• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

S

ejatinya pendidikan Islam harus berlandaskan kepada Alquran, Hadisdan ijtihad para ulama yang berkompeten. Tidaklah layak dan tidak benar jika pendidikan Islam dilandaskan kepada konsep-konsep sekularisme, materialisme, kapitalisme, dan ateisme yang tidak sejalan dengan ajaran Islam bahkan bertentangan dengannya. Pendidikan Islam tentunya konsep pendidikan hasil rumusan dari apa yang dapat dipahami dari Alquran dan Hadis yang dikenal dengan Ijtihad. Hasil ijtihad ini berupa berbagai teori atau kaedah ataupun konsep dapat diaplikasikan guna mewujudkan tujuan dari pendidikan Islam.

Dikotomi pendidikan dan kemunduran umat Islam menuntut adanya solusi untuk mengambalikan umat ini dari keterpurukan agar dapat kembali menjadi umat yang berperan membentuk keyakinan, pola pikir, akhlak, perbuatan, budaya umat manusia di bumi ini. Karena peran yang terpenting dari umat ini ialah sebagai guru dan teladan bagi umat-umat lain. Peran umat Islam memberikan cahaya dan petunjuk kepada manusia mengeluarkan mereka dari berbagai bentuk kegelapan kepada cahaya Islam, mengeluarkan mereka dari berbagai bentuk ketiranian kepada keadilan Islam dan mengajak manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berpuluh-puluh tahun lamanya setelah terjadinya revolusi Prancis kaum Iluminiti Zionis mengatasnamakan kaum yang menjunjung tinggi logika akal berpaham liberal dan sekular mewarnai dan membentuk pola pikir dunia ini. Berbagai macam temuan dan konsep mereka propagandakan dan terapkan ke seluruh dunia untuk membentuk ideologi umat manusia yang selanjutnya mewarnai segenap perilaku mereka dalam berpolitik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya. Mereka berhasil menyebarkan pahamnya dan mewaranai pola pikir umat manusia seperti paham darwinisme, humanisme, hedonisme, komunisme, sosialisme, dan kapitalisme. Implikasi dari penyebaran paham ini menjauhkan manusia dari Tuhan dan menciptakan manusia yang tidak bermoral serta menyempitkan peran agama dalam kehidupan. Lebih jauh dari itu, muncullah generasi-generasi Islam yang kehilangan identitas dirinya sebagai Muslim memiliki kepribadian ganda dan berpola pikir ganda, sehingga ajaran Islam semakin hari semakin samar dan akhirnya dapat punah hanyut ditelan arus globalisasi. Sudah menjadi tanggung jawab para kaum intelektual

Muslim untuk mencarikan solusi dari problematika ini sehingga dapat mewujudkan kepribadian Muslim yang seutuhnya yang memainkan perannya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah-Nya memakmurkan dunia ini. Semua itu berawal dari pendidikan.

Merujuk kepada khazanah inetelektual Muslim klasik, ditemukan banyak hasil ijtihad para ulama yang dapat diaplikasikan pada masa sekarang dan masih relevan tentunya. Di antara ulama tersebut, akan dilihat seorang tokoh yang kontroversial disebabkan pemikiran-pemikiran dan hasil kontemplasinya yang begitu pelik sukar dijangkau oleh akal kaum awam. Namun bila diteliti dan dicermati dengan baik, tokoh ini kaya dengan ajaran-ajaran yang dapat melejitkan potensi manusia kepada kemajuan karena target dari pendidikan ruhaninya adalah menciptakan al-insân kâmil (manusia sempurna) sebagai khalifah Allah Swt. dengan mengembangkan seluruh potensi yang ada padanya. Tokoh ini ialah Syaikh Muhyiddîn Ibn ‘Arabi al-Kîbrit al-Ahmar (belerang merah).

Riwayat Hidup Ibn ‘Arabi

Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Arabi al-Ta’i al-Hâtimi lahir di Murcia, Spanyol pada masa berkembangnya Andalusia pada hari Senin, 17 Ramadhan 560 H atau menurut kalender Masehi adalah 27 atau 28 juli 1165 M. Seperti orang Andalusia lainnya, ia berasal dari orangtua campuran: nama ayahnya menunjukkan keluarga Arab yang mungkin hijrah ke Andalusia pada awal penaklukkan Arab, sedangkan ibunya berasal dari keluarga Berber.1 Ia dikenal dengan Ibn al-‘Arabi di daerah Maghrib dan Ibn ‘Arabi di daerah Masyriq, untuk membedakan antara beliau dengan al-Qâdhi Abû Bakar bin al-‘Arabi.2 Ia merupakan keturunan orang yang termasyhur dengan kekesatriaan keluhuran budi, serta kejujuran di kalangan bangsa Arab: Hatim dari Bani Tayy suku Arab yang terpandang di Yaman. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang mendalami ilmu agama. Ayahnya ‘Ali bin al-‘Arabi adalah seorang ahli Hadis dan fikih.3 Sedangkan kakeknya adalah seorang qâdhi di Andalusia yang terkenal dengan kewarakan.4

