• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Kaum Awam dalam Gereja Katolik

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 93-96)

Langkah Ketiga: Mewujudkan Sikap Syukur atas Peran Hierarki Gereja 1. Refleksi

B. Peran Kaum Awam dalam Gereja Katolik

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami siapa dan apa peran kaum awam dalam Gereja dan bersyukur atas keberadaan kaum awam dalam hidup sehari-hari.

Pengantar

Fakta dalam kehidupan Gereja, bagian terbesar dalam Gereja adalah kaum awam.

Menurut Lumen Gentium, artikel 31, kaum awam adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau berstatus religius yang diakui dalam Gereja. Jadi, kaum beriman kristiani, berkat baptis telah menjadi anggota tubuh Kristus, terhimpun menjadi umat Allah. Dengan cara mereka sendiri, mereka ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus. Dengan demikian, sesuai dengan kemampuannya mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan dunia. Tugas khas kaum awam adalah melaksanakan dan mewujudkan kabar baik di tengah-tengah dunia, di mana kaum klerus dan biarawan-biarawati tidak dapat masuk ke dalamnya kecuali melalui kaum awam. Dewasa ini keterlibatan kaum awam dalam tugas menggereja dan memasyarakat semakin aktif.

Harus diakui bahwa masih ada awam yang masih bersifat pasif, menunggu perintah dari hierarki. Namun demikian, hal itu tidak mengurangi meningkatnya partisipasi kaum awam dalam kegiatan kerasulan gerejani.

Doa Pembuka

Marilah kita awali pembelajaran ini dengan doa!

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Ya Bapa yang Mahabijaksana, dalam Gereja suci-Mu, Engkau menanamkan panggilan bagi setiap insan untuk melayani-Mu. Engkau telah mengangkat hamba-hamba-Mu, melalui imamat yang suci menjadi pemimpin Gereja kami.

Engkau juga memanggil semua orang kristiani, mereka yang tak tertahbis, para awam, untuk terlibat aktif dalam karya-karya Gereja-Mu di dunia ini.

Kami mohon ya Bapa, semoga dalam pembelajaran ini kami dapat mengerti, memahami dan mau terlibat dalam kegiatan Gereja-Mu. Sebagai kaum awam, semangatilah kami dalam tindakan nyata Gereja. Engkau yang kami puji kini dan sepanjang masa. Amin.

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Langkah Pertama: Menggali Pemahaman tentang Kaum Awam

1. Bacalah cerita berikut ini!

Kaum Awam

Tema Temu Pastoral (Tepas) 2014 untuk para imam se-Keuskupan Agung Jakarta yakni kiat mengelola gerakan kaum awam untuk karya kerasulan. Inti tema ini adalah bagaimana kaum awam yang selama ini sudah terlibat dengan baik dalam tugas menggereja, semakin ditingkatkan partisipasinya.

Sebuah kabar baik dituturkan resi manajemen Peter Drucker yang menyoal tentang peran awam dalam karya sosial. Drucker meneliti para awam yang berkarya pada lembaga sosial maupun keagamaan. Kata Drucker, “Dalam tugas sosial, relawan (kaum awam) harus mendapatkan kepuasan yang jauh lebih besar sebagai hasil dari pencapaian mereka; dan memberi kontribusi yang lebih besar, terutama karena mereka tidak menerima bayaran.” Ada tiga hal pokok yang perlu mendapat penekanan: kepuasan, kontribusi, dan pembayaran.

Ketika awam yang berkarya sosial, ia justru memberi kontribusi lebih untuk karya sosialnya. Transaksional berubah menjadi pelayanan. Mengapa? Karena ia tidak mendapat pembayaran atau upah. Kepuasaan yang diharapkan melampaui dari upah yang diterima, jika ia bekerja. Kaum awam puas, karena memberikan tenaga, pemikiran, bahkan dana untuk panggilan kemanusiaan (sosial).

Kesimpulan dari sang resi manajemen ini menjadi kabar gembira untuk kaum awam dan Gereja. Bagi kaum awam, mereka akan memberikan diri terbaik untuk tugas kerasulan daripada panggilan tugas dia sebagai profesional. Sementara bagi Gereja, ada kesempatan untuk mengoptimalkan peran awam dalam karya kerasulan, asalkan mereka mendapat kepuasan lebih dibanding bekerja dalam sektor formal. Dengan demikian, tugas Gereja tak lain memberi wadah terbaik, sehingga kaum awam merasa nyaman dalam pelayanan.

Umum diketahui bahwa ada beberapa tantangan ketika kaum awam hendak berpartisipasi dalam karya kerasulan. Tantangan pertama dalam diri kaum awam, seperti, pertama, yang aktif terbatas, hanya itu-itu saja. Kedua, keterbatasan

pengetahuan tentang ajaran sosial Gereja sebagai landasan karya kerasulan.

Ketiga, takut menerima risiko dalam melaksanakan wewenang jabatan. Keempat, yang terlalu aktif mendominasi, bahkan merasa yang paling hebat di antara awam yang lain.

Tantangan kedua berasal dari dalam Gereja: hierarki maupun kelembagaan Gereja. Sering muncul istilah pastor sentris, birokrasi dalam Gereja yang menimbulkan kelompok sendiri, atau kelambanan hierarki dalam melakukan eksekusi terhadap rencana yang telah ditetapkan. Dari diskusi dengan para imam dalam Tepas beberapa waktu lalu, ada tiga hal utama yang layak dilakukan, sehingga karya kerasulan kaum awam semakin optimal.

Pertama, semakin memererat kemitraan antara imam dengan awam. Kata kunci dalam karya kerasulan tak lain adalah kemitraan. Dengan demikian, kemitraan imam dan awam harus terus ditingkatkan dan diperlebar untuk memenuhi tuntutan umat yang semakin beragam.

Kedua, mengembangkan pastoral partisipatif dan transformatif sesuai prioritas.

Pastor sentris memang tidak selalu jelek. Bahkan, dalam banyak kasus, pastor sentris akan memerkuat organisasi. Namun ketika perubahan semakin kencang dan perilaku umat semakin beragam, pastor sentris lebih baik diminimalkan. Ia diganti dengan pastoral partisipatif dan transformatif. Artinya, awam semakin aktif dan pastor selalu siap melakukan transformasi diri dan kelembagaan, sehingga awam yang partisipatif mendapat wadah terbaik.

Ketiga, pastoral berbasis data. Untuk memerkuat karya kerasulan sekaligus juga memerkuat kelembagaan, data menjadi tak terbantahkan. Melalui data yang akurat, awam bersama dengan pastor bisa merencanakan kegiatan kerasulan yang sesuai dengan perubahan zaman. Pastoral berbasis data juga akan memberikan berbagai alternatif bagi kaum awam untuk merasul. Data mematahkan opini. Data memberikan legitimasi dalam bertindak dan berkarya.

Apresiasi tinggi kepada kaum awam yang sudah memberikan diri terbaik dalam hidup menggereja. Gereja masa depan memang tak lepas dari kemitraan yang solid antara awam dan imam. (A.M. Lilik Agung, Majalah HIDUP NO. 32, 10 Agustus 2014)

Sumber: www.hidupkatolik.com/A.M. Lilik Agung (2018)

2. Pendalaman

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1) Apa isi secara keseluruhan artikel itu?

2) Apa saja peran kaum awam dalam karya sosial menurut Peter Drucker?

3) Apa itu kaum awam?

Langkah Kedua: Menggali Ajaran Gereja tentang Kaum Awam

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 93-96)

Dokumen terkait