• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Pendidikan Orang Dewasa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “pendidikan” diartikan dengan “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.15 Kemudian term “orang dewasa” diartikan dengan “manusia yang bukan kanak-kanak atau remaja lagi”,16 maksudnya manusia yang berada pada fase setelah remaja. Dalam konteks ini, pendidikan orang dewasa yang dimaksudkan adalah proses yang di dalamnya terdapat interaksi pembelajaran antara pendidik dan peserta didik yang berusia dewasa, baik dalam lingkup pendidikan formal maupun nonformal.

Menurut Mustofa Kamil, definisi pendidikan orang dewasa merujuk pada kondisi peserta didik orang dewasa baik dilihat dari dimensi fisik (biologis), hukum, sosial, dan psikologis. Istilah dewasa didasarkan atas kelengkapan kondisi fisik juga usia, dan kejiwaan, di samping itu pula orang dewasa dapat berperan sesuai dengan tuntutan tugas dari status yang dimilikinya.17

Elias dan Sharan B. Merriam menyebutkan kedewasaan pada diri seseorang meliputi age, psychological maturity, dan sosial roles. Adapun yang dimaksud dewasa menurut usia adalah setiap orang yang menginjak usia 21 tahun (meskipun belum menikah). Sejalan dengan pandangan tersebut diungkapkan pula oleh Hurlock (1968), adult (dewasa) atau adulthood (status dalam keadaan kedewasaan) ditujukan pada usia 21 tahun untuk awal masa dewasa dan sering dihitung sejak 7 atau 8 tahun setelah seseorang mencapai kematangan seksual, atau sejak masa pubertas. Dewasa dapat dilihat dari sudut pandang biologis juga bisa dilihat dari segi fisik, di mana manusia dewasa memiliki karakteristik khas, seperti mampu memilih pasangan hidup, siap berumah tangga, dan melakukan reproduksi.18

Ditinjau dari dimensi psikologis, dewasa dapat dilihat dan dibedakan dalam tiga kategori, yaitu: dewasa awal (early adults) dari usia 16 sampai dengan 20 tahun, dewasa tengah (middle adults) dari 20 sampai 40 tahun, dan dewasa akhir (late

adults) dari 40 hingga 60 tahun.19 Hutchim (1970) dan Rogers (1973) dalam Saraka,20

(golden age). Pada interval usia tersebut, dewasa lebih ditunjukkan pada aspek kematangan seorang individu.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dinyatakan bahwa usia dewasa dalam konteks kajian ini adalah orang yang telah memasuki usia 16 tahun (dewasa awal) hingga usia 60 tahun (dewasa akhir), sebagaimana tinjauan ahli dari aspek psikologis. Dengan demikian, yang dikatakan “pendidikan orang dewasa” adalah suatu proses belajar yang di dalamnya terdapat interaksi pembelajaran antara pendidik dan peserta didik yang berusia dewasa (16-60 tahun), baik dalam lingkup pendidikan formal maupun nonformal dengan tujuan untuk mencapai perubahan pada pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan.

Dalam menerapkan pembelajaran berbasis pendidikan orang dewasa, perlu memperhatikan prinsip-prinsip utama sebagai berikut. Pertama, orang dewasa memiliki konsep diri. Orang dewasa memiliki persepsi bahwa dirinya mampu membuat suatu keputusan, dapat menghadapi risiko sebagai akibat keputusan yang diambil, dan dapat mengatur kehidupannya secara mandiri. Harga diri amat penting bagi orang dewasa, dan ia memerlukan pengakuan orang lain terhadap harga dirinya. Kegiatan belajarnya akan berkembang ke arah belajar antisipatif (berorientasi ke masa depan) dan belajar secara partisipatif (bersama orang lain) dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya. Kedua, orang dewasa memiliki akumulasi pengalaman. Setiap orang dewasa mempunyai pengalaman yang merupakan sederet suasana yang dialaminya pada masa lalu dan dapat digunakan untuk merespons situasi saat ini. Pengalaman biasa dapat dijadikan sumber yang kaya untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. Orang dewasa mempelajari sesuatu yang baru cenderung dimaknai dengan menggunakan pengalaman lama. Sejalan dengan itu, peserta didik orang dewasa perlu dilibatkan sebagai sumber pembelajaran. Pengenalan dan penerapan konsep-konsep baru akan lebih mudah apabila berangkat dari pengalaman yang dimiliki orang dewasa.

