HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan bimbingan ini dilakukan di taman kanak-kanak Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Penelitian dilakukan di kelas B1 yang berusia sekitar 4-5 tahun dengan jumlah anak 25 orang, 11 orang anak laki-laki dan 14 orang anak perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai bulan September 2014. Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan dalam 2 siklus dan setiap siklus direncanakan satu kali pertemuan. Tindakan dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan karakter disiplin melalui metode pembiasaan dengan media permainan. Adapun waktu pelaksanaan penelitian tindakan bimbingan untuk kelas B1 TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta diuraikan sebagai berikut:
Tabel: 4
Jadwal Pelaksanaan Penelitian Kelas B TK Tarakanita Bumijo Siklus Hari/ Tanggal Topik Judul dan Bahan Permainan
I Senin,
25 Agustus 2014
Disiplin diri Judul permainan pada pra tindakan adalah “harta karun” Bahan: kertas bergambar, kertas karton, karet gelang, spidol, lem. Media ini disesuikan dengan permainan yang dilakukan saat bimbingan.
2 Senin,
1 Agustus 2014
Peduli terhadap sesama
Judul permainan pada siklus I adalah “Ini nama saya”.
Bahan: kardus bekas untuk membuat bingkai, foto anak-anak, lem. Media ini disesuikan dengan permainan yang dilakukan saat bimbingan.
3 Senin,
8 September 2014
Aku senang menolong
Judul permainan pada siklus II adalah “Menggapai bintang”. Bahan: Gambar
teman bintang, kardus bekas untuk membuat bintang, tali, biji kacang hijau, beras merah, beras putih. Media ini disesuikan dengan permainan yang dilakukan saat bimbingan.
Penjabaran Hasil Penelitian dan Pembahasan Tiap Siklus Sebagai Berikut: 1. Pra Tindakan
Kegiatan pra tindakan dilaksanakan pada hari Senin, 25 Agustus 2014 dengan tujuan untuk mengetahui situasi awal anak-anak di kelas B1 sebelum peneliti melangkah pada tindakan penelitian. Alokasi waktu yang digunakan adalah 1 x 35. Pada saat tindakan bimbingan dilakukan observasi untuk mengamati perilaku anak-anak sehubungan dengan karakter disiplin anak-anak. Kegiatan pra tindakan dilaksanak-anakan sebagai berikut:
a. Perencanaan Pra Tindakan
Pada tahap perencanaan pra tindakan, penelitian mempersiapkan satuan pelayanan bimbingan (SPB) yang akan digunakan dalam bimbingan di pra tindakan. Sebelum kegiatan pra tindakan dilakukan peneliti mengkonsultasikan SPB tersebut kepada dosen pembimbing dan guru kelas B1 TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Selain itu peneliti juga menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam pra tindakan seperti panduan observasi dan pedoman wawancara dan telah dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempersiapkan dan merencanakan segala sesuatu sebelum kegiatan penelitian. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan perencanaan sebagai berikut:
1) Menyusun Perangkat Bimbingan
a) Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB). SPB disusun sebagai pedoman ketika melaksanakan kegiatan bimbingan dalam penelitian, dan disesuaikan dengan media bimbingan yang digunakan. Media bimbingan dalam penelitian ini adalah permainan harta karun yang difokuskan pada pengembangan karakter disiplin anak. Pada pra tindakan topik yang dibahas adalah disiplin diri.
b) Alasan peneliti memilih permainan harta karun, karena didalamnya terkandung aktivitas yang dapat membantu anak untuk mengembangkan aspek sosial seperti anak mau meneriman teman lain sebagai teman satu kelompok, aspek emosional seperti sabar menunggu giliran untuk bermain, aspek moral, seperti tidak menganggu teman, mengikuti peraturan-peraturan dalam permainan harta karun.
