• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan sebagai Upaya Memahami Tujuan Penciptaan

Pendidikan ada seiring dengan sejarah adanya manusia. Karena pada dasarnya pendidikan adalah upaya alami mempertahankan kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan. Secara alamiah sejak pertama manusia yang berstatus orangtua akan mendidik anaknya agar bertahan hidup sehingga kehidupannya dan keturunannya terus berlangsung. Nabi Adam sebagai manusia pertama mendidik Qabil dan Habil untuk bercocok tanam dan berternak. Demikian juga dengan manusia-manusia berikutnya, baik manusia-manusia yang berkumpul dalam komunitas masyarakat primitif hingga modern.

Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi-potensi (intelektual, rasa, karsa, karya dan religi) dalam dirinya untuk bisa tumbuh dan berkembang baik fisik maupun non fisik sangat membutuhkan pendidikan agar potensi-potensi tersebut dapat terealisasi. Pendidikan pada intinya untuk membantu manusia menjadi ‘dewasa’ dan matang secara pribadi sehingga mereka betul-tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul secara individu yang secara akumulatif akan membentuk formasi kehidupan sosial bermasyarakat yang unggul pula berbasis pada tata susila secara baik.

Al-Syaibany menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam yang utama adalah membentuk pribadi seorang Muslim untuk menjadi hamba yang taat, tunduk dan patuh Kepada Allah. Selain itu. Tujuan pendidikan Islam juga berorientasi kepada perwujuan suatu sikap yang selalu menghadirkan Allah sebagai Tuhan yang selalu mengawasi setiap makhluknya. Karenanya, jika ini terwujud, akan terlahirlah bibit-bibit manusia yang bertakwa dan beriman dan selalu berada di jalan yang benar dengan kehidupan bahagia dunia dan akhirat.

Dalam konteks pendidikan Islam tujuan yang hendak dicapai haruslah berorientasi pada hakikat manusia. Orientasi dari tujuan pendidikan Islam, sebagaimana dikemu-kakan oleh Muhaimin dan Abdul Mujib meliputi beberapa aspek. Pertama, tujuan dan tugas hidup manusia baik secara vertikal kepada Tuhan maupun secara horizontal kepada sesama makhluk. Manusia diciptakan dengan membawa tujuan dan tugas hidup tertentu. Tujuan hidup manusia hanya untuk Allah. Tugasnya berupa ibadah dan sebagai wakil tuhan sebatas kemampuan dan kemampuan yang dimilikinya.

Kedua, memperhatikan sifat-sifat dasar manusia. Bahwa manusia diciptakan

sebagai khalifah Allah serta untuk beribadah kepada-Nya. Penciptaan itu dibekali dengan berbagai macam potensi atau fitrah, yang berkecenderungan pada kebenaran dari Tuhan sebatas kemampuan dan kapasitas ukuran yang ada.Ketiga,mengkondisikan dengan tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan. Tuntutan ini baik berupa pelestarian nilai-nilai budaya yang telah melembaga dalam kehidupan suatu masayarakat, maupun pemenuhan terhadap tuntutan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan zaman. Keempat, dimensi-dimensi kehidupan idealitas Islam. Kehidupan ideal Islam adalah keseimbangan dan keserasian antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Keseimbangan antara kedua kepentingan ini menjadi dayatangkal terhadap pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan yangmengganggu ketentraman dan ketenangan hidup manusia.19

