• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah Ketiga: Menghayati Kekatolikan Gereja dalam Hidup 1. Refleksi

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 68-73)

Buatlah refleksi tentang apa dan bagaimana kalian mewujudkan sifat kekatolikan Gereja dalam hidupmu!

2. Aksi

Buatlah rencana aksi nyata untuk mewujudkan kekatolikan dirimu dalam hidup sehari-hari di rumah, sekolah, gereja dan masyarakat!

Doa Penutup

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, Amin.

Ya Tuhan, melalui pertemuan ini kami sudah disuguhi bekal pengetahuan akan Gereja-Mu yang abadi, satu, kudus, katolik dan apostolik. Semoga dengan bertambahnya pengetahuan yang kami terima, hati kami terbuka, dan senantiasa kami mengundang Roh Kudus-Mu untuk menggiatkan kami agar kami semakin mencintai Gereja yang hidup dan berziarah di dunia ini.

Dengan perantaraan Kristus Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Rangkuman

- Ada hubungan dekat antara agama dan kebudayaan. Hubungan ini telah mewajibkan Gereja Katolik untuk setia mendengarkan bisikan kebudayaan.

Kewajiban lain yang lebih luas adalah untuk merefleksikan dan merenungkan

proses terbentuknya interaksi budaya manusia. Proses inkulturasi dapat dilihat sebagai perjalanan dari kebudayaan yang satu menuju kebudayaan lain.

Agama dan kristianitas akhirnya adalah bagian dari kebudayaan manusia.

- Konsili Vatikan II menegaskan agar Gereja Katolik membuka diri dan menerima unsur-unsur kebudayaan setempat. Tentu sejauh unsur-unsur kebudayaan itu tidak secara prinsipil bertolak belakang dengan ajaran Gereja.

- Katolik makna aslinya berarti universal atau umum. Arti universal dapat dilihat secara kuantitatif dan kualitatif.

- Gereja itu katolik karena Gereja dapat hidup di tengah segala bangsa dan memeroleh warganya dari semua bangsa. Gereja sebagai sakramen Roh Kudus mempunyai pengaruh dan daya pengudus yang tidak terbatas pada anggota Gereja saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia.

- Dengan sifat katolik ini dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri untuk berkiprah ke seluruh penjuru dunia.

- Gereja itu katolik karena ajarannya dapat diwartakan kepada segala bangsa dan segala harta kekayaan bangsa-bangsa dapat ditampungnya sejauh itu baik dan luhur.

- Gereja terbuka terhadap semua kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat yang luhur tanpa kehilangan jati dirinya. Sebenarnya, Gereja bukan saja dapat menerima dan merangkum segala sesuatu, tetapi Gereja dapat menjiwai seluruh dunia dengan semangatnya. Oleh sebab itu, yang katolik bukan saja Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya, sebab dalam setiap jemaat hadirlah seluruh Gereja. Setiap jemaat adalah Gereja yang lengkap, bukan sekadar “cabang” Gereja universal. Gereja setempat merupakan seluruh Gereja yang bersifat katolik.

- Gereja bersifat katolik berarti terbuka bagi dunia, tidak terbatas pada tempat tertentu, bangsa dan kebudayaan tertentu, waktu atau golongan masyarakat tertentu.

- Kekatolikan Gereja tampak dalam rahmat dan keselamatan yang ditawarkannya.

- Iman dan ajaran Gereja yang bersifat umum, dapat diterima dan dihayati oleh siapa pun juga.

- Kekatolikan Gereja tidak berarti bahwa Gereja meleburkan diri ke dalam dunia. Dalam keterbukaan itu, Gereja tetap memertahankan identitas dirinya.

- Kekatolikan justru terbukti dengan kenyataan bahwa identitas Gereja tidak tergantung pada bentuk lahiriah tertentu, melainkan merupakan suatu identitas yang dinamis, yang selalu dan dimana-mana dapat memertahankan diri, bagaimanapun juga bentuk pelaksanaannya. Kekatolikan Gereja bersumber dari firman Tuhan sendiri.

- Gereja itu bersifat dinamis. Maka Gereja dapat dikembangkan lebih nyata atau diwujudkan dengan cara: bersikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adat istiadat, bahkan agama bangsa mana pun. Bekerja sama dengan pihak mana pun yang berkehendak baik untuk mewujudkan nilai-nilai yang luhur di dunia ini.

- Berusaha untuk memrakarsai dan memerjuangkan suatu dunia yang lebih baik untuk umat manusia. Terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kita dapat memberi kesaksian bahwa “katolik” artinya terbuka untuk apa saja yang baik dan siapa yang berhendak baik.

D. Gereja yang Apostolik

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami sifat Gereja yang apostolik, dan mengambil bagian dalam mewujudkan keapostolikan Gereja itu dalam hidupnya sehari-hari.