2) Penyusunan Instrumen Penelitian
a) Lembar Observasi
Lembar observasi disusun sebagai alat untuk mencatat hasil pengamatan terhadap pelaksanaan kegiatan pra tindakan dengan fokus pada pengembangan karakter disiplin anak selama mengikuti bimbingan.
b) Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara ditujukan kepada guru kelas sebagai mitra kolaboratif sebanyak lima butir. Tujuan dari wawancara adalah untuk melengkapi hasil observasi serta sebagai sarana bagi peneliti untuk memperoleh pengetahuan dari mitra kolaboratif.
b. Pelaksanaan Pra Tindakan
Pada hari Senin tanggal 25 Agustus, peneliti mengadakan pra tindakan. Peneliti dibantu oleh satu mitra kolaboratif yaitu wali kelas BI dan satu teman sebagai teknisi. Pada pra tindakan permainan yang digunakan berjudul “Harta Karun” dengan alat kertas bergambar, kertas karton, lem, spidol, karet gelang. Adapun langkah kegiatan dalam pelaksanaan pra tindakan adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan awal:
a) Peneliti membuka kegiatan dengan memberi salam.
b) Peneliti meminta anak-anak untuk tenang dan membuka kegiatan dengan berdoa.
c) Peneliti menyampaikan bentuk kegiatan bimbingan yang akan dilakukan bersama melalui permainan harta karun.
2) Kegiatan inti:
a) Peneliti menjelaskan permainan “Harta karun” dan menyampaikan peraturan-peraturan dalam permainan. Permainan ini menyimbolkan diri anak yang mempunyai kemampuan yang masih terpendam seperti kemampuan mendangarkan, tertib dalam berbaris, sabar menunggu giliran, perhatian dengan kebersihan diri, menolong orang lain, dan sebagainya, di mana semua itu perlu untuk digali. Melalui permainan ini kemampuan anak yang terpendam disimbolkan dengan kertas karton yang digulung, di dalamnya berisikan gambar anak sekolah dengan tulisan “aku anak disiplin”, “anak senang bermain dengan teman”, “aku tidak menganggu teman”, dan juga ada gambar anak yang sedang berdoa dengan tulisan “aku rajin berdoa”. Sebelum permainan ini dilaksanakan bersama anak-anak dalam bimbingan klasikal, peneliti terlebih dahulu mengkonsultasikan kepada guru kelas.
Alasan peneliti memilih permainan harta karun, karena didalamnya terkandung aktivitas yang dapat membantu anak untuk mengembangkan aspek sosial seperti anak mau meneriman teman lain sebagai teman satu kelompok, aspek emosional seperti sabar menunggu giliran untuk bermain, sabar menunggu giliran untuk mengumpulkan hasil karyanya. Aspek moral, seperti tidak menganggu teman, mengikuti peraturan-peraturan dalam permainan harta karun. Selain itu bentuk permainan harta karun ini juga dapat membantu anak untuk
mengembangkan aspek motorik seperti berlari, mengembangkan kognitif anak seperti mengenal warna ketika memilih gulungan kertas yang peneliti sediakan, memilih warna ketika akan mewarnai gambar. Kemudian permainan harta karun juga dapat mengembangkan aspek bahasa anak, seperti anak diminta untuk mengungkapkan perasaan atau pengalaman yang dialami selama bermain. Selama peneliti menjelaskan peraturan dalam permainan harta karun, masih ada beberapa anak yang kurang memperhatikan, seperti bercerita dengan teman disampingnya, bermain sendiri, menganggu temannya, berebut tempat untuk berdiri paling depan.
Pada saat permainan harta karun dimulai anak-anak sangat antusias untuk bermain dan mereka tidak sabar menunggu giliran untuk lekas bermain, sehingga anak-anak menjadi berebut. Setelah anak-anak mendapat kesempatan untuk bermain dan mendapatkan kertas yang digulung sebagai media untuk mewarnai, media ini justru digunakan untuk bermain. Kendati demikian ketika anak-anak mendengar intruksi untuk berkumpul menjadi satu kelompok dengan teman yang mempunyai kertas berwarna sama, mereka cepat tanggap dan segera berkumpul.
