Pandangan ontologis mengenai kejadian manusia di alam nyata ini, menurut Islam adalah bersumber pada Allah sebagai pencipta. Realitas yang ditangkap oleh pengetahuan manusia sangat terbatas, maka proses mengenal dan mengetahui melalui belajar tidak bisa terlepas dari masalah aksiologi. Seluruh aspek dari proses kehidupan manusia senantiasa bergerak dalam sistem nilai. Nilai dalam proses dimaksud mengandung prinsip yang tetap, karena bersifat mengarahkan dan menuntun, bukan nilai yang berubah-ubah (relativitas values) yang cenderung menyesuaikan diri dengan keadaan dan bersifat kondisional. Islam meletakkan sistem nilai absolut (bersifat tetap dan normatif) yang digariskan oleh Allah dalam Alquran dan Hadis sebagai sumber.17 Keduanya dijadikan kriteria baik buruknya usaha dan tingkah laku, termasuk dalam proses belajar-mengajar. Belajar-mengajar harus berproses dalam sistem nilai yang standardnya telah ditetapkan Allah (tercermin dalam firman-Nya, Q.S. al-Mujâdilah/58:11. Selanjutnya, Islam memandang bahwa pendidikan dalam artinya yang luas bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat.18 Proses pemindahan nilai itu di antaranya melalui “pengajaran” dan “latihan”. Pengajaran berarti pemindahan pengetahuan dari orang yang sudah memiliki kepada yang belum memiliki. Dalam arti yang luas, tidak hanya berlangsung di lembaga pendidikan formal, tetapi juga di berbagai tempat secara informal atau non formal. Latihan sebagai proses pemindahan nilai bermakna membiasakan diri untuk memperoleh kemahiran dalam suatu pekerjaan atau profesi.
Dalam rumusan tujuan pendidikan Islam jelas diinginkan adanya perubahan pada tingkah laku individu, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat, maupun kehidupan dalam alam dan lingkungan sekitarnya, yang diperoleh melalui proses pendidikan serta pengajaran.19Justru itu, proses pendidikan dan pengajaran
merupakan rangkaian usaha membimbing dan mengarahkan potensi manusia (berupa kemampuan dasar dan kemampuan belajar), sehingga terjadi perubahan dalam kehidupannya. Proses itu berlangsung berlandaskan nilai Islami yang melahirkan norma syariah dan akhlak mulia. Islam berprinsip bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah yang harus dipelajari, dikelola, ditata manusia melalui kemampuan berpikir dan kemampuan psikis yang lain. Dengan pendidikan manusia dilatih agar dapat mengembangkan kemampuan pengelolaan dan penataan alam semaksimal mungkin, untuk dapat dimanfaatkan demi kepentingan hidupnya (lihat Q.S. Yûnus/ I0: 101; Q.S. al-‘Ankabût/29: 20; Q.S. al-Sajdah/32: 4; dan Q.S. al-Ghâsyiah/88: 17-20). Untuk itu, Allah memberikan kemampuan belajar dalam diri manusia, terutama melalui akal dan kecerdasan, terpadu bersama kemampuan mengamati dengan indera, ingatan, kemauan/kehendak, nafsu dan perasaan. Kemampuan-kemampuan ini bekerja secara mekanis sesuai dengan hukum-hukum Allah yang ditetapkan-Nya. Dalam hal ini, Najati menjelaskan bahwa dalam belajar manusia memperoleh ilmu pengetahuan dari dua sumber, yakni sumber Ilahiah (vertikal) dan sumber manusiawi/alami (horizontal). Kedua jenis ilmu pengetahuan itu saling melengkapi dan pada dasarnya berasal dari Allah yang menciptakan manusia berikut membekalinya dengan berbagai alat serta sarana untuk memahami dan memperoleh ilmu pengetahuan.20
Panca indera manusia merupakan alat kelengkapan yang dapat membuka tabir rahasia alam sebagai sumber pengetahuan dalam menemukan hakikat kebenaran (perintah penggunaan panca indera sebagian tertera dalam Q.S. al-Isrâ’/I7: 36 dan Q.S. al-Fâthir/35: 28. Kemampuan belajar manusia pertama-tama berkembang dari pengamatan panca indera, kemudian diolah oleh kemampuan berpikir dan ingatan serta dorongan kemauannya, sehingga menjadi pola-pola pengetahuan yang kemudian terbentuk menjadi ilmu pengetahuan. Islam lebih cenderung untuk menegaskan bahwa perpaduan antara kemampuan psikis dan kenyataan materi sebagai realita merupakan sumber dari proses “mengetahui” manusia, yang keduanya merupakan “kebenaran” menurut ukuran manusiawi, bukan menurut ukuran Ilahi. Kebenaran hakiki hanyalah Allah, yang menciptakan segala kenyataan alami dan manusia, dengan diberi mekanisme hukum-hukumnya sendiri. Mekanisme itu dapat diubah hanya dengan kehendak-Nya. Dalam hal ini, Ibn Khaldûn menjelaskan, bahwa yang dicapai seseorang (idrak) pada dasarnya merupakan penginderaan melalui alat dria yang lima. Mula-mula dengan menggambarkan obyek terpadu di dalam hayalan, sehingga menjadi gambaran yang sesuai dengan keseluruhan obyek inderawi itu. Kemudian, akan membandingkan antara obyek-obyek terpadu itu dengan obyek lain yang sama dengannya dalam beberapa hal, dan pada gilirannya terbentuklah gambaran yang sesuai dengannya.21