Pengantar

Gereja yang apostolik merupakan warisan iman Gereja seperti yang ditulis dalam Kitab Suci dan Tradisi suci, dilestarikan, diajarkan dan diwariskan oleh para rasul. Dengan ciri apostolik ini mau ditegaskan adanya kesadaran bahwa Gereja

“dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”(Ef.2:20). Gereja Katolik mementingkan hubungan historis, turun temurun, antara para rasul dan pengganti mereka, yaitu para uskup. Dengan demikian juga menjadi jelas mengapa Gereja Katolik tidak hanya mendasarkan diri dalam hal ajaran-ajaran dan eksistensinya pada Kitab Suci melainkan juga kepada Tradisi suci dan magisterium Gereja sepanjang masa.

Doa Pembuka

Marilah mengawali kegiatan pembelajaran ini dengn berdoa!

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Ya Tuhan yang Mahabaik.

Melalui iman para rasul-Mu, Engkau telah menubuatkan ajaran iman bagi para rasul-Mu untuk menjadi wadah yang kokoh, iman yang kuat, iman yang merasul dan menjadi saksi. Teristimewa pada pertemuan ini kami akan belajar tentang sifat Gereja yang apostolik, Gereja yang merasul. Semoga kami menjadi rasul seperti para murid Yesus Putera-Mu yang setia mewartakan Injil dalam situasi apapun. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Langkah Pertama: Menggali Pemahaman tentang Keapostolikan Gereja

1. Bacalah cerita berikut ini!

Tahbisan Uskup Tanjung Selor, Mgr Paulinus Yan Olla MSF Pastor Paulinus Yan Olla, MSF resmi menjadi Uskup Tanjung Selor. Tahbisan episkopal Pastor Paulinus berlangsung di Lapangan Agatis, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Sabtu, 5/5. Uskup Agung Samarinda (sebelumnya sebagai Uskup Tanjung Tanjung Selor), Mgr Yustinus Harjosusanto MSF, menjadi

Gambar 2.3. Uskup Agung Samarinda Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF dan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla MSF

Sumber: Dok. HIDUP/Marchella A. Vieba (2018)

pentahbis utama Pastor Paulinus. Sementara sebagai pentahbis pendamping adalah Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang dan Uskup Palangkaraya, Mgr.

Aloysius Sutrisnaatmaka MSF.

Pada kesempatan itu hadir pula Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr.

Piero Pioppo. Mgr. Pioppo memerlihatkan dan membacakan surat resmi dari Paus Fransiskus ihwal penunjukkan Pastor Paulinus sebagai Uskup Tanjung Selor.

Dalam sambutannya, Mgr. Paulinus mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah hadir dan mendoakan untuk acara tahbisannya. “Kita berkumpul di tempat ini karena Tuhan telah berkenan memilih saya, hambanya yang hina ini untuk bekerja di kebun anggur-Nya, di Keuskupan Tanjung Selor,” tuturnya.

Kehadiran Mgr. Paulinus menjadi berkat sekaligus memberi harapan bagi seluruh umat Keuskupan Tanjung Selor. Ini merupakan bentuk jawaban Tuhan atas kerinduan dan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh seluruh umat. “Perjuangan para pendahulu akan dilanjutkan melalui pengabdian kami di keuskupan ini (Tanjung Selor),” lanjutnya. (Marchella A. Vieba/)

Sumber: www.hidupkatolik.com/Marchella A. Vieba (2018)

2. Pendalaman

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1) Apa yang dikisahkan pada berita tahbisan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF?

2) Apa yang dibacakan dan diperlihatkan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo?

3) Apa yang disampaikan Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF setelah ia ditahbiskan?

4) Dari cerita tahbisan ini, apa yang kalian ketahui tentang Gereja yang bersifat apostolik?

3. Penjelasan

- Dalam setiap acara tahbisan uskup dimanapun di seluruh dunia, Duta besar Vatikan atau yang mewakilinya membacakan surat penetapan oleh sri Paus untuk calon uskup baru yang akan ditahbiskan. Paus sebagai kepala Gereja universal, penerus tahta Santo Petrus sesuai kedudukannya menunjuk seorang imam menjadi uskup atau gembala Gereja lokal.

- Dalam kisah/berita tahbisan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF mengucapkan terima kasih kepada semua umat yang hadir dan mendoakannya pada acara tahbisannya karena rahmat Tuhan. Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF bersaksi bahwa Tuhan telah berkenan memilih dirinya, seorang hamba yang hina untuk bekerja di kebun anggur-Nya, di keuskupan Tanjung Selor.

Langkah Kedua: Mendalami Ajaran Gereja tentang Sifat Apostolik

Dalam dokumen Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (Halaman 68-73)

Dokumen terkait