Bentuk dinamika dalam kelompok adalah mewarnai gambar yang belum seluruhnya diwarnai. Gambar yang warnai ialah anak yang sedang berjalan mau pergi sekolah, anak-anak bermain bersama, dua anak yang saling bergandengan tangan, anak yang sedang berdoa.
Gambar yang sudah diwarnai kemudian ditempelkan pada kertas karton yang telah peneliti sediakan. Intruski yang peneliti sampaikan dalam dinamika ini ialah, anak-anak yang sudah selesai boleh membantu teman yang lain. Kenyataannya yang terjadi adalah tidak ada anak-anak yang bergerak untuk membantu teman yang belum selesai mengerjakan tugas. Hal ini terlihat, sekalipun sudah selesai anak-anak tetap asyik bermain sendiri dengan media yang dipegangnya.
Proses penggalian pengalaman anak-anak, dilakukan oleh peneliti setelah anak-anak selesai menempelkan gambar pada karton. Caranya adalah meminta satu anak maju ke depan memperlihatkan hasil gambarnya dan peneliti membacakan tulisan yang sudah peneliti tuliskan pada kertas karton, seperti “Aku anak yang disiplin”, “Aku rajin ke sekolah”. Kembali dalam proses ini anak-anak berebut untuk mendapatkan giliran maju, dan hasil karyanya diperlihatkan ke teman-temannya serta dibacakan. Kemudian pertanyaan-pertanyaan yang peneliti ajukan untuk menggali pengalaman anak-anak ketika bermain, hanya dijawab oleh sebagian anak. Kendati demikian ada anak yang dengan spontan mengungkapkan pengalamannya terkaitkan dengan indikator yang dibahas. Misalnya soal “aku rajin berdoa”. Ada anak yang dengan polosnya mengatakan “aku tidak berdoa kalau mau tidur”. Hal ini merupakan pengalaman anak yang perlu untuk diluruskan tapi sekaligus juga perlu diberi pujian sebab anak sudah berani jujur dengan apa yang sudah ia lakukan. Selama proses berdinamika, terkadang
masih ada anak yang asyik bermain sendiri, bercerita dengan teman yang duduk disampingnya, dan juga masih ada yang menganggu teman lain.
Diakhir proses bimbingan klasikal, ada beberapa anak yang tanpa disuruh membereskan spidol yang masih berserakkan di lantai dan meletakan di atas meja. Sebaliknya, sebagian besar dari anak-anak kurang peduli dengan situasi itu, bahkan hanya melihat ketika ada satu dua anak yang merapikan spidol.
b) Di pengujung pelaksanaan bimbingan klasikal peneliti mengajak anak-anak untuk bernyanyi “Aku anak-anak yang disiplin”. Lagu ini berisikan tentang karakter disiplin. Adapun syair lagu tersebut adalah:
Aku seorang yang rajin, slalu bersikap disiplin,
slalu taati aturan, aku seorang disiplin.
Penekanan makna dari lagu ini adalah untuk mengajak anak-anak memiliki perilaku disiplin. Perilaku disiplin dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah.
3) Kegiatan penutup:
a) Peneliti mengevaluasi kegiatan hari ini dengan cara bertanya kepada anak-anak apakah kegiatan hari menyenangkan atau tidak.
c) Peneliti mengajak anak-anak mengucapkan terima kasih kepada ibu guru sebagai pengamat, kepada teknisi dan peneliti.
d) Peneliti mengajak anak-anak untuk berbaris untuk masuk kelas.
c. Data Hasil Wawancara dan Observasi Pra Tindakan 1) Data Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas sebagai mitra kolaboratif ditemukan beberapa masukan sebagai berikut:
a) Bimbingan sudah menarik, anak-anak merasa senang, karena kegiatan bimbingan dilakukan dengan bermain. Hanya kesiapan penelitian dalam menghadapi anak-anak kurang. Peneliti terkesan buru-buru, dan peneliti agak kualahan untuk menghadapi anak-anak yang mempunyai antusias bermain cukup besar, serta anak-anak yang masih kurang bisa mendengarkan peneliti.
