Pada prinsipnya, tafsir memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam kajian pendidikan Islam karena semua ayat-ayat Alquran mengandung nilai-nilai pendidikan sekalipun ayat tersebut bercerita tentang sejarah, makhluk-makhluk yang lain dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan dan sekaligus mengembangkan nilai-nilai pendidikan yang terdapat di dalam ayat-ayat Alquran maka secara otomatis tafsir mutlak diperlukan.
Meskipun tafsir memiliki kedudukan yang sangat strategis namun pekerjaan tafsir ini sangat luas dan rumit. Untuk mengatasi kerumitan dimaksud maka para ulama menciptakan beberapa metode yang disebut dengan ilmu tafsir atau ‘Ulûm
al-Qur’ân. Metode-metode ini bertujuan untuk memudahkan tafsir dalam menjalankan
tugasnya dan sekaligus untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Urgensi metode-metode ini dikarenakan ayat-ayat Alquran selalu berbicara pada tataran global. Untuk menarik pernyataan Alquran yang global ke dalam konteks lokal maka perlu penafsiran yang akurat. Jika tidak, maka ayat-ayat Alquran akan tetap berada di dalam keglobalannya sehingga sulit menjadikannya sebagai sumber dan inspirasi di dalam kajian pendidikan Islam.
Kajian pendidikan Islam adalah kajian yang dinamis karena bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia yang juga dinamis. Sama halnya dengan tafsir yang bersifat dinamis karena sumber yang hendak ditafsirkan juga bersifat dinamis. Berbeda tempat dan waktu akan berimplikasi kepada perbedaan objek kajian baik dari segi metode, materi pelajaran, sasaran, tujuan maupun yang lain-lain.
Kedudukan tafsir yang sangat strategis dalam kajian pendidikan Islam ini dapat dilihat dari pengertian pendidikan Islam itu sendiri. Menurut Ahmad D.
Marimba bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam untuk menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.27
Pengertian yang dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba di atas menunjukkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang senantiasa mengacu kepada hukum-hukum Islam yang orientasinya adalah untuk membentuk kepribadian. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa hukum-hukum Islam yang dimaksud disini adalah hukum-hukum yang tertera di dalam Alquran.
Jika indikatornya memang demikian maka keberadaan tafsir tidak dapat dilepaskan sama sekali dalam kajian pendidikan Islam. Melalui keberadaan tafsir ini maka kajian pendidikan Islam akan terasa lebih dinamis, terlebih lagi ketika Ahmad D. Marimba menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani yang secara otomatis keduanya sudah disinggung di dalam ayat-ayat Alquran.
Adanya bimbingan jasmani dan ruhani di dalam Alquran dapat dilihat melalui adanya perintah kepada manusia agar mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik (halâlan thayyibâ).28 Makanan yang halal lagi baik sudah pasti memiliki implikasi yang positif kepada jasmani dan ruhani. Sebaliknya, Alquran melarang manusia mengkonsumsi makanan haram karena sudah pasti berimplikasi negatif kepada jasmani dan ruhani.
Sekiranya tafsir dilibatkan dalam kajian pendidikan Islam semenjak dari awal maka banyak sekali ide-ide tentang pendidikan yang dapat diperoleh. Sebagai contoh, kisah para nabi dan rasul di dalam Alquran mulai dari Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad sarat dengan nuansa pendidikan, demikian juga halnya kisah kaum ‘Âd, Tsamûd, Iram, dan Sabâ’.
Kisah-kisah seperti yang diungkapkan oleh Alquran di atas dapat dijadikan sebagai dalil bahwa tafsir memiliki korelasi yang signifikan dengan kajian pendidikan Islam. Kisah-kisah di atas tidak akan menjadi inspirasi dalam kajian pendidikan Islam jika tidak melibatkan tafsir untuk mencari petunjuk darinya. Inilah agaknya yang dimaksudkan oleh al-Nahlawî ketika mendefinisikan pendidikan Islam yaitu pendidikan yang dapat mengantarkan manusia kepada perbuatan dan prilaku yang senantiasa berpedoman kepada syariat Allah.29
Pendapat al-Nahlawî ini menunjukkan bahwa kajian pendidikan Islam hanya bertumpu kepada ayat-ayat Alquran. Sebagai contoh, ayat-ayat Alquran berulang kali membicarakan tentang langit dan bumi dengan segala yang terdapat di antara keduanya. Demikian pula ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang esensi dan eksistensi manusia serta alam sekitar baik tumbuh-tumbuhan, maupun hewan. Dapat dipastikan bahwa informasi ini sebagai isyarat kepada manusia untuk menggali pesan-pesan yang dikandungnya.