Kondisi kehidupppan tujuh tahun dari awal hidupnya diawali dengan ketegangan dan konflik lokal. Ibn Mardanisy penguasa lokal bersekutu dengan tentara bayaran kristen melawan kekuatan baru yaitu al-Muwahhidûn. Kaum al-Muwahhidûn ini berasal dari sukus-suku Berber di pegunungan Atlas Moroko pengikut dari Ibn Tumar. Gerakan ini berawal pada tahun 1145 M. Sepanjang 20 tahun sebelum kelahiran Ibn ‘Arabi, al-Muwahhidûn membangkitkan dan mengkonsolidasikan kembali persatuan kaum Muslim Andalusia membangun benteng pertahanan untuk melawan ganguan dari orang-orang Kristen di Utara. Mereka menjadikan Seville sebagai ibukota lokal dan membangun stabilitas di seluruh daerah Afrika Utara.5

Al-Muwahhidûn menguasai Andalusia tidak lebih seabad melahirkan perkembangan

kekuatan dan kebudayaan Moor. Misi awal mereka adalah memurnikan Islam dari penyimpangan, tetapi mereka bukanlah fundamentalis sebagaimana para pendahulu mereka al-Murabithûn. Al-Murabithûn sangat puritan dan sangat keras menantang kebudayaan yang maju di Andalusia membuat hubungan antara umat Kristen dan Islam di semenanjung tersebut semakin buruk, sementaraal-Muwahhidûn menempatkan

diri mereka berdasarkan sudut pandang ortdoksi Islam yang berbeda. Mereka tidak menegaskan bahwa Islam hanya seperangkat aturan tetapi juga sebagai kepasrahan spiritual di mana prinsip utamanya adalah kesatuan Ilahiyah di mana seluruh manifesatsi terserap ke dalamnya. Ibn Tumar yang menjadi inspirasi dari gerakan

al-Muwahhidûn sangat dipengaruhi dengan karya-karya sufi besar al-Ghazâlî

dan memperkenalkan ajaran-ajarannya ke Spanyol lalu berkembang pesat dan mengakibatkan kebangkitan filsafat dan spiritual.6 Keluarga Ibn ‘Arabi pindah ke Sevilla pusat pemerintahan al-Muwahhidûn yang kosmopolit menjadi titik temu beragam ras dan kultur juga beragam strata masyarakat. Jelas, Ibn ‘Arabi tumbuh di lingkungan yang dipenuhi dengan beragam ide dan kemajuan.7

Pada masa kehidupannya, kota-kota Islam satu demi satu ditaklukkan oleh musuh. Kordoba, Valencia dan yang terakhir Andalusia. Sebelum lagi ia sampai ke Timur terjadilah Perang Salib yang terus berlangsung hingga setelah kematiannya selama 30 tahun. Di samping itu pula Mongol menginvasi dan menghancurkan kota-kota Islam di Timur. Pendidikan awalnya tidak berawal dari belajar di sekolah resmi namun ia belajar Alquran secara privat dengan tetangganya yang bernama Abû ‘Abdillâh Muhammad al-Khayyât. Di samping itu juga, ia memiliki kegemaran berburu yang selanjutnya membuatnya gemar dalam mengeksplorasi alam ruhani.8

Ibn ‘Arabi memulai pengasingannya dalam berkhalwat pada saat kira-kira usianya 16 tahun termotivasi oleh teguran Tuhan kepadanya ketika ia berpesta layaknya anak muda kebanyakan. Ia mengasingkan diri di pemakaman di luar kota Sevilla. Selama empat hari ia berada di sana melakukan khalwat berzikir dan hanya ke keluar di saat salat.9 Di dalam pengasingan inilah ia memperoleh visi bertemu dengan tiga Nabi yaitu Isa as, Musa as dan Muhammad Saw.

