• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Bahasa Arab

Dari beberapa bahasa dunia yang terhitung tua yaitu bahasa Sanskerta, Yunani, Romawi dan Latin, dan di antara keempat ini yang sejak dahulu hingga kini masih tetap konsisten dan aktif digunakan adalah bahasa Arab. Dari empat bahasa yang terhitung tua yaitu bahasa Sanskerta, Yunani, Romawi dan Latin hingga saat ini hanya bahasa Arab yang masih tetap langgeng digunakan dalam percakapan keseharian, sementara bahasa lainnya hampir punah dari penggunaannya. Bahasa Arab seiring dengan perkembangan zaman dan peradaban terus terjaga eksistensinya, luas tersiar dan tersebar di hampir belahan dunia. Realita inilah yang menjadi salah satu penyebab keunggulan bahasa Arab dari bahasa lainnya. Karena itu pada tahun 1974, PBB menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa internasional keenam, tercatat sekitar 246 juta orang yang menggunakan bahasa Arab. Selain pengguna bahasa Arab sendiri banyak berasal di Timur Tengah seperti di negara-negara Kuwait, Arab Saudi, Irak, dan Mesir, bahasa ini pun digunakan oleh non Arab, terutama umat Islam karena keterkaitannya dengan kitab suci Alquran.

Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tashrif (konjungsi), yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang demikian itu tidak terdapat dalam bahasa lain. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang Arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing ada sekitar 100 kata, maka tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa Arab dalam hal kekayaan perbendaharaan kata. Dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaikan dan Alquran diturunkan. Bahasa Arab terpilih sebagai bahasa Alquran.Setelah mengalami prosesperjalanan dan melalui tahapan sejarah formatif yang panjang, di mana Allah Swt. telah menyatakan dalam Alquran bahwa bahasa yang dipergunakan dalam pewahyuan adalah bahasa Arab (bi lisânin ‘Arabiyyin mubîn [dengan bahasa Arab yang jelas]). Kefasihan bahasa Quraisy ini terutama ditunjang oleh tempat tinggal mereka yang secara geografis berjauhan dengan negara-negara bangsa non Arab dari segala penjuru. Di bawah dari kefasihan Quraisy, ada bahasa kabilah Tsaqif, Hudzail, Khuzâ’ah, Bani Kinânah, Ghatafân, Bani Asad dan Bani Tamîm, menyusul kemudian kabilah Rabi’ah, Lakhm Judzâm, Ghassân dan Iyâdh. Qadhâ’ah dan Aram Yaman yang bertetangga dekat dengan Persia, Romawi dan Habasyah.

Dari sekian banyak ragam bahasa yang digunakan pada saat itu, bahasa yang terpilih sebagai bahasa resmi Alquran adalah bahasa Quraisy. Sementara keberadaan suku Quraisy sangat strategis, hal ini dikarenakan Makkah yang sebagian besar masyarakatnya bersuku Quraisy adalah merupakan lalu lintas perdagangan

bangsa Arab dan pusat perekonomian masa itu. Secara otomatis banyak mengundang suku-suku lain berdatangan ke daerah ini, lambat laun banyak orang yang mengenal dan mengerti bahasa ini untuk komunikasi antar mereka. Tanpa disadari bahasa Quraisy telah tersebar luas di seluruh Jazirah Arab sejak masa pra Islam, sehingga mereka menjadikan bahasa Quraisy sebagai lingua franca (bahasa bersama) bagi masyarakat yang multi etnik di tengah-tengah bangsa Arab.

Dalam sejarah Islam tercatat bahwa proses kodifikasi Alquran di masa ‘Utsmân ra. yang telah menetapkan penulisannya dengan bahasa Arab standar. Tujuan dari penetapan ini tergambar dalam suatu riwayat Imam Bukhârî tentang kodifikasi wahyu masa ‘Utsmân yang menyebutkan bahwa Alquran ditulis dengan bahasa Arab Quraisy yang merupakan bahasa bersama di kalangan suku-suku di Jazirah Arab. Tampilnya bahasa Quraisy, sebagai bahasa utama tidak terlepas dari keberadaan suku tersebut yang lebih dominan dalam kancah perdagangan dan posisi strategisnya yang ditempati Ka’bah, di mana Ka’bah menjadi pusat kegiatan ritual kepercayaan mereka menjelang datangnya Islam.

