• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dewan para uskup

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 86-90)

Peran Hierarki dan Peran Kaum Awam

A. Peran Hierarki dalam Gereja Katolik

2. Dewan para uskup

Pada akhir zaman Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para uskup adalah pengganti para rasul, seperti juga dinyatakan dalam Konsili Vatikan II (LG, artikel 20). Tetapi hal itu tidak berarti bahwa hanya ada dua belas uskup (karena dua belas rasul). Di sini dimaksud bukan rasul satu persatu diganti oleh orang lain, tetapi kalangan para rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh kalangan para uskup. Hal tersebut juga dipertegas dalam Konsili Vatikan II (LG, artikel 20 dan 22).

Tegasnya, dewan para uskup menggantikan dewan para rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang diterima menjadi uskup karena diterima ke dalam dewan itu. Itulah tahbisan uskup,

“Seorang menjadi anggota dewan para uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan persekutuan hierarkis dengan kepada maupun para anggota dewan” (LG, artikel 22). Sebagai sifat kolegial ini, tahbisan uskup lalu dilakukan oleh paling sedikit tiga uskup, sebab tahbisan uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam dewan para uskup (LG, artikel 21).

3. Paus

Kristus mengangkat Petrus menjadi ketua para rasul lainnya untuk menggembalakan umat-Nya. Paus, pengganti Petrus adalah pemimpin para uskup.

Menurut kesaksian tradisi, Petrus adalah uskup Roma pertama. Karena itu Roma selalu dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja.

Maka menurut keyakinan tradisi, uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua dewan pimpinan Gereja. Paus adalah uskup Roma, dan

sebagai uskup Roma ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa yang serupa dengan Petrus. Hal ini dapat kita lihat dalam sabda Yesus sendiri: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:17-19).

4. Uskup

Paus adalah juga seorang uskup. Kekhususannya sebagai paus, bahwa dia adalah ketua dewan para uskup. Tugas pokok uskup di tempatnya sendiri dan paus bagi seluruh Gereja adalah pemersatu. Tugas hierarki yang pertama dan utama adalah memersatukan dan memertemukan umat. Tugas itu boleh disebut tugas kepemimpinan, dan para uskup “dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG, artikel 27).

Tugas pemersatu dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan Gereja. Komunikasi iman Gereja terjadi dalam pewartaan, perayaan dan pelayanan. Maka dalam tiga bidang itu para uskup, dan paus untuk seluruh Gereja, menjalankan tugas kepemimpinannya. “Di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injillah yang terpenting” (LG, artikel 25). Dalam ketiga bidang kehidupan Gereja, uskup bertindak sebagai pemersatu, yang memertemukan orang dalam komunikasi iman.

5. Imam

Pada zaman dahulu, sebuah keuskupan tidak lebih besar daripada sekarang yang disebut paroki. Seorang uskup dapat disebut “pastor kepala”

pada zaman itu. dan imam-imam “pastor pembantu”, lama kelamaan pastor pembantu mendapat daerahnya sendiri, khususnya di pedesaan.

Makin lama daerah-daerah keuskupan makin besar. Dengan demikian, para uskup semakin diserap oleh tugas organisasi dan administrasi. Tetapi itu sebetulnya tidak menyangkut tugasnya sendiri sebagai uskup, melainkan cara melaksanakannya, sehingga uskup sebagai pemimpin Gereja lokal, jarang kelihatan di tengah-tengah umat.

Melihat perkembangan demikian, para imam menjadi wakil uskup. “Di masing-masing jemaat setempat dalam arti tertentu mereka menghadirkan uskup. Para imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan para uskup, sebagai penolong dan organ mereka” (LG, artikel 28).

Tugas konkret mereka sama seperti uskup: “Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi”.

