• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Tasawuf Ibn ‘Arabi terhadap Dunia Pendidikan

Konsep ajaran tasawuf Ibn ‘Arabi ini menginspirasi banyak kaum sufi Muslim dan orientalis Barat. Banyak di antara mereka yang mengkaji ajaran tasawufnya. Konsep yang ditawarkannya jelas berdampak positif terhadap berbagai aspek pendidikan.

Dalam aspek tujuan pendidikan, konsep Ibn ‘Arabi ini memiliki tujuan yang lebih mulia yakni menciptakan al-insân al-kâmil (manusia sempurna) yang menge-jewantahkan kebesaran Tuhan dan rahasia alam semesta. Juga untuk menwujudkan hamba yang berakhlak Ketuhanan dan berilmu yang dalam. Tidak seperti sekarang ini, pendidikan hanya berorientasi materi dan kerja. Manusia dipicu untuk menjadi mesin-mesin produksi yang pikirannya tidak lepas dari materi.

Dalam aspek metode, dapat dilihat metode yang ditawarkan Ibn ‘Arabi berbeda dengan yang ditawarkan berbagai tokoh pendidikan. Ia menawarkan metode

riyâdhah, tawajjuh dan mujâhadah untuk mengenal diri dan berguru kepada Allah

Swt. Sementara metode pendidikan sekarang hanya berbasis metode logika dan metode ilmiah deduktif dan induktif. Metode ini hanya dapat menjangkau alam yang empiris. Dengan demikian, metode yang ditawarkannya dapat mengungkap dan mengeksploitasi alam metafisika maupun fisika dan mengkaji rahasia-rahasia yang masih tersembunyi dari kebanyakan manusia.

Orientasi dari pendidikan Ibn ‘Arabi adalah pendidikan spiritual yang menjadi objeknya adalah hati manusia yang tidak terbatas sebagai tempat jatuh pandangnya Allah Swt. Hal ini dapat melejitkan potensi manusia yang tidak terbatas dan membuka rahasia-rahasia alam yang kasat mata. Artinya, konsep pendidikan ini sangat baik diterapkan di mana pendidikan era modern masih di seputar dataran konsep dan teoritis dan berorientasi materi. Anak didik hanya dididik sebatas mengetahui, namun tidak mampu berbuat.

Penutup

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah Swt. menciptakan makhluk untuk mengejawantahkan Keagungan, Keindahan, dan Kesempurnaan-Nya. Alam semesta beserta segala isinya adalah pengejewantahan dari hal tersebut. Untuk mengenal kebesaran-Nya, Allah Swt. pun menciptakan manusia yang menjadi naskah dari nama-nama dan sifat-Nya beserta alam dengan segala isinya. Dengan menitipkan segala rahasia tersebut pada manusia, Allah Swt. berkeinginan dari manusia untuk membuka rahasia-rahasia tersebut beserta segala potensi yang ada yang sudah dititipkan di dalam diri-Nya agar ia dapat menjadi al-insân al-kâmil menghamba kepada Allah Swt. dan sekaligus menjadi khalifah-Nya. Sebab itu, Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk mengenal diri-Nya yang dengan itu ia dapat mengenal kedua naskah tersebut dan menjadi al-insân al-kâmil. Inilah penjelasan sederhana dari pendidikan yang ditawarkan oleh Ibn ‘Arabi.[]

Catatan Akhir:

1Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujûd, terj. Tri Wibowo Santoso (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), h. 43.

2Jaudah Muhammad Abû al-Yazîd al-Mahdî, Bihâr al-Wilâyah al-Muhammadiyah

fi Manâqib A‘lâm al-Shufiyah (Kairo: Dâr al-Garib, 1998), h. 461.

3Muhyiddîn Ibn al-‘Arabi, Rûh al-Quds (Kairo: ‘Alam al-Fikri, 1989), h. 9.

4Al-Mahdî, Bihâr al-Wilâyah, h. 462.

5Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujûd, h. 40.

6Ibid., h. 45.

7Ibid., h. 47.

8Ibid., h. 51.

9Ibid., h. 68.

10‘Abd al-Hafiz al-Farghalî ‘Alî al-Qarnî, Al-Burhân fi al-Manâqib Sayikh al-Akbar (Beirut: Silsilat A‘lam al-‘Arab , t.t), h.20.

11Ibn al-‘Arabi, al-Futûhat al-Makkiyah, Jilid I (Beirut : Dâr Ihyâ’ al-Turats al-‘Arabi , 1998), h. 207.

12Al-Mahdi, Bihâr al-Wilâyah, h. 463.

13Lihat mengenai mujtahid muthlaq, Muhammad Abû Zahrah, Târîkh al-Mazâhib

al-Islâmiyah (Kairo: Dâr al-Fikri al-‘Arabi, 1997), h. 330.