Islam tidak menafikan (menghilangkan) arti benda nyata sebagai sesuatu yang bersifat imajinatif, melainkan dipandang sebagai kebenaran instrumental untuk mencapai pengetahuan yang lebih tinggi mutunya secara kualitatif dan normatif. Eksistensi alam menurut Islam berubah (tidak abadi, tidak langgeng). Dalam memperoleh pengetahuan, manusia menggunakan akal dan panca indera serta petunjuk Allah. Manusia bukan sebagai benda alam yang sepenuhnya tergantung pada hukum alam. Kemampuannya menyerap pengetahuan tidak sekadar sebagai proses rangsangan dan tanggapan saja, tetapi diperoleh melalui potensi psikis yang
memiliki dimensi akal, rasa serta panca indera dengan kemampuan memahami berikut memformulasi alam sekitamya dalam pengetahuan intelektif dan intuitif. Islam mengenal adanya “fitrah”, yaitu kemampuan dasar beragama yang benar (tauhid) yang dalam perkembangannya pada seseorang banyak dipengaruhi oleh langkah-langkah pendidikan.22 Namun, bukan berarti Islam beraliran Idealisme atau Realisme (dalam pendidikan), sebab di dalam kemampuan dasar yang disebut fitrah tersebut, benih-benih religiusitas manusia tetap berkembang (tidak lenyap karena pengaruh pendidikan yang non religius), meskipun manusia menjadi non Muslim sekali pun. Hanya saja, ia harus diarahkan, dikondisikan kepada lingkungan dan ukuran yang baik, tidak pada kausalitas, melainkan kepada ketentuan/ketetapan Allah yang absolut. Justru itu, menurut ‘Azim pendidikan Islam ditujukan untuk membentuk manusia yang kreatif berikut mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta faktor yang berkaitan dengan itu. Dalam hal ini, diutamakan pendidikan akhlak serta pengetahuan tentang kehidupan dan alam semesta, dalam arti potensi yang dimiliki harus seimbang dengan pembinaan intelek dan afeksinya.23
Penelitian terhadap manusia seperti tersirat dalam perintah Allah (Q.S. al-Nahl/: 16:4;Q.S. al-Sajdah/32: 7-9; dan Q.S. al-Insân/76: 2), adalah dimaksudkan agar manusia mengerti tentang Allah sebagai hakikat kebenaran, sebagai pencipta dirinya dan alam semesta, berdasarkan keyakinan bahwa “siapa yang mengenal dirinya sendiri dengan baik dia akan mengenal Tuhannya” (penjelasan Hadis). Pada gilirannya ia dituntut untuk menjalin hubungan yang baik dengan-Nya melalui berbagai ibadah dan amal saleh, yang hal ini merupakan tujuan pokok dalam belajar. Belajar juga didasarkan atas korespondensi yang menitikberatkan penyesuaian diri dengan obyek lain dan lingkungan. Penegasan ini terlihat dalam pendapat Iqbal yang menyatakan bahwa pengembangan individu hendaknya berlangsung melalui pengadaan dan pengukuhan kontak langsung dalam setiap kemungkinan dengan lingkungannya.24 Hal ini mengandung pengertian bahwa pengembangan pribadi dimaksud merupakan hasil interaksi dengan lingkungan, dan dengan jalan demikian ia dapat meningkatkan kemampuan dirinya di dalam lingkungannya tersebut. Kedudukannya dalam lingkungan dimaksud juga merupakan hasil kontak dengan lingkungannya. Kontak dengan lingkungan itulah yang memberikan stimulasi besar kepada individu. Dengan jalan itu pula ia mempertajam inteleknya, membina peradabannya. Pada gilirannya akan terbuka berbagai kemungkinan yang luas untuk mencapai keberhasilan dalam kedudukannya di tengah-tengah lingkungan di mana pun ia berada. Pelajaran yang diberikan tetap dimulai dari hal-hal yang sederhana menuju yang lebih kompleks, hal-hal yang nyata menuju yang abstrak, hal-hal yang parsial menuju yang general. Hal ini didasarkan pada pandangan Ibn Khaldûn, bahwa proses belajar akan terjadi secara bertahap. Justru itu, metode belajar harus berjalan sesuai dengan tahapan kerja akal manusia. Akal mulai dengan mengerti tentang masalah-masalah yang paling sederhana dan mudah, baru meningkat mengerti masalah-masalah yang agak kompleks, kemudian lebih kompleks, dan demikian seterusnya.25
Atas dasar hal tersebut di atas, jelas bahwa metode pengajaran dalam konsep pendidikan Islam dapat diformulasikan dalam 3 (tiga) tahap berikut. Pertama, mengajarkan pengetahuan yang bersifat umum dan sederhana, khusus berkenaan
dengan pokok bahasan yang dipelajari. Kedua, menyajikan kembali dalam taraf yang lebih tinggi dengan memetik intisarinya. Ketiga, mengajarkan secara lebih terperinci dalam konteks yang menyeluruh, memperdalam aspek-aspeknya dan mempertajam pembahasan.
