• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demokrasi pada Periode 1998–sekarang (Era Reformasi)

D. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia

4. Demokrasi pada Periode 1998–sekarang (Era Reformasi)

Demokrasi pada periode 1998–sekarang sering disebut tahap transisi demokrasi Indonesia guna menentukan ke arah mana demokrasi akan dibawa. Pada era reformasi bangsa Indonesia bertekad untuk menyeleng- garakan pemerintahan yang benar-benar demokratis.

Langkah awal yang dilakukan pemerintah Indonesia pada tahap transisi demokrasi ini adalah melakukan reformasi konstitusi melalui amendemen UUD 1945. Para pengusul amendemen mengatakan bahwa Indonesia tidak akan demokratis selama masih menggunakan UUD 1945, karena UUD 1945 tersebut memuat kelemahan-kelemahan yang menjadi pendorong munculnya pemerintahan otoriter. Selain itu, gagasan reformasi konstitusi didasarkan pada argumen-argumen sebagai berikut.

a. Dalam UUD 1945 tidak memuat secara tegas dan ketat prinsip-prinsip pembatasan kekuasaan yang mengandung pemencaran kekuasaan yang disebut check and balance sehingga mudah diselewengkan oleh pemerintah, tepatnya penguasa bidang eksekutif.

b. UUD 1945 yang ada sejak kemerdekaan Indonesia hingga berakhirnya Orde Baru belum membicarakan tentang hak asasi manusia (HAM). Selain itu, belum ada undang-undang yang secara khusus mengatur tentang HAM.

c. UUD 1945 terlalu longgar menyerahkan hal-hal yang sangat penting kepada lembaga legislatif untuk diatur dalam undang-undang. Dengan demikian, UUD 1945 memberikan peluang yang besar bagi pemerintah untuk melakukan manipulasi dan mengambil pembenar- an formal.

d. Adanya pasal-pasal UUD 1945 yang multitafsir. Misalnya pasal 7 tentang masa jabatan presiden yang tidak ada ketentuan tegas tentang berapa kali presiden dapat menjabat.

Amendemen UUD 1945 untuk pertama kalinya dilakukan oleh MPR dalam kurun waktu 1999–2002 dan menghasilkan empat perubahan. Dengan berhasil diamendemennya UUD 1945 diharapkan dapat terwujud pemerintahan yang demokratis.

Berkaitan dengan upaya mewujudkan pemerintahan yang demo- kratis, sebenarnya tidak cukup hanya melakukan perubahan terhadap konstitusi. Akan tetapi, masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Menurut Azyumardi Azra, langkah yang harus dilakukan dalam transisi Indonesia menuju demokrasi sekurang-kurangnya mencakup tiga bidang besar sebagai berikut.

a. Reformasi sistem yang menyangkut perumusan kembali falsafah, kerangka dasar, dan perangkat legal sistem politik.

b. Reformasi kelembagaan yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik.

c. Pengembangan kultur atau budaya politik yang lebih demokratis. Berdasarkan pendapat Azyumardi Azra tersebut dapat disimpulkan bahwa pribadi penyelenggara pemerintahan dan sistem sama-sama penting dalam transisi Indonesia menuju demokrasi. Hal ini karena penyelenggara yang secara pribadi baik, tetapi sistem yang mengaturnya tidak baik tetap saja akan menghasilkan penyelenggaraan pemerintahan yang tidak baik. Misalnya penyelenggara pemerintah terjangkit penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme, bahkan akan terjerumus ke dalam otoriterisme absolutisme. Oleh karena itu, sistem harus diatur sedemikian rupa agar mampu membawa dan mengawal orang-orang (penyelenggara pemerintah) menjadi baik dan menyingkirkan penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Pada era reformasi ini indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis di Indonesia tampak dalam beberapa hal berikut ini.

a. Adanya reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi.

b. Diamendemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amendemen pertama sampai keempat).

c. Adanya kebebasan pers.

d. Dijalankannya kebijakan otonomi daerah.

e. Dibentuknya lembaga atau organisasi kemasyarakatan seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Meskipun indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis di Indonesia sudah mulai tampak, tetapi masih perlu diwaspadai adanya indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin memutar- balikkan arah demokrasi Indonesia kembali pada periode sebelum era Reformasi. Oleh karena itu, kondisi transisi demokrasi Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan yang belum jelas arah pelabuhannya.