b) Saat permainan harta karun dimulai anak-anak saling berebut untuk mulai lebih dulu.
c) Media permainan harta karun yang digunakan, setelah anak-anak mendapatkan justru dipakai untuk bermain oleh anak-anak, sehingga ada media yang rusak.
d) Anak-anak setelah mendapatkan media sebagai sarana untuk permainan menjadi tidak bisa diam dan kurang fokus terhadap peneliti, tetapi anak-anak lebih fokus dengan media yang sudah dipengangnya.
Adapun perilaku yang ingin dibantu dikembangkan lewat pembiasaan lebih ditekankan pada disiplin masuk sekolah, perhatian dengan barang milik sendiri, tertib dalam berbaris, sabar menunggu giliran, tidak memukul teman, mau menolong teman, tertib dan tenang dalam berdoa, tidak berebut mainan, tidak berjalan-jalan di kelas saat guru menjelaskan pelajaran.
2) Data Hasil Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti dan juga oleh mitra kolaboratif, untuk mendapatkan data tentang karakter disiplin anak melalui bimbingan klasikal. Penentuan penilaian hanya didasarkan pada anak yang berkembang sangat baik (BSB), berkembang sesuai harapan (BSH), dan anak yang mulai berkembang (MB), sedangkan anak yang belum berkembang (BB) dipandang sebagai karakter yang belum berkembang. Berikut hasil observasi pada pra tindakan.
a) Kuantitatif
Tabel: 5
Perkembangan Karakter Disiplin Anak Pra Tindakan
No Jumlah anak
Hal-hal yang diobservasi BSB BSH MB BB
1 Anak bergegas berbaris saat mendengar intruksi untuk berbaris
8 2 5 10
32% 8% 20% 40%
2 Anak tertib dalam berbaris 4 5 4 12
16% 20% 16% 48%
3 Anak menujukan wajah senang 13 3 3 6
52% 12% 12% 24%
4 Anak duduk dengan tenang 5 5 4 11
20% 20% 16% 44%
5 Anak menirukan gerakan ibadah 9 4 5 7
36% 16% 20% 28%
6 Anak berbicara dengan teman saat diberi penjelasan
12 4 4 5
7 Anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh
5 4 5 11
20% 16% 20% 24%
8 Anak jalan-jalan di kelas 9 3 3 10
39% 12% 12% 40%
9 Anak menganggu teman 6 6 3 10
24% 24% 12% 40%
10 Anak keluar ruangan tanpa ijin 5 1 1 18
20% 4% 4% 72%
11 Anak bersedia bermain dengan teman lain
7 6 6 6
28% 24% 24% 24%
12 Anak berebut mainan 13 2 2 8
52% 8% 8% 32%
13 Anak bertengkar dengan teman 6 3 5 11
24% 12% 20% 44%
14 Anak sabar menunggu gilirian 8 3 2 12
32% 12% 8% 48%
15 Anak mengikuti aturan-aturan permainan
10 3 1 11
40% 12% 4% 44%
16 Anak senang melakukan permainan 13 3 2 7
52% 12% 8% 28%
17 Anak mau menolong teman 0 0 2 23
0% 0% 8% 92%
18 Anak tidak mau mengalah 11 4 2 8
44% 16% 8% 32%
19 Anak merespon dengan baik ketika diberi pertanyaan
11 3 5 6
44% 12% 20% 24%
20 Anak berhenti bermain pada waktunya 13 2 3 7
52% 8% 12% 28%
21 Anak merapikan dan menyimpan alat tulis setelah bergiatan bermain
0 2 1 22
0% 8% 4% 88%
22 Anak mencuci tangan setelah melakukan permainan
16 4 2 3
64% 16% 8% 12%
23 Anak tidak memukul teman 13 3 2 7