6. Diakon

“Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para Diakon, yang ditumpangi tangan “bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan”

[111]. Sebab dengan diteguhkan rahmat sakramental mereka mengabdikan diri kepada umat Allah dalam perayaan liturgi, sabda dan amal kasih, dalam persekutuan dengan uskup dan para imamnya. Adapun tugas diakon, sejauh dipercayakan kepadanya oleh kewibawaan yang berwenang, yakni: menerimakan babtis secara meriah, menyimpan dan membagikan Ekaristi, atas nama Gereja menjadi saksi perkawinan dan memberkatinya, mengantarkan komuni suci terakhir kepada orang yang mendekati ajalnya, membacakan Kitab Suci kepada kaum beriman, mengajar dan menasihati umat, memimpin ibadat dan doa kaum beriman, menerimakan sakramen-sakramentali, memimpin upacara jenazah dan pemakaman.

Sambil membaktikan diri kepada tugas-tugas cinta kasih dan administrasi, hendaklah para diakon mengingat nasihat Santo Polikarpus: “Hendaknya mereka selalu bertindak penuh belas kasihan dan rajin, sesuai dengan kebenaran Tuhan, yang telah menjadi hamba semua orang” [112]; (LG artikel 29)

Catatan tentang kardinal

Seorang kardinal adalah seorang uskup yang diberi tugas dan wewenang memilih paus baru, bila ada seorang paus yang meninggal. Sejarah awalnya, karena paus adalah uskup Roma, maka paus baru sebetulnya dipilih oleh pastor-pastor kota Roma, khususnya pastor-pastor dari gereja-gereja “utama” (cardinalis). Dewasa ini para kardinal dipilih dan diangkat langsung oleh paus dari uskup-uskup seluruh dunia. Lama kelamaan para kardinal juga berfungsi sebagai penasihat paus, bahkan fungsi kardinal menjadi suatu jabatan kehormatan. Sejak abad ke-13 warna pakaian khas adalah merah lembayung.

Kardinal bukan jabatan hierarkis dan tidak termasuk struktur hierarkis.

Jabatannya sebagai uskuplah yang merupakan jabatan hierarkis dan masuk dalam struktur hierarki. Para uskup yang dipilih oleh paus sebagai kardinal kemudian membentuk suatu Dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih paus dibatasi sebanyak 120 orang dan di bawah usia 80 tahun.

Fungsi khusus hierarki

Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi (mengajar), imam (menguduskan), dan raja (memimpin/

menggembalakan). Meskipun menjadi tugas umum dari seluruh umat beriman, namun Gereja atas dasar sejarahnya di mana Kristus memilih para rasul untuk melaksanakan tugas itu secara khusus, kemudian menetapkan pembagian tugas tiap komponen umat. Gereja menetapkan pembagian tugas tiap komponen umat (hierarki, biarawan/biarawati, dan kaum awam) untuk menjalankan tri-tugas dengan cara dan fungsi yang berbeda.

Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di atas, fungsi khusus hierarki adalah sebagai di bawah ini.

Menjalankan tugas Gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, mengajar, dan sebagainya.

Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki memersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat dan teladan.

Corak kepemimpinan dalam Gereja

Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus dimana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yoh 15:16). Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.

Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus sendiri.

Kepemimpinan dalam Gereja adalah kepemimpinan melayani, bukan untuk dilayani, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Maka paus disebut sebagai “servus servorum Dei” (hamba dari hamba-hamba Allah).

Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan karena sakramen tahbisan yang diterimanya maka tidak dapat dihapuskan oleh manusia. Sedangkan kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan oleh manusia, karena ia memang diangkat dan diteguhkan oleh manusia.

2. Pendalaman

Berdiskusilah dalam kelompok kecil dengan panduan pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1) Sebutkan struktur kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja Katolik!

2) Siapakah paus dan apa fungsinya?

3) Siapakah uskup dan apa fungsinya?

4) Siapakah imam dan apa fungsinya?

5) Siapakah diakon dan apa fungsinya?

6) Apa fungsi khusus hierarki?

7) Apa corak kepemimpinan dalam Gereja?

Laporkan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas! Mintalah tanggapan dari teman kelasmu dan gurumu!

Langkah Ketiga: Mewujudkan Sikap Syukur atas Peran Hierarki Gereja

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 86-90)

Dokumen terkait