Rasulullah dilahirkan di kalangansuku Quraisy bahkan dari kalangan terpandang yaitu Bani Hasyim dan tentunya bahasa keseharian beliau adalah bahasa Arab Quraisy. Walaupun pada dasarnya beliau menguasai dialek-dialek lain karena dibesarkan di tengah-tengah Bani Sa‘ad yang oleh masyarakat Arab dikenal sebagai suku yang paling fasih dalam berbahasa.

Di antara faktor pendukung yang menjadikan bahasa Arab unggul dari bahasa serumpun lainnya, menurut Emîl Badî’ Ya‘qûb. Pertama, bahwa di Jazirah Arab selain dialek-dialek lokal, juga ditemui sebuah bahasa bersama (lingua franca) lintas kabilah yang digunakan dalam karya-karya para sastrawan yaitu bahasa Quraisy, dan juga digunakan di pasar-pasar dan perayaan-perayaan mereka. Kedua, ketika Islam datang Alquran diturunkan dalam bahasa bersama itu agar dimengerti oleh seluruh kabilah. Ketiga, di dalam bahasa Alquran ternyata didapati tidak hanya dialek Quraisy melainkan juga dialek kabilah-kabilah lain seperti Hudzail, Tamim,

Himyar, Jurhum, Midzhaj, Khats’am, Qais, Aylan, Balharits bin Ka’b, Kibdah, Lakhm, Judzam, al-Aus, dan al-Khazraj Thayyi’. Bahkan, ada yang mengatakan di dalam

Alquran ditemukan lebih kurang limapuluh dialek. Keempat, dialek Quraisy adalah yang paling dominan di dalam Alquran berdasarkan kesepakatan para linguis, dan sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa jika terdapat perbedaan pendapat mengenai wahyu (ayat Alquran) yang hendak ditulis maka hendaknya ditulis dengan dialek Quraisy karena, menurut Rasul, Alquran diturunkan dengan menggunakan bahasa ini.

Seiring dengan waktu, bahasa Arab Alquran dijadikan bahasa standar bahasa bagi seluruh kabilah di Jazirah Arab yang memiliki tata bahasa yang ideal. Lambat laun muncul asumsi bahasa yang baik adalah bahasa Alquran dan yang berbeda darinya dianggap sebagai kelas dua atau bahkan menyimpang. Pada gilirannya, bahasa kabilah Quraisy menjadi patokan kebakuan dan pembakuan bahasa. Upaya penggiringan untuk hanya menggunakan bahasa Quraisy memunculkan sejumlah masalah. Masyarakat yang berasal dari kabilah selain Quraisy tidak seluruhnya memiliki kesiapan dan kemampuan menggunakan bahasa Alquran secara baik dan benar. Walaupun akhirnya dialek bahasa inilah yang kemudian

dan sekarang digunakan dalam berbagai tulisan berbahasa Arab, pidato-pidato, siaran-siaran dan jurnalisme. Terpilihnya dialek Quraisy menjadi lingua franca antara berbagai kabilah yang memiliki berbagai dialek lokal menurut beberapa pakar bahasa Arab seperti ‘Abd al-Wâfî dan Thaha Husain dan Ibn Faris mempunyai alasan strategis. Pertama, pandangan bahwa di antara berbagai dialek kabilah itu, dialek Quraisy adalah yang paling fasih, dominan dan dipahami oleh berbagai kabilah di seluruh Jazirah Arab pada masa pra Islam. Kedua, dialek Quraisy mengungguli dialek-dialek lain dan menjadi bahasa sastra lintas kabilah. Karena itu tidak meng-herankan jika Alquran diturunkan menggunakan dialek Quraisy, di samping Nabi Muhammad Saw. yang diutus sebagai rasul juga berasal dari kabilah ini. Ketiga, dominasi dialek Quraisy terhadap dialek-dialek lain pra-Islam itu karena tempat tinggal kabilah Quraisy adalah Makkah, menjadi tempat pelaksanaan ibadah haji, kota dagang dan pusat kesatuan politik yang otonom terhadap kekuatan-kekuatan lain.

