• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN PROVINSI JAWA BARAT DENGAN PROVINSI LAINNYA

MISI I : Membangun Masyarakat Yang Berkualitas dan Berdaya Saing

PERBANDINGAN PROVINSI JAWA BARAT DENGAN PROVINSI LAINNYA

Gambaran perbandingan data/informasi kesehatan antara Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi lain di Indonesia, terutama dengan Provinsi di Jawa dan Bali yang kondisi alam dan demografinya hampir sama.

A. KEADAAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK 1. Keadaan Umum Wilayah

Luas wilayah Jawa Barat 1,9% dari luas Indonesia yang termasuk yang terbesar akan tetapi pembagian wilayah Administrasi di Jawa Barat masih ketinggalan dibandingkan dengan Jawa Tengah yang luas wilayah lebih kecil dan Jawa Timur yang luas wilayah hampir sama.

Secara Administratif wilayah Indonesia terbagi atas 34 provinsi 416 Kabupaten dan 98 Kota yang meliputi 7.094 Kecamatan, 82.505 Kelurahan/Desa.

Jumlah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat (26) menduduki urutan ke 3 setelah Jawa Tengah (35), Jawa Timur (38).

Tabel VII. A.1

Luas Wilayah, Jumlah Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa/Kelurahan Menurut Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2014

Sumber : Profil kesehatan Indonesia Tahun 2014

2. Kependudukan

Perkiraan jumlah penduduk Indonesia tahun 2014 sebesar 252.124.458 jiwa.

dengan ratio jenis kelamin (sex ratio) penduduk Indonesia sebesar 101,4. Diantara Provinsi-Provinsi di Indonesia, Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang paling besar jumlah penduduknya, yang diikuti dengan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat mencapai 46.300.543 jiwa dengan ratio jenis kelamin sebesar 103,58.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 132

Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi-Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2014

Sumber : BPS 2014

Berdasarkan laju pertumbuhan di atas, perlu menjadi perhatian dari pemerintah bahwa angka pertumbuhan penduduk Indonesia tidak homogen. Hal ini menunjukkan adanya disparitas angka pertumbuhan menurut provinsi dan kemungkinan adanya perbedaan atau disparitas dalam konteks kebijakan kependudukan. Angka pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa relatif lebih rendah dibandingkan di Luar Jawa. Namun, bila dilihat secara absolut pertambahan jumlah penduduk di Jawa justru lebih besar daripada Luar Jawa. Angka pertumbuhan yang kecil tidak berarti peningkatan jumlah penduduk yang kecil juga.Hal ini tidak terlepas dari jumlah penduduk di Jawa yang memang sudah sangat besar bila dibandingkan di Luar Jawa. Oleh karena itu, Luar Jawa hanya memberikan kontribusi terhadap pertambahan penduduk secara absolut dalam jumlah yang lebih kecil bila dibandingkan Jawa.

Salah satu persoalan yang terkait dengan kependudukan yang masih harus dihadapi oleh Indonesia yaitu masalah persebaran penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Berdasarkan Proyeksi Penduduk 2010-2035, pada tahun 2014 penduduk di Pulau Jawa sebesar 56,94 persen dari total penduduk Indonesia.

Persentase tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 57,06 persen. Tingginya rasio penduduk yang tinggal di Jawa didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Pulau Jawa. Jumlah penduduk terbesar mendiami Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Pulau Jawa yang memiliki jumlah penduduk terbanyak itu dan luas wilayahnya yang kurang dari 7 persen dari luas total wilayah daratan Indonesia menyebabkan kepadatan penduduk di Pulau Jawa sangat tinggi yaitu tercatat sekitar 1.109 jiwa per km atau mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang sekitar 1.097 jiwa per km.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 133 2004-2006 2007-2010 2010-2015

1. DKI Jakarta 2.20 1.5 1.90

2. Jawa Barat 2.80 2.20 2.40

3. Jawa Tengah 2.10 2.00 2.30

4. DI.Yogyakarta 1.90 1.40 1.90

5. Jawa Timur 2.10 1.70 2.00

6. Banten 2.60 2.30 2.50

7. Bali 2.10 1.70 2.10

Indonesia 2.60 2.20 2.40

Angka Kesuburan (TFR) Provinsi

Angka ketergantungan penduduk Indonesia sebesar 52,15, yang artinya setiap penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung 52 orang penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun). Semakin besar angka ketergantungan, maka semakin besar pula beban yang ditanggung penduduk usia produktif, semakin besar pula hambatan atas upaya perkembangan daerah.

Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukan bahwa penduduk yang berumur muda (0-14 tahun) sebesar 28,10%, yang berumur produktif (15-64 tahun) sebesar 66,80%, dan yang berumur tua (>65 tahun) sebesar 5,10%.

Dengan demikian Angka Beban Tanggungan (dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2014 sebesar 46,8%, sedangkan Provinsi Jawa Barat sebesar 46,3%.

Berdasarkan tipe daerah, angka beban tanggungan di pedesaan lebih besar dibandingkan perkotaan yaitu 58,49% berbanding 48,02%.