14Ibn al-‘Arabi, Al-Futûhat al-Makkiyah, III, h. 331.

15Ibn al-‘Arabi, Rûh al-Quds, h. 10.

16Herteinsten, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujûd, h. 118.

17Ibn al-‘Arabi, Al-Futûhat al-Makkiyah, IV, h. 77.

18Herteinsten, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujûd, h.114.

19Ibid., h.149.

20Ibid., h. 269.

21Ibn al-‘Arabi, al-Futûhat al-Makkiyah, I, h. 18.

22Ibid.

23Perkataan Yahya bin Mu‘âz dan bukan hadis.

24Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî dan Muslim dalam sahihnya dan Ahmad di dalam musnadnya.

25Ibn al-‘Arabi, al-Futûhat al-Makkiyah, h. 69-70.

26Ibid.

27Ibn al-’Arabi, Kitâb at-Tarâjim (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 33.

28Hadits ini adalah hadits dha‘îf jiddan diriwayatkan oleh al-‘Askari dari ‘Alî bin Abî Thâlib namun ia memiliki makna yang sahih.

29Ibn al-‘Arabi, al-Futûhat al-Makkiyah, h. 357.

30Ibn al-‘Arabi, al-Tanazzulat al-Lailiyah fi Ahkam al-Ilâhiyah (Kairo: ‘Alam al-Fikr, t.t.), h. 20.

31Ahmad ‘Izzuddîn al-Bayanunî, al-Qalb (Kairo: Dâr al-Salam, 1986), h.12-13.

32Ibid, h. 84.

33Haritsah bin Nu’man al-Anshari adalah sahabat Nabi yang termasuk ke dalam golongan Ahli Shuffah dan ahli Badar.

34Ibn al-‘Arabi, Kitâb al-Jalâl (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 8.

35Al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn (Kairo: Maktabah Dâr Ihyâ’ al-Kutub al-‘Arabiyah, t.t.), h. 8. Hadis ini diriwayatkan oleh Abû Hurairah di dalam kitab Musnad Ahmad bin

Hanbal.

36Hadist ini lemah dan tidak termaktub di dalam kitab-kitab sahih. Lihat al-Hakîm al-Tarmizî, Asrâr al-Mujâhadah al-Nafs (Kairo: Maktabah al-Salam al-’Alamiyah, t.t.), h. 123.

37Ibn al-‘Arabi, Kitab Naqsy Fushûsh al-Hikam (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 5.

38Ibn al-‘Arabi, Kitab al-Ujâlah (Gauryah: Maktabah Alam al-Fikri, 1986), h. 14.

39Ibid.

40Ibid, h.15

41Ibn al-‘Arabi , al-Hikam al-Hatimiyah (Gauriyah: Maktabah ‘Alam al-Fikri, 1986), h.18.

42Ibn al-‘Arabi, Kitâb al-’Ujâlah, h. 45.

43Ibid, h.18. 44Ibid. 45Ibid. 46Ibid, h.15. 47Ibid, h.16. 48Ibid. 49Ibid.

50Ibn al-‘Arabi, al-Hikam al-Hatimiyah, h. 7.

51Ibid, h.8

52Ibid.

53Ibid.

54Ibid, h. 9.

55Ibn al-‘Arabi, Hilyatul Abdâl (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 3.

56Ibid.

57Ibid, h. 4.

58Ibid, h. 5.

59Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî dalam sahihnya begitu juga Ibn Majah, al-Nasâ’i, Abû Dâwûd dan al-Tarmizî dalam kitab sunan mereka. lihat Musthafa al-Buga dan Muhy al-Dîn Mistu, al-Wafi (Damaskus: Dâr Ibn Katsîr, 1994), h. 320.

60Ibn al-‘Arabi, al-Hikam al-Hatimiyah, h. 3.

61Ibn al-‘Arabi, Hilyat al-Abdal, h. 34.

62Ibn al-‘Arabi, Risalâh al-Anwâr (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 2.

63Ibn al-‘Arabi, Kitâb al-Syahid (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 5.

64Ibn al-‘Arabi, Risâlah al-Anwâr, h. 3.

65Ibid.

66Ibid, h. 4.

67Ibid, h. 4-6.

68Ibn al-’Arabi, Kitâb al-Washâya (Beirut: Dâr Shadir, 1997), h. 3.

69Ibn al-’Arabi , Kitâb al-‘Ujalah , h.19.

70Ibid. 71Ibid. 72Ibid., h. 21. 73Ibid. 74Ibid., h. 23 75Ibid. 76Ibid. 77Ibid., h. 24.

PEMIKIRAN IMAM AL-NAWAWÎ