• Tidak ada hasil yang ditemukan

DERAJAT KESEHATAN 1. Mortalitas

MISI I : Membangun Masyarakat Yang Berkualitas dan Berdaya Saing

JPK Jamsostek

A. DERAJAT KESEHATAN 1. Mortalitas

Berbeda dengan waktu tempuh ke fasilitas kesehatan/puskesmas atau pustu, praktek dokter atau klinik, praktek bidan atau rumah bersalin, poskesdes atau poskestren, polindes dan posyandu hanya membutuhkan waktu paling lama 15 menit.

Sedangkan ke Rumah Sakit paling lama rata-rata 16-30 menit.

Tabel. VII. A. 12

Persentase Waktu Tempuh Rumah Tangga Menuju Rumah Sakit Pemerintah Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

A. DERAJAT KESEHATAN 1. Mortalitas

a. Angka Kematian Bayi (AKB)

Berdasarkan perhitungan BPS , Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 sebesar 39 per seribu kelahiran hidup dan jika dibandingkan dengan Provinsi lain Jawa Barat menduduki urutan ke 12. Sedangkan Angka Kematian yang paling kecil adalah Provinsi DKI Jakarta (28 per seribu kelahiran hidup) .

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 143 Gambar VII. D. 1

Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Pada Tahun 2002-2003, 2007, 2005-2010, 2012

Sumber : BPS

34 32

30 30 30 29

25

22

0 5 10 15 20 25 30 35

Indonesia Banten Jawa BaratJawa TengahJawa Timur Bali DI.YogyakartaDKI Jaya

Angka kematian neonatal periode 5 tahun terakhir mengalami stagnasi.

Berdasarkan laporan SDKI 2007 dan 2012 diestimasikan sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian neonatal menyumbang lebih dari setengahnya kematian bayi (59,4%), sedangkan jika dibandingkan dengan angka kematian balita, kematian neonatal menyumbangkan 47,5%. Hasil estimasi angka kematian neonatal di atas merupakan AKN dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei, misalnya pada SDKI tahun 2012 menggambarkan AKN untuk periode 5 tahun sebelumya yaitu tahun 2008-2012 yang sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Keadaan kematian neonatal sejak tahun 1991 diperlihatkan pada gambar dibawah ini.

Gambar VII.D. 2

Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia pada Tahun 1991 - 2012

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 144

Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %

1.

Gangguan/Kelainan Pernafasan 35,90 Sepsis 20,50

2.

Prematuritas 32,40 Malformasikongenital 18,10

3.

Sepsis 12,00 Pneumonia 15,40

4.

Hipotermi 6,30 Sindromgawatpernafasan(RDS) 12,80 5.

Kelainan Perdarahan dan Kuning 5,60 Prematuritas 12,80 6.

Postmatur 2,80 Kuning 2,60

7.

Malformasi Kongenitas 1,40 Cederalahir 2,60

8.

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran, dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.

Penyebab kematian perinatal (0-7hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35,9%) dan premature (32,3%), sedangkan untuk usia (7-28hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20,5%) dan congenital malformations (18,1%). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31,4%) dan pnemonia (23,8%). Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi, yaitu terbanyak adalah diare (25,2%) dan pnemonia (15,5%).

Sedangkan untuk usia > 5 tahun, penyebabkematian yang terbanyak adalah stroke, baik di perkotaan maupun diperdesaan. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir atau menunjukan penanganan bayi prematur belum memuaskan, atau karena alasan lain seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.

Untuk kematian perinatal, faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya.

Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil, maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari), pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.