52% 12% 8% 28%
24 Anak mau meminta tolong pada teman 0 0 2 23
0% 0% 8% 92%
25 Anak berbicara sopan dengan sesama teman
14 3 2 6
56% 12% 8% 24%
BB : Belum berkembang BSH : Berkembang sesuai harapan MB : Mulai berkembang BSB : Berkembang sangat baik
Pencapaian hasil penelitian pada pra tindakan belum mencapai target. Jika dipersentasekan keberhasilan perkembangan karakter disiplin dari 25 anak pada pra tindakan ini adalah:
Tabel: 6
Prosentasi (%) Nilai Perkembangan Pra Tindakan
No Hal-hal yang diobservasi Hasil observasi
pra tindakan 1 Anak bergegas berbaris saat mendengar intruksi
untuk berbaris
60%
2 Anak tertib dalam berbaris 52%
3 Anak menujukan wajah senang 76%
4 Anak duduk dengan tenang 56%
5 Anak menirukan gerakan ibadah 72%
6 Anak berbicara dengan teman saat diberi penjelasan 52% 7 Anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh 56%
8 Anak jalan-jalan di kelas 64%
9 Anak menganggu teman 76%
10 Anak keluar ruangan tanpa ijin 80%
11 Anak bersedia bermain dengan teman lain 76%
12 Anak berebut mainan 48%
13 Anak bertengkar dengan teman 76%
14 Anak sabar menunggu giliran 52%
15 Anak mengikuti aturan-aturan permainan 56%
16 Anak senang melakukan permainan 72%
17 Anak mau menolong teman 8%
18 Anak tidak mau mengalah 56%
19 Anak merespon dengan baik ketika diberi pertanyaan 76% 20 Anak berhenti bermain pada waktunya 72% 21 Anak merapikan dan menyimpan alat tulis milik
sendiri
12% 22 Anak mencuci tangan setelah melakukan permainan 88%
23 Anak tidak memukul teman 72%
24 Anak mau meminta tolong pada teman 8%
25 Anak berbicara sopan dengan sesama teman 76%
Rata-rata 60%
Data Skor Karakter Disiplin Anak Tabel: 7
Data Skor Karakter Disiplin Anak Pada Pra Tindakan
No Nama Jumlah Kategori Pra
Tindakan
1 Mesti 82 Sangat baik
2 Ellen 74 Baik 3 Rico 54 Cukup 4 Nico 54 Cukup 5 Natan 42 Cukup 6 Aurel 80 Baik 7 Olin 61 Baik 8 Jojo 45 Cukup 9 Radit 76 Baik 10 Echa 72 Baik 11 Veve 59 Cukup 12 Dallas 52 Cukup 13 Vito 53 Cukup 14 Fino 50 Cukup 15 Ceara 72 Baik
16 Bima 81 Sangat baik
17 Jea 43 Cukup
18 Nia 56 Cukup
19 Lili 45 Cukup
20 Valen 81 Sangat baik
21 Dicto 54 Cukup 22 Frida 67 Baik 23 Elin 59 Cukup 24 Diaz 59 Cukup 25 El 43 Cukup Jumlah 1511 Rata-rata 60.44 Cukup Tabel: 8
Kategori Skor karakter Disiplin Anak pada Pra Tindakan Kategori Jumlah Subyek Persentase
Lemah 21% - 40% 0 Cukup 41% - 60% 15 Subyek 15 25 x 100 = 60% Baik 61% - 80% 7 Subyek 725 x 100 = 28% Sangat baik 81% - 100% 3 Subyek 325 x 100 = 12%
Dari tabel di atas dapat dideskripsikan bahwa, anak yang memiliki kategori lemah tidak ada. Ada lima belas anak masuk dalam kategori cukup, dan dipersentasekan menjadi 60%. Ada enam anak masuk dalam kategori baik, dan dipersentasekan menjadi 28%. Selanjutnya ada empat anak masuk dalam kategori sangat baik, bila dipersentasekan menjadi 12%.
