• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merantau ke Negeri Sunda

Pada tahun 2001, melalui temanku Asrul Daulay, aku mendaftarkan diri pada Program Pascasarjana Prodi Pendidikan Umum Konsentrasi Pendidikan Nilai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Keputusanku melanjutkan studi S3 ke Bandung dilatari oleh keinginan untuk mendalami keilmuan filsafat pendidikan dan menimba pengalaman studi di luar perguruan tinggi agama. Keputusanku melanjutkan studi saat itu merupakan keputusan yang sangat berani karena pimpinan fakultas tidak memberi izin karena baru mengabdi satu tahun pasca lulus S2; dan aku tidak memiliki kesiapan finansial untuk mendanai studi S3. Aku masih ingat, ketika harus mendaftar ulang setelah lulus seleksi masuk, uang di tabunganku

tidak cukup untuk membayar registrasi dan uang kuliah, apalagi sewa rumah. Aku baru mendaftar setelah mendapatkan ‘beasiswa swasta’ dari keluarga mertua. Aku berangkat ke Bandung bersama bang Amiruddin Siahaan. Kami berdua sama-sama sepakat untuk tidak membawa keluarga. Memang aku merasa sedikit agak ‘aman’, sebab isteri dan anak-anakku tinggal di Medan bersama mertua. Ketika akan berangkat ke Bandung, si kembar kami baru berusia kurang lebih dua tahun setengah. Amat terasa berat berpisah dengan mereka yang lagi lucu-lucunya dan membutuhkan kehadiran seorang ayah. Aku masih ingat, ketika akan naik kapal Kelud ke Jakarta di Pelabuhan Belawan, Auji Hamizan dan Auja Hamizy menangis sekuat-kuatnya. Hati ini rasanya seperti tidak kuat untuk meninggalkan mereka. Menetes juga air mataku ketika meninggalkan mereka. Dalam hati aku berkata: insya Allah, aku akan belajar sungguh-sungguh agar bisa selesai kuliah tapat waktu dan segera berkumpul kembali dengan keluarga.

Aku dan bang Amir dari Jakarta ke Bandung naik kereta api Parahiyangan. Dari stasiun kereta kami naik taksi ke rumah kos yang sudah kami kontrak sejak mendaftar ulang. Kami kos di rumah pak Endang Rahmat di Jalan Negla Nomor 46 Bandung Utara. Sepanjang kuliah S3, kami tidak pernah pindah dari rumah kos ini. Sebabnya cukup sederhana: sewa kamar di rumah kos ini yang paling murah; kedekatan hubungan dengan pak Endang dan keluarganya menyebabkan kami merasa betah tinggal di tempat ini; jarak rumah ini dekat dengan kampus; dan dari rumah ini juga dekat dengan lokasi wisata di Lembang.

Masa-masa pertama di Bandung disibukkan dengan penyesuaian diri. Dalam konteks ini, kesulitan yang kuhadapi ketika itu menyangkut masalah bahasa dan budaya. Kecuali di dalam kelas formal, pergaulan di kampus dan di masyarakat umumnya menggunakan bahasa Sunda. Bila tidak salat di kampus, aku dan bang Amir seringkali berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain ketika salat Jumat. Alasannya cukup sederhana, kami mencari masjid yang khutbahnya menggunakan bahasa Indonesia. Sebelum salat tarawih, hampir sama dengan di Medan, di masjid-masjid umumnya dilaksanakan ceramah agama. Ketika jamaah serentak tertawa, kami berdua sering bingung harus bagaimana, sebabnya kami tidak memahami apa yang harus ditertawakan karena ceramah disajikan dalam bahasa Sunda. Namun, agar tidak kelihatan asing bagi jamaah lainnya, aku dan bang Amir akhirnya ikut juga tertawa, seakan-akan mengerti apa yang harus ditertawakan. Sepulang dari masjid kami berdua akhirnya benar-benar tertawa mengingat pengalaman kami menertawakan apa yang tidak kami pahami.

