firdaus sepanjang hidupnya. Ketika ia masih duduk di sekolah dasar oleh pamannya, oleh Bayoumi dan teman-temannya, oleh para tamu yang minta dilayani olehnya, oleh petugas kepolisian saat ia melarikan diri dari rumah Syekh Mahmoud, oleh laki-laki bermobil mewah, yang meski ia teramat santun terhadap Firdaus dan menolongnya saat Firdaus terlunta-lunta di jalan di tengah hujan, bahkan memberi Firdaus uang sebesar sepuluh pon, namun ia juga meniduri Firdaus. Pada EFirdaus dilecehkan oleh Di’aa, di seringkali para atasan memandang rendah karyawan seperti

330 Lihat: Sugihastuti dan Suharto,

Kritik Sastra Feminis……, hal. 268.

331 Lihat kembali pembahasan tentang KDRT dan relevansinya dengan ajaran agama

Firdaus dengan menggodanya dan mengajaknya kencan, terdapat kisah pelecehan Firdaus oleh Ibrahim, oleh kepala negara (tokoh penting) dan oleh Marzouk.

Ketidakadilan jender yang muncul pada episode-episode tersebut sebagai akibat dari pemberian ciri terhadap laki-laki dan perempuan yang tidak netral dan sarat dengan kepentingan. Kaum perempuan diposisikan sebagai warga nomor dua yang dalam hubungan suami-istri dianggap sebagai pelayan laki-laki332 dan di dalam masyarakat dihantui oleh ancaman perkosaan dan kekerasan lainnya apabila ia berpakaian minim atau bepergian sendiri.333 Perempuan dalam rumah tangga juga dianggap sebagai barang yang dimiliki oleh suami, sehingga suami berhak untuk bertindak sewenang-wenang terhadap istrinya.334

Dari uraian mengenai prasangka jender yang terdapat dalam latar di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa meski novel IINS berisi tentang semangat perjuangan emansipasi perempuan, tetapi di dalamnya, tanpa sengaja terkandung prasangka jender. Terutama yang terdapat dalam latar tempat dan alat. Hal ini merupakan akibat dari konstruksi budaya tentang perempuan yang telah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang, berabad-abad lamanya dan sulit dihindarkan oleh narator yang cenderung berpikiran feminis sekalipun.

Di sisi lain, latar sosial juga mengandung prasangka jender. Tetapi itu sengaja ditampilkan, untuk memperkuat gagasan emansipasi perempuan; bahwa prasangka jender yang berkembang di masyarakat itu menjadi target sasaran bagi para tokoh profeminis untuk dihapuskan.335

332 Sugihastuti dan Suharto,

Kritik Sastra Feminis……, hal. 269, mengutip dari Budi Wahyuni, Terpuruk Ketimpangan…, hal. 2-3.

333 Sugihastuti dan Suharto,

Kritik Sastra Feminis……, hal. 269, mengutip dari Budi Wahyuni, Terpuruk Ketimpangan…, hal. 56.

334 Sugihastuti dan Suharto,

Kritik Sastra Feminis……, hal. 269, mengutip dari Budi Wahyuni, Terpuruk Ketimpangan…, hal. 9-10.

335 Lihat: Sugihastuti dan Suharto,