Penggalian pesan-pesan inilah yang dilakukan oleh para mufasir dengan tujuan untuk mengeluarkan pesan-pesan dimaksud agar dapat dimanfaatkan oleh manusia. Pemanfaatan ini tentu saja tidak sama karena bentuk kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh sosio kulturalnya. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi
terhadap tafsir-tafsir yang sudah ada untuk melihat tingkat relevansinya dengan dunia pendidikan yang ada sekarang, khususnya tentang tujuan pendidikan Islam. Menurut Imâm al-Syaibanî, bahwa tujuan pendidikan ialah adanya perubahan positif yang ingin dicapai melalui sebuah proses atau upaya-upaya pendidikan, baik perubahan itu terjadi pada aspek tingkah laku, kehidupan pribadi dan masyarakat, dan lingkungan luas di mana pribadi itu hidup.30 Meskipun tujuan yang dikemukakan oleh al-Syaibanî ini menyangkut pendidikan secara umum (bukan pendidikan Islam) namun substansinya tetap sesuai dengan tujuan pendidikan Islam.
Sebagai kitab suci yang memiliki kandungan makna yang sangat luas maka peran tafsir tidak dapat diabaikan sama sekali. Tafsirlah yang berusaha mengeluarkan ide-ide dan inspirasi baru dari ayat-ayat Alquran. Untuk mendapatkan ide-ide dan inspirasi baru ini maka penafsiran harus sesuai dengan kebutuhan zamannya supaya penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran terus berlanjut. Pernyataan yang dikemukakan oleh al-Syabainî di atas dapat memperkuat persepsi ini karena perubahan tingkah laku terhadap suatu pribadi sangat tergantung di mana pribadi tersebut hidup. Jika perubahan positif yang ingin dicapai melalui proses pendidikan maka ide-ide yang sudah didapat dari Alquran melalui tafsir seharusnya dapat dijewantahkan dalam pendidikan Islam. Pola penjewantahan ini pun dapat juga dilihat dari ayat-ayat Alquran karena pendidikan Islam, sebagaimana menurut Abuddin Nata, adalah sebuah sistem yang memiliki sejumlah komponen yang saling berkaitan antara satu dan lainnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Komponen pendidikan tersebut antara lain komponen kurikulum, guru, metode, sarana-prasarana dan evaluasi. Selanjutnya dari sekian komponen tersebut, guru merupakan komponen pendidikan terpenting, terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan.31
Mengingat bahwa peran tafsir yang cukup urgen dalam menggali komponen-komponen pendidikan di atas maka wajar sekali jika tafsir harus dijadikan sebagai skala prioritas dalam setiap kajian pendidikan Islam. Tafsir yang dimaksud disini tidak lagi sebatas menyesuaikan hasil penafsiran yang sudah ada (penafsiran yang dilakukan oleh para ulama terdahulu) akan tetapi masing-masing tenaga pendidik sudah saatnya mampu menafsirkan ayat Alquran paling tidak ayat-ayat Alquran yang secara spesifik berkenaan dengan pendidikan.
Realitas yang selama ini terjadi dalam kajian pendidikan Islam adalah kurangnya percaya diri dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran karena diintervensi oleh suatu perasaan “takut bersalah”. Untuk menyahuti agar ada kemauan menafsirkan ayat-ayat Alquran, maka pembelajaran‘Ulûm al-Qur’ân perlu ditambah dan ditingkatkan supaya mahasiswa tidak lagi digiring hanya dapat membaca tafsir akan tetapi sudah dapat menulis atau membuat tafsir.