Sebagai konsekuensi dari penarikan diri ini ia mendalami agama belajar berbagai ilmu agama ke berbagi ulama di antaranya Syaikh Abû Bakar bin Khallaf, Abû Qasim al-Syaratt, Abû Amru al-Dani, Abû ‘Abdullâh bin Zarqun, al-Hafiz bin al-Ja‘ad, Abû al-Wâlid al-Hadharami, Abû Hasan bin Nasar, Abû Muhammad ‘Abd al-Haq al-Isybili, dan Abû al-Qasim bin Bisykiwal.10

Konsekuensi kedua ia dipertemukan ayahnya dengan seorang filsuf besar Ibn Rusyd (1126-1198 M), yang berasal dari keluarga yang sangat terpandang di Eropa. Terjadilah dialog antara keduanya mencari titik temu antara tasawuf dan filsafat yang kenyataannya berbeda karena metode yang digunakan berbeda di mana yang satunya menggunakan logika yang lainnya menggunakan pembersihan hati dan penyangkalan hawa nafsu diri. Dialog ini membuktikan bahwa Ibn ‘Arabi bukanlah seorang filsuf dan tidak melandasi ajarannya berdasarkan logika tulen.11

Di samping itu, Ibn ‘Arabi adalah seorang yang jenius hal ini terbukti dalam fakta-fakta berikut: Syaikh ahli tafsir dan hadts Ismâ’il al-`Ajluni menyebutkan di dalam kitab Kasyf al-Khafâ wa Muzil al-Iltibâs ‘amma Isytahara min al-Ahâdits

‘ala Alsinat al-Nâs diriwayatkan dari Syaikh Hijai bahwa Sayikh Ibn ‘Arabi termasuk

ke dalam golongan Huffâz. Huffâz adalah bentuk plural dari Hâfiz yang artinya seorang ahli hadis yang menguasai 100.000 hadis.12 Dalam bidang fikih, ia sampai kepada kategori mujtahid muthlaq (seorang yang memiliki syarat–syarat untuk berijtihad dan memiliki metodologi tersendiri dalam berijtihad) peringkat tertinggi

dalam berijtihad.13 Ia sendiri menyinggung hal ini di dalam karyanya al-Futûhat

al-Makkiyah pada bab 367 dengan pernyataannya “segala puji bagi Allah kami tidak lagi bertaqlid kecuali kepada Syari` yaitu Muhammad Saw. Ia juga berkata “ Aku bukanlah orang yang berkata seperti perkataan Ibn Hazam, Ahmad ataupun Nu‘man.”14 Di samping itu, ia juga bersahabat dengan 70 orang sufi Maghrib dan dari merekalah ia banyak mendapat manfaat bimbingan menempuh jalan akhirat.15

Ia juga bertemu tiga kali dengan Nabi Khidr as., sebagai mursyid dalam ilmu ketuhanan di mana dalam keyakinan kaum sufi hanya pemuka kaum sufilah yang dapat bertemu dengan Nabi Khidr as.16

Dalam tahun 1190 M., Ib ‘Arabi mendapatkan visi luar biasa di Kordova yaitu pertemuan dengan semua nabi sejak dari Nabi Adam as. hingga Muhammad Saw. dalam realitas spiritual mereka.17 Pada tahun 1193 M., di Tunisia ia memperoleh makam penghambaan murni dan menjadi pewaris Muhammad Saw.18 Ketika berada di rumahnya di Fez sejak tahun 1197 M hingga 1998 M., ia memperoleh warisan Muhammad Saw. secara lengkap yang berpuncak dalam perjalanan terbesar dari semuanya yaitu pendakian spiritual atau Mikraj.19 Pada saat di Granada, ia mendapatkan visi memperoleh kedudukan sebagai wali penutup kewalian Muhammad Saw. Inilah yang membentuk basis dan inspirasi untuk karyanya Anqâ‘ al-Maghrib yang ditulisnya dua tahun kemudian setelah peristiwa ini.20 Demikianlah di antara kelebihan yang dia peroleh dalam pendalaman agama dan spiritual. Hal ini semua menunjukkan kepiawayannya dalam ilmu-ilmu agama yang membuat beliau layak untuk diteliti secara mendalam.

Pada tanggal 9 November 1240 M., pada usia 75 tahun Ibn ‘Arabi meninggal dunia.21 Ibn Zaki dan dua murid terdekatnya: Ibn Sawdikin dan Shadr Dîn al-Qunawi melaksanakan ritus-ritus pemakamannya. Ia dimakamkan dimakamkan keluarga Bani Zaki di distrik Salihiya yang indah. Letaknya berada di sebelah Utara kota di atas lembah gunung Qasyiun. Gunung ini dianggap sakral karena tradisi mencatat bahwa di sana Nabi Ibrâhîm as. mendapat penyingkapan keesaan Tuhan. Gunung ini telah lama menjadi tempat ziarah bagi orang-orang yang percaya bahwa tempat itu disucikan oleh semua Nabi, khususnya Khidr as.22