Dalam hal budaya, aku harus belajar ulang bagaimana berperilaku di tanah Sunda. Aku pernah ditegur teman karena menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk. Di tanah Sunda, bila kita menunjuk sesuatu gunakanlah ibu jari. Demikian pula, bila melintas di depan orang harus permisi, minimal mengucapkan: punten a’,

neng, atau bapak-ibu. Beberapa kali aku ditegur teman-teman agar jangan

marah-marah kalau sedang diskusi. Jujur kuakui bahwa aku tidak pernah marah-marah, namun intonasi suaraku yang agak keras rupanya dianggap teman-teman sebagai marah. Pernah suatu pagi aku terlambat masuk kelas. Ketika itu Prof. Kosasih Djahiri sedang memberi kuliah. Aku pun mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan meminta izin agar diperbolehkan mengikuti perkuliahan. Karena Prof. Kosasih memperkenankan,

aku pun langsung duduk dan menyiapkan buku catatan. Ketika itu aku merasa heran, sebab hampir semua mata teman sekelas tertuju ke arahku. Karena tidak paham makna pandangan mereka, aku pun diam saja. Tidak berapa lama aku baru paham kenapa teman-teman menatapku. Ketika itu salah seorang teman yang lain juga terlambat. Ia melakukan hal yang sama denganku, mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan meminta izin untuk mengikuti perkuliahan. Setelah diperkenankan masuk, sebelum duduk ia terlebih dahulu ke depan dan menyalami Prof. Kosasih Djahiri.

Belajar di UPI memang cukup strict. Jika tidak sungguh-sungguh dipastikan tidak akan berhasil. Perkuliahan dimulai pada pukul tujuh pagi, namun aku dan teman-teman sudah harus berada di kelas sebelum jam tujuh pagi. Sebabnya, para dosen sudah berada di dalam kelas sebelum pembelajaran dimulai. Kami akan merasa malu bila terlambat.

Perkuliahan dilakukan secara interaktif dan multi arah dengan berbasis buku-buku ‘babon’ dan hasil-hasil penelitian. Tidak ada giliran dalam menyajikan makalah, setiap mahasiswa harus mempelajari semua topik secara mendalam dan harus siap sedia ketika diminta dosen menjadi penyaji, tidak peduli sudah berapa kali ia menjadi penyaji. Karenanya setiap hari aku harus membaca buku dan mencari hasil-hasil penelitian, baik di perpustakaan maupun internet, untuk membuat makalah ataupun book report. Selain itu, aku juga harus menyiapkan bahan sajian dalam bentuk powerpoint presentation. Sebab tidak boleh ada penyajian makalah tanpa powerpoint presentation.Tentang tugas, pokoknya seabrek, sebab tiada pembelajaran tanpa tugas.

Mengerjakan tugas jelas memerlukan buku, jurnal, dan hasil-hasil penelitian. Karenanya para mahasiswa sering berbondong-bondong ke perpustakaan. Begitupun, para dosen selalu mengingatkan agar mahasiswa membeli buku. Prof. Djawad Dahlan sering mengingatkan: bayangkan, bagaimana anda menjadi doktor jika

anda tidak punya buku, terutama buku-buku teks.Untunglah di kota Bandung ada

toko-toko yang menjual buku relatif sangat murah. Lokasinya berada di Palasari. Sepertinya tidak ada pelajar dan mahasiswa yang tidak pernah berkunjung ke Palasari, sebab harga bukunya bisa setengah dari harga toko, bahkan lebih murah lagi. Karenanya aku selalu berkunjung dan membeli buku di Palasari. Hitung-hitung bisa menghemat belanja. Usaha mendapatkan buku, jurnal, dan hasil-hasil penelitian juga terbantu karena kemurahan hati para dosen. Sudah menjadi kebiasaan setiap kali pulang dari luar negeri, apakah ke Eropa, Amerika, Australia, atau Asia, para dosen selalu membawa buku atau jurnal baru dan mengizinkan, bahkan meminta para mahasiswa untuk mengcopynya.

Di Bandung aku bertemu dengan Prof. Nu‘man Soemantri, mantan Rektor UPI dan ketika itu sedang menjabat sebagai Rektor Universitas Siliwangi. Beliau banyak membuka wawasan berpikirku tentang pendidikan umum dan ilmu-ilmu sosial. Aku juga bertemu dengan Prof. Mohd. Djawad Dahlan, mantan Direktur Program Pascasarjana UPI dan ketika itu sedang menjabat sebagai Rektor perguruan tinggi parawisata bonafid di kota Bandung. Beliau dikenal sebagai tokoh penuh wibawa dan disegani serta ‘bertangan dingin’ dalam menyelesaikan konflik perguruan tinggi. Dari beliau aku banyak belajar tentang psikologi dan kepribadian. Beliau