Tabel VII. D. 1

Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 Hari dan 7-28 Hari Di Indonesia Tahun 2007

Sumber : Riskesdas tahun 2007

Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal, 96,8% ibu dari perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir mati adalah hipertensi maternal (23,6%), komplikasi ketika

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 145

Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %

1 Hipertensi maternal 23,60 Ketuban pecah dini 23,00

2 Komplikasi kehamilan dan kelahiran 17,50 Hipertensi maternal 21,80

3 Ketuban pecah dini 12,70 Komplikasi kehamilan dan kelahiran 16,00 4 Perdarahan ante partum 12,70 Kelainan nutrisi maternal 10,30

5 Cedera maternal 10,90 Multi ple pregnancy 6,90

6 Persalinan sungsang 5,50 Perdarahan ante partum 6,90

7 Kehamilan ganda 3,60 Persalinan sungsang 5,70

8 Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran

3,60 Infeksi intra partum 3,40

9 Infeksi intra partum 3,60 Lilitan tali pusat 2,30

10 Lilitan tali pusat 1,80 Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran

1,10 Lahir Mati Kematian Bayi 0 – 6 Hari No.

bersalin (partus macet) sebesar 17,5%, sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal adalah ketuban pecah dini (23%) dan hipertensi maternal (22%).

Tabel VII. D. 2

Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0 – 6 Hari di Indonesia Tahun 2007

Sumber : Riskesdas tahun 2007

b. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita di Jawa Barat pada Tahun 2007 adalah sebesar 49 per seribu kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan Provinsi yang berada di Jawa dan Bali, ternyata Angka Kematian Balita di Provinsi Jawa Barat merupakan angka ke-dua tertinggi, dan yang terendah adalah di Provinsi DI. Yogyakarta sebesar 22 perseribu kelahiran hidup, hal ini dapat dilihat pada table dibawah ini.

Gambar VII.D. 3

Angka Kematian (AKABA) Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2000, 2002, 2007 dan 2012

Sumber : Riskesdas

Proporsi penyakit penyebab kematian pada balita yang terbesar dikarenakan penyakit Diare dan Pneumonia. Untuk bayi post neonatal penyebab

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 146

No. 29 Hari – 11 Bulan 1 – 4 Tahun

Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %

1. Diare 31,4 Diare 25,2

2. Pneumonia 23,8 Pneumonia 15,5

3. Meningitis/ensefalitis 9,3 NecroticansEnteroCollitis(NEC) 10,7 4. Kelainansaluranpencernaan 6,4 Meningitis/ensefalitis 8,8 5. Kelainan Jantungcongenital

dan hidrosefalus 5,8 Demamberdarahdengue 6,8

6. Sepsis 4,1 Campak 5,8

7. Tetanus 2,9 Tenggelam 4,9

8. Malnutrisi 2,3 TB 3,9

9. TB 1,2 Malaria 2,9

10. Campak 1,2 Leukemia 2,9

kematian yang juga perludi perhatikan adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%), sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%, tenggelam 5%, TB 4%.

Tabel VII. D. 3

Proporsi Penyebab Kematian pada Anak Berumur 29 Hari - 4 Tahun Di Indonesia Tahun 2007

Sumber : Riskesdas tahun 2007

c. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu Maternal berguna untuk mengetahui tingkat kesadaran perilaku hidup sehat,status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk Ibu hamil, Ibu waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 menunjukan adanya kenaikan dari 228 per 100.000 kelahiran hid 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2012. Secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar VII. D. 4

Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) per 100.000 kelahiran hidup Tahun 1994 – 2012

d. Umur Harapan Hidup (Eo)

Umur Harapan Hidup tahun 2012 di Jawa Barat adalah 68,6 tahun, jika dibandingkan dengan umur harapan hidup di Provinsi yang berada di Pulau Jawa dan Bali ternyata ranking ke dua dari bawah dapat dilihat pada Gambar VII.B.4.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 147 Berdasarkan BPS Estimasi Umur Harapan Hidup pada periode tahun 2000 di Indonesia mencapai 68,23 tahun, sedangkan Jawa Barat diperkirakan mencapai 68,16 Tahun.