Penutup
Pada dasarnya perbedaan pandangan Islam dengan Esensialisme tentang belajar, adalah disebabkan perbedaan dalam menetapkan nilai yang dijadikan landasan belajar itu sendiri. Islam menetapkan nilai yang absolut (bersifat tetap dan normatif) yang bersumber pada ketetapan Allah dalam Alquran dan Hadis, sedangkan Esensialisme menetapkan nilai pada ajaran filosof dan ilmuwan, yang kesemuanya bersifat relatif. Perbedaan pandangan ontologis menyebabkan pula berbedanya pandangan dalam hal obyek belajar. Karena bagi Islam kebenaran hakiki hanya Allah, maka alam semesta adalah berupa ciptaan-Nya yang harus dipelajari dan dikelola serta ditata oleh manusia melalui kemampuan berpikir dan kemampuan psikis yang lain. Manusia dipandang sebagai makhluk yang terbentuk dari kenyataan rohaniah dan jasmaniah yang hidup atas dasar perpaduan pola hubungan dari kekuatan rohaniah dan jasmaniah yang berkeseimbangan, serasi serta berarah tujuan. Sedangkan bagi Idealisme, jiwa adalah merupakan sumber sebab timbulnya realita yang diamati oleh panca indera, dan realita senantiasa sesuai dengan alam ide (alam psikis). Karena bagi Realisme hakikat kebenaran berada pada kenyataan, maka segala yang diamati oleh panca indera yang sesuai dengan kenyataan dalam semua benda adalah suatu kebenaran. Adanya persamaan pandangan Islam dan Esensialisme (terutama dalam teori belajar) merupakan bukti penting yang mendukung kebenaran konsep pendidikan Islam (khususnya dalam hal belajar). Sekaligus semakin mempertebal kepercayaan bahwa konsep pendidikan Islam didirikan di atas fundamen, prinsip yang semakin diakui kebenarannya.[]
Catatan Akhir:
1Edward L. Walker, Conditioning and Instrumental Learning (Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1983), h. 1.
2H.C. Witherington, Educational Psychology (Boston: Ginn and Company, tt), h.79.
3Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan (Sistem dan Metode) (Yogyakarta: Andi Offset, 2002), h.38.
4Mohammad Noor Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 2004), h. 260.
5H.B. Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan (Yogyakarta: Kota Kembang, 1997), h. 116-117.
6Theodore Brameld, Philosophies of Education in Cultural Perspective (New York: The Dryden Press, 1988), h. 206.
7J. Donald Butler, Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion (New York: Harper and Brothers, 1991), h. 161.
8Mohammad, Filsafat Pendidikan, h. 281-282.
9Theodore, Philosophies of Education, h. 241.
10Imam, Filsafat Pendidikan, h. 54.
11Selengkapnya lihat Samuel Smith, Gagasan-gagasan Besar Tokoh-tokoh dalam
BidangPendidikan, terj. Bumi Aksara (t.t.p.: Bumi Aksara, 1996), h. 30-33.
12Theodore, Philosophies of Education, h. 244.
13Imam, Filsafat Pendidikan, h. 55.
I4SamueI, Gagasan-gagasan Besar, h. 160.
15J. Donald, Four Philosophies and Their Practice, h. 330.
16Samuel, Gagasan-gagasan Besar, h. 216.
17M.Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bina Aksara, 2001), h. 83.
18Lihat Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2003), h. 3.
19Mumammad al-Toumy al-Syaibani, al-Falsafah al-Tarbiyah al-Islâmiyyah (Tripoli: al-Syirkah al-‘Ammah li al-Nasyr wa al-Tauzi‘ wa al-I‘lan, 1985), h. 282.
20M. ‘Utsman Najati, Al-Qurân dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi’ Usmani (Bandung: Pustaka, 2000), h. 169.
21Fatiyah Hasan Sulaiman, Pandangan Ibnu Khaldun tentang Ilmu dan Pendidikan, terj. Herry Noer AH, (Bandung : Diponegoro, 1997), h. 60.
22Muhammad Fadil al-Jamali, Tarbiyah al-Insân al-Jadid (Tunisia: Matba’ah al-Ittihad al-’Am al-Syugli, 1987), h. 39-40.
23‘Ali ‘Abd al-‘Azim, Falsafah al-Ma‘rifah fi al-Qur’an al-Karim (Kairo: Hai’ah al-‘Ammah al-Matabi’ al-Amiriyyah, 1988), h. 74.
24K.G. Saiyidain, Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, terj. M.I. Soelaeman (Bandung: Diponegoro, 1996), h. 62.