Generasi seperti inilah yang diharapkan mampu menggali pesan-pesan pendidikan Islam di dalam Alquran secara langsung dan tidak lagi hanya sekadar menggunakan pendapat-pendapat yang sudah ada. Meminjam istilah yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra, bahwa kaum intelektual Muslim dengan kualifikasi seperti inilah yang diharapkan dapat mewujudkan “kebangkitan Islam” karena mampu mengetegahkan ajaran-ajaran Islam secara sistematis, terpadu dan menyeluruh serta relevan dengan tantangan dunia modern.32
Untuk menyahuti pentingnya kedudukan tafsir dalam kajian pendidikan Islam maka memberikan perhatian lebih kepada aspek-aspek materi pembelajaran yang berhubungan dengan tafsir sudah saatnya dikembangkan. Paling tidak, masing-masing dari materi pembelajaran sudah menyajikan ayat-ayat Alquran yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan.
Penutup
Ayat-ayat Alquran yang selalu berbicara pada tataran global harus dipahami sebagai salah satu upaya Alquran untuk menarik perhatian dan minat agar penafsiran terhadap ayat-ayatnya terus saja berlanjut. Dengan demikian, akan dapat dirasakan bahwa kehadiran tafsir merupakan komponen yang terpenting dalam setiap kajian pendidikan Islam. Oleh karena itu, kajian-kajian yang spesifik dalam dunia pendidikan Islam seperti fikih, konseling, dan psikologi harus merujuk langsung kepada ayat-ayat Alquran. Sebagai contoh, jika sub bahasan mata kuliah psikologi yang berkenaan dengan psikologi anak maka para pengasuh mata kuliah ini harus dapat menunjukkan ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan persoalan yang sedang dibahas dan kemudian dapat memberikan penafsiran secara langsung bukan menafsirkan hasil penafsiran orang lain (tafsîr ‘ala tafsîr).[]
Catatan Akhir:
1Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lil ‘Âlamîn (Jakarta: Gramedia, 2010), h. 59.
2Muhammad ‘Abd al-Rahîm, Mu‘jizât wa ‘Ajâ’ib min al-Qur’ân al-Karîm wa lâ Tanqadhî
‘Ajâ’ibuhu (Beirût: Dâr al-Fikr, 1995), h. 17.
3Ingrid Mattson, Ulumul Quran Zaman Kita: Pengantar untuk Memahami Konteks,
Kisah, dan Sejarah Al-Quran, terj. R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: Zaman, 2013), h. 47.
4Ibn ‘Abbâs, Tanwîr Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs, Juz I, dalam Maktabah al-Syâmilah, http://www. altafsir.com, h. 25.
5Abû al-Layts al-Samarqandî, Bahr al-‘Ulûm, Juz I, dalam al-Maktabah al-Syâmilah, http://www. altafsir.com, h. 154.
6Abû Hasan Mâwardî, Nukat wa ‘Uyûn, Juz I, dalam Maktabah al-Syâmilah, http://www.altafsir.com, h. 127.
7Nâshir Dîn Baydhâwî, Anwâr Tanzîl wa Asrâr Ta’wîl, Juz I, dalam al-Maktabah al-Syâmilah, http://www.altafsir.com, h. 218.
8Abû Su‘ûd, Irsyâd ‘Aql Salîm ila Mazâyâ Kitâb Karîm, Juz I, dalam al-Maktabah al-Syâmilah, http://www.altafsir.com, h. 250.
9Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz II (Jakarta: Panjimas, 2004), h. 116-117.
10M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. I (Jakarta: Lentera Hati, 2004), h. 401.
11Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Juz III (Bayrût: Dâr al-‘Ilmiyah, 2004), h. 533.
12‘Ulûm al-Qur’ân ialah segala pembahasan yang berhubungan dengan Alquran baik mengenai turunnya, susunannya, pengkodifikasiannya, penulisannya, cara membacanya, interpretasinya, kemukjizatannya, nâsikh dan mansûkh, penolakan tentang keraguan terhadapnya maupun yang lain-lain. Lihat Muhammad ‘Abd al-‘Azhîm al-Zarqânî, Manâhil
al-‘Irfân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Jilid I (Bayrut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, 1988), h. 28.