sering mengajakku berdiskusi tentang Islam, pendidikan Islam, dan kepribadian yang sehat. Aku pernah hampir stress dalam proses pembimbingan disertasi dengan beliau, namun ketika beliau membubuhkan tanda tangan dan merekomendasikanku untuk ujian tertutup, Prof. Djawad Dahlan justeru mengingatkan padaku bahwa proses pembimbingan itu merupakan bagian integral dari pembentukan kepribadian, khususnya dalam mendidikkan keuletan, kecermatan, dan kesabaran menuju kematangan kepribadian. Aku juga bertemu dengan Prof. Dr. Dedi Supriadi, seorang guru besar yang sangat energik dan dikenal dengan kecerdasannya, wawasan futuristiknya, kepiawaiannya dalam memimpin, dan produktivitas ilmiahnya dalam meneliti dan menulis. Aku juga bertemu dengan Prof. Dr. Nursid Sumaatmadja, seorang guru besar senior yang penyabar dengan kepribadian ‘ilmu padi’ dan sangat bersahabat dengan para mahasiswanya. Aku juga bertemu dengan Prof. Kosasih Djahiri, yang banyak membuka wawasanku tentang pendidikan nilai-moral dan civilized person. Suatu ketika beliau mengatakan kepadaku: Pak Rasyidin,

anda orang Batak tetapi kini sepertinya lebih Sunda dari orang Sunda. Kemudian

aku juga bertemu dengan Prof. Dr. Endang Soemantri, seorang guru besar yang ‘kebapakan’ dan sangat komunikatif dengan mahasiswanya. Kemudian aku juga bertemu dengan Prof. Dr. Fakhry Ghaffar, Prof. Dr. Djuju Sudjana, Prof. Dr. Mubiar Purwasasmita, Prof. Dr. A. Sanusi, Prof. Dr. Ishak Abdulhaq, Prof. Dr. Achmad Hinduan, Prof. Dr. Abdul Kadir, Prof. Dr. Mulyani Sumantri, dan Prof. Dr. Oemar Hamalik. Semua guruku tersebut sangat berjasa besar dalam membuka wawasan berpikir yang lebih kritis, merdeka, kosmopolit, dan mendalam. Di samping itu, selama kuliah di UPI aku juga banyak belajar tentang budaya akademik, tata cara berperilaku, keramahtamahan, dan kelebihan teman-temanku dari berbagai daerah di Indonesia.

Aku menyelesaikan pendidikan S3 pada tahun 2005. Setelah melalui proses penelitian di bawah bimbingan Prof. Nu‘man Soemantri, Prof. Djawad Dahlan, dan Prof. Kosasih Djahiri, pada April tahun 2005 aku berhasil ‘mempertahankan’ disertasi berjudul Model Pendekatan Inkuiri dalam Pengembangan Nilai-nilai

Demokrasi Pendidikan Islam pada sidang promosi doktor di gedung Parteur UPI

Bandung. Alhamdulillâh, aku berhasil meraih predikat cumlaude dalam ujian tersebut. Aku merasa sangat tersanjung karena mendapat pujian dari beberapa guru besar seperti Prof. Dr. Ishaq Abdulhaq dan Prof. Dr. Ahmad Tafsir, di samping para pembimbingku tentunya. Aku merasa bahagia, sebab sidang promosi doktor tersebut disaksikan secara langsung oleh isteriku dan tiga orang anakku. Namun aku agak sedikit kecewa dikarenakan kursi yang disiapkan panitia khusus untuk ditempati pimpinan perguruan tinggiku (IAIN Sumatera Utara) tidak ada yang menempatinya sampai sidang promosi tersebut usai.

Alhamdulillâh, tidak ada perbaikan apapun yang disarankan penguji terhadap

disertasiku. Karenanya keesokan hari aku segera menjilid disertasi dan menyerahkannya ke Program Pascasarjana untuk persyaratan mengikuti wisuda dan mengambil ijazah. Aku wisuda di tahun 2005 pada bulan Ramadhan. Aku berangkat ke Bandung mengikuti prosesi wisuda bersama isteriku. Selepas wisuda kami pun kembali ke Medan karena ibuku sedang sakit keras. Ada kesedihan luar biasa ketika itu, sebab hanya beberapa hari kemudian ibuku kembali keharibaan Allah, tepat sehari sebelum Idul Fitri.