• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gereja dan Dunia

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 151-156)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2021

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI

Penulis : Daniel Boli Kotan

Fransiskus Emanuel da Santo, Pr ISBN : 978-602-244-590-6 (jil.2)

Bab

5

Pengantar

Gereja Pasca Konsili Vatikan II melihat dirinya sebagai sakramen keselamatan bagi dunia. Gereja menjadi terang, garam, dan ragi bagi dunia dan dunia menjadi tempat atau ladang, dimana Gereja berbakti. Dunia tidak dihina dan dijauhi melainkan didatangi dan ditawari keselamatan. Dunia dijadikan mitra dialog dan Gereja dapat menawarkan nilai-nilai Injil dan dunia dapat mengembangkan kebudayaannya, adat istiadat, alam pikiran, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Karenanya Gereja dapat lebih efektif menjalankan misi dunia. Gereja pun tetap menghormati otonomi dunia dengan sifatnya yang sekuler, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat menyejahterakan manusia dan membangun sendi-sendi kerajaan Allah. Pada dasarnya Gereja dan dunia manusia merupakan realitas yang sama, seperti mata uang yang ada dua sisinya. Berbicara tentang Gereja berarti bicara tentang dunia manusia.

Pada bab V ini kalian belajar tentang hubungan Gereja dan dunia pada zaman modern ini. Untuk mencapai tujuan pembelajaran ini maka kalian akan memelajari sub-sub pokok bahasan tentang:

A. Hubungan Gereja dan Dunia;

B. Ajaran Sosial Gereja;

C. Hak Asasi Manusia dalam Terang Ajaran Kitab Suci dan Ajaran Gereja.

A. Hubungan Gereja dan Dunia

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami hubungan Gereja dan dunia, dan dapat mewujudkannya dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat.

Pengantar

Paus Fransiskus menyampaikan sebuah ensklik baru bernama Fratelli Tutti, di Assisi, Italia, bertepatan dengan peringatan meninggalnya Santo Fransiskus Assisi, tanggal 3 Oktober 2020. Persaudaraan dan persahabatan sosial adalah cara paus menunjukkan bagaimana membangun dunia yang lebih baik, lebih adil dan damai, dengan kontribusi semua masyarakat dan institusi. Dengan konfirmasi tegas atas kata ‘tidak’ untuk peperangan dan ketidakpedulian global. Suatu cita-cita yang besar tetapi juga cara nyata untuk maju bagi mereka yang ingin membangun dunia yang lebih adil dan persaudaraan dalam hubungan sehari-hari mereka, dalam kehidupan sosial, politik dan institusi. Fratelli Tutti adalah “Ensiklik Sosial” (6) yang meminjam judul “Nasihat” Santo Fransiskus dari Assisi, yang diadaptasi dari salah satu nasihat Santo Fransiskus, yang di kalangan para Fansiskan dikenal dengan sebutan petuah: “Marilah saudara sekalian, kita memandang Gembala yang Baik yang telah menanggung sengsara salib untuk menanggung dosa domba-domba-Nya.” (Petuah 6,1). Ensiklik ini menunjukan konsistensi Gereja Katolik dalam hubungan atau relasinya dengan dunia.

Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, artikel 1 antara lain menyatakan: “Kegembiraan dan harapan, duka, dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar, adalah kegembiraan dan harapan, duka, dan kecemasan murid-murid Kristus pula”. Kata-kata konsili ini menunjukkan perhatian dan keprihatinan Gereja terhadap dunia. Namun, Gereja tidak berhenti pada perhatian dan keprihatinan saja. Gereja sungguh-sungguh mewartakan dan memberi kesaksian tentang “Kabar Gembira” kepada dunia, sambil belajar dan mengambil banyak nilai-nilai positif yang dimiliki dunia untuk perkembangan diri dan pewartaannya. Gereja kini telah memiliki pandangan tentang dunia yang jauh lebih positif dari zaman-zaman yang lampau, sehingga hubungan antara keduanya menjadi lebih saling menguntungkan. Jadi, hubungan antara Gereja dan dunia memiliki pandangan-pandangan baru yang perlu dipahami.

Doa Pembuka

Marilah mengawali kegiatan pembelajaran ini dengan doa!