b) Kualitatif
Sesuai dengan pengamatan pada pra tindakan, anak-anak senang melakukan permainan, dan anak-anak juga sangat antusias melakukan permainan. Antusiasnya anak untuk bermain, justru membuat anak-anak saling berebut dan tidak sabar ingin melakukan permainan lebih dulu. Permainan harta karun dalam bimbingan di pra tindakan, dimainkan secara bergilir. Selain berebut, akhirnya anak-anak menjadi tidak tertib dalam berbaris, saling dorong, memukul teman, berbicara kurang sopan terhadap teman. Begitu juga saat melakukan permainan anak-anak kurang memiliki kepedulian terhadap temannya sekalipun ada intruksi untuk saling membantu satu sama lain. Diakhir kegiatan permainan harta karun, hanya ada beberapa anak yang tergerak hatinya untuk membereskan alat-alat yang digunakan dalam bermain, seperti merapikan spidol, dan juga pering kecil yang digunakan untuk tempat lem.
Peneliti melakukan observasi selama proses bimbingan dan juga di luar jam bimbingan. Observasi ini dilakukan pada saat anak-anak istirahat. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan terkait dengan karakter
disiplin, masih terdapat anak-anak yang menolak teman yang ingin bermain bersama, memukul teman, berebut mainan, tidak menolong saat ada temannya yang jatuh. Melihat hal ini peneliti mengingatkan anak-anak, bahwa menolak teman, memukul teman, berebut mainan itu tidak baik. Terkait dengan perilaku menolong teman, anak-anak juga masih diajari dan dingatkan.
d. Evaluasi dan Refleksi
Setelah pelaksanaan bimbingan klasikal dengan menggunakan permainan harta karun, kemudian pengamat dan peneliti mengadakan evaluasi terhadap bimbingan yang telah berlangsung. Setelah evaluasi dilanjutkan dengan refleksi.
Hasil evaluasi dari pra tindakan yang dilakukan oleh mitra kolaboratif menyatakan bahwa dalam pelaksanaan bimbingan, kegiatan yang diberikan terlalu banyak peraturan, sehingga anak-anak lelah. Pengamat melihat, pada dasarnya peneliti sudah berusaha memberikan bimbingan dengan baik, hanya masih perlu perbaikan dalam mengelola kelas. Terlihat selama kegiatan bimbingan berlangsung masih banyak anak-anak yang tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan peneliti, sehingga peneliti lebih sering mengajak anak-anak untuk diam.
Refleksi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa tindakan bimbingan dengan menggunakan media permainan baik untuk anak-anak, namun yang perlu dipikirkan adalah jenis permainan dan alat-alat praga dalam
permainan harus menarik, serta bagaimana mengelola kelas yang baik dan menyenangkan. Melalui refleksi ini peneliti sadar bahwa alat praga yang peneliti gunakan kurang menarik dan cara pengelolaan kelas juga kurang baik. Data dalam pra tindakan ini dilengkapi dengan data dokumentasi atau foto. Dokumentasi atau foto terdapat pada lampiran 5.
Pada intinya pelaksanaan bimbingan dalam penyampaian materi sesuai dengan satuan pelayanan bimbingan (SPB) yang telah disusun. Kendati demikian masih ada hambatan yang muncul saat pelaksanaan bimbingan dan itu perlu untuk diperbaiki. Adapun hambatan tersebut adalah:
1) Saat peneliti mengintruksi untuk berbaris, anak-anak ada yang berebut untuk menempati barisan paling depan, namun ada juga anak-anak yang bergerombol bercerita.
2) Anak terlalu ribut dan kurang mendengarkan peneliti.
3) Saat permainan dimulai anak-anak kurang sabar dalam menunggu giliran untuk melakukan permainan.
4) Pada saat anak-anak sudah mendapatkan kertas bergambar untuk diwarnai, kertas tersebut digunakan untuk mainan.
5) Peneliti terlalu cepat dalam berbicara dan terlihat agak gugup menghadapi anak-anak.