Gambar VII.D. 5

Angka Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (Eo) Menurut Provinsi di Pulau Jawa Bali Tahun 2010-2012

Sumber : BPS 2010-2012

Dari diatas terlihat bahwa umur harapan hidup dari tahun 2012 mengalami peningkatan, dan umur harapan hidup yang tertinggi di Provinsi Jawa - Bali adalah Provinsi DKI Jakarta (73,5 tahun), sedangkan terendah di Provinsi Banten (65,2 tahun).

2. Morbiditas

Angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.Hasil Susenas 2012, persentase penduduk yang menderita sakit selama bulan terakhir sebanyak 14,49%, lebih rendah dari tahun 2011 sebanyak 15,02%, dengan rata-rata lama sakit yang terbanyak sekitar 1-3 hari sebanyak 58,69% dan lama sakit 4-7 hari sebanyak 30,36%.

a. Penyakit Menular

Penyakit Diare masih merupakan penyebab utama kematian pada balita.

Angka kesakitan yang dilaporkan dari sarana kesehatan dan kader per-1000 penduduk terlihat bahwa Provinsi Jawa Barat menempati urutan keempat terbesar bila dibandingkan dengan Provinsi di Pulau Jawa-Bali. Angka kesakitan Diare masih mengalami Fluktuasi, mengingat banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi dan masih memerlukan waktu untuk peningkatan seperti sanitasi lingkungan, sosial ekonomi & sosial budaya serta faktor gizi.

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, Prevalensi Diare di Indonesia sebesar 4,5% (perkotaan ; 4,3%, dan pedesaan ; 4,8%), tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (5,0%) dan terendah di Bali (3,6%).. Kasus Diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan. Sedangkan Provinsi

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 148

Kasus TB Kasus BTA + Case Notification Rate (CNR)

1. DKI Jaya 24.091 8.627 91,0

2. Jawa Barat 61.721 33.460 76,4

3. Jawa tengah 39.704 20.446 60,6

4. DI.Yogyakarta 2.679 1.278 35,2

5. Jawa Timur 42.381 24.703 62,4

6. Banten 13.833 7.903 75,9

7. Bali 3.027 1.475 40,1

Indonesia 327.094 196.310 81,0

Provinsi

Cakupan Penemuan Kasus Penyakit Tuberkulosis

Jawa Barat mempunyai prevalensi diare klinis 4,9%. Dan penyakit Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%).

Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian. Secara nasional proporsi responden diare klinis yang mendapatkan oralit adalah 33,3%, dan Provinsi Jawa Barat sebanyak 33,6%.

Penyakit Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi pada Balita (16,7%). Pemakaian oralit 29,5% di perkotaan lebih banyak dibandingkan di perdesaan (36,8%)..

Angka Prevalensi Nasional TB cenderung meningkat bila dibandingkan antara hasil Riskesdas 2013 Angka Prevalensi TB sebesar 0,4% dan hasil Riskesdas 2010 sebesar 0,7%. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0,4 % dan pada perempuan 0,3 %. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 0,5 % dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0,2 %. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan tidak pekerjaan pertani, dan pegawai dan di pedesaan sebesar 0,3% lebih rendah dari pada di perkotaan (0,4%).

Gambar VII. D. 6

Angka Prevalensi Tuberkulosis Paru

Provinsi di Pulau Jawa Bali Tahun 2007, 2010 dan 2013

Sumber : Riskesdas 2007, 2010, 2013 Tabel VII.D. 4

Cakupan Penemuan BTA Positif dan Case Detection Rate (CDR) Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia, Ditjen PPPL Tahun 2013

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 149

Untuk Angka Insidens Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan hal ini disebabkan antara lain dengan tingginya mobilitas dan kepadatan penduduk, nyamuk penular penyakit DBD tersebar di seluruh pelosok dan masih banyak menggunakan tempat-tempat penampungan air tradisional (tempayan,bal,drum dll).