Ketiga, orang dewasa memiliki kesiapan belajar. Kesiapan belajar orang dewasa

akan seirama dengan peran yang ia tampilkan, baik dalam masyarakat maupun dalam tugas/pekerjaan. Implikasinya, urutan program pembelajaran perlu disusun berdasarkan urutan tugas yang diperankan orang dewasa, bukan berdasarkan urutan logis mata pelajaran. Penyesuaian materi dan kegiatan belajar perlu direlevansikan dengan kebutuhan belajar dan tugas/pekerjaan peserta didik orang dewasa. Keempat, orang dewasa menginginkan dapat segera memanfaatkan hasil belajarnya. Orang dewasa berpartisipasi dalam pembelajaran, karena ia sedang merespons materi dan proses pembelajaran yang berhubungan dengan peran dalam kehidupannya. Karena itu, pembelajaran perlu mengarah pada peningkatan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kebutuhannya. Implikasi praktisnya, pembelajaran perlu berorientasi pada pemecahan masalah yang relevan dengan peranan orang dewasa dalam kehidupannya. Belajar yang berorientasi penguasaan keterampilan (skills) menjadi motivasi kuat dalam pembelajaran orang dewasa.

Kelima, orang dewasa memiliki kemampuan belajar. Kemampuan dasar untuk

belajar tetap dimiliki setiap orang sepanjang hayatnya, khususnya orang dewasa. Penurunan kemampuan belajar pada usia tua bukan terletak pada intensitas dan kapasitas intelektualnya, melainkan pada kecepatan belajarnya. Implikasi praktisnya,

pendidik perlu mendorong orang dewasa sebagai peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan cara belajar yang diinginkan, dipilih, dan ditetapkan oleh orang dewasa. Keenam, orang dewasa dapat belajar efektif apabila melibatkan aktivitas mental dan fisik. Orang dewasa dapat menentukan apa yang akan dipelajari, di mana, dan bagaimana cara mempelajarinya, serta kapan melakukan kegiatan belajar. Orang dewasa belajar dengan melibatkan pikiran dan perbuatan. Implikasi praktisnya, orang dewasa akan belajar secara efektif dengan melibatkan fungsi otak kiri dan otak kanan, menggunakan kemampuan intelek dan emosi, serta dengan memanfaatkan berbagai media, metode, teknik, dan pengalaman belajar.21

Selain itu, Sudarwan Danim memaparkan bahwa prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa meliputi empat hal. Pertama, orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi pengajaran mereka. Kedua,pengalaman, termasuk kesalahan yang mereka rasakan, menjadi dasar untuk kegiatan belajar. Ketiga, orang dewasa paling tertarik untuk mempelajari mata pelajaran yang memiliki relevansi langsung dengan pekerjaan atau kehidupan pribadinya. Keempat, belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada masalah daripada berorientasi pada isi.22

Suprijanto menegaskan pula bahwa cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak-anak. Karena itu, proses pembelajarannya harus memerhatikan ciri-ciri belajar orang dewasa: memungkinkan timbulnya pertukaran pendapat, tuntutan, dan nilai-nilai; memungkinkan terjadinya komunikasi timbal balik; suasana belajar yang diharapkan adalah suasana yang menyenangkan dan menantang; mengutamakan peran peserta didik; orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati; belajar orang dewasa bersifat unik; perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik; orang dewasa umumnya mempunyai pendapat yang berbeda; orang dewasa mempunyai kecerdasan yang beragam; kemungkinan terjadinya berbagai cara belajar; orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya; orientasi belajar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata; dan motivasi berasal dari dirinya sendiri.23

Pernyataan di atas hampir sama dengan pendapat Lunandi yang mendeskripsikan keadaan belajar orang dewasa berdasarkan sudut pandang psikologis: belajar adalah suatu pengalaman yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri; orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya; belajar bagi orang dewasa kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan; belajar bagi orang dewasa adalah hasil mengalami sesuatu; proses belajar bagi orang dewasa adalah khas; sumber bahan belajar terkaya bagi orang dewasa berada pada diri orang itu sendiri; belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus; dan belajar adalah hasil kerjasama antara manusia.24

Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri belajar orang dewasa adalah sebagai berikut: motivasi belajar berasal dari dirinya sendiri; orang dewasa memiliki kesiapan belajar; orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya; orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati; perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik; orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi pengajaran mereka; mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang; orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya; orientasi belajar orang dewasa terpusat

64

pada kehidupan nyata; sumber bahan belajar bagi orang dewasa berada pada diri orang itu sendiri; mengutamakan peran orang dewasa sebagai peserta didik; belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus; belajar bagi orang dewasa adalah hasil mengalami sesuatu; belajar adalah hasil kerja sama antara manusia; terjadi komunikasi timbal balik dan pertukaran pendapat antara pendidik dan peserta didik; belajar bagi orang dewasa bersifat unik; orang dewasa umumnya mempunyai pendapat, kecerdasan, dan cara belajar yang berbeda; pembelajaran bagi orang dewasa lebih berpusat pada masalah daripada berorientasi pada isi; belajar bagi orang dewasa kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan;25 dan belajar adalah proses evolusi.

Berbagai prinsip yang telah dikemukakan di atas, selanjutnya dijadikan pedoman dan acuan untuk menganalisis ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi Saw. yang memberikan landasan dasar dan kontribusi terhadap konsep pendidikan orang dewasa.