Observasi untuk mengetahui bagaimana perilaku anak-anak dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, terkait dengan permasalahan yang muncul
dalam kegiatan bimbingan, peneliti melakukan dua kali dalam seminggu. Observasi ini juga peneliti lakukan untuk mengetahui perkembangan karakter disiplin anak melalui penerapan metode pembiasaan bagi pembelajaran di sekolah TK B 1 Tarakanita Bumijo. Peneliti melakukan observasi mulai dari anak-anak berbaris mau masuk ruang kelas, proses belajar di kelas, saat istirahat, dan juga saat pelajaran berakhir. Melalui observasi ini, peneliti menemukan bentuk permasalah yang sama, antara permasalahan yang muncul pada saat bimbingan dengan kehidupan konkrit anak-anak di sekolah. Permasalahan tersebut, ialah anak yang kurang perhatian dengan barang milikinya sendiri, berebut mainan, berebut saat berbaris, tidak sabar menunggu giliran, memukul teman, saat berdoa belum tenang, anak belum mengerti bagaimana menolong teman dan bagaimana minta bantuan orang lain, dan di kelas masih ada anak yang jalan-jalan dan bermain sendiri. Data dalam pra tindakan terkait dengan observasi pembiasaan dalam kehidupan anak di sekolah ini dilengkapi dengan data dokumentasi atau foto. Dokumentasi atau foto terdapat pada lampiran 6.
Mengembangkan karakter disiplin anak melalui metode pembiasaan harus disampaikan secara berulang-ulang, serta mengajari bagaimana melakukan perilaku disiplin. Melalui kehidupan konkrit misalnya, anak yang sering berjalan-jalan di kelas harus diingatkan secara halus, dengan mengatakan “jangan jalan -jalan, itu akan menganggu teman yang sedang belajar”, dan ini tidak cukup sekali dua kali disampaikan kepada anak. Begitu juga saat berdoa, anak dibiasakan bagaimana berdoa yang baik, misalnya mata ditutup, tangan terkatup didada, dan dalam penelitian ini, guru dan peneliti berusaha untuk memberikan contoh yang
baik dalam berdoa. Hal ini hendak menandaskan bahwa membiasakan anak berprilaku yang baik, membutuhkan suatu model atau keteladanan dari orang dewasa atau pendidik
Upaya mengembangkan karakter disiplin anak untuk menjadi lebih baik, telah diusahakan pada pra tindakan dan berproses dalam pembiasaan hidup konkrit anak di sekolah. Pengamatan yang peneliti lakukan mulai dari pra tindakan dan pembiasaan dalam kehidupan anak, menunjukkan bahwa karakter disiplin anak masih sangat perlu untuk dikembangkan. Hal ini terkait dengan anak yang kurang perhatian dengan barang milikinya sendiri, berebut mainan, berebut saat berbaris, tidak sabar menunggu giliran, memukul teman, saat berdoa belum tenang, anak belum mengerti bagaimana menolong teman dan bagaimana minta bantuan orang lain, anak-anak yang jalan-jalan di kelas dan bermain sediri. Melihat situasi ini, jelas bahwa anak-anak membutuhkan suatu layanan bimbingan. Layanan bimbingan akan peneliti laksanakan pada siklus 1.
2. Siklus I
Siklus I dalam penelitian tindakan bimbingan dilaksanakan dalam 1 x pertemuan, dengan alokasi waktu 1 x 35 menit. Pada siklus 1, hal-hal yang diperhatikan oleh peneliti adalah berfokus pada data yang perlu diperbaiki berdasarkan refleksi pada pra tindakan. Fokus yang perlu diperbaiki dalam siklus I ini adalah kurang perhatian dengan barang milikinya sendiri, berebut mainan, berebut saat berbaris, tidak sabar menunggu giliran, memukul teman, saat berdoa belum
tenang, anak belum mengerti bagaimana menolong teman dan bagaimana minta bantuan orang lain, anak yang jalan-jalan di kelas dan bermain sediri.