Demikian pula untuk indikator kependudukan lainnya seperti Angka Kesuburan (TFR) di Indonesia tahun 2014 sebesar 2,4, dan angka Jawa Barat menunjukan ke -2 yang paling tinggi diantara Provinsi-Provinsi yang ada di Jawa dan Bali. Berikut ini dapat dilihat perbandingan TFR antara Provinsi di Jawa dan Bali.

Tabel VII. A.3

Perbandingan Angka Kesuburan (TFR) Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Periode Tahun 2004-2005, 2007-2010 dan 2010-2015

Sumber : Proyeksi BPS

Dari Indikator Kesejahteraan Rakyat tahun 2014, dapat diketahui usia perempuan menikah pertama Indonesia, sudah menikah pada usia yang sangat muda, dibawah 15 tahun, selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun. Dari Gambar dibawah dapat dilihat sekitar 46,4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 134 Gambar. VII. A. 1

Proporsi Perempuan Umur Dibawah 20 Tahun Menurut Umur Menikah Pertama, Di Indonesia Dan Antara Provinsi Di Jawa-Bali Tahun 2014

3. Indeks Pembangunan Manusia

Paradigma pembangunan menempatkan manusia (penduduk) sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu tercapainya penguasaan atas sumber daya (pendapatan untuk mencapai hidup layak), peningkatan derajat kesehatan (usia hidup panjang dan sehat) dan meningkatkan pendidikan (kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat dan kegiatan ekonomi). Alat ukur yang lazim digunakan dalam memantau tingkat pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia. Untuk mengukur tingkat pemenuhan ketiga unsur diatas, yaitu: Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Daya beli.

Secara umum capaian IPM di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya capaian IPM dari tahun ke tahun selama periode 2008-2013. Perkembangan IPM di Jawa Barat masih lebih rendah dari rata-rata angka nasional, dapat dilihat dibawah ini.

Gambar. VII. A. 2

Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2013

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 135

Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Perekonomian Indonesia pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 5,21% dibandingkan pada tahun 2012.

Pertumbuhan ini didukung oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 5,14%, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 1,98%, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 4,21 %, dan Komponen Ekspor tumbuh sebesar 1,02 % dan Komponen Impor tumbuh sebesar 2,19 %. Sekitar 57,78 % dari PDB disumbang oleh Pulau Jawa, dengan urutan tiga provinsi terbesarnya adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Secara kuantitatif, kegiatan-kegiatan di sektor sekunder dan tersier masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan kegiatan sektor primernya lebih diperankan oleh luar Jawa.

Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya. Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel VII. A. 4

Persentase Penduduk Miskin

Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2008-2014

Sumber : BPS 2014

Apabila melihat tabel diatas persentase penduduk miskin mengalami penurunan yang signifikan dari 15,4% penduduk miskin Indonesia tahun 2008 menjadi 10,96% penduduk miskin tahun 2014. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2014 sebesar 9,18% menduduki urutan ke 4 terbesar dan dibawah angka Indonesia. Sekitar 15,72% penduduk Miskin di Indonesia berada di pedesaan dan 9,23% di perkotaan, sedangkan di Jawa Barat 9,09% berada di perkotaan dan 13,39%

di pedesaan.

Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan, baik fisik, sosial, mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 136

1. DKI Jakarta 3.63 1.73 0.29 6.02 21.74 23.60 57.01

2. Jawa Barat 27.16 2.76 0.39 6.06 12.69 5.79 54.85

3. Jawa Tengah 36.96 3.19 0.90 6.39 6.28 5.19 58.91

4. DI.Yogyakarta 46.45 5.57 0.84 13.98 7.55 9.92 84.31

5. Jawa Timur 28.29 0.95 1.16 6.12 6.95 3.35 46.82

6. Banten 24.28 4.33 0.43 3.66 19.46 6.62 58.78

7. Bali 15.11 6.53 2.18 9.48 10.69 11.59 55.58

Indonesia 28.41 6.91. 0.67 7.28 8.81 5.83 51.00

wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab, yaitu geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, daerah rawan bencana dan konflik sosial, dan kebijakan pembangunan. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.

Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diharapkan dapat meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya.

Tabel VII. A. 5

Persentase Rumah Tangga Yang Memiiliki Jaminan Pembiayaan/

Asuransi Kesehatan Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2014

Sumber : BPS

Dari tabel diatas terlihat bahwa baru 51% Rumah Tangga di indonesia yang memiliki Jaminan Pembiayaan /Asuransi Kesehatan, apabila dibandingkan antar provinsi di Pulau Jawa-Bali, ternyata Provinsi Jawa Barat (54,85%) menduduki urutan terendah tapi diatas angka Nasional.

5. Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Untuk mengambarkan keadaan lingkungan, dipengaruhi beberapa indikator seperti persentase rumah tangga terhadap akses air minum, persentase rumah tangga menurut sumber air minum dan sumber air minum dan persentase rumah tangga menurut kepemilikan fasilitasi buang air besar.

Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, Proporsi Rumah Tangga (RT) yang memiliki akses terhadap sumber air minum sesuai MDG’s di Indonesia adalah sebesar 66,8% (perkotaan: 64,3%; perdesaan: 69,4%). Provinsi dengan proporsi tertinggi untuk