Pada tahun 2013, jumlah penderita DBD di Indonesia yang dilaporkan sebanyak 101.218 kasus dengan jumlah kematian 736 orang (Incidence Rate/

Angka kesakitan= 0,7 per100.000 penduduk dan CFR= 41,25%). Terjadi peningkatan jumlah kasus pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 90.245 kasus dengan IR 37,11.

Tabel VII. D. 5

Jumlah Penderita, Case Fatality Rate (%), Dan Incidence Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi

di Pulau Jawa-Bali Tahun 2011 – 2013

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

Apabila dilihat menurut Provinsi yang berada di Pulau Jawa-Bali, maka terlihat bahwa Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama tertinggi dengan Angka IR 96,18 per 100.000 penduduk pada tahun 2013.

Angka Kesakitan Malaria sejak empat tahun terakhir menunjukan kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan, hal ini diakibatkan antara lain adanya perubahan lingkungan seperti penebangan hutan bakau, mobilitas penduduk dari Pulau Jawa ke Luar Jawa yang sebagian besar masih merupakan daerah endemis malaria dan obat malaria yang resisten yang semakin meluas.

Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2008 – 2012 cenderung menurun yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 1,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2012.

Untuk wilayah Jawa dan Bali, Annual Parasite Incidence (API) tertinggi adalah Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,04 per 1.000 penduduk diikuti DI. Yogya sebesar 0,02 per 1.000 penduduk. Sedangkan yang terendah terdapat di Provinsi Bali dan DKI Jakarta. Rincian API dan AMI menurut provinsi Jawa Bali tahun 2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 150

Indonesia 0,16 1,85 1.96 1,75 1,69 1,38

Provinsi Annual Parasite Incidence (API) Per 1.000 Tabel VII. D. 6

Annual Parasite Incidence (API) Malaria Provinsi di Jawa-Bali Tahun 2008-2013

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013

Hasil SDKI 2012 menunjukan bahwa persentase wanita umur 15-49 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 76,7%. Sedangkan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 82,3%.

Perkembangan penyakit AIDS terus menunjukan peningkatan.Meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran AIDS. Saat ini di Indonesia telah digolongkan sebagai negara tingkat epidemi dengan prevalensi lebih dari 5%.

Jumlah penderita AIDS di Indonesia sebenarnya belum diketahui dengan pasti.

Jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sampai tahun 2014 sebanyak 65.790 kasus dan 32.711 kasus HIV diantaranya 3% Posistif HIV.

HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko, yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual), hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL), penggunaan Narkoba suntik secara bergantian, transfusi darah dan perinatal.

Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko.

Menurut provinsi yang ada di Pulau Jawa-Bali, Jawa Timur merupakan provinsi dengan penemuan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA Suntikan (IDU) tertinggi pada tahun 2014 yaitu sebesar 2.448 kasus (58,4%), diikuti oleh Banten (39,4%) dan DI Yogyakarta (18,9%). Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru AIDS tahun 2014 pada kelompok laki-laki lebih besar dibandingkan dengan kelompok perempuan.

b. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Immunisasi

Bedasarkan data laporan Sistem Surveilans Terpadu (SST), keadaan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan immunisasi, apabila dibandingkan dengan

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 151 dan Campak di Jawa Barat menempati urutan ke 2, 3, dan terendah untuk penyakit Campak. Untuk kasus AFP di Indonesia sebanyak 1.762 kasus diantaranya 324 Kasus ada di Jawa Barat.

Tabel VII. D. 7

Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Immunisasi (PD3I) di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2014

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014

c. Penyakit Tidak Menular

Semakin meningkatnya arus globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya polusi lingkungan.

Perubahan tersebut tanpa disadari telah berpengaruh terhadap transisi epidemiologi sehingga semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular diantaranya seperti Penyakit Jantung, Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal dan sebagainya.

Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, Prevalensi gagal jantung berdasar wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan yang terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3 persen. Prevalensi gagal jantung berdasarkan terdiagnosis dokter tertinggi DI Yogyakarta (0,25%), disusul Jawa Timur (0,19%), dan Jawa Tengah (0,18%), sedangkan Jawa Barat sebesar 0,5%.