13Mengenai makkiyah dan madaniyah terdapat tiga pendapat: Ayat-ayat yang turun di Makkah disebut makkiyah dan yang turun di Madinah disebut madaniyah; Ayat-ayat yang turun sebelum hijrah disebut dengan makkiyah dan yang turun sesudah hijrah disebut dengan madaniyah; Ayat-ayat yang ditujukan kepada penduduk Makkah disebut dengan makkiyah dan yang ditujukan kepada penduduk Madinah disebut dengan madaniyah. Lihat Badr al-Dîn al-Zarkâsyî, al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Jilid I (Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1988), h. 239.
14Al-Munâsabah ialah kedekatan dan persamaan di antara ayat-ayat Alquran sehingga
menjadikannya memiliki hubungan yang sangat erat dan menjadikan susunannya bagaikan sebuah bangunan yang saling menyokong. Lihat Jalâl al-Dîn al-Suyûthî, al-Itqân fî ‘Ulûm
al-Qur’ân, Jilid II (Beirût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.), h. 235.
15Adapun yang dimaksud dengan metode tafsir al-mawdhû’î ialah mempelajari ayat-ayat Alquran secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama dengan topik yang sedang dibahas. Selengkapnya lihat ‘Abd al-Hayy al-Farmâwî, al-Bidâyah fî Tafsîr al-Mawdhû’î (Kairo: al-Hadhârah al-‘Arabiyah, 1977), h. 62.
16Dikatakan demikian karena makna etimologi dan terminologi dari nasakh itu sendiri. Secara etimologi nasakh diartikan dengan “menghilangkan atau menghapus”. Sedangkan secara terminologi nasakh diartikan dengan “mengangkat/menghapus ketetapan hukum syara’ yang lama dan menggantinya dengan ketetapan hukum syara’ yang baru”. Lihat, Mannâ’ al-Qaththân, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân (t.t.p.: Mansyûrât al-‘Ashr al-Hadîts, 1973), h. 232.
17Al-Râghib al-Ashfahânî, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (Beirût: Dâr al-Ma’rifah, t.t.), h. 384.
18Abû Bakr al-Jazâ’irî, Aysar al-Tafâsîr, Juz I, dalam al-Maktabah al-Syâmilah, http:// www.altafsir.com, h. 284. 19Lihat, Q.S. Ibrâhîm/14: 32-33. 20Lihat, Q.S. al-Nahl/16: 14. 21Lihat, Q.S. Luqmân/31: 20. 22Lihat, Q.S. al-Ghâsyiyah/88: 17-20.
23Syihâb al-Dîn Abû al-‘Abbâs Ahmad bin Idrîs al-Qurâfî, Syarh Tanqîh al-Fushûl fî
Ikhtishâr al-Mahshûl fî al-Ushûl (Bayrût: Dâr al-Fikr, 1973), h. 20-22.
24Kata “tarbiyah” dapat dilihat di dalam Q.S. al-Isrâ’/17: 24, kata “ta‘lîm” dapat dilihat di dalam Q.S. Baqarah/2: 31, kata “nâshih” dapat dilihat di dalam Q.S. al-A‘râf/7: 79, kata “washâyâ” dapat dilihat di dalam Q.S. al-Syûra/42: 13.
25Abû Muhammad al-Husayn bin Mas‘ûd al-Baghawî, Ma‘âlim al-Tanzil, Juz VI, dalam http://www. qurancomplex.com, h. 54.
26Fahkr Dîn Râzî, Mafâtîh Ghayb, Juz XXI (Beirût: Dâr Ihyâ’ Turâts al-‘Arabî, t.t.), h. 176. Al-Thabâthabâ’î, sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab, bahwa makna penggalan ayat di atas adalah “seandainya laut menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah yang kalimat-kalimat itu ditulis dari sisi petunjuk dan kandungannya dengan menggunakan laut sebagai tinta, maka akan habis laut itu sebelum habisnya kalimat-kalimat Tuhan”. Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol. VIII, h. 142.
27Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al Maarif, 1974), h. 23.
28Lihat, Q.S. al-Baqarah/2: 168.
29‘Abd al-Rahmân al-Nahlawî, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, terj. Shihabuddin (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 265.
30‘Umar Muhammad Syaybanî, Falsafah Tarbiyyah Islâmiyah (Tripoli: al-Syarikah al-‘Âmmah li al- Nasyr wa Tawzî’ wa al-I’lân, 1975), h. 282.
31Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam (Jakarta: Grasindo), 2001, h. 132.
32Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 27.