Dari beberapa tinjauan pakar sejarah bahasa tersebut menunjukkan kuatnya alasan terpilihnya bahasa Quraisy sebagai bahasa agama yang termaktub dalam kitab suci Alquran. Pandangan tersebut juga didasari oleh faktor strategis dalam proses penyeleksiannya yang cukup selektif, sehingga bahasa itu benar-benar dapat mewakili dari keberadaan bahasa yang ada di muka bumi ini.

Hal ini senada juga diungkapkan oleh al-Fauzan ketika menguraikan keter-kaitan Alquran dan bahasa Arab dalam kitabnya Ta‘lîm al-Qur’ân al-Karîm, yang dalam pandangannya bahwa bahasa Arab dan para penggunanya memiliki peranan penting dalam pembentukan bahasa Alquran. Pertama, Allah Swt. selalu menjaga Alquran dan bahasa Arab secara bersamaan (mengutip ayat Q.S. al-Hijr/15: 9).

Kedua, Alquran dipermudah (untuk mempelajarinya) dengan bahasa Arab. Ketiga,

perhatian ulama yang besar terhadap bahasa Arab karena berhubungan dengan agama.

Kefasihan berbahasa itu terus terpelihara hingga meluasnya ekspansi Islam ke luar Jazirah dan masyarakat Arab mulai berinteraksi dengan masyarakat bangsa lain. Dalam proses interaksi dan berbagai transaksi sosial lainnya itu terjadi proses saling memengaruhi antar bahasa. Masyarakat ‘ajam (non-Arab) belajar berbahasa Arab, dan masyarakat Arab mulai mengenal bahasa mereka. Intensitas interaksi tersebut lambat laun mulai berimbas pada penggunaan bahasa Arab yang mulai bercampur dengan beberapa kosakata asing, baik melalui atau tanpa proses arabisasi. Jika kemudian ketika Nabi Muhammad Saw. mendapatkan wahyu dari Allah Swt. dalam bahasa Arab, adalah suatu hal yang sangat wajar melihat latar belakang dan keunggulan bahasa beliau yang telah dipahami oleh suku dan bangsa lainnya. Justru tidak logis kalau Alquran menggunakan bahasa lain yang tidak dipahami masyarakat Arab. Kenyataan bahwa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab hendaknya dijadikan acuan untuk memahami kemukjizatan Alquran sehingga sedikit mungkin dapat menghindar dari kesalahpahaman.

Peran lain dari bahasa Quraisy yang juga tidak bisa dipandang kecil (untuk tidak mengatakan sepele) adalah sebagai bahasa pemersatu dari berbagai ragam dialek yang berkembang saat itu. Sementara dialek bahasa ini terus berkembang seiring meningkatnya intensitas interaksi masyarakat Arab dari berbagai kabilah.

Perkembangan yang signifikan dari dialek bahasa Arab ini terhadap masyarakat di sekelilingnya, sehingga terjadi pergeseran persepsi masyarakat mengenai kedudukan bahasa Arab dari bahasa lokal yang ada. Jika sebelumnya bahasa Arab Alquran dianggap setara dengan bahasa lokal lainnya, akan tetapi setelah bahasa Quraisy diberikan penghargaan sebagai bahasa agama. Sejak saat itu, tampak antusiasme yang besar dari masyarakat untuk mendalami dan mengkaji bahasa ini.

Diakui oleh bangsa Arab bahwa diantara beberapa dialek Arab yang ada sejak masa Rasul sampai saat sekarang ini, dialek (lahjah) Quraisy lah yang terpilih karena kekayaan dan keindahan yang terdapat di dalamnya.