Prevalensi penyakit gagal jantung meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada umur 65 – 74 tahun (0,5%) untuk yang terdiagnosis dokter, menurun sedikit pada umur ≥75 tahun (0,4%), tetapi untuk yang terdiagnosis dokter atau gejala tertinggi pada umur ≥75 tahun (1,1%). Untuk yang didiagnosis dokter prevalensi lebih tinggi pada perempuan (0,2%) dibanding laki-laki (0,1%).

Prevalensi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan wawancara yang didiagnosis dokter meningkat seiring dengan bertambahnya umur, meningkat tajam pada kelompok umur 35-44 tahun (0,3%), diikuti umur 45-54 tahun (0,4%),

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 152

1. DKI Jaya 3,0 0,7 10,1 0,7 0,15 9,7

2. Jawa Barat 2,0 0,5 10,6 0,5 0,14 6,6

3. Jawa tengah 1,9 0,5 9,5 0,5 0,18 7,7

4. DI.Yogyakarta 3,0 0,7 12,9 0,6 0,25 10,3

5. Jawa Timur 2,5 0,6 10,8 0,5 0,19 9,1

6. Banten 1,6 0,4 8,6 0,5 0,09 5,1

7. Bali 1,5 0,4 8,8 0,4 1,13 5,3

Indonesia 2,1 0,4 9,5 0,5 0,13 7,0

Gagal Jantung Stroke Provinsi Diabetes Hipertiroid Hipertensi Jantung

Koroner

dan umur 55-74 tahun (0,5%), tertinggi pada kelompok umur ≥75 tahun (0,6%).

Prevalensi pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi dari perempuan (0,2%), prevalensi lebih tinggi pada masyarakat perdesaan (0,3%).

Prevalensi diabetes dan hipertiroid di Indonesia berdasarkan wawancara yang terdiagnosis dokter sebesar 1,5 persen dan 0,4 persen. DM terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), sedangkan prevalenasi di Jawa Barat sebesar 2% dan prevalensi hipertiroid sebesar 0,5%, serta prevalensi hipertensi sebesar 10,6% lebih rendah dari angka nasional.

Tabel VII. D. 8

Prevalensi Diabetes, Hipertiroid, Hipertensi, Jantung Koroner, Gagal Jantung dan Stroke Pada Umur ≥ 15 Tahun di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2013

Prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 1,7‰. Jika dibandingkan antar provinsi pulau Jawa-Bali, prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (2,7‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Jawa Timur (2,3‰), Jawa Timur (2,2‰), dan Provinsi Jawa Barat 1,6‰ dibawah angka Nasional.

Prevalensi cedera secara nasional adalah 8,2 %, perbandingan hasil Riskesdas 2007 dengan Riskesdas 2013 menunjukkan kecenderungan peningkatan prevalensi cedera dari 7,5% menjadi 8,2 %.

Prevalensi nasional masalah gigi dan mulut dijumpai sebesar 25,9 persen.

Untuk perilaku benar dalam menyikat gigi berkaitan dengan faktor gender, ekonomi, dan daerah tempat tinggal. Ditemukan sebagian besar penduduk Indonesia menyikat gigi pada saat mandi pagi maupun mandi sore, (76,6%). Perilaku menyikat gigi dengan benar setelah makan pagi dan sebelum tidur malam, untuk Indonesia ditemukan 2,3 %.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 153

Persentase Penduduk Umur ≥10 Tahun Menyikat Gigi Setiap Hari Dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi Di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2013

Prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3.8%-12.9% dengan rerata 8,2% (perkotaan;8,7% dan pedesaan;7,8%) dan prevalensi tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (12,4%), sedangkan prevalensi cedera di Jawa Barat sebesar 8,5 diatas angka nasional. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh, kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/ tumpul. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensi nyarata – rata kecil atau sedikit .