Konsepsi di atas secara global mengisyaratkan bahwa ada dua hal yang harus direalisasikan dalam praktik pendidikan Islam, yaitu dimensi dialektika horizontal dan dimensi ketundukkan vertikal. Pada dimensi dialektika horizontal pendidikan Islam hendaknya mampu mengembangkan realitas kehidupan baik yang menyangkut dengan diri manusia, masyarakat, maupun alam semesta beserta segala isinya. Sementara dimensi ketundukkan vertikal mengisyaratkan bahwa pendidikan Islam selain sebagai alat untuk memelihara, memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam juga hendaknya menjadi jembatan untuk memahami fenomena dan misteri kehidupan dalam upaya mencapai hubungan yang abadi dengan Tuhan. Zakiyah Daradjat mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam secara keseluruhan adalah membentuk kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi manusia sempurna (al-insân al-kâmil) dengan pola takwa. Al-insân al-kâmil artinya manusia utuh ruhani danjasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah Swt..20 Sedangkan Hasan Langgulung dalam mem-berikan arah tujuan pendidikan Islam menyunting sebuah ayat AlquranQ.S. al-Tin: 4 yang darinya ia menyimpulkan bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Karenanya tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan manusia yang beriman serta beramal saleh. Selanjutnya, ia menjelaskan, bahwa iman adalah sesuatu yang hadir dalam kesadaran manusia dan menjadi motivasi bagi segala perilaku manusia. Amal adalah perbuatan, perilaku, pekerjaan, penghidmatan, serta segala hal yang menunjukkan aktivitas manusia. Sedangkan saleh adalah baik, relevan, bermanfaat, meningkatkan mutu, berguna, pragmatis dan pratis.21

Para pakar pendidikan Islam dalam konfrensi pendidikan Islam pada tahun 1977 telah merumuskan tujuan pendidikan Islam. Pertama, menumbuhkan dan mengembangkan ketakwaan kepada Allah Swt., sebagaimana firman Allah Swt. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan

sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.

(Q.S. Âli ‘Imrân/3: 102). Kedua, menumbuhkan sikap dan jiwa yang selalu beribadah kepada Allah Swt., sebagaimana firman-Nya: Tidaklah aku menciptakan

jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Q.S. al-Zariyât/51: 56). Ketiga, membina dan memupuk akhlâq al-karîmah, sebagaimana sabda Nabi

Muhammad Saw: “Bahwasannya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak

yang baik.” (H.R. al-Bukhârî). Keempat, menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa

yang selalu amar ma’ruf nahi munkar, sebagaimana firman Allah Swt. “Ingatlah

ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. (Q.S. al-Baqarah/2: 30). Kelima, menumbuhkan kesadaran

ilmiah, melalui kegiatan penelitian, baik terhadap kehidupan manusia, alam maupun kehidupan makhluk Allah semesta, sebagaimana disebut dalam firman Allah Swt. Q.S. Âli ‘Imrân/3: 190-191.22

Dengan demikian pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) niali-nilai Islam, juga mengembangkan anak didik agar mampu mengamalkan ilmu-ilmu itu secara dinamis dan fleksibel. Hal ini berarti pendidikan Islam secara optimal harus bisa mendidik anak didik agar memiliki “kecerdasan atau kematangan” dalam beriman, bertakwa, dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan zaman.

Uraian ini memberi gambaran umum tentang tujuan pendidikan Islam. Bahwa tujuan pendidikan Islam adalah tujuan hidup itu sendiri, maka tidaklah salah apabila dikatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan, dan kehidupan adalah pendidikan. Berdasarkan hal itu, dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam itu sendiri yang membawa misi bagi kesejahteraan alam semesta seisinya, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep khalifah yang agung yang mempunyai pengetahuan untuk memahami diri sendiri, sifat Tuhan dan watak alam semesta dan konsep ‘abd Allâh yang sadar bahwa semua tindakan dan perilaku dirinya adalah dalam rangka pengabdian dan ibadah kepada Allah. Inilah yang menjadi tujuan asasi dari pendidikan Islam.

Dapat disimpulkan bahwa secara umum tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai tujuan hidup Muslim. Pertama, menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah Swt. sehingga manusia mengenal siapa Tuhannya dan mau mengimaninya. Kedua, agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya, sehingga manusia dapat menjadi pengabdi kepada Allah. Ketiga, untuk mengembangkan potensi-potensi manusia, baik jasmaniah maupun ruhaniah, emosional maupun intelektual, serta keterampilan agar manusia mampu mengatasi problema hidup secara mandiri serta sadar dapat hidup menjadi manusia-manusia yang berpikir bebas, sehingga dapat bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan masyarakat serta mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah Swt. serta mampu memainkan perannya sebagai