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Allah yang penuh kasih, Yesus Kristus telah mengutus kami menjadi insan dan Gereja yang hidup, Gereja yang menjadi terang, garam, dan ragi bagi dunia dan dunia menjadi tempat atau ladang, dimana Gereja dan kami umat-Mu berbakti. Melalui pembelajaran ini, jadikanlah kami umat-Mu menjadi Gereja yang mampu membangun kehidupan manusia yang damai, adil, sejahtera, serta senantiasa menjaga keutuhan ciptaan-Mu. Berkatilah kami dalam

pertemuan ini, agar kami mampu belajar bersama dan terbuka pada karya Roh Kudus-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Langkah Pertama: Menggali Pengalaman Hidup

1. Baca dan simaklah artikel berikut ini!

Angka Kemiskinan dan Pengangguran Meningkat

(Menganalisis Masalah Sosial Ekonomi Masyarakat Terdampak Covid-19) “Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga, mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut (Soekanto, 2013). Kasus Corona di Indonesia telah hampir melumpuhkan kegiatan ekonomi masyarakat. Sejak pemerintah menerapkan berbagai kebijakan seperti work from home, pembatasan wilayah, dan penutupan berbagai tempat publik seperti tempat wisata, banyak perusahaan atau perkantoran yang meliburkan pegawainya. Para pengusaha UMKM juga bahkan ada yang memutihkan karyawan (PHK) sebagai antisipasi dampak penutupan usaha dalam waktu yang belum ditentukan.

Tidak hanya itu, pekerja sektor informal juga sangat dirugikan akibat kasus Corona ini. Para pekerja informal yang biasanya mendapatkan pendapatan harian kini kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka adalah pekerja warung, toko kecil, pedagang asongan, pedagang di pasar, pengendara ojek online, hingga pekerja lain yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian termasuk di pusat-pusat perbelanjaan. Akibatnya, mereka memilih pulang kampung ke daerah masing-masing karena tidak sanggup menanggung beban kehidupan tanpa adanya kepastian pemasukan. Selama delapan hari terakhir, tercatat 876 armada bus

antar provinsi yang membawa kurang lebih 14.000 penumpang dari Jabodetabek, menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja informal yang mencari nafkah di ibu kota (BBC Indonesia, 30 Maret 2020).

Hal ini tentu bisa menyebabkan angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia meningkat. Per Maret 2019 saja, penduduk golongan rentan miskin dan hampir miskin di Indonesia sudah mencapai 66,7 juta orang atau hampir tiga kali lipat jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan (golongan miskin dan sangat miskin). Ironisnya sebagian besar dari golongan ini bekerja di sektor informal, khususnya yang mengandalkan upah harian. Apabila penanganan pandemi berlangsung lama, periode pembatasan dan penurunan mobilitas orang akan semakin panjang. Akibatnya, golongan rentan miskin dan hampir miskin yang bekerja di sektor informal dan mengandalkan upah harian akan sangat mudah kehilangan mata pencaharian dan jatuh ke bawah garis kemiskinan (CNBC Indonesia, 29 Maret 2020).

Dengan berbagai masalah sosial ekonomi tersebut, pemerintah Indonesia berupaya untuk memulihkan kondisi, salah satunya dengan memberikan insentif sebagai stimulus bagi masyarakat. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah tengah menyiapkan stimulus ekonomi jilid III yang akan difokuskan untuk sektor kesehatan dan menjangkau jaring sosial. Aliran bantuan ini akan disalurkan melalui program-program pemerintah seperti program keluarga harapan, kredit usaha rakyat, kredit ultra mikro, kartu sembako, hingga program bantuan pangan non tunai (Tempo, 18 Maret 2020). Namun, pemerintah juga bukan hanya perlu memerhatikan kesejahteraan masyarakat dalam hal ekonomi saja, pemerintah juga harus memerhatikan sisi sosial dan psikologis masyarakat. Hal ini karena kesejahteraan sosial bukan hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan ekonomi, namun juga kebutuhan sosial dan psikologis berupa ketenangan dan keamanan bagi masyarakat. Salah satunya dengan terus membatasi informasi tidak benar (hoaks) yang dapat meresahkan masyarakat dan memberikan informasi yang dapat memberikan semangat dan energi positif bagi masyarakat. Dengan demikian, kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia, baik yang terdampak Corona maupun yang tidak, akan tetap terjamin hingga kasus Corona ini selesai”.

Syadza Alifa, M.Kesos/Calon Widyaiswara Ahli Pertama BBPPKS Bandung Sumber: puspensos.kemsos.go.id

2. Pendalaman

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1) Apa itu kemiskinan menurut artikel ini?

2) Mengapa terjadi lonjakan kemiskinan dan penggangguran di Indonesia? Buatlah analisis berdasarkan situasi yang terjadi saat ini!

3) Bagaimana cara pemerintah Indonesia menanggulangi atau menekan bertam-bahnya orang miskin dan penggangguran akibat Covid-19?

4) Apa pendapat dan solusi kalian tentang permasalahan kemiskinan dan pengang-guran yang terjadi saat ini dan ke depannya?

Langkah Kedua: Menggali Ajaran Gereja tentang Hubungan Gereja

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 151-156)

Dokumen terkait