Pentingnya Kesadaran Pengelolaan Potensi atau Kekayaan Daerah dalam Mewujudkan Masyarakat Madani

Bentuk potensi atau kekayaan daerah antara lain sumber daya alam dan lingkungan hidup. Salah satu prasyarat untuk terwujudnya masyarakat madani adalah adanya kesadaran dan pemahaman warga masyarakat terhadap upaya pengelolaan potensi atau kekayaan daerah. Kesadaran warga masyarakat dalam upaya pengelolaan potensi atau kekayaan daerah ini dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan seperti berikut.

1. Melakukan tuntutan (demand) secara aktif untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat, dalam bentuk:

a. meningkatkan kepedulian dan kemampuan mengelola sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup; dan

b. meningkatkan keberdayaan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya alam dan pemeliharaan lingkungan hidup melalui pendekatan keagamaan, adat, dan budaya.

2. Melakukan inisiatif lokal dalam menghadapi masalah lingkungan hidup di sekitar, dalam bentuk:

a. membentuk pola kemitraan yang berkembang di antara berbagai lembaga masyarakat dan pemasyarakatan pembangunan berwawasan lingkungan; b. hak-hak adat dan ulayat yang terlindungi dalam pengelolaan sumber daya alam

dan pelestarian lingkungan hidup;

c. pengkajian keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat adat dan lokal, pemanfaatan kearifan tradisional dalam pemeliharaan lingkungan hidup, serta perlindungan terhadap teknologi tradisional dan ramah lingkungan; serta

d. peningkatan kepatuhan dunia usaha dan kesadaran masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan dan tata nilai masyarkat lokal yang berwawasan lingkungan hidup.

Dengan adanya kesadaran warga masyarakat ikut serta dalam upaya pengelolaan potensi atau kekayaan daerah tersebut diharapkan dapat terwujud masyarakat madani dengan ciri-ciri sebagai berikut.

1. Terwujudnya masyarakat yang mampu mengartikulasikan atau menyatakan kehendak- nya untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat dengan ditandai adanya: a. penyediaan dukungan politik untuk mengurangi segala bentuk eksploitasi; serta b. penghapusan berbagai aturan yang menghambat pengembangan lembaga dan

organisasi keswadayaan masyarakat.

2. Meningkatnya gerakan dan jumlah masyarakat peduli lingkungan melalui pengem- bangan akses bagi masyarakat untuk dapat berperanserta dalam pengelolaan lingkung- an hidup secara substansial dengan ditandai adanya:

a. pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dan peningkatan kehidupan sosial ekonomi kelompok masyarakat dan keluarga miskin secara terpadu;

b. peningkatan kemitraan pemerintah, masyarakat, dan swasta dalam pembangunan kota;

c. peningkatan upaya penanggulangan masalah kemiskinan dan kerawanan sosial; d. penyediaan prasarana dan sarana sosial ekonomi, penyediaan pendampingan miskin dan untuk mengembangkan kemampuan usaha dan kebiasaan hidup produktif;

e. pengembangan sistem perlindungan sosial yang sudah ada di masyarakat, usaha swasta, dan pemerintahan;

f. pengembangan forum komunikasi antartokoh penggerak kegiatan keswadayaan; serta

g. pengembangan kemitraan lintas pelaku dalam kegiatan keswadayaan.

3. Meningkatnya jumlah masyarakat yang menjalankan dan melakukan inisiatif lokal dalam menghadapi masalah lingkungan hidup di sekitarnya, dengan ditandai adanya: a. penyediaan bantuan pendampingan;

b. penyediaan informasi kepada organisasi sosial dan ekonomi masyarakat; c. pengembangan forum lintas pelaku dalam komunikasi dan konsultan baik antara

pemerintah dan lembaga masyarakat maupun antarlembaga masyarakat dalam kegiatan pengambilan keputusan publik;

d. peningkatan kapasitas daerah untuk mengelola bantuan sistem perlindungan sosial; serta

E. Perilaku Budaya Demokrasi dalam Kehidupan Sehari-